Transportasi London 3

London Tiru Surabaya atau Sebaliknya?

Dua orang berdiri di pintu keluar Stasiun Underground (kereta api bawah tanah) Northwick Park. Mereka membagi-bagikan brosur kepada para penglaju yang bergegas pergi. Bukan brosur promosi, tapi ajakan untuk berdemo menentang rencana Pemerintah Kota (Pemkot) London menaikkan tarif angkutan umum.

Kampanye serupa dilakukan di banyak bagian dari 270 stasiun underground yang ada. Menurut mereka, kampanye ini perlu dilakukan karena Walikota Boris Johnson dinilai tidak memikirkan kesejahteraan warga London. Di tengah biaya hidup yang makin tinggi, kenaikan tarif bus dan underground –dua moda transportasi utama di London– dianggap kado pahit tahun baru 2011.

Kenaikan tarif angkutan umum dalam kota ini bervariasi, mulai 6 hingga belasan persen.

“Saat hidup susah, pemerintah memangkas banyak subsidi untuk masyarakat, Boris malah mengencangkan ikat pinggang kita lebih ketat lagi,” demikian kampanye yang digalang kelompok Partai Buruh.

Tarif underground secara rata-rata naik 6,2%, namun ada sejumlah jalur padat yang kenaikannya mencapai 10%. Akibat kenaikan ini, travelcard (karcis terusan) bulanan untuk zona 1-5 naik 11,5 pound menjadi di atas 180 pound (sekitar Rp 2,6 juta). Zona 1-5 adalah zona terpadat. London sendiri memiliki wilayah yang terbagi dalam 9 zona yang masing-masing memiliki satuan biaya transportasi berbeda (zona 1 atau pusat kota adalah yang termahal). Kenaikan travelcard bulanan di zona 1-2 mencapai 6,9 pound menjadi 106 pound (sekitar Rp 1,5 juta). Sementara, karcis terusan mingguan untuk bus naik 7% menjadi 17,8 pound atau sekitar Rp 256 ribu.

Apakah kenaikan angka-angka ini kecil?

Tak hanya bagi aktivis Partai Buruh yang memanfaatkan keadaan untuk mendongkel walikota dari Partai Konservatif, banyak warga London lain juga sependapat bahwa kenaikan tarif angkutan ini mencekik. Alasannya, karena kenaikan itu berbarengan dengan pemangkasan subsidi oleh pemerintah, termasuk rencana pemangkasan subsidi di sektor pendidikan yang membuat biaya masuk perguruan tinggi Inggris naik 2 hingga 3 kali lipat.

Menyikapi kenaikan biaya transportasi, sebagian warga London bahkan terpaksa pindah tempat tinggal untuk mengurangi pemakaian moda angkutan. Salah satunya Angela Neumann. Warga Jerman ini memiliki kampus di zona 4, namun banyak aktivitasnya sebagai mahasiswa jurusan jurnalisme foto yang harus dilakukan di zona 1. Kuliah tutorialnya hanya 2 hari dalam seminggu. Untuk menghemat pengeluaran, penganut Buddha ini pindah dari asrama kampus di Watford Road (zona 4) ke sebuah flat di Vauxhall (zona 1).

“Biaya kosnya lebih murah sedikit dibanding asrama kampus karena kondisi flat saya biasa-biasa saja. Asrama kampus kan, sangat hangat, heater-nya bagus, sementara flat baru saya agak dingin. Maklum, rumah tua, isolasinya tidak seberapa bagus. Tapi paling tidak saya tidak perlu keluar banyak uang untuk biaya tube (istilah populer untuk KA underground),” katanya Minggu (9/1).

Sebaliknya, kenaikan biaya transportasi ini juga membuat banyak mahasiswa yang ngekos di pusat kota hanya datang ke kampus di pinggiran untuk kuliah tutorial saja. Jan Matell Liamson, misalnya. Penerima beasiswa University of Westminster ini, sebagai konsekuensi beasiswanya, harus tinggal di International House yang berada di pusat kota meski kampusnya di Harrow (zona 4). Mahalnya biaya angkutan membuatnya punya lebih banyak alasan untuk jarangt-jarang ke kampus “kalau tidak sangat perlu”. Untungnya, material kuliah –termasuk perpustakaan– bisa ia akses via intranet.

Kenaikan biaya transportasi juga mempengaruhi pengeluaran Alice Osborne. Mahasiswa pascasarjana ini terbiasa tinggal secara ulang-alik antara rumah orangtuanya di Kings Cross (zona 1) dan rumah pacarnya di Acton Town (zona 3). Kenaikan biaya transportasi membuatnya harus berpikir untuk memilih satu tempat yang lebih sering ia tinggali.

Persoalannya, menurut para pengkampanye anti kenaikan biaya transportasi, tidak semua warga London punya fleksibilitas seperti mahasiswa. Para keluarga yang sudah memiliki rumah tidak akan pindah hanya karena kenaikan biaya transportasi. Mereka yang tinggal di pinggiran London dan bekerja di pusat kota (atau sebaliknya) adalah yang paling terkena imbasnya, termasuk sejumlah dosen.

“Asrama hanya untuk mahasiswa, kami tidak boleh tinggal di situ, akhirnya ya tinggal di pusat kota dan nge-tube kalau mengajar,” kata dosen asal Yunani yang enggan disebut namanya. Dia tinggal di zona 1, sementara kampusnya tempat mengajar ada di zona 4.

Meskipun sama-sama ada upaya “mendongkel” walikota terkait transportasi, namun ada dua perbedaan mendasar antara yang terjadi di London dan Surabaya.

Pertama, warga London berdemo supaya pemerintah tidak menaikkan tarif angkutan umum karena mereka sadar ini adalah fasilitas yang wajib disediakan pemerintah terhadap warga negara. Sementara, di Surabaya justru ada demo mendongkel walikota untuk mendesakkan pembangunan jalan tol yang nota bene tidak berbasis pada transportasi publik.

Perbedaan kedua, warga London melakukan demonya bukan dengan mengerahkan massa ke sejumlah institusi –termasuk media massa yang dinilai berseberangan sikapnya dengan mereka– namun cukup dengan menggalang petisi online. Meski pun ada wacana untuk mengganti walikota, namun judul resmi petisi itu bukanlah suksesi, melainkan desakan agar kenaikan tarif bus dan tube dibatalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: