BARBIE (1)

ImageImageImageImage

“Yah, belikan Barbie, yah…,” anak saya merengek sore itu. Dia sudah punya boneka Barbie, tapi karena model boneka produksi Mattel ini ratusan, anak saya selalu punya alasan untuk meminta tambahan koleksi.

“Kan yang model seperti itu saya belum punya, yah…,” katanya di kesempatan yang lain, saat kami jalan-jalan ke mall. Telunjuknya menunjuk ke sederet boneka Barbie yang terpajang di rak sebuah konter mainan.

Anak saya, saat ini di bangku TK B, hanyalah satu dari jutaan anak-anak, remaja, dan wanita dewasa lain di dunia yang menyukai Barbie. Tanpa perlu memasang logo “Top Brand”, Barbie pada dasarnya memang sudah merupakan top brand, merk top yang dikenal oleh pasar secara luas, baik di Indonesia maupun bagian lain dunia.

Sedemikian terkenal boneka Barbie ini hingga wanita yang proporsi tubuhnya “ideal” dan dandangannya agak heboh –katakanlah seperti Pamela Anderson– sering dipanggil “gadis Barbie”. Keterkenalan boneka Barbie juga menginspirasi band Aqua menciptakan dan menyanyikan lagu “Barbie Girl”. Liriknya cukup menggelitik untuk disimak. Salah satu baitnya berbunyi:

I’m a barbie girl, in the barbie world

Life in plastic, it’s fantastic!

you can brush my hair, undress me everywhere

Imagination, life is your creation

Come on Barbie, let’s go party!

Sepintas, lirik “Barbie Girl” seolah hanya bicara tentang boneka secara harfiah. Bahwa boneka itu hidup dalam plastik (terbuat dari dan dibungkus oleh plastik). Bahwa boneka bisa kita sisir rambutnya. Bahwa boneka, sebagai mainan, bisa kita gonta-ganti pakaiannya kapan saja dan di mana saja. Namanya juga boneka, tidak ada rasa malu, kan? Hehehehe.

Namun bila kita perhatikan lebih teliti, lirik “Barbie Girl” juga memberikan alternatif pilihan bagaimana seharusnya cewek gaul menikmati hidup. Cewek gaul itu gak jauh-jauh dari party, namun pasti agak jauh dari kungkungan nilai. Perhatikan bait berikut:

Make me walk, make me talk, do whatever you please

I can act like a star, I can beg on my knees

Come jump in, bimbo friend, let us do it again,

hit the town, fool around, let’s go party

You can touch, you can play, if you say: “I’m always yours”

You can touch, you can play, if you say: “I’m always yours”

Well, tentu kita bisa berbeda pendapat. Anda dapat saja menukas, “Itu kan cuma lirik lagu, gak usah ditafsirkan macam-macam.”

Tapi, saya yakin Anda juga tahu, sejarah Barbie sendiri tidak lepas dari “interpretasi-interpretasi politik”. Terutama, dalam kaitan konstruksi sosial tentang tubuh wanita. Boneka Barbie, misalnya, dituduh menciptakan “mimpi” tentang tubuh ideal wanita yang hampir pasti takkan bisa dicapai oleh kebanyakan wanita di dunia. Boneka Barbie dituding berkontribusi terhadap meningkatnya ketidakpuasan wanita terhadap kondisi dirinya.

Charlotte Hothman adalah contoh “korban” nyata Barbie. Kolektor Barbie asal Manchester, Inggris ini melakukan operasi plastik di hidung dan bibirnya hanya supaya penampilannya sepersis boneka kesayangannya itu. Dia juga meng-highligt rambutnya menjadi pirang agar sama dengan Barbie (baca http://showbiz.liputan6.com/read/381802/wanita-ini-rela-operasi-plastik-demi-barbie).

Ketika bentuk tubuh Barbie menjadi rujukan, tubuh gemuk menjadi cemoohan. Produk-produk pelangsing menjadi buruan.

Dalam konteks ini, Boneka Barbie yang merupakan produk kapitalis, berkoalisi dengan kekuatan kapitalis lainnya dalam menciptakan mimpi tentang “sosok wanita ideal”. Bila Barbie menyodorkan “gambaran ideal” tentang bentuk tubuh wanita, produsen lain menawarkan “gambaran ideal” tentang warna kulit wanita.

Dalam konteks Indonesia, cantik itu setara dengan putih. Karena itu, bila tidak putih berarti belum cantik. Akibat ikutannya, produk yang bisa memutihkan menjamur di pasaran, mulai dari sabun, lotion, krim malam, dan lainnya. Tentu Anda sudah sangat familiar dengan produk-produk berikut ini: Pond’s white beauty, Citra pearl white, Olay white radiance, Marina UV white, Vaseline healthy white, Viva white all in one, hingga Hazeline snow (belum ada salju yang tidak putih, kan?) Kepala kita dicekoki dengan iklan-iklan produk “pemutih” wajah dan tubuh. Kepala kita dibombardir dengan pemahaman bahwa kulit putih “lebih berharga” dibanding kulit kuning, coklat, atau hitam. Seolah berkoalisi, industri hiburan pun ikut menegaskan supremasi kulit putih dibanding warna kulit lainnya. Pemain sinetron, penyanyi, model, dan peragawati, mayoritas berkulit putih. Akibatnya, kita pun seolah teryakinkan bahwa orang yang berkulit putih lebih mudah mendapat pekerjaan dengan bayaran mahal. Akhirnya, kita pun lambat laun menyepakati bahwa cantik memang sama dengan putih. Mayoritas anggota masyarakat pun bersepakat bahwa wanita yang kulitnya tidak putih belumlah bisa dikatakan cantik. Diskriminatif dan melecehkan, bukan?

Mengapa cantik harus sama dengan putih?

Karena produk-produk itu dipasarkan di Indonesia yang mayoritas wanitanya berkulit tidak putih. Dengan menciptakan “mimpi” tentang putih sebagai warna kulit ideal, maka produsen-produsen sabun dan beragam lotion itu bisa menjual produknya. Kalau mayoritas wanita Indonesia berkulit putih, mereka tak lagi butuh produk-produk pemulih wajah dan tubuh, kan? Ujung-ujungnya, konstruksi sosial tentang “Cantik = Putih” ini memang sengaja diciptakan agar produk produsen laku dan mendatangkan laba sebanyak-banyaknya (Achmad Supardi).

Bersambung

Pictures taken on 3 January 2013 from http://www.sumbatoys.com/2012/04/panduan-bergaya-ala-boneka-barbie.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: