Dupa Maulid Nabi

“Dupanya sudah?” seorang tetua kampung bertanya pada tuan rumah. Begitu dijawab “sudah”, segera salawat berkumandang. Di tengah-tengah prosesi itu, tuan rumah mendatangi satu per satu peserta dan memberikan uang. Besarnya beragam, mulai Rp 500 hingga Rp 5.000. Saat ini bahkan ada yang membagikan Rp 10.000. Salawat itu pendek saja, bisa jadi kurang dari 7 menit. Dan begitu diakhiri, segera anak-anak dan remaja berebut buah yang tersaji di tengah-tengah musala.

Begitulah tradisi maulid nabi Muhammad SAW di sebagian desa-desa di Madura. Warga memulai ritual ini dari masjid kampung, kemudian dilanjutkan ke rumah-rumah warga dengan tahapan yang relatif sama: baca salawat, diberi uang oleh tuan rumah, lalu rebutan buah. Di sejumlah tempat, buah-buah ini ditata di atas ancak, tempat buah tradisional dari pelepah pisang yang dibentuk segi empat, lalu diberi bilah bambu tipis (seperti tusukan sate kambing) yang dianyam sebagai dasarnya. Ritual maulid (warga lokal menyebutnya mulod atau muloden) ini berlangsung pada malam tanggal 12 Rabiul Awal berdasar kalender Hijriah.

Biasanya, acara mulod ini tidak selesai dalam satu malam karena banyaknya somah (rumah tangga) yang ikut serta. Karena itu, sebagian melanjutkannya di pagi hingga siang harinya. Di beberapa desa, acara difokuskan pada pagi hari, karena itu bisa berlangsung hingga sore. Selain ritual mulod dengan salawatan, ater-ater (saling mengirim makanan antar-tetangga dan kerabat) seperti saat Idul Fitri dan Idul Adha juga dilakukan. Lagi-lagi ada sedikit angpao untuk anak-anak kecil yang menjadi “kurir” ater-ater itu.

Ater-ater juga dilakukan dalam penyediaan buah untuk mulod. Masing-masing keluarga membagikan buah dalam ancak untuk para tetangganya. Karena itu, buah yang ada di musala tiap keluarga selalu bervariasi jenis maupun kualitasnya. Namun seiring keinginan manusia untuk mencari yang lebih praktis, praktek tukar menukar sajian buah ini mulai luntur. Masing-masing keluarga merasa lebih enak dengan menyediakan sendiri seluruh kebutuhan buahnya. Dengan begitu, mungkin, mereka bisa jor-joran menyediakan buah-buahan mahal. Maulid nabi yang sejatinya untuk mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, bergeser menjadi ajang pamer.

Memang, ritual mulod ini tidak tunggal. Ada banyak variannya, tergantung desa, struktur sosial, dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakannya. Misalnya, di desa-desa yang terdapat banyak pondok pesantren atau dianggap “alim”, bacaan salawatnya panjang-panjang, sedang di desa “biasa”, bacaan salawat hanyalah pengantar bagi “ritual” yang lebih penting: mencari angpao dan rebutan buah.

Di sebagian tempat, rebutan dianggap “tidak sedap dipandang.” Untuk menghindari rebutan ini, ada takmir masjid yang membagi kue dan buah secara merata, dibungkus, lalu dibagikan sehingga tiap orang mendapat jumlah dan jenis buah dan kue yang sama.

Selain itu, varian yang lain adalah banyak kiai atau bindereh –anak kiai—yang mendapat job menjadi pemimpin ritual mulod di desa-desa “abangan” ini. Varian yang lain, angpao tidak selalu dibagi. Di beberapa desa, angpao diberikan dalam bentuk uang receh yang dilemparkan dan diperebutkan peserta di tengah-tengah halaman. Mereka menyebutnya horebot.

Begitulah, di banyak desa di Madura, mulod lebih merupakan sebuah festival.

Dulu, ritual maulid hanya dirayakan pada malam dan pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal. Tapi seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi masyarakat, mulai banyak warga yang menyimpangkan jadwalnya dari arus utama ini. Biasanya, mereka merayakan maulid pada tanggal-tanggal lain di bulan itu. Tentu saja perayaan maulid “partikelir” ini lebih mewah. Bukan hanya buah yang tersaji, namun juga ada hidangan berat dan berkat (makanan yang dibawa pulang). Selain, tentu saja, angpaonya lebih besar. Sejumlah keluarga kaya bisa memberi angpao hingga lebih dari Rp 10.000 per orang. Padahal, yang diundang bisa warga tiga desa (bukan tiga dusun!).

Dengan kondisi seperti itu, ritual mulod bukan hanya sehari atau dua hari. Ritual ini bisa bertahan hingga sebulan karena banyaknya warga yang melakukannya secara “partikelir.”

Karena merupakan satu “festival”, tak jarang suasana snob sering muncul. Perilaku jor-joran pun tak terelakkan. Masing-masing keluarga bersaing menyajikan ritual mulod yang paling mewah. Kadang sampai harus ngutang.

Selain jor-joran, ekses negatif lainnya adalah adanya perasaan “wajib” merayakan mulod. Bahkan, sebagian sampai pada tahap ngrasani atau menggunjingkan warga yang tidak merayakannya. Akibatnya, sekali lagi, maulid nabi yang mestinya menjadi ajang meneladani perilaku nabi, jatuh menjadi ajang pamer diri. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: