Archive

CeritaPendek

Oleh: Achmad Supardi

Senja itu*

Ya, matahari mulai lelah saat itu. Saat sang pemuda ada di stasiun kecil. Hanya berdua, hanya dengan dara yang cuma sekali itu memaksanya untuk mau diantar. “Kau akan pergi. Bahkan mungkin kau tak akan lagi menemuiku,” ujar dara itu, lirih.

Ditatapnya wajah dara itu. Tidak nampak kegetiran macam apapun di sana. Ah, benar-benar dara yang begitu pandai menyimpan perasaan. Bisa jadi ia terlalu percaya diri. Atau bahkan terlalu besar kepala berani menduga dara itu punya perasaan khusus padanya. Tapi tidak. Ia yakin dara itu memendamnya. Toh ini bukan perkara kimia yang mesti diuji coba.

“Kuharap kereta yang kau tunggu tanpa penumpang,” ujar dara itu lagi sambil menatap bias jingga yang melatarbelakangi seluruh stasiun.

“Kenapa?” Kembali ia lihat wajah dara itu. Dia tersenyum, diam. Kembali stasiun yang lengang itu dinikmatinya.

“Kenapa?” ulang pemuda itu. Dia benar-benar berhasil dibuat penasaran. Dara itu belum juga menjawab. Air mukanya berubah. Perlahan diangkatnya mukanya menentang mata sang pemuda. “Karena aku ingin kereta itu tak pernah datang… aku tak ingin kehilangan.” Suaranya datar, meski wajah itu tampak mulai sedih.

Flamboyan berguguran…*

“Lihat itu!” teriak dara itu sambil menunjuk barisan pohon flamboyan yang memagari sepasang rel kereta. “Flamboyannya berguguran.” Ia menarik nafas dalam-dalam. “Kasihan. Ia belum lama mekar, sudah harus gugur seperti itu. Padahal ia membuat lingkungan ini menjadi semarak dan wangi,” gumamnya lagi. Matanya masih tertancap pada bunga-bunga flamboyan yang baru jatuh tertiup angin.

Perlahan ia berdiri. Pelan-pelan ia melangkah ke arah flamboyan-flamboyan yang berserakan. Diambilnya beberapa. Diciumnya. Sejenak tampak wajahnya sangat menikmati harum flamboyan itu. Sekilas ia menoleh ke arah sang pemuda.

Seorang dara memandang terpukau*

Dari jarak beberapa meter itu ia tebarkan suara sambil matanya tak lepas dari deretan pohon flamboyan di depannya. “Kenapa kau tak berubah pikiran?” suaranya bergetar waktu menanyakannya. Pemuda itu tidak langsung bisa menjawab. Kesedihan tampak jelas dari gelombang suara yang baru didengarnya.

Lama. Lama sekali kereta itu tak juga tiba. Jangan-jangan harapan dara itu benar-benar akan terkabulkan. Tuhan! Aku pasti kembali ke sini, pemuda itu membatin.

“Dingin juga, ya? Anginnya mulai keras,” akhirnya dara itu kembali bersuara. Pemuda itu mengangkat wajahnya. Dipandangnya dara yang berjalan beriringan dengan deretan flamboyan.

Satu-satu daunnya berjatuhan*

            Berserakan di pangkuan bumi*

“Rupanya tak cukup hanya mereka saja yang berguguran,” lagi dara itu bergumam. “Daun-daun ini pun berjatuhan. Seperti hatiku yang kini runtuh ke bumi.” Wajahnya lurus menatap wajah sang pemuda. Ada air mata di sana. “Ah, malam sudah datang. Kau tak juga berubah pikiran?”

“Belum. Belum malam. Kuyakin kereta itu akan datang,” jawab sang pemuda. Dara itu menatapnya, lalu kembali duduk menjejerinya. Pemuda dan dara itu bermain dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba dua kepala itu mendongak serempak. Lengkingan peluit kereta dan suara rel beradu dengan roda kereta mengagetkan mereka.

Aku akan benar-benar pergi, batin pemuda itu.

“Hatiku benar-benar kan jatuh ke bumi,” kata dara itu, sendu. Waktu-waktu selanjutnya ia habiskan untuk menatap lekat-lekat pemuda yang kini berdiri di sampingnya. Begitu pula pemuda itu, sampai akhirnya ia beranjak dan menghilang dalam kereta yang berjalan pelan, sepelan malam yang beranjak kian kelam.

Setelah kereta lenyap hanya tiga buah lampu kecil di stasiun itu yang berkedip. Sejenak dara itu memandanginya sebelum matanya kembali tertancap pada deretan flamboyan yang kini tampak menghitam. Perlahan ia susuri sedikit lahan antara rel kereta dan deretan flamboyan yang tertutup bunga dan dedaunan.

Bunga flamboyan itu diraihnya. Wajahnya terlihat sayu*.

            Flamboyan berguguran*

            berjatuhan*

            berserakan….*

****

Sejak itu*

Sejak pemuda itu tampak lebih rajin membantu panti asuhan yang diasuh sang dara dibanding anggota rombongan KKN yang lain, dara itu menaruh simpati yang besar terhadapnya. Dia yakin pemuda itu baik. Setidaknya ia bukan munafik. Bila pemuda itu benar-benar meluangkan waktu dan perhatian lebih banyak dari teman-temannya untuk panti asuhan yang ia asuh, toh itu akan mempertinggi nilai yang akan diperoleh pemuda itu. Kalau kemudian kebaikan pemuda itu karena suka dia, itu hanyalah nilai lain yang coba didapatnya. Dan dara itu setuju. Dan dara itu berhasil menahan sang pemuda untuk bertahan beberapa lama setelah waktu KKN-nya berakhir. Dan dara itu benar-benar yakin ada cinta di hati sang pemuda. Untuk dia.

“Flamboyan itu begitu mudah jatuh, ya? Angin tidak terlalu kencang, tapi flamboyan-flamboyan itu tampak mudah sekali runtuh ke bumi,” dara itu ingat kembali perkataan sang pemuda di depan deretan pohon flamboyan samping panti asuhan, di suatu senja yang benderang.

“Demikian pula hati kami di sini,” jawabnya saat itu.

“Kenapa?”

“Karena tidak ada tempat kami berpegangan.”

“Kau katakan di sini kalian bersaudara.”

“Benar.”

“Lantas apa guna persaudaraan itu bila kalian masih juga merasa tak memiliki tempat berpegang?”

“Kami terlanjur memiliki masa lalu yang tidak kami ketahui.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan yang sangat kuat. Siapa ayahku? Siapa pula ibuku? Dan siapa ayah dan ibu adik-adik yang sekarang ikut kuasuh itu? Kami berasal dari rumah sakit, Puskesmas, jalan raya, bahkan tepian rel kereta. Hanya almarhum Pak Rahmat dan almarhumah istrinya yang berbaik hati menampung kami. Hanya pasangan malang tak berketurunan itu yang peduli dan menyerahkan semua yang mereka miliki untuk kami.”

“Tapi kini kau memiliki aku….”

Sejak itu*

            sang dara*

            berharapan*

****

Sejak itu. Sejak kereta senja itu membawa sosok sang pemuda, sang dara selalu berharap. Tidak muluk, menurutnya, hanya sepucuk surat dengan kabar gembira. Dan ia mendapatkannya, juga di suatu senja.

“Mbak, ada surat,” kata salah satu adik asuhnya.

Tak ada alamat pengirim. Dengan harapan yang tersisa ia harap ada nama sang pemuda di dalamnya.

Hari-hari yang akan kulalui akan sangat berat. Ujian dan praktek akan menjadi pengisi hari-hari panjang itu. Tapi setelah itu, aku akan lulus. Aku akan mengabdi pada masyarakat. Dan aku akan berusaha agar ditempatkan di tempatmu. Aku ingin menjadi pendamping adik-adikmu. Nantikan saja saat itu.

“Tuhan!” dara terpekik gembira.

Dipandanginya guguran flamboyan di depannya yang menyaingi jingganya senja.

Sejak itu*

            sang dara*

            berharapan*

            esok lusa*

            bersemi kembali.*

Note: *) lagu Flamboyan ciptaan Bimbo

*) KKN adalah Kuliah Kerja Nyata, semacam Community Outreach Program, dulu merupakan salah satu mata kuliah wajib di banyak jurusan

Advertisements

Tak banyak orang yang datang ke danau ini di musim gugur yang nenggigilkan seperti sekarang. Riak-riak airnya hampir tak terlihat. Danau yang biasanya kehijauan tampak memucat. Mungkin di beberapa bagiannya airnya sudah jadi es. Kususuri keseluruhan danau dengan mataku. Hanya ada dua perahu yang tertambat di tepian yang berdermaga kayu.
Tak banyak yang dapat dilihat di danau ini, saat ini. Disekelilingku hanya angin. Teras-teras ladang anggur di utara mengirimkan bau harum yang masih tersisa dari panen yang telah berlalu. Pokok-pokok anggur menghitam menutup sebagian lereng Matterhorn. Tapi kesenyapan yang dialirkannya sampai juga ketempatku.
Tak banyak yang dapat diangankan lagi di danau ini. Angsa-angsa yang dulu selalu kau bawa, yang dengan begitu mesra kau lepaskan bercengkerama di danau ini menikmati masa-masa akhir kehidupan mereka, yang kala senja datang kau tangkapi, kau sembelih untuk makan malam kita, kini tak ada. Apalagi yang bisa kuangankan jika kau, yang selama ini membuatku bermimpi, tak ada lagi.
Tak banyak yang bisa membuatku gembira saat ini. Strawberry yang dulu selalu kau petik hati-hati dari rumpunan tanaman menjalar di tepi danau, yang kau siram dengan campuran air lemon dan sugar syrup, yang sambil bercanda kau paksa aku untuk menghabiskannya, kini tak bisa diharap lagi.
Tak banyak yang bisa kuharap di danau ini. Musim gugur tak pernah menjanjikan yang lebih baik dari hari yang telah kita lalui.
***
Langit merah. Puncak Matterhorn merah. Air di danau merah. Sekelilingku merah. Dari merah itu muncul kau. Sepatu kets putihmu menerjang jalan. Depan ribuan orang kau teriak-teriak garang. Wajah mereka merah tegang. Wajah mereka semburat dendam. Kau di depan. Kau pimpin arak-arakan.
“Hentikan pembangunan pusat perbelanjaan! Kami tak butuh belanja! Kami ingin sekolah!”
Kau jalan lagi berkeliling. “Kita tidak benci pusat pertokoan. Kita tidak anti Mal atau Plaza segala rupa. Kita tidak menolak itu semua. Kita hanya tidak setuju bila demi tempat belanja ratusan kepala, ribuan generasi muda harus tidak bersekolah! Itu yang kita tentang! Itu yang tidak bisa kita terima!”
Aku yakin, ditanah airmu sana pastilah kau teriakkan kalimat-kalimat itu! Aku tak pernah meragukan perhatianmu pada masyarakat negerimu yang kau katakan masih bodoh, masih kurang pendidikan. Aku tahu itu. Dan aku tak ragu idealismemu lebih tinggi dari jumlah beasiswa yang selama ini kau terima dari pemerintah negaramu.
Aku tak menyalahkanmu atas kenekadanmu meninggalkan kuliahmu yang tenang dan penuh masa depan. Aku juga tak menganggapmu dungu karena berani pulang ke tanah airmu untuk menentang pembangunan yang kau katakan tanpa pertimbangan. Pembangunan yang tak berorientasi pada masa depan atau segala ungkapan kekecewaanmu yang lain. Aku tak berani menyalahkanmu karena yakin kau benar. Tapi aku tetap tak bisa mengerti!
Dan kau tahu, aku makin tak mengerti saat menerima surat darimu. Betul-betul keputusan di luar nalar!
Maafkan aku Celine bila kemungkinan kita bertemu makin kecil setelah ini. Tapi kau tahu, aku harus melakukannya! Harus! Seperti sering kukatakan padamu, di negeriku pendidikan tak dihargai. Di benak mereka sekolah berarti pengeluaran rutin yang besar sekali. Sedang pertokoan sebaliknya. Pemerintah bisa meraup pajak yang sangat besar. Dan itu yang mereka maksud dengan kesejahteraan!
Celine, bisa jadi aku tak akan lagi menatap puncak Matterhorn yang selalu terselimuti salju. Mungkin juga aku tak akan lagi bersampan menyusuri tepian danau bersamamu lagi. Kuyakin kau tak marah. Kuyakin kau paham dengan apa yang kulakukan. Bukankah kau sendiri yang mengaku kagum karena anak buruh tani kecil sepertiku mampu jalan-jalan di Zermatt dan kuliah di Berne hanya bermodal ketekunan belajar dan semangat?
Celine, kau pun pasti sudah memikirkan kemana anak-anak yang ingin belajar bila sekolah itu betul jadi pertokoan? Apa guna semangat dan kemauan belajar mereka bila sekolahnya saja rata dengan tanah? Tidak, Celine! Aku akan sangat berdosa bila dalam keadaan macam itu tetap tinggal di negerimu yang indah.
Celine, maaf, aku harus melakukannya!
***
Matterhorn tetap di sana. Putih, gagah, seolah menantangku yang kini terduduk lemah. Angin mulai hangat. Lembah ini jadi demikian semarak. Tenda-tenda aneka warna didirikan dimana-mana. Rombongan pendaki atau orang yang hanya ingin berkemah datang tiap saat. Air danau yang tak lagi hampir beku mengundang mereka untuk turun. Berenang, bersampan atau sekedar termangu seperti diriku.
Di bawah sana, rumah-rumah tua kota Zermatt mulai tampak hidup. Dinding kayu mereka yang coklat tua tampak jelas dari sini. Kabut telah pergi. Dan memang, musim panas selalu menjanjikan hari-hari yang ceria, hangat dan berwarna. Tapi sayang, suratmu berikutnya membuyarkan harapanku untuk kembali menikmati suasana danau ini.
Aku disidangkan, Celine! Kalimat pertama suratmu yang tanpa basa-basi itu menciutkan nyaliku. Kenekadan apa lagi yang telah kau tunjukkan?
Mereka menuduh aku telah menggerakkan anak-anak SD yang mungil itu. Mereka menyangka anak-anak SD yang bergerak menentang penggusuran sekolah mereka karena kudalangi. Mereka anggap aku perusuh, pengacau!
Celine, kau percaya, kan, aku tak melakukannya? Lagipula, salahkah bila anak-anak itu menuntut agar sekolahnya tetap berdiri? Kalaupun ada yang mengerakkan, bukankah dia malah pahlawan yang menyadarkan anak-anak itu untuk tetap bersekolah?
Celine, aku tak tahu apa yang ada di otak orang-orang yang membawaku ke persidangan ini. Bisa kupastikan anak-anak mereka memang tak bersekolah di bekas sekolahku yang dekil itu. Tapi apa itu alasan untuk menggusur sekolah ini?
***
Salju mulai turun. Kapas-kapas putih dingin itu menyelimuti ujung dermaga kayu tempat kita sering bercengkerama. Duduk-duduk sambil bercerita segala hal yang kita alami. Masih ingatkah kau pada petugas perbatasan Perancis yang dapat kita tipu hingga mobil kita lolos masuk Swiss tanpa hambatan? Padahal, waktu itu kau yang tak membawa visa begitu ketakutan. Kau iri padaku warga masyarakat Eropa yang bebas keluar masuk tanpa visa. Untung kau mau menuruti nasehatku. Kau pura-pura tidur dengan wajah ditutup buku.
“Siapa itu?” kata petugas yang harus kuakui lebih manis darimu.
“Teman. Ia ngantuk berat setelah seharian mengaduk-aduk perpustakaan kota Paris,” jawabku tenang. Dia kira kau warga Swiss sepertiku hingga ia biarkan kita lewat begitu saja. Dan sepanjang perjalanan pulang kau tertawa atas kejadian yang kau sebut kemenangan itu.
Disini dingin. Kau tahu, ditengah kedinginan itu aku harus makin sering ke Paris untuk mencari tambahan bahan bagi tugas akhirku. Mengertikah kau, bolak-balik Perancis-Swiss tanpa kau benar-benar menyebalkan! Andai kau tak pulang untuk urusan gila itu pastilah kau menemaniku. Tapi itulah kau. Aku yang merasa begitu dekat denganmu tak juga bisa memahami.
Kabar terakhir yang kuterima darimu makin menipiskan harapanku. Kau masuk penjara. Kau narapidana. Tapi kau harus percaya aku tak peduli itu semua. Hanya satu kalimat dalam surat terakhirmu yang membuat hatiku kelu. Penjara ini dingin, Celine.

Catatan kaki:
Matterhorn: nama gunung di Swiss.
sugar syrup: sirup yang hanya terbuat dari gula dan air tanpa sari buah atau perasa lain.