Malaysia, Menjual Semua yang Bisa Dijualnya (3)

Feature

Surabaya Post, 30 Mei 2003

Membangun Pendidikan Terintegrasi,

Membidik Mahasiswa Luar Negeri

Oleh: Achmad Supardi

Pendidikan sejak lama dipahami sebagai investasi jangka panjang yang membutuhkan penanaman modal sangat besar. Malaysia benar-benar menyadari hal ini. Namun, mereka tidak berhenti mencari jalan agar pendidikannya dapat terus dibangun sambil di saat yang sama mencari ganti atas biaya yang mereka keluarkan. Solusinya, memperkenalkan pendidikan mereka pada dunia agar lebih banyak mahasiswa asing yang kuliah di sana.

Kesadaran inilah yang membuat Pemerintah Malaysia menjadikan pendidikan sebagai salah satu item khusus dalam penggelaran event pariwisata akbar, Mega Familiarisation yang mengundang media massa dan agen-agen biro perjalanan dari 31 negara.

Dalam acara yang berlangsung Rabu-Minggu (21-25/5) lalu itu, wartawan dan agen-agen pariwisata dibawa menuju ke sejumlah institusi pendidikan di Malaysia. Tiga institusi yang dipilih, yakni Sunway College, Inti College, dan Flamingo Institute mewakili pendidikan mulai setingkat diploma 2 hingga S1. Semua yang ditunjukkan adalah institusi pendidikan swasta karena institusi pendidikan negeri (dibiayai oleh pemerintah) terutama adalah untuk mahasiswa dalam negeri dan jarang menerima mahasiswa asing.

Satu hal yang terlihat dari institusi pendidikan di Malaysia adalah sebuah institusi yang terintegrasi, baik antar bidnag di dalam institusi tersebut maupun antara institusi tersebut dengan pemerintah. Bisa dikatakan semua institusi pendidikan yang ditampilkan Pemerintah Malaysia dalam pameran pendidikan kali ini adalah mereka yang sangat siap. Rata-rata selain memiliki fasilitas akademik yang sangat lumayan seperti laboratorium dengan peralatan lengkap, juga memiliki “kelengkapan” standar yang memudahkan pihak pengelola kampus maupun mahasiswa. Ini terlihat dari dimilikinya sarana akomodasi bagi mahasiswa yang berada satu kompleks dengan kampus. Sarana akomodasi ini beragam, dari kamar-kamar yang bisa dihuni 2 orang seperti di Inti College, hingga apartemen dan kondominium seperti yang dimiliki Sunway College. Sarana akomodasi ini, selain merupakan fasilitas dan bisa dijadikan selling point dalam menarik mahasiswa baru, juga menjadi penyumbang pendapatan yang besar bagi pihak kampus. Dengan demikian, mereka memiliki sumber pendapatan yang pasti.

Akomodasi bagi institusi-institusi pendidikan Malaysia memang memberikan keuntungan besar bagi pengelolanya. Di Sunway, baik dua kondominium lebih dari 15 tingkat maupun apartemen yang terletak di belakang kampus (semuanya dalam jangkauan perjalanan kaki) selalu penuh. Tingkat okupansi mereka yang 100% jauh lebih baik daripada tingkat okupansi terbaik yang bisa dicapai hotel.

Hal yang sama terjadi di Inti College yang terdapat di Nilai, sebuah kota kecil dekat Bandara Internasional Kuala Lumpur. Mereka membagi lahannya yang sangat luas menjadi dua kompleks besar. Satu kompleks khusus untuk kepentingan akademis –ruang kuliah, laboratorium hingga kantor administrasi kampus— sedang kompleks lainnya yang dihubungkan oleh sebuah jembatan sekitar 40 meter adalah sarana mahasiswa beraktivitas. Di kompleks terakhir inilah terdapat “kamar-kamar kos” mahasiswa, kafetaria yang buka 20 jam sehari, hall, juga sarana kesejahteraan siswa, termasuk sebuah kolam renang ukuran olimpiade. Setelah berdiri hanya dengan 37 mahasiswa di tahun 1997, mahasiswa Inti College sudah membengkak menjadi 14.000 tahun 2002 lalu dengan 2.500 orang di antaranya berasal dari luar Malaysia.

Di luar semua fasilitas yang ada, bersama Pemerintah Malaysia institusi-institusi pendidikan ini mulai memperkenalkan diri pada pasar luar negeri. Maklum, warga domestik Malaysia lebih suka belajar di perguruan tinggi milik pemerintah karena hampir semua mahasiswanya mendapat beasiswa dari pemerintah. Selain itu, banyak universitas negeri di Malaysia yang kualitasnya lebih baik dari universitas-universitas swastanya. Di Universiti Teknologi Malaysia, Johor, misalnya, pengunjung bisa melihat layar Bloomberg raksasa untuk mengamati fluktuasi harga saham dunia.

Karena itu, salah satu cara paling cerdik untuk survive dan berkembang, perguruan tinggi swasta di Malaysia harus menarik sebanyak mungkin mahasiswa luar negeri. Segmen utama yang dibidik tentu saja mereka yang secara geografis dan budaya terbilang “dekat” serta memiliki sistem pendidikan yang kurang lebih sama atau lebih buruk dari Malaysia. Sementara ini di semua institusi tersebut, mahasiswa Indonesia dan Cina menjadi yang terbesar.

“Saya pilih kuliah di sini karena fasilitasnya lengkap dan kurikulumnya, setelah saya lihat, ternyata cocock dengan yang saya inginkan. Selain itu, setelah dilihat dan dihitung, biaya kuliah di sini jatuhnya lebih murah daripada kuliah di Jakarta,” ujar Maidy, mahasiswa Inti College asal Pekanbaru.

Jalin Kerjasama

Satu hal yang patut diteladani oleh institusi pendidikan di dalam negeri adalah upaya sungguh-sungguh institusi pendidikan di Malaysia untuk meningkatkan kualitas mereka. Bukan hanya memperbaiki piranti keras seperti laboratorium, akomodasi mahasiswa dan sarana olahraga, namun juga bekerjasama dengan institusi pendidikan asing yang lebih maju dalam membuat terobosan-terobosan kurikulum.

Kebanyakan daya tarik kuliah di perguruan-perguruan tinggi swasta Malaysia adalah kesempatan untuk menghabiskan tahun terakhir di universitas-universitas yang lebih maju di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Untuk ini, perguruan-perguruan tinggi Malaysia memang berusaha keras menyesuaikan kurikulumnya dan kualitas.

“Tanpa itu, tentu universitas-universitas tersebut (asal luar negeri, Red) tidak akan mau menerima mahasiswa kami atau mengakui kredit kuliah mereka yang didapat di sini,” ujar Alex Lee chin Hun MBA, Direktur Pemasaran Internasional Inti College.

Kemauan untuk memenuhi standar internasional ini bukan hanya pada tingkat universitas, namun juuga pada tingkat institut yang menyediakan pendidikan sekelas diploma. Ambil contoh Flamingo Institute. Institusi pendidikan yang ada di Tasik Ampang, Ampang ini sebenarnya tak beda dengan sekolah-sekolah tinggi pariwisata dan perhotelan di Surabaya. Pendidikan yang mereka tawarkan seputar manajemen perjalanan wisata, front office, room management, food and beverages, culinary arts dan sejenisnya. Namun, mereka mau sedikit berusaha untuk mendapat pengakuan, misalnya dari Lembaga Akreditasi Negara Malaysia dan dari City and Guilds, organisasi pemberi standar internasional dari London, Inggris.

Selain itu, mereka juga memanjakan mahasiswa. Bukan hanya akomodasi yang disediakan, namun juga terdapat sarana kebugaran, arena bowling, jogging track, dan danau.

Pola layanan pendidikan terintegrasi dengan akomodasi dan sarana kesejahteraan mahasiswa ini potensial menarik minat mahasiswa. Selain itu, pola semacam ini memudahkan agen perjalanan dan lembaga pengurusan jasa pendidikan luar negeri merancang paket-paket kuliah maupun study tour. Inilah poin penting dalam menarik mahasiswa maupun penikmat “pariwisata pendidikan” dari mancanegara.Untuk ini, uluran tangan pemerintah dalam mempromosikan lembaga-lembaga pendidikan ini menjadi fasilitas yang sangat berguna. Tidak heran bila institusi-institusi pendidikan di Malaysia berhasil menggaet banyak mahasiswa asing. Flamingo Institute saja bisa menarik mahasiswa dari Indonesia, Cina, Korea Selatan, Pakistan, hingga Peru dan Zimbabwe. Bagaimana dengan Indonesia?(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: