Komunikasi Ala Bawang Merah dan Salak

Dalam hidup, tentu kita kenal dengan banyak orang. Sekuper-kupernya kita, segalak-galaknya kita, atau setengil dan sebrengsek apa pun kita, pasti ada sejumlah orang yang berhubungan dengan kita. Bisa jadi di antara mereka adalah guru yang tak kuasa menolak ketika kita didaftarkan orangtua ke sekolah tempat dia mengajar. Meski kita nakal dan meresahkan, toh sang guru terpaksa menerima kita.

Sebagian orang itu bisa jadi mertua yang tak kuasa berkata tidak ketika anaknya bersikeras mau menikah dengan kita. Mungkin juga tetangga yang getun (menyesal) setengah mati mengapa tetangga yang lama, yang begitu baik dan perhatian, menjual rumahnya kepada kita. Sebagian orang itu mungkin juga rekan kerja yang selalu bertanya, “Kok bisa-bisanya nih orang tersesat ke sini?”

Saya, tentu saja juga punya banyak kenalan. Banyak orang yang mampir maupun ‘menetap’ dalam kehidupan saya. Ada beberapa yang menempati posisi khusus karena beragam sebab. Kali ini saya akan bercerita tentang kawan yang menjadi khusus, salah satunya, karena pola komunikasinya. Sepertinya, saya dan dia memiliki pola komunikasi yang berbeda. Mungkin perbedaannya diametral.

Dunia memang tidak dikotomis. Tapi demi kemudahan, saya akan memotret diri saya dan kawan saya itu secara dikotomis. Saya adalah orang yang “ngeblong”, teman saya itu “ngerem” banget. Orang yang tergolong ngeblong bukan berarti mereka bicara tanpa henti. Namun, tak terlalu banyak rambu yang mereka perhatikan ketika berkomunikasi. Apakah mereka cenderung tidak beretika, atau bahkan melanggar hukum?

Kalau kata mahasiswa saya, “Bukan begitu juga kaleeee….”

Rambu yang dimaksud di sini adalah identitas diri. Sebagian orang enjoy saja mengkomunikasikan hal-hal yang berkait dengan dirinya: keluarganya, harapannya, standarnya, masa lalunya, termasuk kejadian seru dan sarunya. Bagi mereka, sisi-sisi kehidupannya adalah pelajaran bagi mereka sekaligus bagi orang lain. Menjadi terbuka, bagi orang-orang ini, adalah sebentuk sikap berbagi. Learn something positive and avoid the negative ones. Saya, sepertinya, cenderung ke tipe ini.

Kawan saya yang saya ceritakan kali ini, cenderung “ngerem”. Pola komunikasinya, sepertinya, tampak sangat hati-hati. Dia sering ngerem, membuat laju komunikasinya sedikit tersendat. Tak banyak cerita tentang diri yang akan mengalir dari orang seperti ini. Mereka cenderung menganggap cerita tentang diri sendiri tak layak dibagikan ke orang lain. Kalau cerita itu bagus dan membanggakan, mereka khawatir menceritakannya dianggap sombong atau pamer. Kalau hal itu buruk atau bahkan memalukan, menceritakannya dianggap sebagai memajang aib sendiri.

Saya, kalau saya perhatikan, lebih mirip salak. Begitu kulitnya dibuka, langsung kelihatan daging buahnya. Salak, seperti Anda tahu, hanya punya satu lapisan daging buah. Memang ada selaputnya, tapi tipis dan transparan. Kita tetap bisa melihat daging salak bahkan ketika selaputnya belum kita buang sekali pun. Seperti salak, saya orang yang tak terlalu banyak berahasia tentang diri sendiri. Bila orang bertanya tentang diri saya, saya cenderung menceritakannya. Mungkin tidak seratus persen, namun persentasenya tentu lebih banyak daripada mereka yang saya kategorikan seperti bawang merah.

Anda tahu bawang merah, kan? Coba dibelah, maka Anda akan mendapati banyak sekali lapisan. Setelah kulitnya kita buka, kita akan mendapatkan daging bawang. Namun, daging bawang merah tidaklah satu lapis. Di dalam lapisan terluar, masih ada lapisan lain, dan di dalamnya masih ada lapisan lainnya lagi dan lagi. Kawan saya ini, sepertinya, terkategori bawang merah. Untuk mengenal dia dengan “utuh”, kita harus masuk selapis demi selapis. Dan, tentu saja, kemampuan kita untuk masuk dari satu lapisan ke lapisan berikutnya sangat tergantung dari kesediaan dia untuk membuka diri. Anda sendiri punya teman baik dari golongan salak maupun bawang merah, bukan?

 

Masih punya energi untuk melanjutkan? Kalau iya, yuk dilanjut….

Si Detil dan Si Sekadar

Yang juga menarik adalah mengamati pola komunikasi tertulis seseorang. Komunikasi tertulis menarik diperhatikan karena dia berbeda dari komunikasi oral/lisan. Dalam komunikasi lisan, penanda emosi lebih banyak disertakan dan lebih mudah diidentifikasi. Misalnya, intonasi dan kecepatan dalam berbicara.

Ketika kawan kita menelepon dan suaranya gugup, kita bisa langsung mengklarifikasi, “Kamu takut?”

Kalau dia hening atau jeda dalam waktu agak lama, kita bisa bertanya, “Ada apa? Kamu tidak suka membicarakan tema ini, ya?”

Sebaliknya, dalam komunikasi tertulis, penanda emosi ini lebih sukar dilekatkan. Akibatnya, lawan komunikasi kita (pihak yang membaca tulisan kita) lebih sukar dalam menebak dalam suasana emosi seperti apa kita saat melakukan komunikasi tertulis tersebut. Karena itu, kita cukup sering melihat status Facebook yang memancing salah paham. Dua kawan bisa berselisih, atau bahkan marahan, karena si penulis status dan kawannya yang membaca status itu memiliki pemahaman yang berbeda atas status tersebut.

Karena itu, manusia yang merupakan makhluk paling cerdas ini, terus berinovasi. Termasuk, menciptakan emotikon-emotikon. Kita kemudian mengenal emotikon tersenyum, tertawa lebar, melet (menjulurkan lidah), muram/sedih, memangis, marah, dan lainnya. Tapi, emotikon tetaplah tak bisa menggantikan emosi yang sesungguhnya.

Mengapa?

Karena emotikon sangat kategoris, sementara emosi kita sangat subtle. Emotikon, misalnya, hanya menyediakan emosi “menangis”, namun tidak sampai “menangis gembira”, “menangis sedih”, “menangis patah hati”, “menangis pura-pura” dan sebagainya. Analoginya, emotikon itu adalah warna-warna dasar dan warna populer: biru, kuning, merah, hijau daun, hitam, putih, dan coklat. Sementara, emosi itu adalah koleksi warna yang tak terbatas, yang gradasinya sangat halus. Andaikan emosi kita ibaratkan sebagai warna, maka koleksi warna emosi termasuk “merah muda agak pucat tapi tak sampai terlalu putih” atau “hijau daun yang tak terlalu pekat namun juga nggak seterang hijaunya daun pisang yang masih muda” atau “jingga, tepatnya jingga mirip jingganya kunyit, tapi dengan gradasi air seperti permukaan wortel impor”. Sangat variatif.

Hilangnya (atau sangat kurangnya) penanda emosi ini menjadikan komunikasi tertulis memerlukan perlakuan khusus. Kita kadang bisa tersinggung gara-gara reply teman kita yang sangat pendek. Kita kadang mengumpat dalam hati, “Busyet dah, pertanyaan gua sepanjang itu dia jawab sependek gini? Nggak care banget.”

Gimana? Sudah bosan? Kalau belum bosan, yuk dilanjut….

Nah, di sini saya melihat ada dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah mereka yang dalam komunikasi tertulisnya cenderung detil, kelompok kedua komunikasi tertulisnya cenderung sekadarnya.

Kelompok pertama (detil) biasanya ditandai dengan kalimat yang rinci. Kalau dia bertanya, dia merinci pertanyaannya. Kadang, dia membubuhkan angka (misalnya, pertanyaan pertama, pertanyaan kedua, dan seterusnya) untuk memudahkan pihak lain untuk menjawabnya. Demikian pula kalau dia menjawab.

Kelompok kedua (sekadarnya) biasanya ditandai dengan kalimat yang singkat, kadang tidak jelas. Mereka hanya menjawab sekadarnya saja, pada poin yang mereka anggap penting untuk dijawab. Kalau bertanya, pertanyaannya juga sekadarnya dan “percaya penuh” bahwa pihak yang ditanya mengerti apa yang ia maksudkan.

Bila orang dari dua kelompok yang berbeda ini berkomunikasi secara tertulis, biasanya akan memakan durasi yang cukup lama. Karena, “si detil” akan bertanya apa yang dimaksud oleh “si sekadar”, dan sekalinya “si sekadar” menjawab, belum tentu juga jawabannya memuaskan hingga “si detil” perlu bertanya ulang. Kalau mereka berkomunikasi secara lisan, “si detil” bisa melakukan klarifikasi secara langsung hingga delay-nya tidak terlalu lama.

Berbicara tentang delay dalam komunikasi, kelompok sekadar cenderung menciptakan delay yang lebih lama. Ini karena mereka biasanya lebih peduli pada “konten” pesan dan terlupa memperhatikan proses.

Maksudnya, kelompok “sekadar” cenderung merespon komunikasi dari pihak lain (misalnya komen di status Facebook, pertanyaan di e-mail, dll) berdasarkan penting atau tidak pentingnya isi pesan. Kalau ia anggap isi e-mail itu penting, akan ia jawab cukup segera. Kalau komen di status Facebook-nya ia anggap cukup penting untuk dikomentari, ia akan komentar. Kalau tidak, e-mail maupun komen itu akan dibiarkan hingga “kering”.

Sebaliknya, kelompok “detil” biasanya memiliki kepekaan yang lebih tinggi. Mereka tidak sekadar melihat pada konten, tapi menyadari bahwa e-mail, komen di Facebook dan lain-lain adalah sebentuk proses komunikasi yang menyiratkan adanya harapan dari pihak kedua untuk ditanggapi. Karena itu, kelompok “detil” biasanya akan merespon, meskipun hanya dengan nge-like, menuliskan kata “setuju” atau sekadar “kwkwkwkwkw”. Bagi mereka, yang terpenting adalah memberi sinyal bahwa keinginan orang lain untuk berkomunikasi sudah mereka tanggapi. Kalau konten pesannya bagus, itu adalah bonus yang membuat “si detil” membalas dengan lebih bergairah lagi.

Dengan apa yang saya ceritakan di atas, mungkin anda akan menebak bahwa saya tergolong ekstrovert. Well, mungkin. Tapi, saya bukan dari sononya ekstrovert. Saya cendrung ekstrovert, atau “tampak seperti ekstrovert”, karena secara sadar saya mengupayakannya.

Hingga kini pun, sebenarnya, saya tidak segera bisa berkenalan dengan orang lain. Kalau saya menjadi penduduk baru suatu kawasan, misalnya karena pindah rumah, saya biasanya sulit untuk memulai perkenalan. Bukan karena sombong, namun karena tidak memiliki kemampuan untuk membuka topik pembicaraan.

Cukup sering juga saya “terjebak” di sebuah angkot di mana sopir dan para penumpangnya lebur dalam sebuah obrolan (biasanya sih seputar urusan tempat tidur). Dalam kondisi demikian, saya cukup sering hanya berbagi senyum. Saya lebih suka jadi pendengar dan pengamat daripada pemain aktif.

Namun, seiring pertambahan usia, saya menyadari perlunya untuk bersikap lebih terbuka. Sebagian menyebutnya “lebih hangat”. Pekerjaan sebagai wartawan membuat sikap ekstrovert menjadi semacam keharusan. Ya… masak iya nara sumber yang harus supel dan membuka percakapan dengan saya? Apa kata dunia? Sekarang, dalam posisi sebagai dosen, sikap yang supel dan terbuka juga menjadi modal yang berguna. Mahasiswa tidak ingin kita sapa hanya di kelas saja, kan?

Karena itu, saya tadinya bukan ekstrovert, lantas secara sadar berupaya ke arah sana, dan sepertinya berhasil.

Teman saya ini, sepertinya cenderung introvert. Ada sisi “rame”-nya, kadang sedikit centil, namun most of the time, dia lebih suka mendengarkan, mengamati, dan meresapi daripada melebur secara suka rela.

Tentu yang satu tidak lebih baik dari yang lain. Masing-masing membuat dunia yang kita tinggali menjadi kaya warna, colorful. (Achmad Supardi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: