Model Rambut Monyet Hingga Gir Sepeda

Banyak berkahnya menjadi pengguna setia angkot dan anarkot (angkutan antar kota). Pertama, saya bisa melatih kepekaan agar suatu ketika nanti siap menggantikan Dhani Dewa sebagai juri The X Factor Indonesia. Atau mungkin malah menggantikan Simon Cowel yang lidahnya pedas itu. Hampir tiap minggu saya mendengarkan beragam karakter vocal dan aneka genre lagu. Sebagian membuat saya nyaris tertidur, yang lain membuat saya terbangun dari tidur. Tapi, bukan berkah ini yang ingin saya ceritakan lebih panjang.

Sebagai pengguna angkot dan anarkot, saya juga mendapat berkah kedua: menjadi pengamat gaya rambut. Duduk diam selama beberapa menit hingga beberapa jam, tentu bosan kalau tidak diimbangi dengan aktivitas. Cukup sering saya memeriksa UTS atau tugas mahasiswa, kadang membaca novel, memperhatikan pernik kehidupan di pinggir jalan, namun belakangan saya punya kesenangan baru: memperhatikan potongan rambut para penumpang. Supaya terkesan ilmiah, objek observasi saya haruslah spesifik: Laki-laki, rentang usia remaja hingga dewasa awal.

Hah, laki-laki?

Ya iyalah, kalau saya memperhatikan perempuan, jangan-jangan bisa kena gampar. Atau, kalau penumpang perempuan itu berjilbab, bagaimana saya bisa menduga potongan rambutnya? Jadi, para perempuan, berjilbablah, hehehehe.

Kenapa remaja hingga dewasa awal? Karena anak-anak maupun orang tua biasanya memiliki potongan rambut yang biasa-biasa saja. Kurang menarik untuk dianalisis.

Model rambut ternyata banyak sekali. Begitu beragam! (hellooooo, selama ini kemana saja? Hehehe)

Ada gaya rambut yang “dikumpulkan” di bagian tengah. Poni ditekuk ke tengah. Rambut bagian atas belakang, juga ditekuk ke tengah. Rambut bagian kiri dan kanan (di atas pelipis), juga ditekuk ke tengah. Hasilnya, bunga mawar mekar di atas kepala. Yang saya bayangkan, sungguh ribet ,mengatur gaya rambut seperti itu.

Ada juga rambut model Mohawk. Seorang saudara saya pernah menyebut rambut ini model “munyuk” alias –maaf—monyet. Tidak terlalalu salah, karena banyak saya temui kera bintang “topeng monyet” memiliki model rambut jenis ini. Bagi saya, rambut model ini juga ruwet. Butuh tenaga dan waktu ekstra untuk menatanya. Bagian poni harus diarahkan ke atas sedikit ke belakang. Lalu, rambut di atas pelipis kiri dan kanan diarahkan ke atas agak ke tengah hingga persis di bagian atas kepala tercipta deretan serupa Bukit Barisan di atas punggung Sumatera. Tanpa bantuan gel, sepertinya susah membuat gaya rambut seperti ini.

Yang juga cukup sering saya temui di Cikarang adalah rambut punk. Modelnya sederhana: mirip gir sepeda. Rabut dikumpulkan di bagian tengah, lalu dibuat sejumlah kerucut menyerupai cone es krim (tapi lebih runcing) mulai dari dahi hingga tengkuk. Sepertinya kelompok ini jarang berkonflik. Sebab kalau sampai bertengkar, bukankah sangat mudah menjambak rambutnya?

Lalu, ada juga model rambut timbangan rusak. Maklum, berat sebelah. Jadi, rambut sebelah kiri dipanjangkan, lalu dengan sekuat tenaga dibelokkan ke kanan hingga menjuntai. Saya miris melihat mata si empunya seperti selalu tertutup tirai. Kini saya tahu mengapa makin banyak kecelakaan sepeda motor belakangan ini. Rupanya si pengendara sibuk menghalau rambut dari depan matanya….

Melihat semua itu, saya bersyukur dengan potongan rambut saya yang tak pernah berubah sejak saya datang ke tukang pangkas rambut atas kemauan sendiri (sebelumnya selalu karena paksaan ayah). Rabut saya selalu pendek dan modelnya itu-itu saja. Cukup arahkan sisir ke belakang, tanpa tambahan gel, bahan pengawet, bahan pewarna atau pemanis buatan, rambut rapi sudah.

Mungkin Anda akan mengatakan saya konservatif. Bisa saja. Atau, Anda bisa juga menuding saya menghambat sektor ekonomi kreatif. Dengan model rambut yang itu-itu saja, saya mematikan kreativitas orang-orang seperti Irwan Rovani Doke, Andy Lie, Arie Hidayat, Bambang Harryono, atau senior mereka Johnny Andrean beserta seniman tata rambut lainnya. Tapi Anda jangan khawatir. Tuhan maha penyayang. DIA tak ingin seniman tata rambut mati kreativitas maupun  rezekinya. Karena itu orang-orang seperti saya –penyuka rambut pendek dengan gaya itu-itu saja—diciptakan dalam jumlah terbatas. Limited Edition. Hahahaha. (Achmad Supardi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: