Fenomena Inul, ‘Korban Eksploitasi’ Media?

Image

Tahun 2003 sepertinya  benar-benar “milik” si ratu ngebor Inul Daratista. Seperti dongeng Cinderella, setelah belasan tahun menjadi “penyanyi kampung” –Anda mungkin masih ingat saat Inul manggung di Pengampon?— mantan rocker itu mampu merajai industri musik Indonesia hanya dalam waktu sekejap. “Goyang ngebor”-nya bisa disimak hampir tiap hari di berbagai stasiun televisi. Bahkan dalam sehari, Inul bisa tampil di lebih dari satu stasiun TV. Tidak sedikit pula yang menjadikan show penyanyi asal Japanan, Pasuruan ini sebagai acara spesial, hal yang sulit ditembus artis dangdut lain, apalagi pendatang baru.

SCTV adalah salah satu stasiun TV yang sangat “jatuh hati” pada Inul. Buktinya, stasiun TV swasta tertua kedua di Indonesia itu “meminang” Inul untuk acara Duet Maut. Tak tanggung-tanggung puluhan kontrak tampil di acara itu telah dikantongi Inul. Stasiun TV berita Metro TV pernah mengundang Inul dalam dialog khusus satu jam dengan pemandu acara Desy Ratnasari. Selain itu, Inul tidak hanya sekali tampil di acara Latin Night yang ditayangkan Metro TV.

Gara-gara Inul, acara dangdut bisa hadir di primetime (jam tayang utama), seperti Duet Maut yang tayang pukul 19.30. Gara-gara Inul pula, hampir semua penyanyi dangdut wanita –terutama pendatang baru– saat ini berjoged mirip Inul. Lihat saja Anisa Bahar (yang dijuluki ratu goyang) atau Uut Permatasari (yang terkenal dengan “goyang ngecor” karena hanya bertumpu pada satu kaki).

Namun seperti dua sisi mata uang, selalu ada pro-kontra. Tak terkecuali untuk fenomena Inul. Baru-baru ini Inul dikecam dan diancam dicekal oleh Raja Dangdut Rhoma Irama karena goyangannya dinilai terlalu sensual, vulgar, dan mesum.  Menanggapi hujatan ini, Inul dengan besar hati meminta maaf kepada Rhoma Irama dan berjanji untuk tampil lebih rapi dan sopan.

Tapi mengapa justru banyak sekali pihak yang lantas kebakaran jenggot? Mengapa banyak sekali orang yang berebut bicara membela Inul dan menyayangkan permintaan maaf Inul?

Ini sungguh fenomena yang mencemaskan.

Harus diakui, popularitas Inul lebih dikarenakan goyangannya ketimbang kualitas suara. Kalau mau jujur, siapa yang akan mengatakan suara Inul lebih bagus –misalnya—dari Elvy Sukaesih, Ikke Nurjanah atau Camelia Malik? Sepertinya, tidak akan ada orang yang jujur mengatakan suara Inul lebih baik dari mereka.

Kalau demikian, mengapa Inul menjadi begitu tenar? Karena goyang ngebornya itu! Sebagian besar –atau bahkan semua– mata yang melihat tayangan Inul pasti bukan untuk mendengar lagunya, tapi melihat liuk liku tubuh Inul. Artinya, yang dinikmati bukan lagi seni (musik) dan keterampilan (olah vokal), melainkan syahwat. Hanya syahwat yang mendorong berjuta kepala begitu khusyuk menyimak goyangan Inul, Anisa Bahar, Uut Permatasari dan penyanyi lain yang sejenis.

Kalau sudah demikian, apakah yang disampaikan Rhoma salah?

Rasanya tidak ada yang salah. Sikap Inul yang berjanji untuk tampil lebih sopan pun juga langkah yang terpuji. Langkah ini, mestinya didukung dan disyukuri, bukan malah memanas-manasi  Inul untuk bergoyang mesum lagi.

Sebagian orang –yang sangat terkenal hingga setingkat Guruh Sukarno Putra, Butet, Renny Djajusman dan lainnya—menyebut himbauan Rhoma agar Inul dan lainnya tidak bergoyang sensual dan vulgar sebagai bentuk pengekangan ekspresi. Membatasi kebebasan ekspresi orang. Tidak demokratis!

Tapi, apa benar demikian? Kelompok ini sepertinya lupa, ada jutaan orang lain yang risih dengan goyang mesum Inul dan penyanyi lain yang sejenis. Namun, mereka ini seolah-oleh dipaksa untuk menyaksikannya karena semua televisi menayangkan Inul, semua media massa cetak mengutip soal Inul. Apa ini tidak menyinggung kebebasan orang lain yang juga tidak mau menonton goyang mesum seperti yang diperagakan Inul dan kawan-kawannya?

Sangat disayangkan. Kita, masyarakat awam ini, yang mengaku beragama, nyatanya demikian suka pada hal-hal mesum dan tida rela bila ada yang coba menghentikan kemesuman itu. Seringkali muncul pertengkaran mulut bila ada orang yang mengkritik Inul.

Sebagian yang lain mencela Rhoma. Mereka menuduh Rhoma sebagai penyanyi tua yang sudah hilang popularitasnya namun tidak rela disaingi Inul, si pendatang baru yang tiba-tiba saja melejit.

Pendapat ini pun perlu diluruskan. Masalahnya, sampai saat ini Rhoma tetap penyanyi dangdut teratas. Lagu ciptaannya paling banyak, dan tergolong hits pula. Kita bisa menghitung banyak penyanyi lain yang justru mengambil untung dari begitu disukainya lagu-lagu rhoma. Duat Nada Soraya dan Nadi Baraka hanya salah satu contoh. Belum lagi, di panggung-panggung dan layar televisi. Berapa banyak penyanyi lain yang begitu sering menyanyikan lagu-lagu Rhoma? Untuk keterampilan bermusik dan popularitas, tak ada yang perlu dibuktikan lagi oleh Rhoma. Tapi Inul? Dia baru kemarin menanjak, dan kita tidak bisa meramal sampai kapan ia akan bertahan.

Dan, salah satu faktor pendorong kesuksesan Inul adalah bisnis media dan hiburan. Bisnis ini suka terhadap hal baru yang menggugah keingintahuan orang. Dari situlah kontroversi tercipta. Dan dari kontroversi, sesuatu bisa melejit hingga jenjang yang paling tingi.

Bahkan Rhenald Kasali, ahli strategi pemasaran (pengasuh acara “Bedah Bisnis” di Anteve) mengakuinya. Menurut bintang iklan tolak Angin Sido Muncul ini,  faktor kontroversilah yang berperan paling besar dalam mendongkrak nama Inul.

Dalam dunia kreativitas, pemanfaatan unsur kontroversi untuk mendaki sukses sebenarnya bukan barang baru. Anda yang sudah cukup berumur, tentu masih ingat bagaimana Yatie Octavia digunduli rambutnya dalam adegan sebuah film yang kemudian laku keras. Trik itu belakangan dipakai lagi dalam sinetron Kecil-kecil Jadi Manten, dengan “korban” artis Sukma Ayu yang diplot sebagai Rohaye, cewek tomboi hobi main sepakbola.

Namun karena overwhelmed (berlimpahan atau berlebih-lebihan) timbullah kontra –yang sebenarnya telah terjadi sebelum Inul populer seperti saat ini. Mereka yang kontra menjadi marginal karena terjadi peningkatan permisivitas (serba membolehkan) di masyarakat.

Inul banyak “dibela” orang –termasuk stasiun TV—dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Tidak salah memang, namun perlu diingat kebebasan berekspresi seseorang juga dibatasi oleh kebebasan kelompok lain –salah satu yang masuk dalam kelompok ini adalah Rhoma Irama.

Tidak hanya Rhoma Irama, ada sekelompok orang yang merasa risih karena menganggap Inul mengeksploitasi sisi sensualitas, hal yang bukan merupakan adat kebiasaan di negeri ini.

Kelompok kontra yang menjadi minoritas ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan, sama seperti mereka yang mendukung Inul. Dan kelompok ini bagaimanapun juga harus ada sebagai kontrol sosial. Jika kelompok ini tidak ada, maka selesai sudah kontroversi Inul dan bisa jadi fenomena Inul tak lagi sedahshyat saat ini.

Untuk kasus Rhoma, agaknya pihak Inul memilih berhati-hati menanggapi kecamannya. Tidak seperti Anisa Bahar yang “melawan” Rhoma dengan penuh emosi, Inul memilih mengambil jalan bijak, meminta maaf dan berusaha untuk memperbaiki goyangan dan penampilannya. Dan langkah Inul ini dirasa tepat karena dengan sikap santun dan rendah hati ini namanya justru akan makin bersinar dan membuat banyak orang semakin menaruh respek terhadapnya. Semoga saja. (*)

Picture retrieved on November 25th 2012 from http://webkampus.files.wordpress.com/2010/06/inul.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: