Archive

Monthly Archives: January 2013

Banyak berkahnya menjadi pengguna setia angkot dan anarkot (angkutan antar kota). Pertama, saya bisa melatih kepekaan agar suatu ketika nanti siap menggantikan Dhani Dewa sebagai juri The X Factor Indonesia. Atau mungkin malah menggantikan Simon Cowel yang lidahnya pedas itu. Hampir tiap minggu saya mendengarkan beragam karakter vocal dan aneka genre lagu. Sebagian membuat saya nyaris tertidur, yang lain membuat saya terbangun dari tidur. Tapi, bukan berkah ini yang ingin saya ceritakan lebih panjang.

Sebagai pengguna angkot dan anarkot, saya juga mendapat berkah kedua: menjadi pengamat gaya rambut. Duduk diam selama beberapa menit hingga beberapa jam, tentu bosan kalau tidak diimbangi dengan aktivitas. Cukup sering saya memeriksa UTS atau tugas mahasiswa, kadang membaca novel, memperhatikan pernik kehidupan di pinggir jalan, namun belakangan saya punya kesenangan baru: memperhatikan potongan rambut para penumpang. Supaya terkesan ilmiah, objek observasi saya haruslah spesifik: Laki-laki, rentang usia remaja hingga dewasa awal.

Hah, laki-laki?

Ya iyalah, kalau saya memperhatikan perempuan, jangan-jangan bisa kena gampar. Atau, kalau penumpang perempuan itu berjilbab, bagaimana saya bisa menduga potongan rambutnya? Jadi, para perempuan, berjilbablah, hehehehe.

Kenapa remaja hingga dewasa awal? Karena anak-anak maupun orang tua biasanya memiliki potongan rambut yang biasa-biasa saja. Kurang menarik untuk dianalisis.

Model rambut ternyata banyak sekali. Begitu beragam! (hellooooo, selama ini kemana saja? Hehehe)

Ada gaya rambut yang “dikumpulkan” di bagian tengah. Poni ditekuk ke tengah. Rambut bagian atas belakang, juga ditekuk ke tengah. Rambut bagian kiri dan kanan (di atas pelipis), juga ditekuk ke tengah. Hasilnya, bunga mawar mekar di atas kepala. Yang saya bayangkan, sungguh ribet ,mengatur gaya rambut seperti itu.

Ada juga rambut model Mohawk. Seorang saudara saya pernah menyebut rambut ini model “munyuk” alias –maaf—monyet. Tidak terlalalu salah, karena banyak saya temui kera bintang “topeng monyet” memiliki model rambut jenis ini. Bagi saya, rambut model ini juga ruwet. Butuh tenaga dan waktu ekstra untuk menatanya. Bagian poni harus diarahkan ke atas sedikit ke belakang. Lalu, rambut di atas pelipis kiri dan kanan diarahkan ke atas agak ke tengah hingga persis di bagian atas kepala tercipta deretan serupa Bukit Barisan di atas punggung Sumatera. Tanpa bantuan gel, sepertinya susah membuat gaya rambut seperti ini.

Yang juga cukup sering saya temui di Cikarang adalah rambut punk. Modelnya sederhana: mirip gir sepeda. Rabut dikumpulkan di bagian tengah, lalu dibuat sejumlah kerucut menyerupai cone es krim (tapi lebih runcing) mulai dari dahi hingga tengkuk. Sepertinya kelompok ini jarang berkonflik. Sebab kalau sampai bertengkar, bukankah sangat mudah menjambak rambutnya?

Lalu, ada juga model rambut timbangan rusak. Maklum, berat sebelah. Jadi, rambut sebelah kiri dipanjangkan, lalu dengan sekuat tenaga dibelokkan ke kanan hingga menjuntai. Saya miris melihat mata si empunya seperti selalu tertutup tirai. Kini saya tahu mengapa makin banyak kecelakaan sepeda motor belakangan ini. Rupanya si pengendara sibuk menghalau rambut dari depan matanya….

Melihat semua itu, saya bersyukur dengan potongan rambut saya yang tak pernah berubah sejak saya datang ke tukang pangkas rambut atas kemauan sendiri (sebelumnya selalu karena paksaan ayah). Rabut saya selalu pendek dan modelnya itu-itu saja. Cukup arahkan sisir ke belakang, tanpa tambahan gel, bahan pengawet, bahan pewarna atau pemanis buatan, rambut rapi sudah.

Mungkin Anda akan mengatakan saya konservatif. Bisa saja. Atau, Anda bisa juga menuding saya menghambat sektor ekonomi kreatif. Dengan model rambut yang itu-itu saja, saya mematikan kreativitas orang-orang seperti Irwan Rovani Doke, Andy Lie, Arie Hidayat, Bambang Harryono, atau senior mereka Johnny Andrean beserta seniman tata rambut lainnya. Tapi Anda jangan khawatir. Tuhan maha penyayang. DIA tak ingin seniman tata rambut mati kreativitas maupun  rezekinya. Karena itu orang-orang seperti saya –penyuka rambut pendek dengan gaya itu-itu saja—diciptakan dalam jumlah terbatas. Limited Edition. Hahahaha. (Achmad Supardi)

Advertisements

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Ia menjadi salah satu cara pengungkapan perasaan sekaligus pemikiran dari sang penyair. Sebagian puisi lebih kental unsur perasaannya (kesedihan, syukur, dll), ada pula yang lebih kuat unsur pemikirannya (protes, kritik, dll). Namun secara umum, puisi adalah gabungan keduanya.

Karena puisi terdiri dari kalimat-kalimat dan kata-kata yang simbolik, maka “membaca” (memahami) puisi tak semudah membaca/memahami cerita pendek atau novel. Pembaca harus lebih dulu mencoba “memaknai” masing-masing kata atau kalimat simbolik tersebut, barulah ia bisa “membongkar” arti yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan catatan, hasil “pembongkaran” atau “pemaknaan” kita belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh penyair. Tapi ini wajar dan sah-sah saja. Ketika puisi/cerpen/novel/atau karya apa pun sudah dilempar ke publik, ia sudah “terlepas” dari si penulis. Ia menjadi “teks” atau “pesan” yang bisa dimaknai oleh siapa pun dengan makna nyaris apa pun.

Berikut contoh memaknai puisi:

Lelaki dan Bocah
: Untuk P. Suwan dan Oni

Lelaki dengan bocah di bahunya (ini bisa simbolik, bisa juga hanya ikon atau fragmen menarik untuk mengikat pembaca)

pematang itu ia tebas

lipat waktu dalam bening mata bocah itu (menggunakan kata “pematang” karena inspirasinya petani. Namun pematang juga bisa diartikan: jalan –> jalan hidup. Ia tebas = dilalui, dihadapi –> demi sang anak)

Lelaki dan bocah pada pantai parak senja (penanda waktu, juga menimbulkan kesah syahdu)

langkah mereka adalah mata istri teduh menyala (hidup suami dan anak adalah hidup istri)

dan kala lokan, keong dan pasir pantai menyapa matanya, (ibarat, menemukan hal-hal baru)

bocah itu tersenyum

ayahnya menuliskan kata baru dalam notesnya (setiap menemui hal baru, ayah “mengajarkan” artinya pada sang anak, sang anak menerima –dan bisa protes—atas yang diajarkan ayahnya tsb)

Lelaki dengan bocah yang dipanggulnya (fragmen saja)

bumi ia bagi dalam alinea yang dipahami anaknya (hidup diajarkan secara bertahap)

lalu embun dan matahari (pernik kehidupan, yang sukar dan yang mudah)

juga mawar dan badai (pernik kehidupan, yang baik dan yang buruk)

tercatat dalam mata bocah yang

dipanggulnya melintasi telaga dan samudera (aneka riak kehidupan selalu dicatat oleh sang anak yang terus dididik oleh sang ayah, melintasi tantangan hidup, baik tantangan yang kecil (telaga) maupun tantangan yang besar (samudera))

Lelaki dan bocah pada bayang ombak berdeburan (fragmen)

terpaku mereka pada layar dan dermaga yang ditinggalkan (selalu ada masa lalu yang pergi, orang-orang terkasih yang pergi)

bercakap mereka dalam bayang pulau di kejauhan (melihat masa depan, mereka-reka kehidupan masa mendatang)

mata mereka lekat pada lampu kapal, juga bulan

yang menyembul perlahan (lampu kapal, bulan –> selalu ada petunjuk dalam mengarungi hidup)

Lelaki dengan bocah di bahunya

satu demi satu ia bukakan halaman buku anaknya (ayah membuka / memberi tahu/ mengajarkan tahap-tahap kehidupan)

Lelaki dengan bocah dalam sketsa pantai senja

Dunia

itu alinea yang terus dituliskannya (dunia alias kehidupan adalah “buku” yang tak henti kita baca maupun kita tulisi, harus terus menerus dipahami)

Achmad Supardi, 25 Januari 2013

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

“Merokok itu enak, terutama bila sedang berada di tempat dingin. Badan jadi hangat,” kata seorang wartawan yang ngepos di Lumajang. Asal tahu saja, wartawan yang bertempat tinggal di daerah yang relatif sejuk itu bukan smoker alias cuman kadang-kadang saja menghisap rokok. Bayangkan betapa sangat nikmatnya merokok bagi orang-orang yang memang tergolong “manusia berasap”.

Merokok tampaknya memang nikmat. Dan tidak hanya itu, merokok dianggap sebagai aktivitas yang sangat mempesona. Bahkan sebagian gadis menyukai pria yang memiliki rokok terselip di antara dua bibirnya. “Rasanya kok, maskulin, gitu,” kata seorang cewek belasan tahun.

Apakah anggapan merokok itu nikmat dan mempesona datang begitu saja? Tidak!

Longok saja iklan-iklan rokok. Bukankah semua citra dan imaji terwakili? Ada rokok yang merupakan selera pemberani, ada pula yang menawarkan citra sebagai lelaki gagah perkasa seperti para koboi Amerika. Ada juga yang menawarkan selera pas kemantapan. Bahkan ada yang mengklaim memberikan kenikmatan sukses. Tapi yang jelas, jangan anggap enteng! Maksudnya, jangan anggap enteng penyakit yang ditimbulkannya! Juga gelombang pajak yang dialirkannya sehingga bisa dibilang semua pemerintah negara di dunia tidak ada yang melarang industri rokok.

Begitulah. Rokok adalah gaya hidup. Gaya hidup yang keberadaannya terus dihidupkan oleh pembentukan citra tertentu. Rokok juga imaji. Imaji yang masih mampu memberi sedikit eksistensi ketika seseorang tak lagi memiliki apapun untuk dibanggakan, untuk ditempelkan.

***

Di sebuah kelas, seorang mahasiswa dipandang oleh puluhan pasang mata. Ada nada tak suka dalam tatapan berpuluh pasang mata itu. Sebenarnya si mahasiswa yang sedang disorot itu hanya mengajukan argumen, pandangan, juga isi tulisan yang mungkin baru dibacanya yang kebetulan tidak sejalan dengan keterangan dosen yang beberapa menit sebelumnya diberikan. Tapi mahasiswa kritis itu dipandang dengan kemarahan. Berpuluh pasang mata itu menganggap sang mahasiswa yang tengah mengajukan argumen-argumennya sebagai perampok. Ya! Perampok yang mengambil kesempatan berpuluh mahasiswa lainnya –yang kebetulan “manis-manis”– untuk mendengarkan keterangan dosen. Bagi mereka keterangan dosen pasti lebih berharga dan pasti “lebih benar” dibanding keterangan mahasiswa.

Bila ditanya mengapa sang mahasiswa kritis itu dipandang sebagai “perampok”, jawabannya sederhana saja: citra.

Citra bahwa dosen “serba tahu” masih melekat kuat. Citra bahwa omongan dosen sangat layak dicatat masih tertanam dalam. Citra bahwa keterangan dosen jauh lebih berharga daripada argumentasi mahasiswa –yang paling cerdas sekalipun– masih mengendap kukuh di banyak otak mahasiswa sendiri. Padahal sudah banyak dosen yang dengan legawa membiarkan mahasiswa menjadi “dosen-dosen kecil” karena sadar anak didiknya punya banyak waktu dan biaya untuk ngenet, untuk baca Newsweek dan Time edisi terbaru, bahkan untuk berlangganan jurnal-jurnal mahal seperti Foreign Affairs atau Third World Quarterly. Sedang mereka masih berkutat dengan buku-buku terbitan tahun 1980-an, bahkan tahun 1960-an! Sedang mereka untuk membeli satu buku baru harus berpikir dulu seribu kali.

Mengapa ketika mahasiswa memberi argumentasi –yang kalau ditulis pasti memuat banyak sekali catatan kaki, dan semuanya sangat up dated– itu masih dipandang sebagai “perampok”? Masih dipandang dengan sorot mata tidak senang? Semua soal citra.

***

Di sebuah kuliah tamu yang dihadiri Menlu –saat itu– Alwi Shihab –yang dia kesel banget karena semua tindakan Gus Dur seakan tak pernah cocok dan selalu digoyang rumor– seorang mahasiswa membalas, “Bisa jadi Gus Dur memang sering digoyang rumor. Tapi masalahnya, apa bukan Gus Dur sendiri pabrik rumor terbesar di Indonesia?”

Pabrik rumor. Itu satu citra.

Di sebuah break istighosah, sambil merokok dan makan kacang sejumlah orang memperbincangkan Gus Dur. Ternyata kesimpulannya sangat berbeda. Menurut mereka Gus Dur adalah wali. Wali yang malati (bisa membuat orang yang kurang ajar jadi kualat). Mereka memang orang-orang yang selalu siap menjadikan beragam pendapat Gus Dur sebagai satu hal yang taken for granted. Ketika mereka tidak mampu mengikuti jalan pikiran Gus Dur, enteng saja mereka menyalahkan diri mereka sendiri dengan mengatakan, “Pancen awak-awak iki sik nggak nutut! Isik bodho banget!”
Wali yang malati. Itu juga citra.
***
Sebuah foto demonstrasi mahasiswa di Jakarta tiba ke redaksi malam itu. Fotonya sangat biasa, hanya beberapa belas mahasiswa meneriakkan yel-yel anti Gus Dur. Sejenak sang redaktur kecewa. Foto begini saja dikirim! Tapi sebuah ide kemudian melintas. Dengan cropping (pemotongan) sederhana foto itu akhirnya menjadi “sangat berbicara” karena yang tampak kemudian adalah beberapa kepala dengan wajah-wajah sangar penuh kebencian.

Gus Dur yang sangat dibenci, itu citra yang muncul dari foto tersebut. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa.
Di ketika yang lain, wartawan sebuah kantor berita luar negeri terlambat datang ke lokasi. Daripada kena semprot redaktur, dipinjamlah catatan wartawan media lokal dan itu yang ia kirim ke kantor pusatnya. Isi beritanya, Ambon berdarah. Sang redaktur, seperti biasanya me-rewrite berita itu. Hasilnya: Ambon berdarah-darah.

Ambon berdarah-darah adalah citra. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa. Dan citra yang merupakan rekayasa, tak terhitung banyaknya.
***
Di sebuah iklan, seorang mertua yang mau membesuk tetangganya hendak membeli jeruk mandarin sebagai oleh-oleh. Tentu itu karena citra jeruk mandarin sebagai produk impor pastilah lebih oke, lebih bergizi dan lebih bergengsi. Tapi sang menantu yang sadar mertuanya hanya termakan oleh citra, segera bersuara, “Beli jeruk Pontianak saja, Bu. Gizinya sama, lebih murah lagi!” (*)

*artikel ini dimuat ketika Gus Dur masih sugeng dan –kalau tak lupa– sedang menjadi Presiden RI

Picture was retrieved from gusdur.net on 20 January 2013.

Its so damn early morning

Last word of the dawn prayer had just fading up

Feet, millions of feet

Lined up at the wet misty asphalt

 

They lined up within the lead-laden smoke, Voldermort-like, but

their sweet children smile and ask: go

They lined up when the moon was still staring at the asphalt, but

all the book pages should be filled up

They lined up under the heavy rain, but

No one withstand unless Semeru and Merapi, others gone already

They want to spare themselves from all those things even for one day, but

Seconds never stop

Teramat pagi
Salam subuh belum lagi undur diri
Kaki-kaki, berjuta jumlahnya
Berbaris rapi tepi aspal membasah

Asap bertimbal serupa Voldemort, tapi
tiga bocah manisnya tersenyum meminta: pergilah
Aspal masih diintai bulan, tapi
semua lembar buku harus ditulisi
Deras hujan tak juga usai, tapi
yang bertahan hanya Semeru dan Merapi, lainnya mati
Hati ingin puasa barang sehari, tapi
tak ada detik yang berhenti

“Dupanya sudah?” seorang tetua kampung bertanya pada tuan rumah. Begitu dijawab “sudah”, segera salawat berkumandang. Di tengah-tengah prosesi itu, tuan rumah mendatangi satu per satu peserta dan memberikan uang. Besarnya beragam, mulai Rp 500 hingga Rp 5.000. Saat ini bahkan ada yang membagikan Rp 10.000. Salawat itu pendek saja, bisa jadi kurang dari 7 menit. Dan begitu diakhiri, segera anak-anak dan remaja berebut buah yang tersaji di tengah-tengah musala.

Begitulah tradisi maulid nabi Muhammad SAW di sebagian desa-desa di Madura. Warga memulai ritual ini dari masjid kampung, kemudian dilanjutkan ke rumah-rumah warga dengan tahapan yang relatif sama: baca salawat, diberi uang oleh tuan rumah, lalu rebutan buah. Di sejumlah tempat, buah-buah ini ditata di atas ancak, tempat buah tradisional dari pelepah pisang yang dibentuk segi empat, lalu diberi bilah bambu tipis (seperti tusukan sate kambing) yang dianyam sebagai dasarnya. Ritual maulid (warga lokal menyebutnya mulod atau muloden) ini berlangsung pada malam tanggal 12 Rabiul Awal berdasar kalender Hijriah.

Biasanya, acara mulod ini tidak selesai dalam satu malam karena banyaknya somah (rumah tangga) yang ikut serta. Karena itu, sebagian melanjutkannya di pagi hingga siang harinya. Di beberapa desa, acara difokuskan pada pagi hari, karena itu bisa berlangsung hingga sore. Selain ritual mulod dengan salawatan, ater-ater (saling mengirim makanan antar-tetangga dan kerabat) seperti saat Idul Fitri dan Idul Adha juga dilakukan. Lagi-lagi ada sedikit angpao untuk anak-anak kecil yang menjadi “kurir” ater-ater itu.

Ater-ater juga dilakukan dalam penyediaan buah untuk mulod. Masing-masing keluarga membagikan buah dalam ancak untuk para tetangganya. Karena itu, buah yang ada di musala tiap keluarga selalu bervariasi jenis maupun kualitasnya. Namun seiring keinginan manusia untuk mencari yang lebih praktis, praktek tukar menukar sajian buah ini mulai luntur. Masing-masing keluarga merasa lebih enak dengan menyediakan sendiri seluruh kebutuhan buahnya. Dengan begitu, mungkin, mereka bisa jor-joran menyediakan buah-buahan mahal. Maulid nabi yang sejatinya untuk mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, bergeser menjadi ajang pamer.

Memang, ritual mulod ini tidak tunggal. Ada banyak variannya, tergantung desa, struktur sosial, dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakannya. Misalnya, di desa-desa yang terdapat banyak pondok pesantren atau dianggap “alim”, bacaan salawatnya panjang-panjang, sedang di desa “biasa”, bacaan salawat hanyalah pengantar bagi “ritual” yang lebih penting: mencari angpao dan rebutan buah.

Di sebagian tempat, rebutan dianggap “tidak sedap dipandang.” Untuk menghindari rebutan ini, ada takmir masjid yang membagi kue dan buah secara merata, dibungkus, lalu dibagikan sehingga tiap orang mendapat jumlah dan jenis buah dan kue yang sama.

Selain itu, varian yang lain adalah banyak kiai atau bindereh –anak kiai—yang mendapat job menjadi pemimpin ritual mulod di desa-desa “abangan” ini. Varian yang lain, angpao tidak selalu dibagi. Di beberapa desa, angpao diberikan dalam bentuk uang receh yang dilemparkan dan diperebutkan peserta di tengah-tengah halaman. Mereka menyebutnya horebot.

Begitulah, di banyak desa di Madura, mulod lebih merupakan sebuah festival.

Dulu, ritual maulid hanya dirayakan pada malam dan pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal. Tapi seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi masyarakat, mulai banyak warga yang menyimpangkan jadwalnya dari arus utama ini. Biasanya, mereka merayakan maulid pada tanggal-tanggal lain di bulan itu. Tentu saja perayaan maulid “partikelir” ini lebih mewah. Bukan hanya buah yang tersaji, namun juga ada hidangan berat dan berkat (makanan yang dibawa pulang). Selain, tentu saja, angpaonya lebih besar. Sejumlah keluarga kaya bisa memberi angpao hingga lebih dari Rp 10.000 per orang. Padahal, yang diundang bisa warga tiga desa (bukan tiga dusun!).

Dengan kondisi seperti itu, ritual mulod bukan hanya sehari atau dua hari. Ritual ini bisa bertahan hingga sebulan karena banyaknya warga yang melakukannya secara “partikelir.”

Karena merupakan satu “festival”, tak jarang suasana snob sering muncul. Perilaku jor-joran pun tak terelakkan. Masing-masing keluarga bersaing menyajikan ritual mulod yang paling mewah. Kadang sampai harus ngutang.

Selain jor-joran, ekses negatif lainnya adalah adanya perasaan “wajib” merayakan mulod. Bahkan, sebagian sampai pada tahap ngrasani atau menggunjingkan warga yang tidak merayakannya. Akibatnya, sekali lagi, maulid nabi yang mestinya menjadi ajang meneladani perilaku nabi, jatuh menjadi ajang pamer diri. (*)

 

Bagi sebagian orang, nudist beach dan naturist beach dianggap sama. Tidak terlalu salah juga pendapat seperti ini, karena karakteristik utama kedua jenis pantai itu sama: para pengunjungnya sama-sama tidak berpakaian. Clothing optional, istilah sopannya. Namun bagi kelompok hardcore di masing-masing pihak, nudist beach dan naturist beach BENAR-BENAR BERBEDA (hehehehe, alay dikit pakai huruf kapital). Nudist beach adalah pantai bagi kaum nudist (nudis) alias penghobi telanjang. Kalau saja tak ada norma dan peraturan formal yang menganggap ketelanjangan di depan publik sebagai pelanggaran, mereka mungkin akan memilih tak berpakaian. Ke kantor, ke pasar, jogging, mereka akan pilih melakukannya tanpa berpakaian. Sementara, kaum naturist merasa kelompok mereka lebih filosofis. Ketelanjangan mereka sebut sebagai fitrah dan upaya untuk lebih menyatu dengan alam. Mereka, biasanya, memiliki norma yang lebih ketat dibanding kaum nudist. Ketelanjangan dipandang sebagai upaya mulia untuk menikmati, menghargai, dan melindungi alam. Karena itu, aktivitas seks secara eksplisit di depan umum mereka larang. Sebagian di antara mereka menuding kaum nudist tak terlalu peduli pada norma ini.

Bila keterangan saya di atas salah, atau ada bagian yang kurang tepat, tolong dimaafkan. Maklum, saya bukan anggota keduanya, baik nudist maupun naturist. Alinea di atas hanyalah preambule untuk menceritakan pengalaman saya melongok sebuah naturist beach di Inggris, tepatnya di kota Brighton, dua tahun lalu.

Sebagai mahasiswa dari sebuah negara yang kurang bersahabat dengan ketelanjangan di depan umum, tentu saya tertarik untuk menyaksikan rupa sebuah “pantai telanjang”. Apalagi sudah jauh-jauh ke Inggris, masak iya tidak meresapi setiap keping kehidupan masyarakatnya yang beragam? Dan sebagai wartawan, sungguh aneh bila puas dengan hanya membaca tanpa mem-verifikasi-nya secara langsung di lapangan.

Maka, di antara sekian banyak kota di Inggris, Brighton masuk ke dalam daftar saya. Apalagi, waktu itu National Express, salah satu dari hanya 2 operator bus jarak jauh di Inggris, sedang promo buy one get one free. Dengan membeli tiket ke Brighton yang murah (maklum, hanya 2 jam dari London), saya dapat tiket gratis ke Edinburgh (Skotlandia, 9 jam dari London). Asyik punya, kan?

Tiba di Brighton, hal menarik pertama tentu adalah terminal bus-nya. Bukan karena terlampau mewah, namun karena saking sederhananya. Ini terminal atau cuma sepetak tanah kosong, sih? Ya, yang dimaksud dengan terminal di Brighton hanyalah sepetak tanah yang cukup diisi 3 atau 4 bus saja. Tanpa peron, tanpa apa pun. Termasuk, tanpa calo. Sebagian besar warga yang ingin bepergian memang membeli tiketnya secara online, jadi konter tiket pun tidak betul-betul dibutuhkan.

Lepas dari “terminal”, saya masuk ke Brighton Pier. Ini adalah dermaga buatan yang menjorok ke laut, diisi dengan beragam wahana permainan (Dufan di Ancol jauh lebih lengkap) serta kios jajanan dan suvenir. Bagi saya sih nggak ada yang terlalu menarik di sini, kecuali hidangan-hidangan fresh dari laut (baca: aneka sajian ikan-ikan mentah). Saya tak pernah makan ikan mentah. Sushi dan sashimi adalah dua menu Jepang yang tidak pernah saya makan karena bahannya mentah. Tapi kali itu saya nekat. Saya beli satu cup kerang dan udang mentah. Ikut para pembeli sebelumnya, saya pun mengucuri seafood itu dengan perasan air lemon (saya banyakin, khawatir bau dan rasa amisnya masih terasa) dan mayones warna jingga. Simsalabim… ternyata udang dan kerang itu sama sekali tidak baud an berasa amis. Kucuran air lemon dan mayones jingga menjadi paduan yang klop, nyaris sempurna. Makanan mentah itu jadi terasa gurih, manis (dari udang), segar. Maknyus! Saya tidak menyesal membelinya meski harganya 2 kali lipat harga menu sarapan pagi lengkap di Subway.

Setelah menyantap makanan mentah untuk pertama kalinya, saya pun terus bergerak menyusuri garis pantai. Pantainya biasa banget. Jauuuuuuh dari mempesona. Pantai di Bali, Lombok, bahkan di Pulau Gili dekat Bawean, Jatim, jauh lebih indah. Karena saya datangnya masih agak pagi, sekitar pukul 11.00, air laut masih agak pasang. Bagian pantai yang berpasir masih tertutup air laut, yang tersisa hanya bagian yang berbatu-batu seukuran jempol hingga sekepalan tangan pria dewasa (tangan saya, maksudnya). Berjalan di sini tidak bisa cepat karena kaki kita sering “terperangkap” dalam batu-batu tersebut yang selalu berubah formasi tiap kali kita bergerak. Mirip-mirip mandi bola.

Berjalan belum lama, ada yang agak aneh di depan saya. Pantai yang tadinya landai, berubah memiliki gundukan. Gundukannya cukup tinggi, lebih tinggi dari badan saya, karena itu saya tak bisa melihat ada apa di baliknya. Maka, langkah saya percepat dan saya daki gundukan itu. Kalau tak ingin mendaki, berjalanlah ke balik gundukan dari arah bibir pantai. Di lereng gundukan itu ada papan petunjuk warna hijau. Petunjuknya sangat berharga: bahwa di balik gundukan itulah zona yang disebut Brighton and Hove Naturist Beach. Aha! Di papan itu terdapat peringatan, barangsiapa yang menganggap ketelanjangan mengganggunya, jangan masuk ke zona itu. Biasanya, ketelanjangan di depan umum mengganggu saya. Misalnya, orang gila yang melenggang telanjang dengan santai di tengah keramaian. Itu mengganggu saya. Apalagi bila orgil-nya pria. Kan saya ikut malu? Namun saat itu, di Brighton, justru saya ingin melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa sih pantai tanpa busana? Tuhan maafkan, saya hanya curious.

Saat di dalam zona, sayalah yang kikuk. Maklum, pakaian saya lengkap: celana panjang, kaos, mantel ber-hoodie, plus topi dan ransel. Yah… ternyata yang berjemur dikit, gak sampai jumlah jari di tangan kiri saya. Penonton kecewa….. Ya iyalah, saya ke Brighton pada bulan Maret, masih pergantian antara mjusim dingin dan mjusim semi. Sinar matahari belum benar-benar kuat. Angin masih dingin (karena itu saya pakai mantel ber-hoodie). Saya kagum dengan orang-orang yang berjemur telanjang itu. Saya yang pakai mantel saja dingin, lha kok mereka gak pakai apa-apa sama sekali? Edan, heehehe.

Setelah mewawancarai salah satu di antara mereka –tenang, cuman kakek-kakek—saya pun berlalu. Daripada dianggap tukang intip?

Jare arek Suroboyo: oalah, ngono thok! Maka saya pun segera naik ke jalan raya di tepi pantai, menikmati atraksi dan mencermati aneka asesori mobil-mobil Mini Cooper yang hari itu para pemiliknya sedang menggelar gathering. (Achmad Supardi)