Gus Dur, Rokok, dan Jeruk Pontianak

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

“Merokok itu enak, terutama bila sedang berada di tempat dingin. Badan jadi hangat,” kata seorang wartawan yang ngepos di Lumajang. Asal tahu saja, wartawan yang bertempat tinggal di daerah yang relatif sejuk itu bukan smoker alias cuman kadang-kadang saja menghisap rokok. Bayangkan betapa sangat nikmatnya merokok bagi orang-orang yang memang tergolong “manusia berasap”.

Merokok tampaknya memang nikmat. Dan tidak hanya itu, merokok dianggap sebagai aktivitas yang sangat mempesona. Bahkan sebagian gadis menyukai pria yang memiliki rokok terselip di antara dua bibirnya. “Rasanya kok, maskulin, gitu,” kata seorang cewek belasan tahun.

Apakah anggapan merokok itu nikmat dan mempesona datang begitu saja? Tidak!

Longok saja iklan-iklan rokok. Bukankah semua citra dan imaji terwakili? Ada rokok yang merupakan selera pemberani, ada pula yang menawarkan citra sebagai lelaki gagah perkasa seperti para koboi Amerika. Ada juga yang menawarkan selera pas kemantapan. Bahkan ada yang mengklaim memberikan kenikmatan sukses. Tapi yang jelas, jangan anggap enteng! Maksudnya, jangan anggap enteng penyakit yang ditimbulkannya! Juga gelombang pajak yang dialirkannya sehingga bisa dibilang semua pemerintah negara di dunia tidak ada yang melarang industri rokok.

Begitulah. Rokok adalah gaya hidup. Gaya hidup yang keberadaannya terus dihidupkan oleh pembentukan citra tertentu. Rokok juga imaji. Imaji yang masih mampu memberi sedikit eksistensi ketika seseorang tak lagi memiliki apapun untuk dibanggakan, untuk ditempelkan.

***

Di sebuah kelas, seorang mahasiswa dipandang oleh puluhan pasang mata. Ada nada tak suka dalam tatapan berpuluh pasang mata itu. Sebenarnya si mahasiswa yang sedang disorot itu hanya mengajukan argumen, pandangan, juga isi tulisan yang mungkin baru dibacanya yang kebetulan tidak sejalan dengan keterangan dosen yang beberapa menit sebelumnya diberikan. Tapi mahasiswa kritis itu dipandang dengan kemarahan. Berpuluh pasang mata itu menganggap sang mahasiswa yang tengah mengajukan argumen-argumennya sebagai perampok. Ya! Perampok yang mengambil kesempatan berpuluh mahasiswa lainnya –yang kebetulan “manis-manis”– untuk mendengarkan keterangan dosen. Bagi mereka keterangan dosen pasti lebih berharga dan pasti “lebih benar” dibanding keterangan mahasiswa.

Bila ditanya mengapa sang mahasiswa kritis itu dipandang sebagai “perampok”, jawabannya sederhana saja: citra.

Citra bahwa dosen “serba tahu” masih melekat kuat. Citra bahwa omongan dosen sangat layak dicatat masih tertanam dalam. Citra bahwa keterangan dosen jauh lebih berharga daripada argumentasi mahasiswa –yang paling cerdas sekalipun– masih mengendap kukuh di banyak otak mahasiswa sendiri. Padahal sudah banyak dosen yang dengan legawa membiarkan mahasiswa menjadi “dosen-dosen kecil” karena sadar anak didiknya punya banyak waktu dan biaya untuk ngenet, untuk baca Newsweek dan Time edisi terbaru, bahkan untuk berlangganan jurnal-jurnal mahal seperti Foreign Affairs atau Third World Quarterly. Sedang mereka masih berkutat dengan buku-buku terbitan tahun 1980-an, bahkan tahun 1960-an! Sedang mereka untuk membeli satu buku baru harus berpikir dulu seribu kali.

Mengapa ketika mahasiswa memberi argumentasi –yang kalau ditulis pasti memuat banyak sekali catatan kaki, dan semuanya sangat up dated– itu masih dipandang sebagai “perampok”? Masih dipandang dengan sorot mata tidak senang? Semua soal citra.

***

Di sebuah kuliah tamu yang dihadiri Menlu –saat itu– Alwi Shihab –yang dia kesel banget karena semua tindakan Gus Dur seakan tak pernah cocok dan selalu digoyang rumor– seorang mahasiswa membalas, “Bisa jadi Gus Dur memang sering digoyang rumor. Tapi masalahnya, apa bukan Gus Dur sendiri pabrik rumor terbesar di Indonesia?”

Pabrik rumor. Itu satu citra.

Di sebuah break istighosah, sambil merokok dan makan kacang sejumlah orang memperbincangkan Gus Dur. Ternyata kesimpulannya sangat berbeda. Menurut mereka Gus Dur adalah wali. Wali yang malati (bisa membuat orang yang kurang ajar jadi kualat). Mereka memang orang-orang yang selalu siap menjadikan beragam pendapat Gus Dur sebagai satu hal yang taken for granted. Ketika mereka tidak mampu mengikuti jalan pikiran Gus Dur, enteng saja mereka menyalahkan diri mereka sendiri dengan mengatakan, “Pancen awak-awak iki sik nggak nutut! Isik bodho banget!”
Wali yang malati. Itu juga citra.
***
Sebuah foto demonstrasi mahasiswa di Jakarta tiba ke redaksi malam itu. Fotonya sangat biasa, hanya beberapa belas mahasiswa meneriakkan yel-yel anti Gus Dur. Sejenak sang redaktur kecewa. Foto begini saja dikirim! Tapi sebuah ide kemudian melintas. Dengan cropping (pemotongan) sederhana foto itu akhirnya menjadi “sangat berbicara” karena yang tampak kemudian adalah beberapa kepala dengan wajah-wajah sangar penuh kebencian.

Gus Dur yang sangat dibenci, itu citra yang muncul dari foto tersebut. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa.
Di ketika yang lain, wartawan sebuah kantor berita luar negeri terlambat datang ke lokasi. Daripada kena semprot redaktur, dipinjamlah catatan wartawan media lokal dan itu yang ia kirim ke kantor pusatnya. Isi beritanya, Ambon berdarah. Sang redaktur, seperti biasanya me-rewrite berita itu. Hasilnya: Ambon berdarah-darah.

Ambon berdarah-darah adalah citra. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa. Dan citra yang merupakan rekayasa, tak terhitung banyaknya.
***
Di sebuah iklan, seorang mertua yang mau membesuk tetangganya hendak membeli jeruk mandarin sebagai oleh-oleh. Tentu itu karena citra jeruk mandarin sebagai produk impor pastilah lebih oke, lebih bergizi dan lebih bergengsi. Tapi sang menantu yang sadar mertuanya hanya termakan oleh citra, segera bersuara, “Beli jeruk Pontianak saja, Bu. Gizinya sama, lebih murah lagi!” (*)

*artikel ini dimuat ketika Gus Dur masih sugeng dan –kalau tak lupa– sedang menjadi Presiden RI

Picture was retrieved from gusdur.net on 20 January 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: