Untuk M

Kulukis kanvas itu

palet, kuas, cat, warna, apalagi yang kau minta?

Mata yang tak pernah tak tersaput merah

malam-malam apa yang telah kau lalui?

sedang siang, pena, dan jarum jam kau lipat secepat itu!

O… dahi hitam seribu lorong malam

kubaui embun yang sering kau sapa

dan pada jembatan waktu dan keinginan

jelas kudengar pengaduan

bagaimana malam-malam kau datangi dia

kau ciumi datarannya

“nafasnya selalu memburu kala ia menciumku”

Kulukis kanvas itu

dan sambil menoreh wajahku di cermin

kutemukan campuran warna yang melukis wajahmu

“jangan kau lukis dia

pandangi dulu wajahnya”

Mata yang tak pernah tak tersaput merah

dataran itu dibanjirinya air mata

dan di antara riak isaknya

kulihat tapakmu menuju surga. (Sep-Okt 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: