ODE TO MY FATHER

Sekali lagi ia lipatkan hari:

sudah selesai, besok lagi

Pagi, teramat pagi ia buka laci

dijumputnya matahari, dikipasi

“Dia tidak panas, di tepi jalan begini”

lalu seragamnya –yang penuh cat dan karat–

dipakainya

pada jam ia berpesan: bergulirlah

tak usah kau berdusta

Api, persis di bayang diri

apalagi yang mesti ditakuti?

jalan begini jua

tapi angin tak pernah berhenti berdesir

dan mimpi di siang, di pinggir jalan

mengatupkan semua luka

membekukan darah yang dialirkan duri sejak pagi

Senja, raja itu hendak undur diri:

kau pemenang, kutunggu esok hari

“Jemputlah, aku tak pernah lelah!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: