Archive

Artikel

Kemarin saya menemukan sebuah goody bag di atas meja kerja saya. Di dekatnya tergeletak skripsi edisi revisi. Saya bisa langsung menebak, itu pasti oleh-oleh dari salah satu mahasiswa bimbingan skripsi saya. Goody bag yang ternyata berisi jaket kulit –atau jaket racing?– ini adalah goody bag kesekian yang saya terima di periode penulisan skripsi kali ini. Sebelumnya saya menerima sweater, baju batik, juga pancake durian.

Saya GEMBIRA sekali menerima goody bag itu.

Pertama, saya senang karena merasa ada orang-orang yang ‘cukup dekat’ dengan saya. Mungkin ‘kedekatan’ itu berawal dari hubungan profesional –dosen dan mahasiswa—namun menjadi dekat sebagai sesama manusia justru dianjurkan oleh Tuhan, bukan? Saling membantu, saling membuat gembira.

Sungguh, saya gembira melihat binar kelegaan di wajah mereka ketika saya tanda tangan yang menandakan kripsi mereka layak diuji. Saya gembira melihat mereka mengucap syukur saat dinyatakan lulus sidang skripsi. Saya senang melihat mereka menjadi sarjana. Semoga ilmunya barokah.

Lalu, bila karena kegembiraan itu mereka mereka merasa ingin membaginya, dan saya adalah salah satu yang mendapat bagian, saya tak bisa tidak kecuali menjadi gembira pula. Tentu saya sadar ada sebagian orang yang “kalau sudah selesai ya selesai”. Hubungan berakhir di sana. Saya tentu tak bisa menolak. Namun di pihak saya, pintu selalu terbuka untuk bersaudara.

Kedua, saya memang selalu menikmati sensasi membuka hadiah. Membuka goody bag, bagi saya, sangat menyenangkan. Sensasinya melebihi ketika saya memakai  atau memakan isi goody bag itu. Istri saya tahu betul kebiasaan saya ini. Seringkali dia tidak membuka oleh-oleh yang ia terima dari sekolah atau dari kondangan hanya supaya saya yang membukanya lebih dulu. Dia tahu saya menikmati sensasi itu.

Dulu, waktu kecil, saya gembira sekali saat ayah datang dari yasinan, tahlilan, kondangan, atau dari rumah saudara dengan membawa sesuatu. Saya belum tentu memakan isinya, namun saya suka membukanya. I love surprises. Saking sukanya pada kejutan, saya suka sekali mengecek klikbca di akhir bulan. Sudah masuk gak ya? Ada tambahan gak ya? Mungkin ini penyakit sinting ke-48 versi Andrea Hirata. Hahahaha.

Namun di balik kegembiraan, cukup sering saya terganggu oleh renungan-renungan –ceilee… bahasanya–  tentang status goody bag-goody bag tersebut. Apakah itu semacam sogokan? Gratifikasi? Apakah goody bag-goody bag itu justru harus saya tolak sesopan mungkin dan bukan malah gembira menerimanya? Apakah saya tak ada bedanya dengan pejabat-pejabat yang menerima gratifikasi dari pengusaha dan banyak pihak penuh kepentingan lainnya? Am I that bad?

Kini, izinkan saya mengajukan pleidoi di sini:

Saya tidak pernah meminta. Tidak pula memberi kode. Memang, secara guyonan sebagian mahasiswa menyebut saya memberi ‘kode’, padahal kami sedang membicarakan hal lain di luar skripsi. Durian, misalnya. Saya selalu antusias membicarakan durian seantusias saya menikmati buah yang dagingnya lembut wangi itu.  Kalau itu dianggap kode… ya sutralah. Toh saya sudah membeli pancake durian sebelum pancake durian dari mahasiswa datang J Saya juga tak pernah memberi spesifikasi isi goody bag yang saya inginkan. Buktinya, jaket racing yang saya terima kekecilan. Mahasiswa itu terlalu berprasangka baik bahwa tubuh saya atletis, padahal perut saya lebih mancung dari hidung. Karena di rumah tak ada pria dewasa lain selain saya, maka barang ini masuk daftar untuk didermakan J. Saya, tentu saja, tak pernah mengenakan tarif. Karena, pada dasarnya, memang tak ada harapan untuk mendapat goody bag-goody bag itu.

Saya gembira menerima goody bag-goody bag itu. Toh porsi perhatian saya untuk para mahasiswa bimbingan tak berbeda antara yang satu dengan yang lain. Toh nilai skripsi mereka tak akan berubah…. Goody bag tak mengubah posisi mereka –misalnya—dari bidder menjadi winner. (*)

 

Advertisements

Image

Foto: Khoirul Umam

Warga Jababeka dan sekitarnya senam di pelataran Giant, Minggu (10/2) pagi. 

Tiga kali sudah saya ikut senam di pelataran Giant Jababeka. Kali ini saya memang niat banget, secara saya jarang sekali berolahraga. Sepertinya saya memang memiliki kecenderungan malas berolahraga ‘secara resmi’ karena terbilang sering berolahraga ‘tak resmi’: naik ke kantor di lantai 3 Gedung A melalui tangga, turun, lalu naik lagi ke lantai 2, 3, atau 4 di Gedung B untuk mengajar. Bukankah itu juga olahraga? Hahahaha.

Kalau mau cari kambing hitam, sebenarnya ada juga: jadwal kuliah. Hampir satu semester saya rutin berolahraga bulutangkis tiap Senin malam. Namun, sudah 2 semester belakangan ini saya mendapatkan jadwal mengajar di Senin malam. Akibatnya, selamat tinggal Pelatnas Cipayung. Absen latihan selama 2 semester pastilah membuat kemampuan saya menurun jauh, tak mampu lagi bersaing dengan Simon Santoso atau pemain pensiunan seperti Taufik Hidayat.

Dengan sedikitnya waktu yang tersedia untuk berolahraga, maka senam tiap Minggu pagi di pelataran Giant Jababeka menjadi ‘satu-satunya’ alternatif yang harus diselamatkan. Senamnya sih biasa. Cuman 1 jam, dengan gerakan-gerakan yang juga sangat biasa. Tak ada nomor kuda-kuda pelana, kuda-kuda lompat, palang sejajar, palang tunggal, gelang-gelang, atau sekadar senam ritmik. Tapi tetap lumayanlah untuk memeras keringat. Daripada harus menggenjot becak?

Nah, ‘prosesi’ senam inilah yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Dimulai dari gerakan-gerakan pemanasan, gerakan inti dengan impact (hentakan) yang cukup tinggi, lalu… eng ing eng… senam body language dan senam kegel. Senam ini, katanya, bisa memperkuat otot-otot di sekitar panggul dan perut. Karena itu, ia membantu mewujudkan aktivitas seksual yang lebih tahan lama. Bukankah aktivitas seksual (dengan pasangan yang sudah dinikahi) adalah ibadah? Hehehe

Ketika di bagian senam body language inilah saya melihat fenomena yang aneh. Banyak peserta pria yang berhenti. Sebagian tetap menggerakkan tubuhnya sesuka hatinya, tidak patuh lagi pada gerakan yang dicontohkan instruktur. Ada juga yang membuang muka, pura-pura tidak melihat orang-orang di sekelilingnya. Wajah mereka menunjukkan raut malu meski tak sampai memerah. Sebagian lagi tertawa cekikikan. Rupanya senam kegel membuat benak mereka kegelian….

Ada yang salah?

“Saya berhenti dulu kalau di bagian yang ini. Malu,” kata kawan saya. Dia seusia dengan saya, anaknya dua.

Saya sendiri juga sedikit malu. Tapi sebenarnya, mengapa harus malu? Bukankah ini olahraga? Bukankah manfaatnya penting untuk ibadah? Beneran ibadah lo, bukan ibadah dengan tanda petik.

Rasa malu ini muncul karena ‘kepala’ kita tidaklah kosong. Ada ajaran agama, ada budaya, ada pengalaman masa lalu, ada nilai-nilai dan pengetahuan yang mengisinya. Di mayoritas masyarakat Indonesia, seks masih merupakan aktivitas yang sangat sangat privat. Ajaran agama, budaya, dan kebiasaan kita sejak kecil mengajarkan kita untuk tidak menunjukkan isyarat –sekecil apa pun—terkait dengan seks di area umum. Melakukan upaya-upaya yang bisa dianggap “memperbaiki” kinerja seks seperti senam body language, termasuk “memberi” isyarat itu tadi. Karena itu, saat bagian ini, banyak peserta yang celingak-celinguk menahan malu.

Senam di pelataran pasar swalayan seperti ini tentulah bukan agenda cuma-cuma. Meski gratis, bahkan ada door prize sederhana, namun sebenarnya ini bukanlah aktivitas tanpa maksud. Dengan menggelar senam yang diikuti lebih dari 250-an orang ini, Giant membuka peluang yang lebih besar untuk menjaring konsumen sepagi mungkin. Terbukti, tiap usai senam, tak semuanya langsung pulang. Banyak yang melanjutkan agenda senamnya dengan jogging. Jogging di antara rak-rak dagangan Giant. (Achmad Supardi)

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Ia menjadi salah satu cara pengungkapan perasaan sekaligus pemikiran dari sang penyair. Sebagian puisi lebih kental unsur perasaannya (kesedihan, syukur, dll), ada pula yang lebih kuat unsur pemikirannya (protes, kritik, dll). Namun secara umum, puisi adalah gabungan keduanya.

Karena puisi terdiri dari kalimat-kalimat dan kata-kata yang simbolik, maka “membaca” (memahami) puisi tak semudah membaca/memahami cerita pendek atau novel. Pembaca harus lebih dulu mencoba “memaknai” masing-masing kata atau kalimat simbolik tersebut, barulah ia bisa “membongkar” arti yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan catatan, hasil “pembongkaran” atau “pemaknaan” kita belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh penyair. Tapi ini wajar dan sah-sah saja. Ketika puisi/cerpen/novel/atau karya apa pun sudah dilempar ke publik, ia sudah “terlepas” dari si penulis. Ia menjadi “teks” atau “pesan” yang bisa dimaknai oleh siapa pun dengan makna nyaris apa pun.

Berikut contoh memaknai puisi:

Lelaki dan Bocah
: Untuk P. Suwan dan Oni

Lelaki dengan bocah di bahunya (ini bisa simbolik, bisa juga hanya ikon atau fragmen menarik untuk mengikat pembaca)

pematang itu ia tebas

lipat waktu dalam bening mata bocah itu (menggunakan kata “pematang” karena inspirasinya petani. Namun pematang juga bisa diartikan: jalan –> jalan hidup. Ia tebas = dilalui, dihadapi –> demi sang anak)

Lelaki dan bocah pada pantai parak senja (penanda waktu, juga menimbulkan kesah syahdu)

langkah mereka adalah mata istri teduh menyala (hidup suami dan anak adalah hidup istri)

dan kala lokan, keong dan pasir pantai menyapa matanya, (ibarat, menemukan hal-hal baru)

bocah itu tersenyum

ayahnya menuliskan kata baru dalam notesnya (setiap menemui hal baru, ayah “mengajarkan” artinya pada sang anak, sang anak menerima –dan bisa protes—atas yang diajarkan ayahnya tsb)

Lelaki dengan bocah yang dipanggulnya (fragmen saja)

bumi ia bagi dalam alinea yang dipahami anaknya (hidup diajarkan secara bertahap)

lalu embun dan matahari (pernik kehidupan, yang sukar dan yang mudah)

juga mawar dan badai (pernik kehidupan, yang baik dan yang buruk)

tercatat dalam mata bocah yang

dipanggulnya melintasi telaga dan samudera (aneka riak kehidupan selalu dicatat oleh sang anak yang terus dididik oleh sang ayah, melintasi tantangan hidup, baik tantangan yang kecil (telaga) maupun tantangan yang besar (samudera))

Lelaki dan bocah pada bayang ombak berdeburan (fragmen)

terpaku mereka pada layar dan dermaga yang ditinggalkan (selalu ada masa lalu yang pergi, orang-orang terkasih yang pergi)

bercakap mereka dalam bayang pulau di kejauhan (melihat masa depan, mereka-reka kehidupan masa mendatang)

mata mereka lekat pada lampu kapal, juga bulan

yang menyembul perlahan (lampu kapal, bulan –> selalu ada petunjuk dalam mengarungi hidup)

Lelaki dengan bocah di bahunya

satu demi satu ia bukakan halaman buku anaknya (ayah membuka / memberi tahu/ mengajarkan tahap-tahap kehidupan)

Lelaki dengan bocah dalam sketsa pantai senja

Dunia

itu alinea yang terus dituliskannya (dunia alias kehidupan adalah “buku” yang tak henti kita baca maupun kita tulisi, harus terus menerus dipahami)

Achmad Supardi, 25 Januari 2013

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

“Merokok itu enak, terutama bila sedang berada di tempat dingin. Badan jadi hangat,” kata seorang wartawan yang ngepos di Lumajang. Asal tahu saja, wartawan yang bertempat tinggal di daerah yang relatif sejuk itu bukan smoker alias cuman kadang-kadang saja menghisap rokok. Bayangkan betapa sangat nikmatnya merokok bagi orang-orang yang memang tergolong “manusia berasap”.

Merokok tampaknya memang nikmat. Dan tidak hanya itu, merokok dianggap sebagai aktivitas yang sangat mempesona. Bahkan sebagian gadis menyukai pria yang memiliki rokok terselip di antara dua bibirnya. “Rasanya kok, maskulin, gitu,” kata seorang cewek belasan tahun.

Apakah anggapan merokok itu nikmat dan mempesona datang begitu saja? Tidak!

Longok saja iklan-iklan rokok. Bukankah semua citra dan imaji terwakili? Ada rokok yang merupakan selera pemberani, ada pula yang menawarkan citra sebagai lelaki gagah perkasa seperti para koboi Amerika. Ada juga yang menawarkan selera pas kemantapan. Bahkan ada yang mengklaim memberikan kenikmatan sukses. Tapi yang jelas, jangan anggap enteng! Maksudnya, jangan anggap enteng penyakit yang ditimbulkannya! Juga gelombang pajak yang dialirkannya sehingga bisa dibilang semua pemerintah negara di dunia tidak ada yang melarang industri rokok.

Begitulah. Rokok adalah gaya hidup. Gaya hidup yang keberadaannya terus dihidupkan oleh pembentukan citra tertentu. Rokok juga imaji. Imaji yang masih mampu memberi sedikit eksistensi ketika seseorang tak lagi memiliki apapun untuk dibanggakan, untuk ditempelkan.

***

Di sebuah kelas, seorang mahasiswa dipandang oleh puluhan pasang mata. Ada nada tak suka dalam tatapan berpuluh pasang mata itu. Sebenarnya si mahasiswa yang sedang disorot itu hanya mengajukan argumen, pandangan, juga isi tulisan yang mungkin baru dibacanya yang kebetulan tidak sejalan dengan keterangan dosen yang beberapa menit sebelumnya diberikan. Tapi mahasiswa kritis itu dipandang dengan kemarahan. Berpuluh pasang mata itu menganggap sang mahasiswa yang tengah mengajukan argumen-argumennya sebagai perampok. Ya! Perampok yang mengambil kesempatan berpuluh mahasiswa lainnya –yang kebetulan “manis-manis”– untuk mendengarkan keterangan dosen. Bagi mereka keterangan dosen pasti lebih berharga dan pasti “lebih benar” dibanding keterangan mahasiswa.

Bila ditanya mengapa sang mahasiswa kritis itu dipandang sebagai “perampok”, jawabannya sederhana saja: citra.

Citra bahwa dosen “serba tahu” masih melekat kuat. Citra bahwa omongan dosen sangat layak dicatat masih tertanam dalam. Citra bahwa keterangan dosen jauh lebih berharga daripada argumentasi mahasiswa –yang paling cerdas sekalipun– masih mengendap kukuh di banyak otak mahasiswa sendiri. Padahal sudah banyak dosen yang dengan legawa membiarkan mahasiswa menjadi “dosen-dosen kecil” karena sadar anak didiknya punya banyak waktu dan biaya untuk ngenet, untuk baca Newsweek dan Time edisi terbaru, bahkan untuk berlangganan jurnal-jurnal mahal seperti Foreign Affairs atau Third World Quarterly. Sedang mereka masih berkutat dengan buku-buku terbitan tahun 1980-an, bahkan tahun 1960-an! Sedang mereka untuk membeli satu buku baru harus berpikir dulu seribu kali.

Mengapa ketika mahasiswa memberi argumentasi –yang kalau ditulis pasti memuat banyak sekali catatan kaki, dan semuanya sangat up dated– itu masih dipandang sebagai “perampok”? Masih dipandang dengan sorot mata tidak senang? Semua soal citra.

***

Di sebuah kuliah tamu yang dihadiri Menlu –saat itu– Alwi Shihab –yang dia kesel banget karena semua tindakan Gus Dur seakan tak pernah cocok dan selalu digoyang rumor– seorang mahasiswa membalas, “Bisa jadi Gus Dur memang sering digoyang rumor. Tapi masalahnya, apa bukan Gus Dur sendiri pabrik rumor terbesar di Indonesia?”

Pabrik rumor. Itu satu citra.

Di sebuah break istighosah, sambil merokok dan makan kacang sejumlah orang memperbincangkan Gus Dur. Ternyata kesimpulannya sangat berbeda. Menurut mereka Gus Dur adalah wali. Wali yang malati (bisa membuat orang yang kurang ajar jadi kualat). Mereka memang orang-orang yang selalu siap menjadikan beragam pendapat Gus Dur sebagai satu hal yang taken for granted. Ketika mereka tidak mampu mengikuti jalan pikiran Gus Dur, enteng saja mereka menyalahkan diri mereka sendiri dengan mengatakan, “Pancen awak-awak iki sik nggak nutut! Isik bodho banget!”
Wali yang malati. Itu juga citra.
***
Sebuah foto demonstrasi mahasiswa di Jakarta tiba ke redaksi malam itu. Fotonya sangat biasa, hanya beberapa belas mahasiswa meneriakkan yel-yel anti Gus Dur. Sejenak sang redaktur kecewa. Foto begini saja dikirim! Tapi sebuah ide kemudian melintas. Dengan cropping (pemotongan) sederhana foto itu akhirnya menjadi “sangat berbicara” karena yang tampak kemudian adalah beberapa kepala dengan wajah-wajah sangar penuh kebencian.

Gus Dur yang sangat dibenci, itu citra yang muncul dari foto tersebut. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa.
Di ketika yang lain, wartawan sebuah kantor berita luar negeri terlambat datang ke lokasi. Daripada kena semprot redaktur, dipinjamlah catatan wartawan media lokal dan itu yang ia kirim ke kantor pusatnya. Isi beritanya, Ambon berdarah. Sang redaktur, seperti biasanya me-rewrite berita itu. Hasilnya: Ambon berdarah-darah.

Ambon berdarah-darah adalah citra. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa. Dan citra yang merupakan rekayasa, tak terhitung banyaknya.
***
Di sebuah iklan, seorang mertua yang mau membesuk tetangganya hendak membeli jeruk mandarin sebagai oleh-oleh. Tentu itu karena citra jeruk mandarin sebagai produk impor pastilah lebih oke, lebih bergizi dan lebih bergengsi. Tapi sang menantu yang sadar mertuanya hanya termakan oleh citra, segera bersuara, “Beli jeruk Pontianak saja, Bu. Gizinya sama, lebih murah lagi!” (*)

*artikel ini dimuat ketika Gus Dur masih sugeng dan –kalau tak lupa– sedang menjadi Presiden RI

Picture was retrieved from gusdur.net on 20 January 2013.

“Dupanya sudah?” seorang tetua kampung bertanya pada tuan rumah. Begitu dijawab “sudah”, segera salawat berkumandang. Di tengah-tengah prosesi itu, tuan rumah mendatangi satu per satu peserta dan memberikan uang. Besarnya beragam, mulai Rp 500 hingga Rp 5.000. Saat ini bahkan ada yang membagikan Rp 10.000. Salawat itu pendek saja, bisa jadi kurang dari 7 menit. Dan begitu diakhiri, segera anak-anak dan remaja berebut buah yang tersaji di tengah-tengah musala.

Begitulah tradisi maulid nabi Muhammad SAW di sebagian desa-desa di Madura. Warga memulai ritual ini dari masjid kampung, kemudian dilanjutkan ke rumah-rumah warga dengan tahapan yang relatif sama: baca salawat, diberi uang oleh tuan rumah, lalu rebutan buah. Di sejumlah tempat, buah-buah ini ditata di atas ancak, tempat buah tradisional dari pelepah pisang yang dibentuk segi empat, lalu diberi bilah bambu tipis (seperti tusukan sate kambing) yang dianyam sebagai dasarnya. Ritual maulid (warga lokal menyebutnya mulod atau muloden) ini berlangsung pada malam tanggal 12 Rabiul Awal berdasar kalender Hijriah.

Biasanya, acara mulod ini tidak selesai dalam satu malam karena banyaknya somah (rumah tangga) yang ikut serta. Karena itu, sebagian melanjutkannya di pagi hingga siang harinya. Di beberapa desa, acara difokuskan pada pagi hari, karena itu bisa berlangsung hingga sore. Selain ritual mulod dengan salawatan, ater-ater (saling mengirim makanan antar-tetangga dan kerabat) seperti saat Idul Fitri dan Idul Adha juga dilakukan. Lagi-lagi ada sedikit angpao untuk anak-anak kecil yang menjadi “kurir” ater-ater itu.

Ater-ater juga dilakukan dalam penyediaan buah untuk mulod. Masing-masing keluarga membagikan buah dalam ancak untuk para tetangganya. Karena itu, buah yang ada di musala tiap keluarga selalu bervariasi jenis maupun kualitasnya. Namun seiring keinginan manusia untuk mencari yang lebih praktis, praktek tukar menukar sajian buah ini mulai luntur. Masing-masing keluarga merasa lebih enak dengan menyediakan sendiri seluruh kebutuhan buahnya. Dengan begitu, mungkin, mereka bisa jor-joran menyediakan buah-buahan mahal. Maulid nabi yang sejatinya untuk mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, bergeser menjadi ajang pamer.

Memang, ritual mulod ini tidak tunggal. Ada banyak variannya, tergantung desa, struktur sosial, dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakannya. Misalnya, di desa-desa yang terdapat banyak pondok pesantren atau dianggap “alim”, bacaan salawatnya panjang-panjang, sedang di desa “biasa”, bacaan salawat hanyalah pengantar bagi “ritual” yang lebih penting: mencari angpao dan rebutan buah.

Di sebagian tempat, rebutan dianggap “tidak sedap dipandang.” Untuk menghindari rebutan ini, ada takmir masjid yang membagi kue dan buah secara merata, dibungkus, lalu dibagikan sehingga tiap orang mendapat jumlah dan jenis buah dan kue yang sama.

Selain itu, varian yang lain adalah banyak kiai atau bindereh –anak kiai—yang mendapat job menjadi pemimpin ritual mulod di desa-desa “abangan” ini. Varian yang lain, angpao tidak selalu dibagi. Di beberapa desa, angpao diberikan dalam bentuk uang receh yang dilemparkan dan diperebutkan peserta di tengah-tengah halaman. Mereka menyebutnya horebot.

Begitulah, di banyak desa di Madura, mulod lebih merupakan sebuah festival.

Dulu, ritual maulid hanya dirayakan pada malam dan pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal. Tapi seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi masyarakat, mulai banyak warga yang menyimpangkan jadwalnya dari arus utama ini. Biasanya, mereka merayakan maulid pada tanggal-tanggal lain di bulan itu. Tentu saja perayaan maulid “partikelir” ini lebih mewah. Bukan hanya buah yang tersaji, namun juga ada hidangan berat dan berkat (makanan yang dibawa pulang). Selain, tentu saja, angpaonya lebih besar. Sejumlah keluarga kaya bisa memberi angpao hingga lebih dari Rp 10.000 per orang. Padahal, yang diundang bisa warga tiga desa (bukan tiga dusun!).

Dengan kondisi seperti itu, ritual mulod bukan hanya sehari atau dua hari. Ritual ini bisa bertahan hingga sebulan karena banyaknya warga yang melakukannya secara “partikelir.”

Karena merupakan satu “festival”, tak jarang suasana snob sering muncul. Perilaku jor-joran pun tak terelakkan. Masing-masing keluarga bersaing menyajikan ritual mulod yang paling mewah. Kadang sampai harus ngutang.

Selain jor-joran, ekses negatif lainnya adalah adanya perasaan “wajib” merayakan mulod. Bahkan, sebagian sampai pada tahap ngrasani atau menggunjingkan warga yang tidak merayakannya. Akibatnya, sekali lagi, maulid nabi yang mestinya menjadi ajang meneladani perilaku nabi, jatuh menjadi ajang pamer diri. (*)

Di bawah ini adalah tulisan teman saya, Esthy Wikasanti. Dia adik saya di Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Airlangga. Memilih menjadi ibu rumah tangga secara sadar, bukan karena tak berkemampuan. Tulisan berikut adalah hasil perenungannya tentang bertambahnya usia, posisi wanita, rumah tangga, dan aspek lainnya yang ditulis secara apik dan menghibur. Awesome!

=========

Monolog Usia Kembar

by Esthy Wikasanti on Saturday, January 12, 2013 at 3:46am ·

Kepala tiga, nduk?

Bah, simbok ucapkan itu dan biarkan mereka tebak usia aku.

…age is just a number, don’t you stop having fun (Happy Birthday-NKOTB)…

Tapi buat wanita, satu tahun itu sangat berarti.

Opo yo kamu bakal muda selamanya? Waktu itu ora kenal kompromi, nduk. Ini tentang bagaimana kamu bersahabat dengannya, karena dia sudah paten.

Tapi kadang masih kurang.

Opo yo kalo dikasi lebih, kamu bakal lebih baik?

Ga tau juga sih…

Lhah, piye to. Kamu dewe ora yakin dengan keinginanmu.

Waktuku banyak untuk orang lain.

Itu kan pilihan uripmu, pahit manis mesti dijalani. Lagipula, dibutuhkan orang lain, itu kebutuhan utama lho.
Coba jal, lek kamu bisa reinkarnasi kayak di pilem-pilem itu, kamu mau jadi siapa?

Sapa ya mbok, ga tau juga.

Kamu ki pancen ora jelas, ora struktural, infrastrukturmu amburadul, gitu bilang waktu kurang. Yowes, anggep aja kamu pengen jadi BCL, yang wes di”reinkarnasi” jadi Ainun.

Sebentar mbok, itu panjenengan lho, bukan saya.

Kamu ini gimana to, dicarikan contoh yang bagus, ngeyel ae.

Kalo Ainun nya ok, kalo BCL nya mikir-mikir dulu, mbok.

Lha kok pikir jadi Ainun itu gampang, kan mesti meninggal dulu to, baru orang ngerti sehebat apa beliau. Kalo BCL, seterawanganku, kan ketok penak-penak wae. Lahir ceprot dari orang berada, karir naik turun yang stabil, dapet jodo keturunan Robin Hood, trus…

Sek to mbok, kok bisa keturunan Robin Hood??

Eling wayang, tari tor-tor, reog, batik, Sipadan Ligitan, dan sak akeh akehe conto?

Itu kan yang…. (mikir dulu dengan maksud sopan)

Ra sah mbulet, wes begini, Robin Hood nyuri untuk kepentingan orang kecil.

Lha terus hubungannya apa?

Yang dicuri kan punya orang kaya, sing sak arat arat. Sebentar, aku nanya dulu. Kamu bisa nari Pendet ato reogan ora?

Aku kan ga bisa nari.

Tapi Gangnam Style bisa kan?

Hehe, gampang dan populer sih, mbok.

Kan kamu bisa jadi penggagas klub tari, narik para seniman dalam satu wadah supaya budaya kita bisa lestari.

Ah, simbok lebay, aku ndak ngerti apa-apa soal seni.

Nah itu, nah itu, nah itu…

Apa mbok?

Tau saja enggak, melestarikan apalagi, kenapa mesti kebakaran jenggot kalo Robin Hood woro-woro untuk ngopeni dan mendayagunakan?

Alias nyolong?

Hush, ngomong yang bener, wes kakean piktor di negara ini. Aset yang harus dipertahankan itu ya positive thinking, ben ndang maju, masio pelan tapi pasti. Sayangnya, racunnya patah tumbuh hilang berganti. Antibiotik manapun sulit bikin pertahanan.

Halooo mbok, saya ini sedang mengulang tanggal dan bulan, menghitung hari yang ga pasti menuju sebuah entitas sebagai umat manusia yang (pengennya) berkualitas.

Lha iyo nduk, simbok juga mengarahkan ke situ. Kamu ini kan kuliah, harusnya paham dengan simbol dan analogi.

Tapi lho, aku kan masih repot dengan urusan rumah tangga *alasan, padahal wanita kan multi tasking*

Yowes, kupersingkat wae. Sejauh usia yang sudah kamu lakoni di panggung ini, apa pencapaianmu?

*hening*

Kuperjelas lagi. Apa kamu sadar bahwa kamu pernah salah, atau malah kamu merasa terus-terusan hebat tanpa cela?

Ya pernah salah mbok, menyesal, berharap ga akan terjadi lagi.

Lalu?

Berharap dan berusaha lebih baik.

Lanjutkan kalo gitu.

Ah, cukup dua kali mbok, waktunya yang laen, hehe…

Lha kamu ngajak bicara negara lagi. Pertanyaan selanjutnya, kamu punya keinginan yang belum terpenuhi?

Ya jelas mbok, banyak.

Apa saja?

Ah simbok, kan sudah kutempel 5cm di depanku, males ngulang. Simbok ikut liat bersamaku aja deh.

Kalo misalnya ga terpenuhi piye?

Pasti bisa mbok, wong aku sudah ndaptar sama Gusti Allah.

Syukur lek kamu sek percaya ada kekuatan sing maha.

Ya iyalah, mbok, tapi yang biasa aja. Ga usah eksplisit.

Maksud lo?

Ah simbok sok gaul lagi. Ya kalo terlalu kiri atau terlalu kanan, bisa jadi TO para ambisiwan dan ambisiwati.

Jangan-jangan kamu ini pluralis, ato malahan jamaah JIL?

Sembarang lah mbok, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bocah edan, agama kita itu sama, nduk.

Bener mbok, tapi dalam perjalanan kehidupan, aku nemui banyak warna baru. Bahwa biru itu ternyata ada yang biru laut, biru donker, tosca, benhur, sampe indigo.

Terus kamu memutuskan jadi pelangi, gitu?

Mbuh lah, mbok.

Sudah, nanti yang baca statusmu tambah puyeng, vertigo pisan. Dipersingkat saja, ben perjalananmu menuju inner peace ora sia-sia.

Mbok, kasi tanda donk kalo kita ini juga membicarakan petuah Master Shifu, tentang inner peace itu.

Halah, wong yo kita nonton bareng.

Hehehe…

Begini nduk, salah satu pintumu, sudah terbuka lebar.

Pintu apa? Yang mana?

Lha kuwi, anak bojomu, kendaraan sukses jiwamu.

Pintu gimana mbok, maksudnya?

Pintu rejeki, pintu karir, pintu darurat, dan lainnya. Anggap saja pintumu sekarang adalah salah satu pintu rejeki. Ojo protes, ditanggung hidup oleh suamimu dan dibutuhkan anak-anakmu itu rejeki yang belum tentu semua orang raih lho..

Inggih, mbok. Alhamdulillah..

Ibaratnya rumah, opo yo pintunya cuma satu?

Banyak, mbok.

Pintu lain pasti terbuka, nduk. Tinggal kamu mau masuk ke dalamnya atau tidak. Tapi ingat bahwa setiap pintu itu punya ruang. Akan lebih baiknya, jika kamu merawat dan memelihara apa yang ada dalam pintumu sekarang, sebelum kamu membuka pintu yang lain.

Jadi aku ga boleh kerja gitu?

Siapa bilang tidak? Tapi pertanyaanku, sebagai seorang ratu di rumah tanggamu, seberapa berhasil kamu membuat suami dan anakmu betah di rumah, seberapa berhasil kamu menatanya sehingga orang yang melihat berpersepsi baik?

Ah simbok, ikutan ngetrend, pencitraan. Lagipula tugas utama wanita kan hamil,melahirkan, menyusui. Selain itu, kan sama dengan lelaki.

Aku curiga, jangan-jangan kamu benar-benar terjebak dalam pluralis, liberalis, feminis, mbuh mana itu yang bener.
Lalu, soal pencitraanmu di depan Dzat yang kamu imani itu, sejauh mana? Opo kamu sanggup, kamu kerja sementara suamimu yang mandiin dan nyuapin anak balitamu?

*hening*
Kalo dia mau, kenapa enggak?

Lha emang bojomu mau??

Hehehe…
Ah mbok, ini kan karena terpatrilinealkan, jadinya ada keharusan seperti itu.

Ora usah turut campur sistem yang lagi kacau, tanya pada dirimu sendiri, bisa nggak?

*merenung*
Mungkin tidak, mbok.

Sanggup ga sanggup, kamu mesti bertanggungjawab akan apa yang sudah kamu keluarkan, apapun itu bentuknya, antara lain anak-anak yang selama sembilan bulan nongkrong di rahimmu.

Insyaallah, mbok..

Ojo mengulang ala Robin Hood tadi. Begitu diakui dan diambil yang lain, baru nyadar kalo punya.

Mbok, itu terlalu ekstrim.

Tidak, nduk. Terkadang mesti keras pada diri sendiri, supaya nyadar bahwa nikmat selalu ada, sekecil apapun bentuknya.

Iya ya, mbok.

Nangiso terus, ben hawa buruk mengalir pergi bersama air.
Alhamdulillah o terus, ben hidup lebih ringan.
Mikiro terus, ben otak terus bekerja, ora karaten.
Tapi jangan jadi pemimpin.

Lho??

Setidaknya jangan dulu, nunggu negara ini stabil.

Kebetulan aku terdidik di bangku sekolah untuk jadi pekerja mbok, bukan pemimpin.

Wes lah nduk, ojo kakean protes pada negara yang lagi keracunan ini. Eling analogi pintu. Saiki urusen ruangan dalam pintu yang sudah kamu pilih. Sambil pelan-pelan siapkan diri untuk masuk ke pintu yang laen.

Pasti mbuka, mbok?

Pasti, semua kan tergantung sejauh mana kerja kerasmu dan seperti apa sudut pandangmu.

Jadi??

Mau setua apapun, tinggal di negara semakmur atau sebobrok apapun, yang penting dan utama, seberapa banyak kamu belajar dari yang sudah-sudah dan seberapa keras kamu berusaha untuk yang belum-belum.

Matur nuwun, mbok. Tapi…

Sudah, ra sah kakean tapi, ndang melangkah dulu. Sana, ndang dibagi kuenya…

Siap mbok!! Kapan dilanjut??

Sek, sabar, semoga ada pelita indah di 2014.

Amin 🙂

Sumber: https://www.facebook.com/notes/esthy-wikasanti/monolog-usia-kembar/4684154774973, retrieved on 12 Januari 2013

Oleh: Achmad Supardi

Membaca berita tentang lomba kepramukaan yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Universitas Airlangga, Minggu (26/8), saya jadi teringat masa-masa menjadi aktivis Pramuka dulu. Saat itu, pertengahan 1990-an, Pramuka belum semarginal sekarang. Namun, tanda-tanda menjadi kelompok minoritas yang segera kehilangan peminat, sudah begitu nyata terlihat.

Makin tahun, saat SMA saya menggelar pekan ekstrakurikuler (ekskul), stan Pramuka makin sedikit mendapat pengunjung. Beragam atraksi ditampilkan, termasuk membuat menara dari bambu yang menjadi bangunan tertinggi di sekolah saat itu. Kami membuatnya begitu cepat, hasilnya juga bagus. Kami menggunakan menara bambu itu untuk menggelar atraksi prusik dan katrol. Ya, menara bambu itu kuat, meski bahannya hanya bambu dan tali Pramuka yang putih itu. Jangan tanya saya bagaimana cara membuatnya kini. Saya sudah lupa!

Dengan atraksi seru seperti itu, Pramuka hanya bisa menggaet belasan calon anggota baru. Saat pra-orientasi, sebagian berguguran. Memasuki orientasi, tinggal 4 orang yang bertahan. Tahun itu, 4 orang itu sajalah yang menjadi kader kami. It was too great to be true. However, It was!

Beruntung, saat itu Pramuka belum benar-benar punah. Meski di sekolah saya, SMAN 19 Surabaya, gugus depannya tak juga beranjak dari gugus depan persiapan karena selalu minim anggota, namun di banyak sekolah lain, Pramuka masih ada. Paling tidak, dari segi anggota, masih banyak sekolah-sekolah lain yang memiliki Pramuka dengan banyak anggota. Saya belum benar-benar menjadi minoritas saat itu.

Malah, saya merasa seperti kader sebuah partai yang harus terus menerus berdakwah agar makin banyak orang –tepatnya siswa—yang “sadar Pramuka.” Saat itu –hingga kini juga—saya yakin Pramuka memberi banyak pelajaran berguna. Istilahnya, maslahat-nya jauh lebih banyak daripada mudharat-nya.

Lihat saja materi yang ditawarkan Pramuka. Secara garis besar, Pramuka menggabungkan 2 kelompok materi besar, yaitu materi seputar kesehatan (yang biasanya dipegang oleh Palang Merah Remaja atau PMR) dan materi-materi SAR, lingkungan, serta petualangan yang menjadi imej kuat ekskul Pencinta Alam (PA)
Mulai P3K, memasang perban dan penyangga tulang patah, hingga bagaimana menangani korban tenggelam, Pramuka mengajarkan. Keterampilan ekstrem seperti prusik, katrol, dan rappelling yang banyak berguna dalam pendakian, panjat tebing dan penyelamatan, ada materinya di Pramuka.

Kalau mau menuruti isi SKU dan SKK –kalau tak salah kepanjangannya “syarat kecakapan umum”dan “yarat kecakapan khusus”(tuh, kan, saya lupa!)—niscaya tiap anggota Pramuka akan menjadi sosok nyaris sempurna.

Bayangkan, ibadah sesuai tuntunan agama masing-masing, menjadi bagian SKU paling awal. Isi lainnya adalah nilai-nilai kesponan seperti berbakti pada orangtua, menolong sesama, tidak pelit, dan sejenisnya.

Dalam SKK –yang kita dikondisikan untuk memenuhi sebanyak-banyaknya—terdapat banyak keterampilan. Mulai memasak untuk sejumlah orang, keterampilan tali temali, membuat bivak, membedakan tanaman beracun dan tidak, hingga berbicara di depan umum, semua ada. Makin banyak keterampilan yang kita kuasai, makin banyak pin yang kita dapat. Soal pin ini, mungkin aktivis Pramuka hanya tersaingi oleh para Rotarian, hehehehehe. Makin banyak pin yang didapat, makin cepat pula naik tingkat. Asal tahu saja, Pramuka memang mengenal level. Ada Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega. Di masing-masing level itu, ada 3 tingkatan. Maaf, jangan tanya saya nama-nama tingkatan itu, saya lupa. Teman saya yang mantan anggota Prmauka, juga lupa.
Selain materi, Pramuka juga oke sekali dalam rancang bangun organisasi dan konsep-konsepnya. Sepertinya hanya Pramuka, ekskul yang memiliki banyak norma dan konsep dasar. Sebut saja “sistem among” dan “satuan terpisah”.

Dalam sistem among, semua anggota Pramuka adalah keluarga. Karena itu pembina dipanggil dengan sebutan “Kak”. Masing-masing anggota keluarga menjalankan fungsinya sesuai tingkatan. Yang memiliki level lebih tinggi mengajari dan mendidik adik-adiknya.

Meski begitu, norma ketimuran tetap berlaku. Sejak kecil, sejak level Siaga (biasanya kelas 1-3 SD) anggota Pramuka sudah dibiasakan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Dalam perkemahan, tenda mereka terpisah secara tegas. Laki-laki dan perempuan hanya berkumpul dalam acara-acara umum, seperti penjelajahan dan api unggun. Inilah yang disebut “satuan terpisah”.

Sama seperti sekolah, Pramuka juga memiliki “penjurusan”. Kalau gugus depan kita sebut sebagai “sekolah”, maka “penjurusannya” ada pada satuan karya (saka). Ada Saka Bahari (kelautan), Saka Dirgantara (udara), Saka Bhayangkara (kepolisian), Saka Taruna Bumi (pertanian), Wanabakti (Kehutanan), Bhakti Husada (kesehatan), bahkan Saka Kencana (keluarga berencana alias KB).

Adakah ekskul lain yang sekomplet ini? Dalam pemahaman saya yang terbatas, saya belum menemukannya.

Dengan keyakinan bahwa Pramuka memberi banyak manfaat, saya rela bersepeda untuk menjadi pembina Siaga di sebuah SD di kawasan Surabaya Utara. Honornya paling hanya bisa untuk membeli beberapa mangkuk bakso. Namun saya suka menjalaninya karena merasa “berbagi kebaikan.”

Dengan keyakinan itu pula, saya tidak terlalu malu berdesakan dalam bemo dengan balutan seragam Pramuka lengkap. Selalu saja ada yang memandang aneh. Selalu saja ada yang menatap dengan senyum tertahan. Kadang ada pula yang nyeletuk nakal. Namun bagi saya, saat itu, mereka hanyalah orang-orang yang belum “sadar Pramuka.”
Kini, jangan minta saya untuk berdesakan dalam bemo dengan seragam Pramuka lengkap. Sepertinya saya tak sepede dulu lagi. Meski beberapa waktu lalu Hari Pramuka diperingati, bahkan Wagub Soenarjo dalam balutan seragam Pramuka nampang di beragam iklan, namun sejatinya Pramuka di ambang kepunahan. Meski saya belum pernah mendengar bahwa presiden tak lagi sebagai Pramuka tertinggi (di Indonesia), namun saya tak pernah melihat Gus Dur, saat jadi presiden, dibalut seragam Pramuka. Tidak pula Susilo Bambang Yudhoyono.

Saya kira, yang tersisa dalam Pramuka Indonesia tinggal seragamnya saja yang coklat muda dan coklat tua. Di dunia internasional, Pramuka memang masih cukup eksis. Tidak gemebyar memang, namun aneka scout association di banyak negara masih hidup. Namun di Indonesia, perubahan budaya menggerus begitu cepat. Hasrat pemerintah untuk memanfaatkan Pramuka terlalu kuat. Mana ada di belahan dunia yang lain Pramuka terbagi dalam struktur yang sama persis dengan birokrasi negara? Hanya di Indonesia sajalah Pramuka memiliki kwartir ranting (kecamatan), kwartir cabang (kabupaten/kota), kwartir daerah (propinsi), dan kwartir nasional (kwarnas). Pemimpinnya bukan orang sembarangan, karena biasanya dipegang oleh wakil walikota, wakil gubernur, dan wakil presiden.

Kooptasi negara terhadap Pramuka terlihat pula dalam munculnya sejumlah Saka. Untuk apa muncul Saka Kencana kalau bukan untuk mensukseskan program pemerintah yang saat itu menggebu menggalakkan KB? Pramuka terbonsai dalam kerangka orang lain.
Kini, Pramuka (ekskul super komplet itu) memasuki masa-masa tidak laku.

Sekali lagi, yang tersisa dari Pramuka hanya seragamnya yang coklat muda dan coklat tua. Karena itu, sudah waktunya kita secara tegas mengatakan, tak perlu lagi ada seragam Pramuka, hingga orangtua siswa tidak ketambahan biaya. Tak perlu lagi ada Pramuka, hingga anggaran dari pemerintah tak selalu dikucurkan tanpa kita tahu bermuara ke mana. Tak perlu ada Pramuka, kecuali kita mau menghidupkannya secara sungguh-sungguh, jujur, dan bukan sekadar memanfaatkannya.
(*)