Penjara Ini Dingin, Celine..

Tak banyak orang yang datang ke danau ini di musim gugur yang nenggigilkan seperti sekarang. Riak-riak airnya hampir tak terlihat. Danau yang biasanya kehijauan tampak memucat. Mungkin di beberapa bagiannya airnya sudah jadi es. Kususuri keseluruhan danau dengan mataku. Hanya ada dua perahu yang tertambat di tepian yang berdermaga kayu.
Tak banyak yang dapat dilihat di danau ini, saat ini. Disekelilingku hanya angin. Teras-teras ladang anggur di utara mengirimkan bau harum yang masih tersisa dari panen yang telah berlalu. Pokok-pokok anggur menghitam menutup sebagian lereng Matterhorn. Tapi kesenyapan yang dialirkannya sampai juga ketempatku.
Tak banyak yang dapat diangankan lagi di danau ini. Angsa-angsa yang dulu selalu kau bawa, yang dengan begitu mesra kau lepaskan bercengkerama di danau ini menikmati masa-masa akhir kehidupan mereka, yang kala senja datang kau tangkapi, kau sembelih untuk makan malam kita, kini tak ada. Apalagi yang bisa kuangankan jika kau, yang selama ini membuatku bermimpi, tak ada lagi.
Tak banyak yang bisa membuatku gembira saat ini. Strawberry yang dulu selalu kau petik hati-hati dari rumpunan tanaman menjalar di tepi danau, yang kau siram dengan campuran air lemon dan sugar syrup, yang sambil bercanda kau paksa aku untuk menghabiskannya, kini tak bisa diharap lagi.
Tak banyak yang bisa kuharap di danau ini. Musim gugur tak pernah menjanjikan yang lebih baik dari hari yang telah kita lalui.
***
Langit merah. Puncak Matterhorn merah. Air di danau merah. Sekelilingku merah. Dari merah itu muncul kau. Sepatu kets putihmu menerjang jalan. Depan ribuan orang kau teriak-teriak garang. Wajah mereka merah tegang. Wajah mereka semburat dendam. Kau di depan. Kau pimpin arak-arakan.
“Hentikan pembangunan pusat perbelanjaan! Kami tak butuh belanja! Kami ingin sekolah!”
Kau jalan lagi berkeliling. “Kita tidak benci pusat pertokoan. Kita tidak anti Mal atau Plaza segala rupa. Kita tidak menolak itu semua. Kita hanya tidak setuju bila demi tempat belanja ratusan kepala, ribuan generasi muda harus tidak bersekolah! Itu yang kita tentang! Itu yang tidak bisa kita terima!”
Aku yakin, ditanah airmu sana pastilah kau teriakkan kalimat-kalimat itu! Aku tak pernah meragukan perhatianmu pada masyarakat negerimu yang kau katakan masih bodoh, masih kurang pendidikan. Aku tahu itu. Dan aku tak ragu idealismemu lebih tinggi dari jumlah beasiswa yang selama ini kau terima dari pemerintah negaramu.
Aku tak menyalahkanmu atas kenekadanmu meninggalkan kuliahmu yang tenang dan penuh masa depan. Aku juga tak menganggapmu dungu karena berani pulang ke tanah airmu untuk menentang pembangunan yang kau katakan tanpa pertimbangan. Pembangunan yang tak berorientasi pada masa depan atau segala ungkapan kekecewaanmu yang lain. Aku tak berani menyalahkanmu karena yakin kau benar. Tapi aku tetap tak bisa mengerti!
Dan kau tahu, aku makin tak mengerti saat menerima surat darimu. Betul-betul keputusan di luar nalar!
Maafkan aku Celine bila kemungkinan kita bertemu makin kecil setelah ini. Tapi kau tahu, aku harus melakukannya! Harus! Seperti sering kukatakan padamu, di negeriku pendidikan tak dihargai. Di benak mereka sekolah berarti pengeluaran rutin yang besar sekali. Sedang pertokoan sebaliknya. Pemerintah bisa meraup pajak yang sangat besar. Dan itu yang mereka maksud dengan kesejahteraan!
Celine, bisa jadi aku tak akan lagi menatap puncak Matterhorn yang selalu terselimuti salju. Mungkin juga aku tak akan lagi bersampan menyusuri tepian danau bersamamu lagi. Kuyakin kau tak marah. Kuyakin kau paham dengan apa yang kulakukan. Bukankah kau sendiri yang mengaku kagum karena anak buruh tani kecil sepertiku mampu jalan-jalan di Zermatt dan kuliah di Berne hanya bermodal ketekunan belajar dan semangat?
Celine, kau pun pasti sudah memikirkan kemana anak-anak yang ingin belajar bila sekolah itu betul jadi pertokoan? Apa guna semangat dan kemauan belajar mereka bila sekolahnya saja rata dengan tanah? Tidak, Celine! Aku akan sangat berdosa bila dalam keadaan macam itu tetap tinggal di negerimu yang indah.
Celine, maaf, aku harus melakukannya!
***
Matterhorn tetap di sana. Putih, gagah, seolah menantangku yang kini terduduk lemah. Angin mulai hangat. Lembah ini jadi demikian semarak. Tenda-tenda aneka warna didirikan dimana-mana. Rombongan pendaki atau orang yang hanya ingin berkemah datang tiap saat. Air danau yang tak lagi hampir beku mengundang mereka untuk turun. Berenang, bersampan atau sekedar termangu seperti diriku.
Di bawah sana, rumah-rumah tua kota Zermatt mulai tampak hidup. Dinding kayu mereka yang coklat tua tampak jelas dari sini. Kabut telah pergi. Dan memang, musim panas selalu menjanjikan hari-hari yang ceria, hangat dan berwarna. Tapi sayang, suratmu berikutnya membuyarkan harapanku untuk kembali menikmati suasana danau ini.
Aku disidangkan, Celine! Kalimat pertama suratmu yang tanpa basa-basi itu menciutkan nyaliku. Kenekadan apa lagi yang telah kau tunjukkan?
Mereka menuduh aku telah menggerakkan anak-anak SD yang mungil itu. Mereka menyangka anak-anak SD yang bergerak menentang penggusuran sekolah mereka karena kudalangi. Mereka anggap aku perusuh, pengacau!
Celine, kau percaya, kan, aku tak melakukannya? Lagipula, salahkah bila anak-anak itu menuntut agar sekolahnya tetap berdiri? Kalaupun ada yang mengerakkan, bukankah dia malah pahlawan yang menyadarkan anak-anak itu untuk tetap bersekolah?
Celine, aku tak tahu apa yang ada di otak orang-orang yang membawaku ke persidangan ini. Bisa kupastikan anak-anak mereka memang tak bersekolah di bekas sekolahku yang dekil itu. Tapi apa itu alasan untuk menggusur sekolah ini?
***
Salju mulai turun. Kapas-kapas putih dingin itu menyelimuti ujung dermaga kayu tempat kita sering bercengkerama. Duduk-duduk sambil bercerita segala hal yang kita alami. Masih ingatkah kau pada petugas perbatasan Perancis yang dapat kita tipu hingga mobil kita lolos masuk Swiss tanpa hambatan? Padahal, waktu itu kau yang tak membawa visa begitu ketakutan. Kau iri padaku warga masyarakat Eropa yang bebas keluar masuk tanpa visa. Untung kau mau menuruti nasehatku. Kau pura-pura tidur dengan wajah ditutup buku.
“Siapa itu?” kata petugas yang harus kuakui lebih manis darimu.
“Teman. Ia ngantuk berat setelah seharian mengaduk-aduk perpustakaan kota Paris,” jawabku tenang. Dia kira kau warga Swiss sepertiku hingga ia biarkan kita lewat begitu saja. Dan sepanjang perjalanan pulang kau tertawa atas kejadian yang kau sebut kemenangan itu.
Disini dingin. Kau tahu, ditengah kedinginan itu aku harus makin sering ke Paris untuk mencari tambahan bahan bagi tugas akhirku. Mengertikah kau, bolak-balik Perancis-Swiss tanpa kau benar-benar menyebalkan! Andai kau tak pulang untuk urusan gila itu pastilah kau menemaniku. Tapi itulah kau. Aku yang merasa begitu dekat denganmu tak juga bisa memahami.
Kabar terakhir yang kuterima darimu makin menipiskan harapanku. Kau masuk penjara. Kau narapidana. Tapi kau harus percaya aku tak peduli itu semua. Hanya satu kalimat dalam surat terakhirmu yang membuat hatiku kelu. Penjara ini dingin, Celine.

Catatan kaki:
Matterhorn: nama gunung di Swiss.
sugar syrup: sirup yang hanya terbuat dari gula dan air tanpa sari buah atau perasa lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: