Archive

Monthly Archives: April 2014

Kali ini saya bicara tentang salim. Yang saya maksud salim tentulah bukan nama orang Arab, hehehehe. Salim yang akan saya bahas adalah tindakan menjabat lalu mencium tangan seseorang. Biasanya, orang yang disalimi adalah mereka yang lebih tua atau dihormati.
Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, saya kenal salim sejak kecil. Sebagai pribadi yang berkembang di tengah-tengah budaya nahdliyin yang kental, salim has been everywhere. Di lingkungan kampung saya dulu, baik di Surabaya maupun di Bangkalan, mayoritas anak salim kepada orangtuanya. Berangkat sekolah, salim. Pulang sekolah, salim. Berangkat ngaji, salim. Tak hanya itu, bila ada kerabat atau teman orangtua yang berkunjung, anak-anak pun tak lupa salim pada mereka. salim adalah representasi kesopanan. Pasangan ayah dan ibu yang anaknya tidak mau salim kepada tamu biasanya akan kecewa dan sedih. Mereka merasa gagal menanamkan kesopanan pada anaknya.
Di lingkungan nahdliyin, salim meluas ke lingkungan di luar kerabat. Salim dilakukan oleh “umat” kepada kiai atau pemuka agama yang dihormati. Salim bukan lagi lambang kesopanan, namun representasi penghormatan. Bahkan, hingga titik tertentu, salim dalam konteks ini menggambarkan “ketundukan” umat kepada pemuka agamanya. Karena itu, salim jenis ini dilakukan oleh mereka tanpa memandang usia. Umat yang salim seringkali lebih tua dari kiai yang disalimi.
Salim di lingkungan keluarga biasanya dilakukan di usia anak-anak ketika mereka masih “bisa dibentuk”. Mayoritas anak-anak di lingkungan saya mudah diyakinkan bahwa salim adalah salah satu indikator anak baik. Kebiasaan salim biasanya muncul lagi ketika seseorang sudah dewasa. Mereka melakukannya karena sadar bahwa orangtua memang layak dihormati, bisa juga untuk alasan pragmatis: agar anak-anak mereka salim pula pada mereka.
Usia remaja hingga dewasa awal adalah periode dimana banyak orang “absen” salim. Mereka menggantikan salim dengan kalimat pendek bernada minta izin seperti “Pergi dulu Pak”. Saya tidak tahu persis mengapa banyak remaja “absen” salim. Mungkin jiwa muda mereka memberontak terhadap praktik yang mereka anggap “penindasan” itu. Mentang-mentang lahir lebih dulu, minta dihormati. Mungkin pula mereka menganggap salim itu kuno dan karena itu mereka malu melakukannya.
Saya sendiri sangat jarang (untuk tidak menyebut “tak pernah”) salim pada kedua orangtua saya. Bukan saya tak hormat pada mereka. Bukan pula saya tak sayang pada mereka. Hanya saja… ada segaris perasaan malu, sungkan, untuk salim. Untungnya, orangtua saya tidak mempermasalahkannya. Mereka tahu saya cinta dan hormat pada mereka meski saya tidak salim.
Saya hanya salim pada mertua. Itu pun setelah diingatkan salah satu saudara bahwa tidak salim pada mertua itu sangat tidak sopan. Saya sebenarnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Saya hormat dan cinta mertua saya tanpa harus salim. Namun di titik itu, saya menyerah pada budaya. Toh salim tidak merugikan saya. Kalau mertua saya makin gembira dengan salim saya, maka saya lebih gembira lagi melakukannya.
Termakan oleh stereotip bahwa salim itu “tanda kesopanan khas kampung”, saya benar-benar kaget ketika ada salah satu mahasiswa salim pada saya. What??? Gak salah? Mahasiswa zaman sekarang, mayoritas datang dari kota besar, tajir, eh ngajak salim? Saya kikuk sekali waktu itu. Diterima gak ya?
Bila tidak diterima, saya khawatir disangka sombong. Namun kalau diterima, saya merasa belum pantas disalimi. Saya bukan kiai. Saya belumlah menjadi sosok yang layak diteladani. Disalimi orang terasa terlalu berat bagi saya. “Beban” saya makin berat karena ternyata yang salim bukan hanya satu orang, tapi banyak. Ada yang meletakkan telapak tangan saya di pipi mereka, di kening mereka, ada juga yang meletakkannya di hidung mereka. Yang terakhir inilah versi salim yang saya kenal.
Di awal-awal, saya menerima salim mereka namun saya tarik telapak tangan saya begitu mereka mau menciumnya. Hal ini sudah sering saya lihat di Surabaya dan di Madura. Menurut almarhum ayah saya, kiai yang melakukannya adalah mereka yang rendah hati, yang merasa belum layak disalimi orang sekali pun ilmu mereka tinggi dan kontribusi mereka bagi masyarakat besar. Lantas, apakah kiai yang suka rela tangannya dicium umatnya ada di level lebih rendah? Apakah mereka sosok yang ingin dihormati? Almarhum ayah saya tersenyum dan menjawab, “Tidak juga. Beliau-beliau yang mau disalimi adalah orang yang sama baiknya. Mereka tidak tega membatalkan kegembiraan orang lain. Kalau umat merasa gembira dengan salim, maka mereka melayani salim itu.”
Pernah saya menarik tangan saya saat akan disalimi. Mahasiswa tersebut terkejut dan berkata, “Kok ditarik, Sir? Kenapa?” Terpancar sebersit kaget dan bingung di wajahnya. Sejak itu, saya biarkan mahasiswa salim pada saya tanpa meminta yang lain untuk menirunya. Saya hanya tak ingin membatalkan kegembiraan mereka.(Achmad Supardi)

Kemarin saya menemukan sebuah goody bag di atas meja kerja saya. Di dekatnya tergeletak skripsi edisi revisi. Saya bisa langsung menebak, itu pasti oleh-oleh dari salah satu mahasiswa bimbingan skripsi saya. Goody bag yang ternyata berisi jaket kulit –atau jaket racing?– ini adalah goody bag kesekian yang saya terima di periode penulisan skripsi kali ini. Sebelumnya saya menerima sweater, baju batik, juga pancake durian.

Saya GEMBIRA sekali menerima goody bag itu.

Pertama, saya senang karena merasa ada orang-orang yang ‘cukup dekat’ dengan saya. Mungkin ‘kedekatan’ itu berawal dari hubungan profesional –dosen dan mahasiswa—namun menjadi dekat sebagai sesama manusia justru dianjurkan oleh Tuhan, bukan? Saling membantu, saling membuat gembira.

Sungguh, saya gembira melihat binar kelegaan di wajah mereka ketika saya tanda tangan yang menandakan kripsi mereka layak diuji. Saya gembira melihat mereka mengucap syukur saat dinyatakan lulus sidang skripsi. Saya senang melihat mereka menjadi sarjana. Semoga ilmunya barokah.

Lalu, bila karena kegembiraan itu mereka mereka merasa ingin membaginya, dan saya adalah salah satu yang mendapat bagian, saya tak bisa tidak kecuali menjadi gembira pula. Tentu saya sadar ada sebagian orang yang “kalau sudah selesai ya selesai”. Hubungan berakhir di sana. Saya tentu tak bisa menolak. Namun di pihak saya, pintu selalu terbuka untuk bersaudara.

Kedua, saya memang selalu menikmati sensasi membuka hadiah. Membuka goody bag, bagi saya, sangat menyenangkan. Sensasinya melebihi ketika saya memakai  atau memakan isi goody bag itu. Istri saya tahu betul kebiasaan saya ini. Seringkali dia tidak membuka oleh-oleh yang ia terima dari sekolah atau dari kondangan hanya supaya saya yang membukanya lebih dulu. Dia tahu saya menikmati sensasi itu.

Dulu, waktu kecil, saya gembira sekali saat ayah datang dari yasinan, tahlilan, kondangan, atau dari rumah saudara dengan membawa sesuatu. Saya belum tentu memakan isinya, namun saya suka membukanya. I love surprises. Saking sukanya pada kejutan, saya suka sekali mengecek klikbca di akhir bulan. Sudah masuk gak ya? Ada tambahan gak ya? Mungkin ini penyakit sinting ke-48 versi Andrea Hirata. Hahahaha.

Namun di balik kegembiraan, cukup sering saya terganggu oleh renungan-renungan –ceilee… bahasanya–  tentang status goody bag-goody bag tersebut. Apakah itu semacam sogokan? Gratifikasi? Apakah goody bag-goody bag itu justru harus saya tolak sesopan mungkin dan bukan malah gembira menerimanya? Apakah saya tak ada bedanya dengan pejabat-pejabat yang menerima gratifikasi dari pengusaha dan banyak pihak penuh kepentingan lainnya? Am I that bad?

Kini, izinkan saya mengajukan pleidoi di sini:

Saya tidak pernah meminta. Tidak pula memberi kode. Memang, secara guyonan sebagian mahasiswa menyebut saya memberi ‘kode’, padahal kami sedang membicarakan hal lain di luar skripsi. Durian, misalnya. Saya selalu antusias membicarakan durian seantusias saya menikmati buah yang dagingnya lembut wangi itu.  Kalau itu dianggap kode… ya sutralah. Toh saya sudah membeli pancake durian sebelum pancake durian dari mahasiswa datang J Saya juga tak pernah memberi spesifikasi isi goody bag yang saya inginkan. Buktinya, jaket racing yang saya terima kekecilan. Mahasiswa itu terlalu berprasangka baik bahwa tubuh saya atletis, padahal perut saya lebih mancung dari hidung. Karena di rumah tak ada pria dewasa lain selain saya, maka barang ini masuk daftar untuk didermakan J. Saya, tentu saja, tak pernah mengenakan tarif. Karena, pada dasarnya, memang tak ada harapan untuk mendapat goody bag-goody bag itu.

Saya gembira menerima goody bag-goody bag itu. Toh porsi perhatian saya untuk para mahasiswa bimbingan tak berbeda antara yang satu dengan yang lain. Toh nilai skripsi mereka tak akan berubah…. Goody bag tak mengubah posisi mereka –misalnya—dari bidder menjadi winner. (*)