Salim

Kali ini saya bicara tentang salim. Yang saya maksud salim tentulah bukan nama orang Arab, hehehehe. Salim yang akan saya bahas adalah tindakan menjabat lalu mencium tangan seseorang. Biasanya, orang yang disalimi adalah mereka yang lebih tua atau dihormati.
Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, saya kenal salim sejak kecil. Sebagai pribadi yang berkembang di tengah-tengah budaya nahdliyin yang kental, salim has been everywhere. Di lingkungan kampung saya dulu, baik di Surabaya maupun di Bangkalan, mayoritas anak salim kepada orangtuanya. Berangkat sekolah, salim. Pulang sekolah, salim. Berangkat ngaji, salim. Tak hanya itu, bila ada kerabat atau teman orangtua yang berkunjung, anak-anak pun tak lupa salim pada mereka. salim adalah representasi kesopanan. Pasangan ayah dan ibu yang anaknya tidak mau salim kepada tamu biasanya akan kecewa dan sedih. Mereka merasa gagal menanamkan kesopanan pada anaknya.
Di lingkungan nahdliyin, salim meluas ke lingkungan di luar kerabat. Salim dilakukan oleh “umat” kepada kiai atau pemuka agama yang dihormati. Salim bukan lagi lambang kesopanan, namun representasi penghormatan. Bahkan, hingga titik tertentu, salim dalam konteks ini menggambarkan “ketundukan” umat kepada pemuka agamanya. Karena itu, salim jenis ini dilakukan oleh mereka tanpa memandang usia. Umat yang salim seringkali lebih tua dari kiai yang disalimi.
Salim di lingkungan keluarga biasanya dilakukan di usia anak-anak ketika mereka masih “bisa dibentuk”. Mayoritas anak-anak di lingkungan saya mudah diyakinkan bahwa salim adalah salah satu indikator anak baik. Kebiasaan salim biasanya muncul lagi ketika seseorang sudah dewasa. Mereka melakukannya karena sadar bahwa orangtua memang layak dihormati, bisa juga untuk alasan pragmatis: agar anak-anak mereka salim pula pada mereka.
Usia remaja hingga dewasa awal adalah periode dimana banyak orang “absen” salim. Mereka menggantikan salim dengan kalimat pendek bernada minta izin seperti “Pergi dulu Pak”. Saya tidak tahu persis mengapa banyak remaja “absen” salim. Mungkin jiwa muda mereka memberontak terhadap praktik yang mereka anggap “penindasan” itu. Mentang-mentang lahir lebih dulu, minta dihormati. Mungkin pula mereka menganggap salim itu kuno dan karena itu mereka malu melakukannya.
Saya sendiri sangat jarang (untuk tidak menyebut “tak pernah”) salim pada kedua orangtua saya. Bukan saya tak hormat pada mereka. Bukan pula saya tak sayang pada mereka. Hanya saja… ada segaris perasaan malu, sungkan, untuk salim. Untungnya, orangtua saya tidak mempermasalahkannya. Mereka tahu saya cinta dan hormat pada mereka meski saya tidak salim.
Saya hanya salim pada mertua. Itu pun setelah diingatkan salah satu saudara bahwa tidak salim pada mertua itu sangat tidak sopan. Saya sebenarnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Saya hormat dan cinta mertua saya tanpa harus salim. Namun di titik itu, saya menyerah pada budaya. Toh salim tidak merugikan saya. Kalau mertua saya makin gembira dengan salim saya, maka saya lebih gembira lagi melakukannya.
Termakan oleh stereotip bahwa salim itu “tanda kesopanan khas kampung”, saya benar-benar kaget ketika ada salah satu mahasiswa salim pada saya. What??? Gak salah? Mahasiswa zaman sekarang, mayoritas datang dari kota besar, tajir, eh ngajak salim? Saya kikuk sekali waktu itu. Diterima gak ya?
Bila tidak diterima, saya khawatir disangka sombong. Namun kalau diterima, saya merasa belum pantas disalimi. Saya bukan kiai. Saya belumlah menjadi sosok yang layak diteladani. Disalimi orang terasa terlalu berat bagi saya. “Beban” saya makin berat karena ternyata yang salim bukan hanya satu orang, tapi banyak. Ada yang meletakkan telapak tangan saya di pipi mereka, di kening mereka, ada juga yang meletakkannya di hidung mereka. Yang terakhir inilah versi salim yang saya kenal.
Di awal-awal, saya menerima salim mereka namun saya tarik telapak tangan saya begitu mereka mau menciumnya. Hal ini sudah sering saya lihat di Surabaya dan di Madura. Menurut almarhum ayah saya, kiai yang melakukannya adalah mereka yang rendah hati, yang merasa belum layak disalimi orang sekali pun ilmu mereka tinggi dan kontribusi mereka bagi masyarakat besar. Lantas, apakah kiai yang suka rela tangannya dicium umatnya ada di level lebih rendah? Apakah mereka sosok yang ingin dihormati? Almarhum ayah saya tersenyum dan menjawab, “Tidak juga. Beliau-beliau yang mau disalimi adalah orang yang sama baiknya. Mereka tidak tega membatalkan kegembiraan orang lain. Kalau umat merasa gembira dengan salim, maka mereka melayani salim itu.”
Pernah saya menarik tangan saya saat akan disalimi. Mahasiswa tersebut terkejut dan berkata, “Kok ditarik, Sir? Kenapa?” Terpancar sebersit kaget dan bingung di wajahnya. Sejak itu, saya biarkan mahasiswa salim pada saya tanpa meminta yang lain untuk menirunya. Saya hanya tak ingin membatalkan kegembiraan mereka.(Achmad Supardi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: