Transportasi London 2

Angkutan Terlambat, Penumpang Dikompensasi

Selain armada, rute, dan stasiun/terminal, transportasi di London juga memiliki dua keunggulan lain: layanan online dan sifatnya yang terintegrasi.

Untuk melihat layanan online ini, masuk saja ke http://www.tfl.gov.uk. Di situs ini kita bisa mendapatkan hampir semua informasi transportasi yang kita butuhkan. Warga luar kota, bahkan luar negeri yang ingin bepergian ke London, mereka tinggal masuk ke situs tersebut lalu mengetikkan tempat kedatangannya (misalnya Bandara Heathrow atau Stasiun KA Internasional St. Pancras) lalu mengetikkan alamat atau (kalau sudah tahu) stasiun terdekat dari lokasi yang dituju serta hari dan jam kedatangan. Tak menunggu lama, situs tersebut akan memunculkan daftar alternatif angkutan yang bisa diambil, mulai dari tube, KA overground, bus kota, trem, bahkan angkutan sungai berikut perkiraan waktu tempuhnya.

Dalam info tersebut disertakan pula hambatan perjalanan (bila ada), seperti perbaikan rel, perbaikan jalan, bahkan “informasi remeh” seperti adanya salah satu elevator yang sedang tidak berfunsgi di salah satu stasiun.

Bila Anda adalah pemegang oyster card –kartu transportasi prabayar di London– Anda akan menerima info kondisi jalur transportasi via e-mail. Kalau suatu jalur tube tidak bisa atau diduga terganggu operasinya karena perbaikan fasilitas yang akan dilakukan 4 hari lagi, pemilik oyster card sudah menerima informasinya melalui e-mail hari ini. Dengan demikian, calon penumpang bisa mencari alternatif angkutan atau rute yang lain.

Oyster card adalah kartu transportasi prabayar. Kartu ini bisa diisi dengan nilai sesuai keinginan pemilik. Jadi misalnya kita akan bepergian ke banyak bagian London dalam waktu sehari, isi saja 7 pound karena oyster menetapkan biaya tertinggi perjalanan dalam sehari adalah 6,3 pound. Kalau kita ngecer –membeli tiket di semua stasiun yang kita lintasi– harganya jauh lebih mahal karena banyak rute menetapkan biaya 2 pound sekali perjalanan.

Bila terjadi gangguan yang tidak diduga sebelumnya hingga tube terlambat datang, misalnya, kita bisa komplain di situs Transport for London (TFL) dengan mengutip nama dan nomor oyster card kita. Dalam waktu beberapa hari berikutnya kita akan menerima voucher gratis transportasi untuk rute atau hari tertentu sebagai kompensasi keterlambatan tersebut.

“Kekasih saya bahkan selalu komplain tiap kali dia mendengar ada keterlambatan tube sekali pun dia bukan penumpang tube itu. Lumayan, kami jadi punya banyak voucher,” kata Zhang Ruoye, mahasiswi asal China yang belajar di London. Tentu taktik nakal seperti ini tak layak ditiru.

Situs TFL juga menunjukkan adanya sistem yang terintegrasi, antara bidang-bidang yang melayani ketersediaan armada, pembuat jadwal, biro penanganan komplain, promosi –stasiun merupakan lokasi iklan yang sangat besar– hingga keuangan.

Dengan menggunakan oyster card, pemasukan kota dari sektor transportasi sangat sulit untuk dicuri (dimanipulasi). Bandingkan dengan sistem tiket bus di Surabaya yang bisa tidak disobek sekali pun ada penumpang baru yang naik. Apakah Surabaya mampu mengintegrasikan sistemnya secara online seperti ini? Kata orang Jawa, ini ilmu katon (kasat mata) yang bisa dipelajarti asal mau. Paling tidak Surabaya bisa memulainya dengan KA komuter, bus kota, dan bemo karena kereta bawah tanah adalah investasi sangat mahal untuk Surabaya yang jauh belum sedinamis London.

Selain itu, karena bepergian adalah hak seluruh warga negara, maka seluruh warga dari semua golongan harus diberikan layanan yang sepadan, termasuk para penyandang cacat, manula, dan mereka yang bepergian dengan bayi dan anak kecil. Di London, semua moda angkutan memiliki seat khusus untuk penyandang cacat dan manula (banyak pegangannya) dan orangtua yang bepergian dengan bayi dan anak-anak (ada tempat khusus untuk kereta dorong bayi).

Membangun stasiun bawah tanah, mungkin, memang bukan alternatif bagi Surabaya saat ini karena mahal dan tingkat kebutuhannya belum terlalu tinggi. Namun, mengintegrasikan “terminal-terminal kecil” antara bus kota, bemo, dan bahkan angkutan sungai, bukan hal yang mustahil dijalankan. Perbaikan sistem transportasi berbasis angkutan publik lebih tepat digalakkan daripada kebijakan yang berorientasi pada kendaraan pribadi. (Achmad Supardi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: