Malaysia, Menjual Semua yang Bisa Dijualnya (2)

Feature

Surabaya Post, 29 Mei 2003

Menjemput Pasien dari Negeri Seberang

Malaysia, bagi warga negara Indonesia yang tak terlalu pusing soal dana, terasa dekat saja. Karena itu, berobat ke Malaysia untuk kelompok ini bisa jauh lebih cepat daripada pasien asal Ponorogo ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Inilah yang cerdik dimanfaatkan pemerintah dan kalangan pengelola rumah sakit di Malaysia untuk meluncurkan program Turisme Kesehatan (Medical Tourism).

Oleh: Achmad Supardi

Dengan penerbangan paling pagi ke Kuala Lumpur, warga Surabaya bisa tiba di ibukota Malaysia itu sekitar pukul 11.00 WIB atau pukul 12.00 waktu KL. Transportasi yang mudah membuat sejumlah rumah sakit berkualitas bagus di kota itu bisa dijangkau hanya dalam beberapa menit. Setelah mendaftar, pasien yang hanya butuh operasi kecil –dari menghilangkan kerutan di mata hingga melenyapkan tahi lalat—bisa langsung dioperasi. Setelah itu, mereka beristirahat sebentar di ruang pemulihan denngan rentang waktu beberapa menit hingga beberapa jam. Sore harinya, mereka bisa langsung pulang dari Rumah Sakit.

“Prinsipnya, pasien datang pagi, dioperasi, dipulihkan, lalu langsung pulang. Mereka tak perlu opname dan menghabiskan terlalu banyak waktu di sini,” ujar S. Shobana, Manajer Humas Sunway Medical Center, Petaling Jaya, Selangor.

Malaysia, kini memang tengah sibuk menjual layanan kesehatannya pada warga negara asing. Sebuah pemikiran yang cemerlang karena terbukti “pariwisata” jenis ini relatif lebih stabil. Bila pelancong begitu mudah mengubah daerah tujuan wisata yang ingin dikunjunginya karena isu bom, penyakit seperti SARS, atau kekhawatiran berkurangnya keamanan akibat sebuah perang. Karena SARS saja, tingkat kunjungan wisatawan ke Malaysia turun 20-30%. Awalnya, target ditetapkan 15,3 juta wisatawan ke Malaysia tahun ini. Namun karena SARS, Pernag Irak dan isu terorisme, Pemerintah Malaysia mengaku cukup puas bila tingkat kunjungan tahun ini sama dengan tahun lalu.

Namun, tidak demikian dengan para pengguna layanan kesehatan. Biasanya, mereka lebih sulit untuk berubah pikiran. Pasalnya, perawatan kesehatan konon memang lebih baik bila dilakukan secara kontinyu di tempat yang sama karena tenaga yang menanganinya “mengetahui lebih detil dan secara lebih baik” catatan medis pasien. “Pariwisata kesehatan” relatif lebih stabil.

Menyadari hal ini, pemerintah Malaysia pun merangkul rumah-rumah sakit di wilayahnya untuk meningkatkan pelayanan, fasilitas, dan tentu saja promosi. Setelah Membawa rombongan rumah sakit untuk berpromosi ke Surabaya, Medan, dan Jakarta, 19-21 Mei lalu, Tourism Malaysia (Dirjen Pariwisata Malaysia) kembali merangkul institusi-institusi kesehatannya untuk “open house” terhadap media massa dan agen-agen perjalanan dari luar negeri dalam rangkaian promosi wisata Colours of Malaysia selama akhir Mei ini.

Menyaingi Hotel

Dari segi peralatan dan tenaga dokter, rumah-rumah sakit besar –baik milik pemerintah maupun swasta—di Indonesia tidak kalah. Peralatan medis terbaru yang menjadi andalan di banyak rumah sakit di Malaysia, ada pula di –misalnya—RSUD Dr Soetomo atau RS Pondok Indah, Jakarta. Namun harus diakui, rumah-rumah sakit di Malaysia unggul dalam menjaga kebersihan serta koordinasi antar bidang maupun koordinasi dengan pemerintah. Dengan koordinasi ini, rumah sakit pun beranjak dari posisi tradisional sebagai institusi yang hanya “menunggu” datangnya pasien. Rumah-rumah sakit di Malaysia kini “menjemput” dan mengundang para pengguna jasanya untuk datang. Kesehatan pun dijual dengan nama “Medical Tourism.” Tidak heran bila rumah-rumah sakit ini bahkan memiliki beragam paket layanan kesehatan. Ada paket “have a golf and free medical check up”, ada paket “operasi tanpa opname,” adapula paket “penjagaan vitalitas” dan paket-paket lainnya.

Dalam travel mart pun mereka ikut, berdiskusi tentang cara terbaik membawa pasien berobat ke institusinya, tentang prosedur pemberian komisi pada agen perjalanan yang membawa pasien terhadap mereka, juga tentang pembukaan paket-paket baru yang lebih mengena dengan kebutuhan pengguna layanan kesehatan, hingga tren yang tengah berkembang. Mereka tak kalah lihai dibanding pengelola hotel atau pengelola taman hiburan dekat pantai.

Tentu, karena mereka mengelola sebuah jasa pelayanan spesifik, ada pula aturan-aturan spesifik yang coba untuk tidak dilanggar. “Misalnya saja, pola promosi yang kami lakukan adalah ikut pameran-pameran wisata di luar negeri yang digelar pemerintah Malaysia, atau berpromosi di dalam negeri seperti ini. Tapi untuk beriklan di media massa di negara-negara asing, kami tidak melakukannya. Kami harus peka terhadap rumah sakit dan para dokter setempat,” ujar Datuk Dr K. Kula Veerasingam, Direktur Medis Rumah Sakit Ampang Putri (APSH), Ampang, Selangor.

Selain itu, promosi pun lebih ditekankan pada layanan-layanan yang peralatan atau tenaga ahlinya tak ada di tempat asal pasien. “Kalau ada dan murah, buat apa pula mereka datang periksa kesehatan ke Malaysia?” lanjut Kula.

Selain gencar dalam berpromosi dan kreatif membuat paket-paket layanan kesehatan yang menarik, rumah-rumah sakit di Malaysia juga terus dipacu untuk memperbaiki kualitas layanan kesehatannya. Untuk ini, mereka memang lebih maju dan sadar. Ada yang menggambar dinding dengan lukisan hewan kesukaan anak-anak dan tempat bermain sederhana di bagian pediatric (penyakit anak), ada yang membangun ruang-ruang di mana orangtua bisa menunggui anaknya yang sedang dirawat dengan tenang, adapula yang menyediakan jasa perawatan ke rumah pasien. Yang terakhir ini, misalnya, dilakukan oleh Sunway Medical Center. Untuk pasien yang membutuhkan perawatan dalam jangka waktu lama –misalnya penyembuhan luka dan fisioterapi—rumah sakit ini bekerjasama dengan sebuah perusahaan jasa perawatan melakukan perawatan ke rumah pasien dengan standar yang sama.

“Dengan begitu, keluarga pasien tidak perlu mengeluarkan biaya mahal hanya untuk membayar kamar rumah sakit atau transportasi,” ujar salah satu dokter di sana.

Sementara itu, APSH mencoba untuk memanfaatkan internet bagi layanan kesehatannya. Saat ini mereka sedang merencanakan membuat sistem yang memungkinkan pasien mengakses catatan medis-nya secara online. “Untuk itu kami masih memikirkan caranya agar informasi itu tidak bisa diakses oleh orang lain,” kata Kula.

Di luar itu, dokter ahli dapat dikatakan selalu ada di tempat. Posisi mereka bukan on call, tapi stand by di rumah sakit. “Kalau dokter ahli dalam status on call, kan, jangan-jangan sang dokter sedang operasi di tempat lain? Tapi di sini, kalau dokter ahli tak ada di ruangannya, itu karemna ia sedang pergi makan saja,” ungkap Mohamad Sahir bin Rahmat, Direktur Eksekutif APSH berpromosi.

Hal ini bisa terjadi, salah satunya karena pemerintah mengharuskan dokter untuk memilih: bekerja dengan rumah sakit (hanya di satu rumah sakit saja) atau berpraktek sendiri. Karena itu, dokter tidak akan sering pergi kemana-mana dan lebih mudah ditemui serta menjalankan tugasnya saat diperlukan.

Dengan keunggulan-keunggulan itu, Malaysia siap menjadikan sektor medis sebagai salah satu penyumbang utama devisa. Sementara ini, pangsa utama yang dibidik adalah warga negara ASEAN dan Timur Tengah (Timteng). ASEAN karena dekat, Timteng karena warganya seringkali berkunjung ke Malaysia dalam “rombongan keluarga besar.”

“Kami tak pernah takut bersaing dengan Singapura yang selama ini menjadi pilihan utama pasien dari Indonesia. Jasa yang kami berikan tidak kalah dengan mereka, namun dengan harga lebih murah. Dan saat ini, banyak pengguna layanan kesehatan asal Indonesia yang beralih ke Malaysia dan tidak Singapura-minded lagi,” ujar Kula.

Memang, baik para pengelola rumah sakit maupun Departemen Pariwisata Malaysia menyadari Medical Tourism adalah investasi jangka panjang. “Kalau turisme kesehatan dan pendidikan menyumbang 20% dari total pendapatan pariwisata, saya pikir cukuplah. Kami tidak ambisius,” kata Datuk Abdullah Jonid, Dirjen Tourism Malaysia. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: