ODE TO FARMER

Ia menatap batas cakrawala

cangkulnya menghunjam tanah, ia tengadah:

O musim, mana kalimatmu?

Ia lalu duduk

lututnya ditekuk, ia usap tanah yang semusim nanti

akan terus ia cumbui

ini baru awal: kita akan terus pacaran

Ia menatap rerimbun dedaunan

coklat, menggenang di tanah kerontang

O angin, beri aku janji!

Ia bersila, mengatur nafasnya

aku sudah birahi, pada tanah ini

beri aku bayi

yang tampan,

yang gemuk sekali

lalu angin mendesau

membawa kering dedaunan, juga debu-debu

dari lubang tanah kering teriris kemarau

lalu hujan, deras, menghanyutkan

dia tetap di situ, berlutut pada kabut:

“Ini, sudah lama aku rindui!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: