Sawah Terakhir

Minggu pagi setelah hujan rintik semalaman. Segar. Matahari juga tidak terlalu garang. Kukayuh sepeda ke Graha Asri. Mampir beli gudeg Jogja “rasa Cikarang” agar perut berhenti protes. Beberapa menit kemudian sudah kutempati pojokan favoritku: sebuah dangau di depan SD Rabbaani yang menghadap ke sederet sempit sawah. Pesawahan itu dipagari perumahan dan pabrik, juga lahan luas yang sedang diurug. Ya, diuruq buat apalagi kalau bukan pabrik-pabrik baru. Ada sedih menyelinap kala menyadari bahwa sekotak kecil surge hijau ini pun akan segera menemui ajalnya, berubah menjadi perumahan dan pabrik kesekian.

“Tanah pesawahan ini juga sudah punya pengembang. Tinggal tunggu giliran saja untuk dibangun,” kata seorang petani yang duduk bersamaku di dangau itu. Ah bukan, dia bukan petani. Lelaki berputra dua itu adalah mantan petani yang terpaksa menjual 3 petak kecil sawahnya tahun 1994 lalu.

“Saya hanya punya sawah sempit, sulit untuk menolak tawaran untuk menjualnya. Apalagi petugas (pejabat desa, Pen.) selalu meng-ojok-ojoki kami agar menjual sawah kami ke pengembang. Bukannya menyadarkan kami agar mempertahankan tanah itu karena nantinya harganya akan mahal, mereka malah terus mendesak kami agar menjual tanah kami. Harganya waktu itu hanya Rp 10.000 per meter persegi,” katanya, mengingat sebuah keputusan yang sepertinya ia sesali. Kini, tanah di perumahan bekas sawahnya itu sudah dihargai Rp 500-750 ribu per meter persegi. Sebuah angka yang membuat penyesalan lelaki di depanku makin mengental saja.

Lelaki, yang terlupa kutanya namanya, kini merenungi nasibnya.  “Saya sempat jadi tukang ojek. Tapi tahun segitu, perumahan masih sepi, jalan bergelombang dan berbatu. Narik seminggu saja sudah turun berok. Perut sakit, tak enak makan,” katanya.

Tiga tahun lalu, ketika SD Rabbaani belum banyak dikenal, dia diterima menjadi satpam di situ. Bukan pekerjaan ideal, bukan pula posisi yang menjanjikan pemasukan lumayan. Namun, ini diterimanya sebagai berkah. “Sekarang, untuk jadi satpam saja harus SMA. Lha saya sendiri cuma lulusan SD. Saya diterima karena waktu itu sekolah ini masih baru, masih butuh pegawai,” katanya. Syukur dan galau bercampur dalam nada suaranya.

Di antara padi yang mulai menguning bulirnya dan burung berbulu putih-hitam yang mencuri-curi kesempatan, dia menghela napasnya. “Di sekeliling rumah saya sekarang adalah pabrik-pabrik. Di situ (tangannya menunjuk bekas pesawahan yang sekarang sedang diuruk) katanya akan dibangun 30 pabrik. Saya bingung memikirkan nasib saya sendiri. Pabrik-pabrik dibangun, orang-orang berdatangan dari banyak daerah, tapi saya hanya bisa menonton saja. Ikut kerja di sana (calon pabrik-pabrik baru, Pen.) belum tentu diterima. Saya terkendala usia dan ijazah,” ujarnya.

Matanya kembali menatap pesawahan sempit di depan kami. Pesawahan yang, bisa jadi, akan lenyap musim kemarau ini. (Achmad Supardi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: