Pramuka, Seingat Saya

Oleh: Achmad Supardi

Membaca berita tentang lomba kepramukaan yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Universitas Airlangga, Minggu (26/8), saya jadi teringat masa-masa menjadi aktivis Pramuka dulu. Saat itu, pertengahan 1990-an, Pramuka belum semarginal sekarang. Namun, tanda-tanda menjadi kelompok minoritas yang segera kehilangan peminat, sudah begitu nyata terlihat.

Makin tahun, saat SMA saya menggelar pekan ekstrakurikuler (ekskul), stan Pramuka makin sedikit mendapat pengunjung. Beragam atraksi ditampilkan, termasuk membuat menara dari bambu yang menjadi bangunan tertinggi di sekolah saat itu. Kami membuatnya begitu cepat, hasilnya juga bagus. Kami menggunakan menara bambu itu untuk menggelar atraksi prusik dan katrol. Ya, menara bambu itu kuat, meski bahannya hanya bambu dan tali Pramuka yang putih itu. Jangan tanya saya bagaimana cara membuatnya kini. Saya sudah lupa!

Dengan atraksi seru seperti itu, Pramuka hanya bisa menggaet belasan calon anggota baru. Saat pra-orientasi, sebagian berguguran. Memasuki orientasi, tinggal 4 orang yang bertahan. Tahun itu, 4 orang itu sajalah yang menjadi kader kami. It was too great to be true. However, It was!

Beruntung, saat itu Pramuka belum benar-benar punah. Meski di sekolah saya, SMAN 19 Surabaya, gugus depannya tak juga beranjak dari gugus depan persiapan karena selalu minim anggota, namun di banyak sekolah lain, Pramuka masih ada. Paling tidak, dari segi anggota, masih banyak sekolah-sekolah lain yang memiliki Pramuka dengan banyak anggota. Saya belum benar-benar menjadi minoritas saat itu.

Malah, saya merasa seperti kader sebuah partai yang harus terus menerus berdakwah agar makin banyak orang –tepatnya siswa—yang “sadar Pramuka.” Saat itu –hingga kini juga—saya yakin Pramuka memberi banyak pelajaran berguna. Istilahnya, maslahat-nya jauh lebih banyak daripada mudharat-nya.

Lihat saja materi yang ditawarkan Pramuka. Secara garis besar, Pramuka menggabungkan 2 kelompok materi besar, yaitu materi seputar kesehatan (yang biasanya dipegang oleh Palang Merah Remaja atau PMR) dan materi-materi SAR, lingkungan, serta petualangan yang menjadi imej kuat ekskul Pencinta Alam (PA)
Mulai P3K, memasang perban dan penyangga tulang patah, hingga bagaimana menangani korban tenggelam, Pramuka mengajarkan. Keterampilan ekstrem seperti prusik, katrol, dan rappelling yang banyak berguna dalam pendakian, panjat tebing dan penyelamatan, ada materinya di Pramuka.

Kalau mau menuruti isi SKU dan SKK –kalau tak salah kepanjangannya “syarat kecakapan umum”dan “yarat kecakapan khusus”(tuh, kan, saya lupa!)—niscaya tiap anggota Pramuka akan menjadi sosok nyaris sempurna.

Bayangkan, ibadah sesuai tuntunan agama masing-masing, menjadi bagian SKU paling awal. Isi lainnya adalah nilai-nilai kesponan seperti berbakti pada orangtua, menolong sesama, tidak pelit, dan sejenisnya.

Dalam SKK –yang kita dikondisikan untuk memenuhi sebanyak-banyaknya—terdapat banyak keterampilan. Mulai memasak untuk sejumlah orang, keterampilan tali temali, membuat bivak, membedakan tanaman beracun dan tidak, hingga berbicara di depan umum, semua ada. Makin banyak keterampilan yang kita kuasai, makin banyak pin yang kita dapat. Soal pin ini, mungkin aktivis Pramuka hanya tersaingi oleh para Rotarian, hehehehehe. Makin banyak pin yang didapat, makin cepat pula naik tingkat. Asal tahu saja, Pramuka memang mengenal level. Ada Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega. Di masing-masing level itu, ada 3 tingkatan. Maaf, jangan tanya saya nama-nama tingkatan itu, saya lupa. Teman saya yang mantan anggota Prmauka, juga lupa.
Selain materi, Pramuka juga oke sekali dalam rancang bangun organisasi dan konsep-konsepnya. Sepertinya hanya Pramuka, ekskul yang memiliki banyak norma dan konsep dasar. Sebut saja “sistem among” dan “satuan terpisah”.

Dalam sistem among, semua anggota Pramuka adalah keluarga. Karena itu pembina dipanggil dengan sebutan “Kak”. Masing-masing anggota keluarga menjalankan fungsinya sesuai tingkatan. Yang memiliki level lebih tinggi mengajari dan mendidik adik-adiknya.

Meski begitu, norma ketimuran tetap berlaku. Sejak kecil, sejak level Siaga (biasanya kelas 1-3 SD) anggota Pramuka sudah dibiasakan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Dalam perkemahan, tenda mereka terpisah secara tegas. Laki-laki dan perempuan hanya berkumpul dalam acara-acara umum, seperti penjelajahan dan api unggun. Inilah yang disebut “satuan terpisah”.

Sama seperti sekolah, Pramuka juga memiliki “penjurusan”. Kalau gugus depan kita sebut sebagai “sekolah”, maka “penjurusannya” ada pada satuan karya (saka). Ada Saka Bahari (kelautan), Saka Dirgantara (udara), Saka Bhayangkara (kepolisian), Saka Taruna Bumi (pertanian), Wanabakti (Kehutanan), Bhakti Husada (kesehatan), bahkan Saka Kencana (keluarga berencana alias KB).

Adakah ekskul lain yang sekomplet ini? Dalam pemahaman saya yang terbatas, saya belum menemukannya.

Dengan keyakinan bahwa Pramuka memberi banyak manfaat, saya rela bersepeda untuk menjadi pembina Siaga di sebuah SD di kawasan Surabaya Utara. Honornya paling hanya bisa untuk membeli beberapa mangkuk bakso. Namun saya suka menjalaninya karena merasa “berbagi kebaikan.”

Dengan keyakinan itu pula, saya tidak terlalu malu berdesakan dalam bemo dengan balutan seragam Pramuka lengkap. Selalu saja ada yang memandang aneh. Selalu saja ada yang menatap dengan senyum tertahan. Kadang ada pula yang nyeletuk nakal. Namun bagi saya, saat itu, mereka hanyalah orang-orang yang belum “sadar Pramuka.”
Kini, jangan minta saya untuk berdesakan dalam bemo dengan seragam Pramuka lengkap. Sepertinya saya tak sepede dulu lagi. Meski beberapa waktu lalu Hari Pramuka diperingati, bahkan Wagub Soenarjo dalam balutan seragam Pramuka nampang di beragam iklan, namun sejatinya Pramuka di ambang kepunahan. Meski saya belum pernah mendengar bahwa presiden tak lagi sebagai Pramuka tertinggi (di Indonesia), namun saya tak pernah melihat Gus Dur, saat jadi presiden, dibalut seragam Pramuka. Tidak pula Susilo Bambang Yudhoyono.

Saya kira, yang tersisa dalam Pramuka Indonesia tinggal seragamnya saja yang coklat muda dan coklat tua. Di dunia internasional, Pramuka memang masih cukup eksis. Tidak gemebyar memang, namun aneka scout association di banyak negara masih hidup. Namun di Indonesia, perubahan budaya menggerus begitu cepat. Hasrat pemerintah untuk memanfaatkan Pramuka terlalu kuat. Mana ada di belahan dunia yang lain Pramuka terbagi dalam struktur yang sama persis dengan birokrasi negara? Hanya di Indonesia sajalah Pramuka memiliki kwartir ranting (kecamatan), kwartir cabang (kabupaten/kota), kwartir daerah (propinsi), dan kwartir nasional (kwarnas). Pemimpinnya bukan orang sembarangan, karena biasanya dipegang oleh wakil walikota, wakil gubernur, dan wakil presiden.

Kooptasi negara terhadap Pramuka terlihat pula dalam munculnya sejumlah Saka. Untuk apa muncul Saka Kencana kalau bukan untuk mensukseskan program pemerintah yang saat itu menggebu menggalakkan KB? Pramuka terbonsai dalam kerangka orang lain.
Kini, Pramuka (ekskul super komplet itu) memasuki masa-masa tidak laku.

Sekali lagi, yang tersisa dari Pramuka hanya seragamnya yang coklat muda dan coklat tua. Karena itu, sudah waktunya kita secara tegas mengatakan, tak perlu lagi ada seragam Pramuka, hingga orangtua siswa tidak ketambahan biaya. Tak perlu lagi ada Pramuka, hingga anggaran dari pemerintah tak selalu dikucurkan tanpa kita tahu bermuara ke mana. Tak perlu ada Pramuka, kecuali kita mau menghidupkannya secara sungguh-sungguh, jujur, dan bukan sekadar memanfaatkannya.
(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: