Archive

Monthly Archives: February 2013

Image

Foto: Khoirul Umam

Warga Jababeka dan sekitarnya senam di pelataran Giant, Minggu (10/2) pagi. 

Tiga kali sudah saya ikut senam di pelataran Giant Jababeka. Kali ini saya memang niat banget, secara saya jarang sekali berolahraga. Sepertinya saya memang memiliki kecenderungan malas berolahraga ‘secara resmi’ karena terbilang sering berolahraga ‘tak resmi’: naik ke kantor di lantai 3 Gedung A melalui tangga, turun, lalu naik lagi ke lantai 2, 3, atau 4 di Gedung B untuk mengajar. Bukankah itu juga olahraga? Hahahaha.

Kalau mau cari kambing hitam, sebenarnya ada juga: jadwal kuliah. Hampir satu semester saya rutin berolahraga bulutangkis tiap Senin malam. Namun, sudah 2 semester belakangan ini saya mendapatkan jadwal mengajar di Senin malam. Akibatnya, selamat tinggal Pelatnas Cipayung. Absen latihan selama 2 semester pastilah membuat kemampuan saya menurun jauh, tak mampu lagi bersaing dengan Simon Santoso atau pemain pensiunan seperti Taufik Hidayat.

Dengan sedikitnya waktu yang tersedia untuk berolahraga, maka senam tiap Minggu pagi di pelataran Giant Jababeka menjadi ‘satu-satunya’ alternatif yang harus diselamatkan. Senamnya sih biasa. Cuman 1 jam, dengan gerakan-gerakan yang juga sangat biasa. Tak ada nomor kuda-kuda pelana, kuda-kuda lompat, palang sejajar, palang tunggal, gelang-gelang, atau sekadar senam ritmik. Tapi tetap lumayanlah untuk memeras keringat. Daripada harus menggenjot becak?

Nah, ‘prosesi’ senam inilah yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Dimulai dari gerakan-gerakan pemanasan, gerakan inti dengan impact (hentakan) yang cukup tinggi, lalu… eng ing eng… senam body language dan senam kegel. Senam ini, katanya, bisa memperkuat otot-otot di sekitar panggul dan perut. Karena itu, ia membantu mewujudkan aktivitas seksual yang lebih tahan lama. Bukankah aktivitas seksual (dengan pasangan yang sudah dinikahi) adalah ibadah? Hehehe

Ketika di bagian senam body language inilah saya melihat fenomena yang aneh. Banyak peserta pria yang berhenti. Sebagian tetap menggerakkan tubuhnya sesuka hatinya, tidak patuh lagi pada gerakan yang dicontohkan instruktur. Ada juga yang membuang muka, pura-pura tidak melihat orang-orang di sekelilingnya. Wajah mereka menunjukkan raut malu meski tak sampai memerah. Sebagian lagi tertawa cekikikan. Rupanya senam kegel membuat benak mereka kegelian….

Ada yang salah?

“Saya berhenti dulu kalau di bagian yang ini. Malu,” kata kawan saya. Dia seusia dengan saya, anaknya dua.

Saya sendiri juga sedikit malu. Tapi sebenarnya, mengapa harus malu? Bukankah ini olahraga? Bukankah manfaatnya penting untuk ibadah? Beneran ibadah lo, bukan ibadah dengan tanda petik.

Rasa malu ini muncul karena ‘kepala’ kita tidaklah kosong. Ada ajaran agama, ada budaya, ada pengalaman masa lalu, ada nilai-nilai dan pengetahuan yang mengisinya. Di mayoritas masyarakat Indonesia, seks masih merupakan aktivitas yang sangat sangat privat. Ajaran agama, budaya, dan kebiasaan kita sejak kecil mengajarkan kita untuk tidak menunjukkan isyarat –sekecil apa pun—terkait dengan seks di area umum. Melakukan upaya-upaya yang bisa dianggap “memperbaiki” kinerja seks seperti senam body language, termasuk “memberi” isyarat itu tadi. Karena itu, saat bagian ini, banyak peserta yang celingak-celinguk menahan malu.

Senam di pelataran pasar swalayan seperti ini tentulah bukan agenda cuma-cuma. Meski gratis, bahkan ada door prize sederhana, namun sebenarnya ini bukanlah aktivitas tanpa maksud. Dengan menggelar senam yang diikuti lebih dari 250-an orang ini, Giant membuka peluang yang lebih besar untuk menjaring konsumen sepagi mungkin. Terbukti, tiap usai senam, tak semuanya langsung pulang. Banyak yang melanjutkan agenda senamnya dengan jogging. Jogging di antara rak-rak dagangan Giant. (Achmad Supardi)

Advertisements

Ini tulisan dari teman kuliah saya, Tatum Syarifah Adiningrum. Enjoy!

===================

Satu lagi istilah filosofis dari si Mas, setelah menelurkan hukum “kekekalan rejeki”, yaitu SINGA alias Si Nggak Mau Rugi. Sebenernya sih abbreviation nya nggak segitu nayambung, tapi pas banget kalau dipake buat ngegosip di depan publik 🙂

 

Istilah ini sebenarnya sudah diperkenalkan si Mas jaman kami pacaran, some 13 years ago (buset, lama ya???). Tapi baru-baru ini muncul kembali seiring kembalinya kegemaran kami makan buffet, hobi jaman umur 20 an dulu, ketika metabolisme masih dahsyat. Selama setengah tahun terakhir, beberapa kali kami mengunjungi restoran-restoran buffet macam Hartz Chicken, Hanamasa, pun menikmati buffe breakfast ketika liburan di hotel. Dan kami pun kembali bertemu dengan para SINGA.

 

Singa-singa ini punya gaya yang sama: mondar-mandir antara meja pribadi dengan meja hidangan dengan isi piring munjung. Apakah temans pernah melihat gaya ngambil salad di Pizza Hut yang bisa sampe 4 layer, dan saos thousand islandnya netes-netes di pinggir? Nah, itulah salah satu pemandangan tipikal manusia singa dalam menghadapi buffet. Gaya yang paling cocok ketika masih pada mahasiswa, duit saku ngepres, tapi maunya makan rame-rame di tempat keren…. Tapi rasanya nggak lagi cocok di saat usia sudah bertambah, mampu makan sekeluarga di tempat keren yang melambangkan tingkat kemapanan yang sudah bertambah.

 

Alkisah, di salah satu weekend, kami sekeluarga menginap di salah satu hotel di Lembang, dengan hidangan sarapan buffet yang lumayan variasi dan rasanya. Mata saya rada melotot melihat seorang Ibu, yang kira-kira usianya nggak jauh beda dengan Ibu saya, membawa piring penuh kue-kue dan pastry. Sepiring penuh! (piring makan, bukan piring lepek) dan di meja beliau saya lihat hanya ada Ibu itu dan suaminya. Nggak berapa lama lewat seorang Ibu muda membawa sepiring penuh sosis, at least dalam piring itu ada 20 potong sosis. Saya lihat situasi mejanya, hanya ada suami dan dua orang anak kecil. Memandang meja kami yang minimalis, 2 dewasa dan 2 anak, dengan sepiring nasi goreng di depan masing-masing orang dewasa dan sepotong roti bakar di depan tiap-tiap anak, saya jadi agak-agak malu dan merasa tertantang…. Maka pergilah saya ke meja buffet dan mengambil 4 buah kue berukuran mungil. Itu aja perut saya udah penuuuuhh…. dan sepotong kue bersisa tak termakan. Laah…. gimana dengan ibu-ibu yang tadi yaaaahhh???

 

Di suatu hari Minggu, di hari ulang tahun saya, the Krucils dan bapaknya minta ditraktir di restoran Chicken buffet. Walaupun males, karena kebayang pasti penuh dengan para pengunjung yang pulang dari gereja, saya turuti sajalah, biar pada seneng. Beneran aja, restoran itu penuuuhhh…. penuh dengan singa-singa yang dari segala kelompok usia. Ada yang makan sampe muntah lah (sueeerrrr), ada yang sisa makanan menumpuk di meja, dan jangan tanya antrian es krimnya….. Tidak lagi menggunakan sendok es krim yang cuma satu dan harus bergantian, tapi para anak-anak kecil (fully supported by their parents), merubung bak es krim dengan menggunakan sendok masing-masing mengais-ngais es krim tersebut. Sungguh, saya serasa ada di antrian RasKin atau BLT aja. Jangan tanya pula keadaan porsi topping yang disediakan untuk es krim tersebut…. Ada yang satu mangkok es krim mengambil 4 macam topping secara excessive, ada yang cuma satu aja tapi hampir menghabiskan semua porsi topping. Pokoknya, tidak ada lagi azas kepantasan, yang ada cuma SINGA….

 

Keadaan yang sama saya jumpai di tempat-tempat buffe yang lain. Tak peduli apakah tempatnya elit, menengah, atau setara warung kos, SINGA selalu menunjukkan taring. Mungkin memang sudah menjadi adat di negara tercinta ini untuk menjadi SINGA di saat bisa, termasuk SINGA kekuasaan – mumpung berkuasa, lalu korupsi, kan masa jabatan cuma 5 tahun dan belum tentu terpilih lagi. Jadi, jangan heran dengan kebobrokan negeri kita sekarang ini, karena pada dasarnya, bukan penguasa bukan rakyat, semuanya telah jadi SINGA…alias si nggak mau rugi….