Mengintip Pantai Telanjang

 

Bagi sebagian orang, nudist beach dan naturist beach dianggap sama. Tidak terlalu salah juga pendapat seperti ini, karena karakteristik utama kedua jenis pantai itu sama: para pengunjungnya sama-sama tidak berpakaian. Clothing optional, istilah sopannya. Namun bagi kelompok hardcore di masing-masing pihak, nudist beach dan naturist beach BENAR-BENAR BERBEDA (hehehehe, alay dikit pakai huruf kapital). Nudist beach adalah pantai bagi kaum nudist (nudis) alias penghobi telanjang. Kalau saja tak ada norma dan peraturan formal yang menganggap ketelanjangan di depan publik sebagai pelanggaran, mereka mungkin akan memilih tak berpakaian. Ke kantor, ke pasar, jogging, mereka akan pilih melakukannya tanpa berpakaian. Sementara, kaum naturist merasa kelompok mereka lebih filosofis. Ketelanjangan mereka sebut sebagai fitrah dan upaya untuk lebih menyatu dengan alam. Mereka, biasanya, memiliki norma yang lebih ketat dibanding kaum nudist. Ketelanjangan dipandang sebagai upaya mulia untuk menikmati, menghargai, dan melindungi alam. Karena itu, aktivitas seks secara eksplisit di depan umum mereka larang. Sebagian di antara mereka menuding kaum nudist tak terlalu peduli pada norma ini.

Bila keterangan saya di atas salah, atau ada bagian yang kurang tepat, tolong dimaafkan. Maklum, saya bukan anggota keduanya, baik nudist maupun naturist. Alinea di atas hanyalah preambule untuk menceritakan pengalaman saya melongok sebuah naturist beach di Inggris, tepatnya di kota Brighton, dua tahun lalu.

Sebagai mahasiswa dari sebuah negara yang kurang bersahabat dengan ketelanjangan di depan umum, tentu saya tertarik untuk menyaksikan rupa sebuah “pantai telanjang”. Apalagi sudah jauh-jauh ke Inggris, masak iya tidak meresapi setiap keping kehidupan masyarakatnya yang beragam? Dan sebagai wartawan, sungguh aneh bila puas dengan hanya membaca tanpa mem-verifikasi-nya secara langsung di lapangan.

Maka, di antara sekian banyak kota di Inggris, Brighton masuk ke dalam daftar saya. Apalagi, waktu itu National Express, salah satu dari hanya 2 operator bus jarak jauh di Inggris, sedang promo buy one get one free. Dengan membeli tiket ke Brighton yang murah (maklum, hanya 2 jam dari London), saya dapat tiket gratis ke Edinburgh (Skotlandia, 9 jam dari London). Asyik punya, kan?

Tiba di Brighton, hal menarik pertama tentu adalah terminal bus-nya. Bukan karena terlampau mewah, namun karena saking sederhananya. Ini terminal atau cuma sepetak tanah kosong, sih? Ya, yang dimaksud dengan terminal di Brighton hanyalah sepetak tanah yang cukup diisi 3 atau 4 bus saja. Tanpa peron, tanpa apa pun. Termasuk, tanpa calo. Sebagian besar warga yang ingin bepergian memang membeli tiketnya secara online, jadi konter tiket pun tidak betul-betul dibutuhkan.

Lepas dari “terminal”, saya masuk ke Brighton Pier. Ini adalah dermaga buatan yang menjorok ke laut, diisi dengan beragam wahana permainan (Dufan di Ancol jauh lebih lengkap) serta kios jajanan dan suvenir. Bagi saya sih nggak ada yang terlalu menarik di sini, kecuali hidangan-hidangan fresh dari laut (baca: aneka sajian ikan-ikan mentah). Saya tak pernah makan ikan mentah. Sushi dan sashimi adalah dua menu Jepang yang tidak pernah saya makan karena bahannya mentah. Tapi kali itu saya nekat. Saya beli satu cup kerang dan udang mentah. Ikut para pembeli sebelumnya, saya pun mengucuri seafood itu dengan perasan air lemon (saya banyakin, khawatir bau dan rasa amisnya masih terasa) dan mayones warna jingga. Simsalabim… ternyata udang dan kerang itu sama sekali tidak baud an berasa amis. Kucuran air lemon dan mayones jingga menjadi paduan yang klop, nyaris sempurna. Makanan mentah itu jadi terasa gurih, manis (dari udang), segar. Maknyus! Saya tidak menyesal membelinya meski harganya 2 kali lipat harga menu sarapan pagi lengkap di Subway.

Setelah menyantap makanan mentah untuk pertama kalinya, saya pun terus bergerak menyusuri garis pantai. Pantainya biasa banget. Jauuuuuuh dari mempesona. Pantai di Bali, Lombok, bahkan di Pulau Gili dekat Bawean, Jatim, jauh lebih indah. Karena saya datangnya masih agak pagi, sekitar pukul 11.00, air laut masih agak pasang. Bagian pantai yang berpasir masih tertutup air laut, yang tersisa hanya bagian yang berbatu-batu seukuran jempol hingga sekepalan tangan pria dewasa (tangan saya, maksudnya). Berjalan di sini tidak bisa cepat karena kaki kita sering “terperangkap” dalam batu-batu tersebut yang selalu berubah formasi tiap kali kita bergerak. Mirip-mirip mandi bola.

Berjalan belum lama, ada yang agak aneh di depan saya. Pantai yang tadinya landai, berubah memiliki gundukan. Gundukannya cukup tinggi, lebih tinggi dari badan saya, karena itu saya tak bisa melihat ada apa di baliknya. Maka, langkah saya percepat dan saya daki gundukan itu. Kalau tak ingin mendaki, berjalanlah ke balik gundukan dari arah bibir pantai. Di lereng gundukan itu ada papan petunjuk warna hijau. Petunjuknya sangat berharga: bahwa di balik gundukan itulah zona yang disebut Brighton and Hove Naturist Beach. Aha! Di papan itu terdapat peringatan, barangsiapa yang menganggap ketelanjangan mengganggunya, jangan masuk ke zona itu. Biasanya, ketelanjangan di depan umum mengganggu saya. Misalnya, orang gila yang melenggang telanjang dengan santai di tengah keramaian. Itu mengganggu saya. Apalagi bila orgil-nya pria. Kan saya ikut malu? Namun saat itu, di Brighton, justru saya ingin melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa sih pantai tanpa busana? Tuhan maafkan, saya hanya curious.

Saat di dalam zona, sayalah yang kikuk. Maklum, pakaian saya lengkap: celana panjang, kaos, mantel ber-hoodie, plus topi dan ransel. Yah… ternyata yang berjemur dikit, gak sampai jumlah jari di tangan kiri saya. Penonton kecewa….. Ya iyalah, saya ke Brighton pada bulan Maret, masih pergantian antara mjusim dingin dan mjusim semi. Sinar matahari belum benar-benar kuat. Angin masih dingin (karena itu saya pakai mantel ber-hoodie). Saya kagum dengan orang-orang yang berjemur telanjang itu. Saya yang pakai mantel saja dingin, lha kok mereka gak pakai apa-apa sama sekali? Edan, heehehe.

Setelah mewawancarai salah satu di antara mereka –tenang, cuman kakek-kakek—saya pun berlalu. Daripada dianggap tukang intip?

Jare arek Suroboyo: oalah, ngono thok! Maka saya pun segera naik ke jalan raya di tepi pantai, menikmati atraksi dan mencermati aneka asesori mobil-mobil Mini Cooper yang hari itu para pemiliknya sedang menggelar gathering. (Achmad Supardi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: