Madura KW

semut rangrang-Khoirul umam

“Semut Rangrang”. Picture by Khoirul Umam (Khoirul.Umam@Mattel.com)

 

Sebagian orang, dengan gaya bercanda, memanggil saya “Madura KW”. Teman-teman yang lebih dulu mengenal saya, katakanlah mereka yang bertemu saya sejak di Surabaya Post dulu, memanggil saya “Madura swasta”. Alasannya, menurut mereka, saya tidak mewakili ciri-ciri orang Madura meski ayah dan ibu saya Madura asli, 100%.

Apakah ciri-ciri saya yang dianggap tidak mewakili Madura itu?

Mari kita bahas yang paling sederhana saja: makanan. Sebagaimana budaya-budaya lain di Indonesia, budaya Madura pun mengenal aneka sajian dari jerohan. Teman saya secara bercanda menyebutnya “daleman”. Well, arti harfiahnya sama, konotasinya beda. Sate usus, sambel goreng hati, krengsengan paru, jantung, limpa, semua ada. Yang paling terkenal tentu saja soto Madura. Kalau Anda teliti, soto Madura itu ada banyak langgam atau jenis. Langgam pertama, soto dengan kuah bening berwarna kuning. Isiannya pun, mulai dari daging sapi, lemak (gajih) sapi hingga potongan jerohan sapi berwarna kuning. Rasanya gurih segar, dengan taburan potongan daun bawang dan perasan air jeruk nipis. Langgam kedua, soto dengan kuah yang berwarna jauh lebih keruh, kuning kehijauan (atau kecoklatan). Rasanya dominan gurih meski tidak mengandung santan. Rasa gurih ini karena bumbu yang kaya dan, ini dia, banyaknya kandungan jerohan yang dipakai.

Saya penyuka soto, terutama langgam yang pertama. Hanya, saya selalu minta soto “daging saja”. Artinya, tanpa lemak dan tanpa jerohan. Mayoritas orang Madura –klaim sih, belum ada penelitiannya– adalah penikmat jerohan. Jadi, satu ciri orang Madura lepas dari saya.

Orang Madura itu juga bukan penjijik. Terbukti, mereka banyak yang bekerja di sektor informal, membantu lingkungan bebas dari barang-barang bekas dan “sampah”. Banyak orang Madura yang menjadi sejahtera dengan menjadi pengusaha barang bekas atau “limbah”. Saya sebaliknya. Saya penjijik. Makan di piring yang masih menunjukkan titik-titik air –belum dilap sampai bersih—saya tidak mau. Karena itu, saya jarang makan di warung. Kalau pun beli di luar, saya biasanya membungkus makanan itu dan memakannya menggunakan perabot makan yang saya punya. Saya tidak bisa makan di warung yang “agak-agak”, apalagi bila berhadapan langsung dengan tempat cuci piringnya J (meski sekarang sudah jauh lebih mending). Ciri kedua orang Madura hilang dari saya.

Dalam hal makanan, faktor “penjijik” ini juga berpengaruh. Untuk menu unggas hingga ternak, saya hanya mau dagingnya saja. Tanpa jerohan, tanpa kulit, tanpa kepala, tanpa leher, dan tanpa brutu (bagian “pantat” ayam atau bebek tempat ekor mereka tumbuh). Orang bilang brutu itu lezat, bagi saya brutu itu kenyal-kenyil menjijikkan.

Tiap makan ikan, saya jarang sekali langsung makan dan “mencubit” daging ikannya langsung sembari makan. Saya lebih sering memisahkan bagian daging ikan itu dari kepala dan tulang. Setelah tinggal dagingnya saja, barulah saya makan. Ciri ketiga orang Madura lepas dari saya.

Keempat, dan ini paling jelas, saya tidak suka pedas. Menurut saya, rasa pedas itu sangat dominan. Ia akan mengalahkan rasa apa pun. Jadi kalau ada soto lezat dan diberi sambal, yang terasa sambalnya. Kalau ada rendang daging dikasih sambal, yang terasa sambalnya. Kalau ada opor ayam diberi sambal, yang terasa ya sambalnya. Jadi, kenapa merusak rasa masakan yang lezat itu dengan sambal?

Maka, Raudy Gathmyr, salah satu kawan baik saya, dengan leluasa mencerca saya, “Madura kok gak suka pedas! Madura apa ini!”

Maka, dengan kekhususan-kekhususan tersebut, cukup banyak teman yang menjuluki saya sebagai “Madura swasta” atau “Madura KW”. Tak apa, toh itu hanyalah panggilan mesra.

Kalau kita mau berbicara agak serius, munculnya sebutan “Madura swasta” atau “Madura KW” untuk saya adalah akibat dari proses stereotyping. Masyarakat men-stereotype-kan suku tertentu dengan hal-hal tertentu. Dalam konteks ini, misalnya, orang Madura “pasti” atau “selalu” suka pedas sesuai dengan sifatnya yang –konon—keras. Begitu kuat stereotype ini hingga bila ada orang Madura yang tidak sesuai dengan stereotype tersebut maka diragukan kemaduraannya atau disebut “Madura swasta” dan “Madura KW” tadi.

Padahal, masih ingat salah satu bahasan di mata pelajaran biologi saat SMP dulu (mungkin sekarang sudah turun jadi kurikulum SD)? Seingat saya, dulu saya dan teman-teman diminta guru biologi untuk mengamati bentuk daun-daun pohon, serangga, dan wajah teman lalu diminta untuk mencatat dan membuat kesimpulannya. Catatan kami, mayoritas bentuk daun di sebuah pohon sama, hanya saja ada beberapa yang berbeda. Bentuk semut rangrang juga sama, hanya saja ada yang sedikit beda. Bentuk cuping telinga kita rata-rata juga sama, menyisakan setengah lingkaran di ujungnya. Namun, ada sedikit orang yang ujung cuping telinganya melekat ke pelipis. Nah, yang serba sama itu adalah sifat utama, sedang sedikit yang berbeda itu adalah variasi.

Itu di biologi alias ilmu alam. Dalam konteks fenomena sosial, tentu saja yang namanya “variasi” ini jauh lebih beragam. Jadi kalau ada orang Madura tidak suka pedas, itu bukan berarti kemaduraannya palsu. Dia Madura, hanya saja bukan mainstream, tapi variasi. Unik. Hahaha. (*)

Pictures taken on 26 November 2012 from http://www.sajiansedap.com/recipe/detail/10829/soto-madura and http://www.hellojogja.com/s/sup-jeroan-sapi/ImageImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: