Malaysia, Menjual Semua yang Bisa Dijualnya (1)

Feature

Surabaya Post, 28 Mei 2003

Yang Penting, Percaya Diri, Lagi!

Pariwisata, ternyata hanyalah sebuah persoalan bagaimana menjual sebuah produk. Seberapa sederhananya pun produk itu. Dan, hal inilah yang bisa dipraktekkan dengan sangat baik oleh Malaysia.

Oleh: Achmad Supardi

Dibanding negara lain yang lebih luas dan kompleks, katakanlah Indonesia, Malaysia sebenarnya tidak terlalu banyak memiliki objek pariwisata prima. Namun, dengan kemasan yang sangat baik, promosi yang kontinyu dan terkoordinasi antar bidang, membuat mereka dikenal masyarakat dunia. Para pelancong pun datang. Mereka berbelanja, Malaysia pun tambah kaya.

Hal ini terlihat dalam perhelatan Colours of Malaysia, atau warga setempat menyebutnya sebagai “Citrawarna Malaysia.” Dalam perhelatan yang dimulai akhir Mei ini, terlihat betapa sinergisnya antara hotel, restoran, pengusaha dan badan-badan yang bergerak di bidang transportasi, pengelola biro perjalanan, hingga jawatan kehutanan, perguruan tinggi dan bahkan rumah sakit.

Ya, Malaysia bisa dan berusaha keras menjual apapun yang bisa dijualnya.

Lihat saja Malaka. Ia memang lokasi yang sangat bersejarah. Di sinilah Portugis pertama membangun imperium perdagangannya di belahan timur dunia, diikuti oleh Belanda, lalu Inggris. Tapi, seperti dikatakan oleh seorang warga Malaysia sendiri, sebenarnya tak ada yang bisa “ditengok” di Malaka. Yang ada hanya beberapa bangunan bersejarah seperti kapal Portugis, masjid masyarakat India (Masjid Kling), kuil India, kelenteng Cina, gereja dari masa Portugis dan Inggris, benteng, istana Kesultanan Malaka, dan beberapa bangunan bersejarah lain. Semua tampak sangat sederhana. Bahkan Masjid Kling, sebuah masjid yang konon sangat tua, membuat seorang pelancong kecewa.

“Ah, masjid seperti ini saja masuk dalam peta pariwisata!” kata Hanifah, seorang pekerja Indonesia yang datang bersama majikannya asal Ampang, Selangor. Perempuan 45-an tahun itu tampak kecewa. “Masih lebih besar masjid di kampung saya,” lanjut perempuan asal Surabaya itu.

Memang, masjid yang katanya dibangun pertama di kawasan itu oleh komunitas India Muslim berukuran kecil, hanya sekitar 12 X 20 meter. Bangunannya pun sederhana, terbuat dari batu bata dan campuran pasir-lumpur khas bangunan “beton” lokal gaya lama. Tidak terdapat banyak aksen atau detil rumit.

Namun, Malaysia menjual segalanya. Dan mereka bersungguh-sungguh untuk itu. Di tempat-tempat yang “tidak terlalu oke” itu, becak hias khas Malaka –becak kecil yang dihubungkan dengan sepeda kebo untuk tempat pengemudinya—berderet. Masing-masing pengemudi becak memiliki peta kawasan yang di dalamnya terdapat foto bangunan-bangunan lama dan keterangan singkatnya. Mereka pun bisa bercerita dengan cukup lancar meski informasi yang mereka munculkan seperti rekaman yang selalu berulang. Namun, melihat sekilas ke peta yang berisi sekitar 20 foto bangunan itu, tentu saja pelancong akan langsung tertarik. Di benak sebagian pelancong itu mungkin terdapat harapan untuk menyaksikan bangunan bersejarah yang besar lagi megah.

Maka, jasa becak hias Malaka itupun pasti diambil. Dengan keterbatasan waktu yang ada, mereka pasti akan berusaha untuk sampai ke sebanyak mungkin tempat dan mengambil sebanyak mungkin foto. Maklum, becak itu dibayar berdasarkan waktu yang dihabiskan para pelancong. Sekitar 20 ringgit per 30 menit, namun inipun tergantung kesepakatan.

Tapi, begitu tiba di lokasi-lokasi itu, kadang memang kekecewaan yang didapat, terutama bagi mereka yang kurang bisa menghargai objek wisata kecil. Seperti Makam Hang Kasturi, salah satu tokoh dalam legenda Malaka klasik. Makam itu kecil saja, tidak dikelilingi oleh makam lain, dan di belakangnya langsung berhubungan dengan sebuah tanah kosong sempit.

Namun, Malaysia sudah benar-benar siap menjalankan bisnis pariwisatanya yang kini menyumbang pendapatan terbesar kedua setelah industri manufaktur. Begitu mudah informasi didapat. Tinggal datang ke kantor polisi dan meminta peta lokasi wisata Malaka, kita pun pasti akan langsung mendapatkannya.

Dan, inilah hebatnya Malaysia. Objek-objek wisata yang sebenarnya sederhana macam Masjid Kling itu, dirawat dengan baik hingga tampak seperti asli dan sudah dilengkapi dengan perlengkapan standar: AC atau kipas angin, diorama, dan tentu saja –di beberapa objek– tempat penjualan tiket.

Kesederhaan

Kesederhaan bahkan tampak dalam event internasional. Dalam parade Colours of Malaysia yang dibuka oleh Yang Di-Pertuan Agong Malaysia, Syed Sirajuddin Ibni Almarhum Syed Putra Jamalullail, penampilan yang ada tidaklah istimewa. Pementasan yang dilangsungkan di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur itu hanya terdiri atas beberapa kendaraan hias seperti masa Surabaya Expo tempo dulu dan penampilan tarian Dari masing-masing negara bagian, wilayah persekutuan federal, komunitas Cina, India, Siam, dan Orang Asli. Masing-masing penampilan memiliki banyak sekali kemiripan hingga Colours of Malaysia, malam itu, kurang menunjukkan adanya keberagaman budaya. Padahal, acara yang berlangsung Sabtu, 24 Mei itu dipentaskan di hadapan wartawan lokal dan dari 31 negara asing serta ratusan perwakilan agen-agen perjalanan wisata mancanegara.

Kesederhanaan juga tampak dalam pergelaran kesenian sebelumnya di Golden Horses Hotel, hotel yang pernah dipakai untuk pertemuan APEC tahun 1997 lalu. Hanya saja, karena saat itu durasi penampilan tidak panjang, terasa cukup menghibur.

Di tengah kesederhaan itu, MC dan semua pemandu wisata yang turut hadir, senantiasa mengatakan inilah keragaman budaya Malaysia yang “benar-benar Asia” karena menghimpun akar dari budaya-budaya besar Asia seperti Melayu, Cina, India, Arab, dan Siam. Sebuah kerja keras dan confident yang luar biasa.

“Sebenarnya, dibanding Indonesia, budaya Malaysia bisa dikata tidak terlalu beragam. Hanya saja, kami bisa menjualnya dan berpromosi sangat gencar,” kata Mohamad Yasid, salah satu pekerja bidang IT lulusan Leicester, Inggris. “Saya sering mengunjungi Indonesia, dan saya lihat potensi Indonesia sangat luar biasa. Kalau kami kan hanya beragam ras, tapi Indonesia memiliki keragaman etnis, bahasa, masakan, semuanya serba berbeda,” lanjut warga Negeri Sembilan yang nenek moyangnya asal Minang itu.

Untuk pariwisata, sepertinya memang rasa percaya diri dan promosi terus menerus itulah yang mesti dilakukan. Tentu dibarengi dengan perbaikan infrastruktur wisata seperti akomodasi, transportasi, jasa pemanduan dan sejenisnya.

Infrastruktur Wisata

Selain itu, keberhasilan Malaysia menggaet 13,2 juta jiwa pelancong tahun lalu, tak terlepas dari kesungguhan mereka dalam memperhatikan infrastruktur wisatanya. Di Kuala Lumpur, pintu masuk utama Malaysia, hotel-hotel bintang lima mudah dijumpai. Hotel bintang empat, bintang tiga hingga hotel melati pun mudah didapat. Hal yang sama terjadi di Malaka, Langkawi, Penang, Kuantan, Pulau Pangkor, Kuching, Kota Kinabalu, Sipadan-Ligitan, dan lokasi-lokasi wisata yang lain.

Selain itu, transportasi juga sangat mudah. Dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) yang memang pantas dibanggakan karena kemudahan dan kemewahannya, banyak cara untuk mencapai pusat kota. Naik taksi bisa, memilih bus pun ada. Namun kalau mau cepat, bisa memilih KLIA Express. Dengan 35 ringgit, Anda akan sampai di pusat kota Kuala Lumpur dalam 28 menit. Dari KL Sentral –pusat transportasi di wilayah kota tua Kuala Lumpur— Anda bisa menyambung perjalanan ke semua tempat di ibukota Malaysia itu dengan ERL (Express Rail Link). Tiap 2 menit, kereta akan datang. Tiket sekali jalan maupun pulang-pergi, semua ada.

Keberadaan ERL sekaligus membuktikan kemampuan Malaysia berpikir efisien. Dengan ERL, yang terbantu bukan hanya wisatawan asing. Namun, para pekerja pun sangat tertolong. Dengan tiket yang murah –sekitar 10,5 ringgit untuk 5 orang tiket sekali jalan—para pekerja bisa sampai ke tempat kerja masing-masing dalam waktu yang cepat. Selain itu, keberadaan ERL menghilangkan bus-bus besar, bemo, juga becak dan moda angkutan umum lain yang di Jakarta dan Surabaya sering menjadi pemicu kemacetan. Tak ayal yang ada di jalan-jalan Kuala Lumpur tinggal bus-bus pariwisata dan bus sekolah.

Tentu, di Kuala Lumpur juga ada kemacetan, terutama di jam-jam sibuk pergi dan pulang kerja. Namun dengan pengaturan jalan-jalan satu jalur di pusat kota KL serta banyaknya jalan layang dan ERL membuat kemacetan bahkan tidak pernah separah di –misalnya—Jalan Kapasari Surabaya, apalagi di Jl. A Yani.

Selain itu, jalan tol antar kota juga besar dan lancar. Jalur selatan-utara menghubungkan Johor Baru di selatan hingga Kangar, Perlis, di utara. Sementara jalan tol utama barat-timur menghubungkan KL dengan Kuantan, Pahang, di pantai timur Semenanjung Malaka. Dengan begitu, wisatawan bisa mengakses semua tujuan pelancongan Malaysia dengan mudah, semudah mereka pulang kembali ke negara asalnya.

Tentu, semua kemudahan itu tidak akan berguna bila tidak ada yang mengabarkannya ke luar negeri, ke wilayah-wilayah sumber pelancong. Untuk itu, Kerajaan Malaysia berani mengeluarkan dana sangat besar untuk promosi. Dalam Colours of Malaysia kali ini yang mengangkat tema besar budaya, lebih dari 100 wartawan dari 31 negara diundang berikut lebih dari 300 agen perjalanan wisata. Semua keperluannya dibayar pemerintah Malaysia, mulai dari penerbangan pulang-pergi, akomodasi, dan transportasi. Hanya beberapa kali kesempatan makan dan biaya pengiriman berita yang tidak ditanggungnya. Padahal, Colours of Malaysia hanya salah satu saja dari sejumlah event yang mengundang kehadiran wartawan dan agen perjalanan wisata luar negeri secara gratis. Sepanjang tahun 2003 ini saja terdapat 17 event pariwisata dan 12 festival yang sudah disosialisasikan ke pasar luar negeri jauh-jauh hari.

Selain mendatangkan “pembawa berita” dari luar negeri, Pemerintah Malaysia –bahkan hingga tingkat negara bagian—juga secara teratur membawa institusi-institusinya untuk berpromosi ke luar negeri. Semua biaya ditanggung pemerintah, mereka tinggal “bawa badan dan brosur.”

Yang dibawa tentu saja bukan hanya pengelola hotel dan agen perjalanan wisata, melainkan juga perguruan tinggi, rumah sakit, hingga jawatan kehutanan. Salah satunya adalah yang dilakukan Tourism Malaysia –Dinas Pariwisata Malaysia—dan Pemerintah Kesultanan Selangor yang mengadakan pameran wisata di Surabaya, Medan, dan Jakarta, 19-21 Mei lalu. “Ah, kami tak pikirlah berapa biaya yang keluar,” kata Datuk Abdullah Jonid, Dirjen Tourism Malaysia tentang besarnya biaya promosi pariwisata yang dikeluarkan pemerintahnya. “Kalau pelancong datang, uang itu akan kembali pulang pula dalam jumlah lebih besar.” (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: