Ode to Self

Gemetar tangannya memilin bulir padi

“Kosong,” ia menggumam pada Tuhan

lalu ia goreskan korek api

“Musnahlah, jangan lagi iris hati kami”

Lunglai, lututnya ia tekuk ke arah masjid desa

lalu matanya menatap awan yang terus menggantung,

tak pernah mau menjenguk sawahnya

apa ia takut tetes-tetes air yang akan dialirkannya

akan merontokkan bangunan yang tak lagi ia sapu lantainya?

Laki-laki itu lalu berdiri.

Segaris senyum terpahat di mukanya yang hitam

“Baik, aku akan datang

sebelum masjid itu

roboh dihantam hujan”

Laki-laki itu lalu lari

hujan membuntuti

ia terus lari

hujan membuntuti

ia terus lari (010201)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: