Archive

Communication

Image

Foto: Khoirul Umam

Warga Jababeka dan sekitarnya senam di pelataran Giant, Minggu (10/2) pagi. 

Tiga kali sudah saya ikut senam di pelataran Giant Jababeka. Kali ini saya memang niat banget, secara saya jarang sekali berolahraga. Sepertinya saya memang memiliki kecenderungan malas berolahraga ‘secara resmi’ karena terbilang sering berolahraga ‘tak resmi’: naik ke kantor di lantai 3 Gedung A melalui tangga, turun, lalu naik lagi ke lantai 2, 3, atau 4 di Gedung B untuk mengajar. Bukankah itu juga olahraga? Hahahaha.

Kalau mau cari kambing hitam, sebenarnya ada juga: jadwal kuliah. Hampir satu semester saya rutin berolahraga bulutangkis tiap Senin malam. Namun, sudah 2 semester belakangan ini saya mendapatkan jadwal mengajar di Senin malam. Akibatnya, selamat tinggal Pelatnas Cipayung. Absen latihan selama 2 semester pastilah membuat kemampuan saya menurun jauh, tak mampu lagi bersaing dengan Simon Santoso atau pemain pensiunan seperti Taufik Hidayat.

Dengan sedikitnya waktu yang tersedia untuk berolahraga, maka senam tiap Minggu pagi di pelataran Giant Jababeka menjadi ‘satu-satunya’ alternatif yang harus diselamatkan. Senamnya sih biasa. Cuman 1 jam, dengan gerakan-gerakan yang juga sangat biasa. Tak ada nomor kuda-kuda pelana, kuda-kuda lompat, palang sejajar, palang tunggal, gelang-gelang, atau sekadar senam ritmik. Tapi tetap lumayanlah untuk memeras keringat. Daripada harus menggenjot becak?

Nah, ‘prosesi’ senam inilah yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Dimulai dari gerakan-gerakan pemanasan, gerakan inti dengan impact (hentakan) yang cukup tinggi, lalu… eng ing eng… senam body language dan senam kegel. Senam ini, katanya, bisa memperkuat otot-otot di sekitar panggul dan perut. Karena itu, ia membantu mewujudkan aktivitas seksual yang lebih tahan lama. Bukankah aktivitas seksual (dengan pasangan yang sudah dinikahi) adalah ibadah? Hehehe

Ketika di bagian senam body language inilah saya melihat fenomena yang aneh. Banyak peserta pria yang berhenti. Sebagian tetap menggerakkan tubuhnya sesuka hatinya, tidak patuh lagi pada gerakan yang dicontohkan instruktur. Ada juga yang membuang muka, pura-pura tidak melihat orang-orang di sekelilingnya. Wajah mereka menunjukkan raut malu meski tak sampai memerah. Sebagian lagi tertawa cekikikan. Rupanya senam kegel membuat benak mereka kegelian….

Ada yang salah?

“Saya berhenti dulu kalau di bagian yang ini. Malu,” kata kawan saya. Dia seusia dengan saya, anaknya dua.

Saya sendiri juga sedikit malu. Tapi sebenarnya, mengapa harus malu? Bukankah ini olahraga? Bukankah manfaatnya penting untuk ibadah? Beneran ibadah lo, bukan ibadah dengan tanda petik.

Rasa malu ini muncul karena ‘kepala’ kita tidaklah kosong. Ada ajaran agama, ada budaya, ada pengalaman masa lalu, ada nilai-nilai dan pengetahuan yang mengisinya. Di mayoritas masyarakat Indonesia, seks masih merupakan aktivitas yang sangat sangat privat. Ajaran agama, budaya, dan kebiasaan kita sejak kecil mengajarkan kita untuk tidak menunjukkan isyarat –sekecil apa pun—terkait dengan seks di area umum. Melakukan upaya-upaya yang bisa dianggap “memperbaiki” kinerja seks seperti senam body language, termasuk “memberi” isyarat itu tadi. Karena itu, saat bagian ini, banyak peserta yang celingak-celinguk menahan malu.

Senam di pelataran pasar swalayan seperti ini tentulah bukan agenda cuma-cuma. Meski gratis, bahkan ada door prize sederhana, namun sebenarnya ini bukanlah aktivitas tanpa maksud. Dengan menggelar senam yang diikuti lebih dari 250-an orang ini, Giant membuka peluang yang lebih besar untuk menjaring konsumen sepagi mungkin. Terbukti, tiap usai senam, tak semuanya langsung pulang. Banyak yang melanjutkan agenda senamnya dengan jogging. Jogging di antara rak-rak dagangan Giant. (Achmad Supardi)

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Ia menjadi salah satu cara pengungkapan perasaan sekaligus pemikiran dari sang penyair. Sebagian puisi lebih kental unsur perasaannya (kesedihan, syukur, dll), ada pula yang lebih kuat unsur pemikirannya (protes, kritik, dll). Namun secara umum, puisi adalah gabungan keduanya.

Karena puisi terdiri dari kalimat-kalimat dan kata-kata yang simbolik, maka “membaca” (memahami) puisi tak semudah membaca/memahami cerita pendek atau novel. Pembaca harus lebih dulu mencoba “memaknai” masing-masing kata atau kalimat simbolik tersebut, barulah ia bisa “membongkar” arti yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan catatan, hasil “pembongkaran” atau “pemaknaan” kita belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh penyair. Tapi ini wajar dan sah-sah saja. Ketika puisi/cerpen/novel/atau karya apa pun sudah dilempar ke publik, ia sudah “terlepas” dari si penulis. Ia menjadi “teks” atau “pesan” yang bisa dimaknai oleh siapa pun dengan makna nyaris apa pun.

Berikut contoh memaknai puisi:

Lelaki dan Bocah
: Untuk P. Suwan dan Oni

Lelaki dengan bocah di bahunya (ini bisa simbolik, bisa juga hanya ikon atau fragmen menarik untuk mengikat pembaca)

pematang itu ia tebas

lipat waktu dalam bening mata bocah itu (menggunakan kata “pematang” karena inspirasinya petani. Namun pematang juga bisa diartikan: jalan –> jalan hidup. Ia tebas = dilalui, dihadapi –> demi sang anak)

Lelaki dan bocah pada pantai parak senja (penanda waktu, juga menimbulkan kesah syahdu)

langkah mereka adalah mata istri teduh menyala (hidup suami dan anak adalah hidup istri)

dan kala lokan, keong dan pasir pantai menyapa matanya, (ibarat, menemukan hal-hal baru)

bocah itu tersenyum

ayahnya menuliskan kata baru dalam notesnya (setiap menemui hal baru, ayah “mengajarkan” artinya pada sang anak, sang anak menerima –dan bisa protes—atas yang diajarkan ayahnya tsb)

Lelaki dengan bocah yang dipanggulnya (fragmen saja)

bumi ia bagi dalam alinea yang dipahami anaknya (hidup diajarkan secara bertahap)

lalu embun dan matahari (pernik kehidupan, yang sukar dan yang mudah)

juga mawar dan badai (pernik kehidupan, yang baik dan yang buruk)

tercatat dalam mata bocah yang

dipanggulnya melintasi telaga dan samudera (aneka riak kehidupan selalu dicatat oleh sang anak yang terus dididik oleh sang ayah, melintasi tantangan hidup, baik tantangan yang kecil (telaga) maupun tantangan yang besar (samudera))

Lelaki dan bocah pada bayang ombak berdeburan (fragmen)

terpaku mereka pada layar dan dermaga yang ditinggalkan (selalu ada masa lalu yang pergi, orang-orang terkasih yang pergi)

bercakap mereka dalam bayang pulau di kejauhan (melihat masa depan, mereka-reka kehidupan masa mendatang)

mata mereka lekat pada lampu kapal, juga bulan

yang menyembul perlahan (lampu kapal, bulan –> selalu ada petunjuk dalam mengarungi hidup)

Lelaki dengan bocah di bahunya

satu demi satu ia bukakan halaman buku anaknya (ayah membuka / memberi tahu/ mengajarkan tahap-tahap kehidupan)

Lelaki dengan bocah dalam sketsa pantai senja

Dunia

itu alinea yang terus dituliskannya (dunia alias kehidupan adalah “buku” yang tak henti kita baca maupun kita tulisi, harus terus menerus dipahami)

Achmad Supardi, 25 Januari 2013

Di bawah ini adalah tulisan teman saya, Esthy Wikasanti. Dia adik saya di Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Airlangga. Memilih menjadi ibu rumah tangga secara sadar, bukan karena tak berkemampuan. Tulisan berikut adalah hasil perenungannya tentang bertambahnya usia, posisi wanita, rumah tangga, dan aspek lainnya yang ditulis secara apik dan menghibur. Awesome!

=========

Monolog Usia Kembar

by Esthy Wikasanti on Saturday, January 12, 2013 at 3:46am ·

Kepala tiga, nduk?

Bah, simbok ucapkan itu dan biarkan mereka tebak usia aku.

…age is just a number, don’t you stop having fun (Happy Birthday-NKOTB)…

Tapi buat wanita, satu tahun itu sangat berarti.

Opo yo kamu bakal muda selamanya? Waktu itu ora kenal kompromi, nduk. Ini tentang bagaimana kamu bersahabat dengannya, karena dia sudah paten.

Tapi kadang masih kurang.

Opo yo kalo dikasi lebih, kamu bakal lebih baik?

Ga tau juga sih…

Lhah, piye to. Kamu dewe ora yakin dengan keinginanmu.

Waktuku banyak untuk orang lain.

Itu kan pilihan uripmu, pahit manis mesti dijalani. Lagipula, dibutuhkan orang lain, itu kebutuhan utama lho.
Coba jal, lek kamu bisa reinkarnasi kayak di pilem-pilem itu, kamu mau jadi siapa?

Sapa ya mbok, ga tau juga.

Kamu ki pancen ora jelas, ora struktural, infrastrukturmu amburadul, gitu bilang waktu kurang. Yowes, anggep aja kamu pengen jadi BCL, yang wes di”reinkarnasi” jadi Ainun.

Sebentar mbok, itu panjenengan lho, bukan saya.

Kamu ini gimana to, dicarikan contoh yang bagus, ngeyel ae.

Kalo Ainun nya ok, kalo BCL nya mikir-mikir dulu, mbok.

Lha kok pikir jadi Ainun itu gampang, kan mesti meninggal dulu to, baru orang ngerti sehebat apa beliau. Kalo BCL, seterawanganku, kan ketok penak-penak wae. Lahir ceprot dari orang berada, karir naik turun yang stabil, dapet jodo keturunan Robin Hood, trus…

Sek to mbok, kok bisa keturunan Robin Hood??

Eling wayang, tari tor-tor, reog, batik, Sipadan Ligitan, dan sak akeh akehe conto?

Itu kan yang…. (mikir dulu dengan maksud sopan)

Ra sah mbulet, wes begini, Robin Hood nyuri untuk kepentingan orang kecil.

Lha terus hubungannya apa?

Yang dicuri kan punya orang kaya, sing sak arat arat. Sebentar, aku nanya dulu. Kamu bisa nari Pendet ato reogan ora?

Aku kan ga bisa nari.

Tapi Gangnam Style bisa kan?

Hehe, gampang dan populer sih, mbok.

Kan kamu bisa jadi penggagas klub tari, narik para seniman dalam satu wadah supaya budaya kita bisa lestari.

Ah, simbok lebay, aku ndak ngerti apa-apa soal seni.

Nah itu, nah itu, nah itu…

Apa mbok?

Tau saja enggak, melestarikan apalagi, kenapa mesti kebakaran jenggot kalo Robin Hood woro-woro untuk ngopeni dan mendayagunakan?

Alias nyolong?

Hush, ngomong yang bener, wes kakean piktor di negara ini. Aset yang harus dipertahankan itu ya positive thinking, ben ndang maju, masio pelan tapi pasti. Sayangnya, racunnya patah tumbuh hilang berganti. Antibiotik manapun sulit bikin pertahanan.

Halooo mbok, saya ini sedang mengulang tanggal dan bulan, menghitung hari yang ga pasti menuju sebuah entitas sebagai umat manusia yang (pengennya) berkualitas.

Lha iyo nduk, simbok juga mengarahkan ke situ. Kamu ini kan kuliah, harusnya paham dengan simbol dan analogi.

Tapi lho, aku kan masih repot dengan urusan rumah tangga *alasan, padahal wanita kan multi tasking*

Yowes, kupersingkat wae. Sejauh usia yang sudah kamu lakoni di panggung ini, apa pencapaianmu?

*hening*

Kuperjelas lagi. Apa kamu sadar bahwa kamu pernah salah, atau malah kamu merasa terus-terusan hebat tanpa cela?

Ya pernah salah mbok, menyesal, berharap ga akan terjadi lagi.

Lalu?

Berharap dan berusaha lebih baik.

Lanjutkan kalo gitu.

Ah, cukup dua kali mbok, waktunya yang laen, hehe…

Lha kamu ngajak bicara negara lagi. Pertanyaan selanjutnya, kamu punya keinginan yang belum terpenuhi?

Ya jelas mbok, banyak.

Apa saja?

Ah simbok, kan sudah kutempel 5cm di depanku, males ngulang. Simbok ikut liat bersamaku aja deh.

Kalo misalnya ga terpenuhi piye?

Pasti bisa mbok, wong aku sudah ndaptar sama Gusti Allah.

Syukur lek kamu sek percaya ada kekuatan sing maha.

Ya iyalah, mbok, tapi yang biasa aja. Ga usah eksplisit.

Maksud lo?

Ah simbok sok gaul lagi. Ya kalo terlalu kiri atau terlalu kanan, bisa jadi TO para ambisiwan dan ambisiwati.

Jangan-jangan kamu ini pluralis, ato malahan jamaah JIL?

Sembarang lah mbok, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bocah edan, agama kita itu sama, nduk.

Bener mbok, tapi dalam perjalanan kehidupan, aku nemui banyak warna baru. Bahwa biru itu ternyata ada yang biru laut, biru donker, tosca, benhur, sampe indigo.

Terus kamu memutuskan jadi pelangi, gitu?

Mbuh lah, mbok.

Sudah, nanti yang baca statusmu tambah puyeng, vertigo pisan. Dipersingkat saja, ben perjalananmu menuju inner peace ora sia-sia.

Mbok, kasi tanda donk kalo kita ini juga membicarakan petuah Master Shifu, tentang inner peace itu.

Halah, wong yo kita nonton bareng.

Hehehe…

Begini nduk, salah satu pintumu, sudah terbuka lebar.

Pintu apa? Yang mana?

Lha kuwi, anak bojomu, kendaraan sukses jiwamu.

Pintu gimana mbok, maksudnya?

Pintu rejeki, pintu karir, pintu darurat, dan lainnya. Anggap saja pintumu sekarang adalah salah satu pintu rejeki. Ojo protes, ditanggung hidup oleh suamimu dan dibutuhkan anak-anakmu itu rejeki yang belum tentu semua orang raih lho..

Inggih, mbok. Alhamdulillah..

Ibaratnya rumah, opo yo pintunya cuma satu?

Banyak, mbok.

Pintu lain pasti terbuka, nduk. Tinggal kamu mau masuk ke dalamnya atau tidak. Tapi ingat bahwa setiap pintu itu punya ruang. Akan lebih baiknya, jika kamu merawat dan memelihara apa yang ada dalam pintumu sekarang, sebelum kamu membuka pintu yang lain.

Jadi aku ga boleh kerja gitu?

Siapa bilang tidak? Tapi pertanyaanku, sebagai seorang ratu di rumah tanggamu, seberapa berhasil kamu membuat suami dan anakmu betah di rumah, seberapa berhasil kamu menatanya sehingga orang yang melihat berpersepsi baik?

Ah simbok, ikutan ngetrend, pencitraan. Lagipula tugas utama wanita kan hamil,melahirkan, menyusui. Selain itu, kan sama dengan lelaki.

Aku curiga, jangan-jangan kamu benar-benar terjebak dalam pluralis, liberalis, feminis, mbuh mana itu yang bener.
Lalu, soal pencitraanmu di depan Dzat yang kamu imani itu, sejauh mana? Opo kamu sanggup, kamu kerja sementara suamimu yang mandiin dan nyuapin anak balitamu?

*hening*
Kalo dia mau, kenapa enggak?

Lha emang bojomu mau??

Hehehe…
Ah mbok, ini kan karena terpatrilinealkan, jadinya ada keharusan seperti itu.

Ora usah turut campur sistem yang lagi kacau, tanya pada dirimu sendiri, bisa nggak?

*merenung*
Mungkin tidak, mbok.

Sanggup ga sanggup, kamu mesti bertanggungjawab akan apa yang sudah kamu keluarkan, apapun itu bentuknya, antara lain anak-anak yang selama sembilan bulan nongkrong di rahimmu.

Insyaallah, mbok..

Ojo mengulang ala Robin Hood tadi. Begitu diakui dan diambil yang lain, baru nyadar kalo punya.

Mbok, itu terlalu ekstrim.

Tidak, nduk. Terkadang mesti keras pada diri sendiri, supaya nyadar bahwa nikmat selalu ada, sekecil apapun bentuknya.

Iya ya, mbok.

Nangiso terus, ben hawa buruk mengalir pergi bersama air.
Alhamdulillah o terus, ben hidup lebih ringan.
Mikiro terus, ben otak terus bekerja, ora karaten.
Tapi jangan jadi pemimpin.

Lho??

Setidaknya jangan dulu, nunggu negara ini stabil.

Kebetulan aku terdidik di bangku sekolah untuk jadi pekerja mbok, bukan pemimpin.

Wes lah nduk, ojo kakean protes pada negara yang lagi keracunan ini. Eling analogi pintu. Saiki urusen ruangan dalam pintu yang sudah kamu pilih. Sambil pelan-pelan siapkan diri untuk masuk ke pintu yang laen.

Pasti mbuka, mbok?

Pasti, semua kan tergantung sejauh mana kerja kerasmu dan seperti apa sudut pandangmu.

Jadi??

Mau setua apapun, tinggal di negara semakmur atau sebobrok apapun, yang penting dan utama, seberapa banyak kamu belajar dari yang sudah-sudah dan seberapa keras kamu berusaha untuk yang belum-belum.

Matur nuwun, mbok. Tapi…

Sudah, ra sah kakean tapi, ndang melangkah dulu. Sana, ndang dibagi kuenya…

Siap mbok!! Kapan dilanjut??

Sek, sabar, semoga ada pelita indah di 2014.

Amin 🙂

Sumber: https://www.facebook.com/notes/esthy-wikasanti/monolog-usia-kembar/4684154774973, retrieved on 12 Januari 2013

Image

Barbie bisa dibilang produk fenomenal. Diperkenalkan pada tahun 1959, Barbie terus bertahan hingga 54 tahun berikutnya. Mungkin kata “bertahan” kurang tepat karena pada kenyataannya Barbie malah makin kuat. Bukan hanya sebagai produk (dalam arti toy atau mainan), namun juga sebagai simbol yang menginspirasi dan mempengaruhi hidup cukup banyak orang.

Apakah saya terlalu melebih-lebihkan Barbie?

Mungkin.

Tapi yang jelas, tidak banyak (atau mungkin tidak ada?) boneka yang memicu perdebatan hingga tingkat filosofis seperti Barbie. Sedangkal pengetahuan yang saya punya, baru Barbie-lah produk boneka yang memicu perdebatan tentang tubuh wanita dan representasinya. Termasuk, memicu perdebatan apakah Barbie mengusung supremasi kulit putih?

Dengan kontroversi seperti itu, mengapa Barbie bisa bertahan lebih dari setengah abad?

Justru inilah kuncinya. Kontroversi, sebagaimana kita tahu, adalah salah satu mesin yang menggerakkan popularitas. Sementara, popularitas adalah nyawa bagi kelanggengan sebuah produk. Bila sebuah produk tak lagi populer, ia akan segera kukut, gulung tikar, buyar. Dulu kita mengenal J-Pop. Lagu-lagu pop Jepang, ditopang juga oleh dandanan Harajuku yang dominan tabrak corak dan warna-warna ngejreng. Kini, popularitasnya sudah berakhir dan digantikan K-Pop. Lagu-lagu pop Korea booming, ikut mengangkat pula popularitas produk Korea Selatan lainnya seperti sinetron, gaya busana, bahkan makanan.

Karena popularitas sangat penting bagi kelangsungan suatu produk, ia harus terus dijaga. Salah satu cara meraih (juga mempertahankan) popularitas adalah dengan memanfaatkan adanya kontroversi. Maklum, kontroversi berfungsi sebagai magnet yang menyedot perhatian khalayak. Masih ingat berita bahwa Dewi Persik melakukan operasi keperawanan? Buat apa Depe operasi memasang kembali selaput dara sementara seluruh warga Indonesia sudah tahu bahwa dia adalah janda Saipul Jamil? Belakangan Depe mengakui bahwa berita itu memang sengaja dihembuskan untuk mendongkrak film yang dibintanginya waktu itu, Pacar Hantu Perawan. Atau, mungkin Anda masih ingat tersebar luasnya adegan mandi Rahma Azhari di internet? Ternyata, klip itu pun hanya upaya produser film K.K. Dheeraj untuk mendongkrak popularitas film buatannya, Rayuan Arwah Penasaran yang dibintangi Rahma dan Leah Yuzuki, bintang porno asal negara sakura (baca: http://celebrity.okezone.com/read/2012/06/12/206/646129/kk-dheeraj-dari-bintang-porno-sampai-mr-bean-palsu).

Kembali ke boneka Barbie. Boneka yang diberi pasangan –sesama boneka— bernama Ken ini memang memicu kontroversi, namun tidak sedangkal kontroversi seputar film-film buatan K.K. Dheeraj. Kontroversi tentang Barbie lebih bersifat filosofis, bagaimana manusia memandang tubuh wanita? Apakah kecantikan memang dominasi suatu warna kulit (bahkan ras) tertentu?

Kontroversi itu membuat Barbie menerima makin banyak perhatian. Dan bagusnya, Mattel Inc. sebagai produsen boneka tersebut menyikapinya dengan cerdas. Ketika Barbie dituding sebagai representasi superioritas kulit putih, misalnya, Mattel Inc. menjawabnya dengan memproduksi Barbie edisi kulit hitam. Ini jelas keputusan cerdas. Secara politik membantu Mattel Inc. menghindari tudingan miring, dan di saat yang sama membuat perusahaan tersebut melakukan diversifikasi produk. Keberadaan Barbie edisi kulit hitam membuat varian Barbie makin luas dan kesempatannya makin terbuka untuk menangguk pasar yang lebih lebar.

Tentu menjawab tudingan (bisa dibaca: tantangan) tidaklah mudah. Perlu kejelian dan mau belajar dari kesalahan. Mattel Inc. membuat boneka kulit hitam sejak 1967 (“Colored Francie) dan beberapa tahun kemudian membuat tokoh Christie, teman Barbie, yang juga berkulit hitam. Namun, baru pada 1980-lah Mattel Inc. membuat Barbie kulit hitam (bukan teman atau kerabat) Barbie. Apakah persoalan selesai dan Mattel Inc. mendapat banyak sanjungan?

Tidak.

Para kritikus menyebut boneka kulit hitam ini hanya kulitnya saja yang hitam, namun proporsi tubuhnya masih lebih menyerupai tubuh wanita kulit putih (ras Kaukasia). Belajar dari kesalahan ini, Mattel Inc. pun pada 2009 meluncurkan Barbie kulit hitam yang “lebih dekat” dengan kondisi wanita kulit hitam pada umumnya: hidung lebih lebar, bibir lebih tebal, rambut ikal atau keriting, dengan gradasi kehitaman kulit yang berbeda-beda (karena yang dimaksud “kulit hitam” pun beragam, dari yang sangat hitam hingga agak hitam). Suplemen fesyen Majalah Vogue Italia pun memasang Barbie edisi kulit hitam ini sebagai sampulnya, menggantikan model manusia seperti edisi-edisi sebelumnya (baca http://www2.macleans.ca/2009/08/13/there%E2%80%99s-a-new-black-barbie-in-town/).

Ini adalah konsekuensi dari pergeseran cara memandang Boneka Barbie. Boneka ini awalnya adalah produk yang murni goods (barang, bisa dipakai) namun bergeser menjadi mirip symbolic goods (produk yang dibeli bukan karena bisa dimakan atau dipakai, tapi karena memberi nilai, menambah ilmu, dll).

Namun, bila Barbie memang sudah bergeser dari goods menjadi agak-agak symbolic goods, mengapa Mattel Inc. tidak membuat varian-varian lainnya seperti Barbie edisi Asia atau Barbie edisi Muslim? Nah, di sinilah pentingnya kita mengetahui batas. Kapan harus ekspansi, kapan harus menahan diri. Bila Mattel Inc. membuat begitu banyak varian Barbie, apalagi varian-varian yang rentan mengundang interpretasi beragam seperti “edisi Muslim”, bisa jadi saat itu kontroversi tak lagi menjadi pendorong popularitas, namun menjadi api yang menghanguskan keseluruhan bangunan reputasi. Bagaimana pun, cara Islam memuliakan dan melindungi wanita masih sering ditafsirkan secara salah oleh banyak pihak. Tata cara berpakaian bagi wanita menurut Islam (menurutp seluruh tubuh kucuali muka dan mengenakan pakaian yang tak memperlihatkan lekuk liku tubuh) dianggap mereka sebagai bentuk tekanan kepada wanita (baca: http://latimesblogs.latimes.com/babylonbeyond/2009/12/arab-world-burka-barbie-iconic-doll-gets-an-islamic-makeover-for-50th-anniversary.html). Membuat boneka dengan fitur seperti ini bisa jadi memantik api yang terlalu besar bagi Mattel Inc., dan karena itu pilihan tersebut tak diambil. Mattel Inc. lebih berkonsentrasi memperluas representasi Barbie ke arah yang tak terlalu kontroversial, seperti ke arah profesi. Barbie tak lagi hanya direpresentasikan sebagai remaja perempuan gaul, namun juga diciptakanlah Barbie dalam representasi profesi: dari dokter hingga astronot.

Di luar cara Mattel Inc. menjawab kontroversi, sebenarnya prestasi terbesar mereka adalah ketika mereka terpikir untuk membuat boneka tentang sosok wanita. Inilah prestasi terbesar. Sebab, boneka sosok wanita adalah produk yang memiliki segudang varian dan produk ikutan. Karena Barbie adalah boneka wanita, maka Mattel Inc. bisa menciptakan produk ikutan seperti tempat tidur, aneka macam sepatu, aneka rupa bentuk pakaian, asesoris, meja rias, dll (Achmad Supardi).

Picture taken on 3 January 2013 from www2.macleans.ca

ImageImageImageImage

“Yah, belikan Barbie, yah…,” anak saya merengek sore itu. Dia sudah punya boneka Barbie, tapi karena model boneka produksi Mattel ini ratusan, anak saya selalu punya alasan untuk meminta tambahan koleksi.

“Kan yang model seperti itu saya belum punya, yah…,” katanya di kesempatan yang lain, saat kami jalan-jalan ke mall. Telunjuknya menunjuk ke sederet boneka Barbie yang terpajang di rak sebuah konter mainan.

Anak saya, saat ini di bangku TK B, hanyalah satu dari jutaan anak-anak, remaja, dan wanita dewasa lain di dunia yang menyukai Barbie. Tanpa perlu memasang logo “Top Brand”, Barbie pada dasarnya memang sudah merupakan top brand, merk top yang dikenal oleh pasar secara luas, baik di Indonesia maupun bagian lain dunia.

Sedemikian terkenal boneka Barbie ini hingga wanita yang proporsi tubuhnya “ideal” dan dandangannya agak heboh –katakanlah seperti Pamela Anderson– sering dipanggil “gadis Barbie”. Keterkenalan boneka Barbie juga menginspirasi band Aqua menciptakan dan menyanyikan lagu “Barbie Girl”. Liriknya cukup menggelitik untuk disimak. Salah satu baitnya berbunyi:

I’m a barbie girl, in the barbie world

Life in plastic, it’s fantastic!

you can brush my hair, undress me everywhere

Imagination, life is your creation

Come on Barbie, let’s go party!

Sepintas, lirik “Barbie Girl” seolah hanya bicara tentang boneka secara harfiah. Bahwa boneka itu hidup dalam plastik (terbuat dari dan dibungkus oleh plastik). Bahwa boneka bisa kita sisir rambutnya. Bahwa boneka, sebagai mainan, bisa kita gonta-ganti pakaiannya kapan saja dan di mana saja. Namanya juga boneka, tidak ada rasa malu, kan? Hehehehe.

Namun bila kita perhatikan lebih teliti, lirik “Barbie Girl” juga memberikan alternatif pilihan bagaimana seharusnya cewek gaul menikmati hidup. Cewek gaul itu gak jauh-jauh dari party, namun pasti agak jauh dari kungkungan nilai. Perhatikan bait berikut:

Make me walk, make me talk, do whatever you please

I can act like a star, I can beg on my knees

Come jump in, bimbo friend, let us do it again,

hit the town, fool around, let’s go party

You can touch, you can play, if you say: “I’m always yours”

You can touch, you can play, if you say: “I’m always yours”

Well, tentu kita bisa berbeda pendapat. Anda dapat saja menukas, “Itu kan cuma lirik lagu, gak usah ditafsirkan macam-macam.”

Tapi, saya yakin Anda juga tahu, sejarah Barbie sendiri tidak lepas dari “interpretasi-interpretasi politik”. Terutama, dalam kaitan konstruksi sosial tentang tubuh wanita. Boneka Barbie, misalnya, dituduh menciptakan “mimpi” tentang tubuh ideal wanita yang hampir pasti takkan bisa dicapai oleh kebanyakan wanita di dunia. Boneka Barbie dituding berkontribusi terhadap meningkatnya ketidakpuasan wanita terhadap kondisi dirinya.

Charlotte Hothman adalah contoh “korban” nyata Barbie. Kolektor Barbie asal Manchester, Inggris ini melakukan operasi plastik di hidung dan bibirnya hanya supaya penampilannya sepersis boneka kesayangannya itu. Dia juga meng-highligt rambutnya menjadi pirang agar sama dengan Barbie (baca http://showbiz.liputan6.com/read/381802/wanita-ini-rela-operasi-plastik-demi-barbie).

Ketika bentuk tubuh Barbie menjadi rujukan, tubuh gemuk menjadi cemoohan. Produk-produk pelangsing menjadi buruan.

Dalam konteks ini, Boneka Barbie yang merupakan produk kapitalis, berkoalisi dengan kekuatan kapitalis lainnya dalam menciptakan mimpi tentang “sosok wanita ideal”. Bila Barbie menyodorkan “gambaran ideal” tentang bentuk tubuh wanita, produsen lain menawarkan “gambaran ideal” tentang warna kulit wanita.

Dalam konteks Indonesia, cantik itu setara dengan putih. Karena itu, bila tidak putih berarti belum cantik. Akibat ikutannya, produk yang bisa memutihkan menjamur di pasaran, mulai dari sabun, lotion, krim malam, dan lainnya. Tentu Anda sudah sangat familiar dengan produk-produk berikut ini: Pond’s white beauty, Citra pearl white, Olay white radiance, Marina UV white, Vaseline healthy white, Viva white all in one, hingga Hazeline snow (belum ada salju yang tidak putih, kan?) Kepala kita dicekoki dengan iklan-iklan produk “pemutih” wajah dan tubuh. Kepala kita dibombardir dengan pemahaman bahwa kulit putih “lebih berharga” dibanding kulit kuning, coklat, atau hitam. Seolah berkoalisi, industri hiburan pun ikut menegaskan supremasi kulit putih dibanding warna kulit lainnya. Pemain sinetron, penyanyi, model, dan peragawati, mayoritas berkulit putih. Akibatnya, kita pun seolah teryakinkan bahwa orang yang berkulit putih lebih mudah mendapat pekerjaan dengan bayaran mahal. Akhirnya, kita pun lambat laun menyepakati bahwa cantik memang sama dengan putih. Mayoritas anggota masyarakat pun bersepakat bahwa wanita yang kulitnya tidak putih belumlah bisa dikatakan cantik. Diskriminatif dan melecehkan, bukan?

Mengapa cantik harus sama dengan putih?

Karena produk-produk itu dipasarkan di Indonesia yang mayoritas wanitanya berkulit tidak putih. Dengan menciptakan “mimpi” tentang putih sebagai warna kulit ideal, maka produsen-produsen sabun dan beragam lotion itu bisa menjual produknya. Kalau mayoritas wanita Indonesia berkulit putih, mereka tak lagi butuh produk-produk pemulih wajah dan tubuh, kan? Ujung-ujungnya, konstruksi sosial tentang “Cantik = Putih” ini memang sengaja diciptakan agar produk produsen laku dan mendatangkan laba sebanyak-banyaknya (Achmad Supardi).

Bersambung

Pictures taken on 3 January 2013 from http://www.sumbatoys.com/2012/04/panduan-bergaya-ala-boneka-barbie.html

Dalam hidup, tentu kita kenal dengan banyak orang. Sekuper-kupernya kita, segalak-galaknya kita, atau setengil dan sebrengsek apa pun kita, pasti ada sejumlah orang yang berhubungan dengan kita. Bisa jadi di antara mereka adalah guru yang tak kuasa menolak ketika kita didaftarkan orangtua ke sekolah tempat dia mengajar. Meski kita nakal dan meresahkan, toh sang guru terpaksa menerima kita.

Sebagian orang itu bisa jadi mertua yang tak kuasa berkata tidak ketika anaknya bersikeras mau menikah dengan kita. Mungkin juga tetangga yang getun (menyesal) setengah mati mengapa tetangga yang lama, yang begitu baik dan perhatian, menjual rumahnya kepada kita. Sebagian orang itu mungkin juga rekan kerja yang selalu bertanya, “Kok bisa-bisanya nih orang tersesat ke sini?”

Saya, tentu saja juga punya banyak kenalan. Banyak orang yang mampir maupun ‘menetap’ dalam kehidupan saya. Ada beberapa yang menempati posisi khusus karena beragam sebab. Kali ini saya akan bercerita tentang kawan yang menjadi khusus, salah satunya, karena pola komunikasinya. Sepertinya, saya dan dia memiliki pola komunikasi yang berbeda. Mungkin perbedaannya diametral.

Dunia memang tidak dikotomis. Tapi demi kemudahan, saya akan memotret diri saya dan kawan saya itu secara dikotomis. Saya adalah orang yang “ngeblong”, teman saya itu “ngerem” banget. Orang yang tergolong ngeblong bukan berarti mereka bicara tanpa henti. Namun, tak terlalu banyak rambu yang mereka perhatikan ketika berkomunikasi. Apakah mereka cenderung tidak beretika, atau bahkan melanggar hukum?

Kalau kata mahasiswa saya, “Bukan begitu juga kaleeee….”

Rambu yang dimaksud di sini adalah identitas diri. Sebagian orang enjoy saja mengkomunikasikan hal-hal yang berkait dengan dirinya: keluarganya, harapannya, standarnya, masa lalunya, termasuk kejadian seru dan sarunya. Bagi mereka, sisi-sisi kehidupannya adalah pelajaran bagi mereka sekaligus bagi orang lain. Menjadi terbuka, bagi orang-orang ini, adalah sebentuk sikap berbagi. Learn something positive and avoid the negative ones. Saya, sepertinya, cenderung ke tipe ini.

Kawan saya yang saya ceritakan kali ini, cenderung “ngerem”. Pola komunikasinya, sepertinya, tampak sangat hati-hati. Dia sering ngerem, membuat laju komunikasinya sedikit tersendat. Tak banyak cerita tentang diri yang akan mengalir dari orang seperti ini. Mereka cenderung menganggap cerita tentang diri sendiri tak layak dibagikan ke orang lain. Kalau cerita itu bagus dan membanggakan, mereka khawatir menceritakannya dianggap sombong atau pamer. Kalau hal itu buruk atau bahkan memalukan, menceritakannya dianggap sebagai memajang aib sendiri.

Saya, kalau saya perhatikan, lebih mirip salak. Begitu kulitnya dibuka, langsung kelihatan daging buahnya. Salak, seperti Anda tahu, hanya punya satu lapisan daging buah. Memang ada selaputnya, tapi tipis dan transparan. Kita tetap bisa melihat daging salak bahkan ketika selaputnya belum kita buang sekali pun. Seperti salak, saya orang yang tak terlalu banyak berahasia tentang diri sendiri. Bila orang bertanya tentang diri saya, saya cenderung menceritakannya. Mungkin tidak seratus persen, namun persentasenya tentu lebih banyak daripada mereka yang saya kategorikan seperti bawang merah.

Anda tahu bawang merah, kan? Coba dibelah, maka Anda akan mendapati banyak sekali lapisan. Setelah kulitnya kita buka, kita akan mendapatkan daging bawang. Namun, daging bawang merah tidaklah satu lapis. Di dalam lapisan terluar, masih ada lapisan lain, dan di dalamnya masih ada lapisan lainnya lagi dan lagi. Kawan saya ini, sepertinya, terkategori bawang merah. Untuk mengenal dia dengan “utuh”, kita harus masuk selapis demi selapis. Dan, tentu saja, kemampuan kita untuk masuk dari satu lapisan ke lapisan berikutnya sangat tergantung dari kesediaan dia untuk membuka diri. Anda sendiri punya teman baik dari golongan salak maupun bawang merah, bukan?

 

Masih punya energi untuk melanjutkan? Kalau iya, yuk dilanjut….

Si Detil dan Si Sekadar

Yang juga menarik adalah mengamati pola komunikasi tertulis seseorang. Komunikasi tertulis menarik diperhatikan karena dia berbeda dari komunikasi oral/lisan. Dalam komunikasi lisan, penanda emosi lebih banyak disertakan dan lebih mudah diidentifikasi. Misalnya, intonasi dan kecepatan dalam berbicara.

Ketika kawan kita menelepon dan suaranya gugup, kita bisa langsung mengklarifikasi, “Kamu takut?”

Kalau dia hening atau jeda dalam waktu agak lama, kita bisa bertanya, “Ada apa? Kamu tidak suka membicarakan tema ini, ya?”

Sebaliknya, dalam komunikasi tertulis, penanda emosi ini lebih sukar dilekatkan. Akibatnya, lawan komunikasi kita (pihak yang membaca tulisan kita) lebih sukar dalam menebak dalam suasana emosi seperti apa kita saat melakukan komunikasi tertulis tersebut. Karena itu, kita cukup sering melihat status Facebook yang memancing salah paham. Dua kawan bisa berselisih, atau bahkan marahan, karena si penulis status dan kawannya yang membaca status itu memiliki pemahaman yang berbeda atas status tersebut.

Karena itu, manusia yang merupakan makhluk paling cerdas ini, terus berinovasi. Termasuk, menciptakan emotikon-emotikon. Kita kemudian mengenal emotikon tersenyum, tertawa lebar, melet (menjulurkan lidah), muram/sedih, memangis, marah, dan lainnya. Tapi, emotikon tetaplah tak bisa menggantikan emosi yang sesungguhnya.

Mengapa?

Karena emotikon sangat kategoris, sementara emosi kita sangat subtle. Emotikon, misalnya, hanya menyediakan emosi “menangis”, namun tidak sampai “menangis gembira”, “menangis sedih”, “menangis patah hati”, “menangis pura-pura” dan sebagainya. Analoginya, emotikon itu adalah warna-warna dasar dan warna populer: biru, kuning, merah, hijau daun, hitam, putih, dan coklat. Sementara, emosi itu adalah koleksi warna yang tak terbatas, yang gradasinya sangat halus. Andaikan emosi kita ibaratkan sebagai warna, maka koleksi warna emosi termasuk “merah muda agak pucat tapi tak sampai terlalu putih” atau “hijau daun yang tak terlalu pekat namun juga nggak seterang hijaunya daun pisang yang masih muda” atau “jingga, tepatnya jingga mirip jingganya kunyit, tapi dengan gradasi air seperti permukaan wortel impor”. Sangat variatif.

Hilangnya (atau sangat kurangnya) penanda emosi ini menjadikan komunikasi tertulis memerlukan perlakuan khusus. Kita kadang bisa tersinggung gara-gara reply teman kita yang sangat pendek. Kita kadang mengumpat dalam hati, “Busyet dah, pertanyaan gua sepanjang itu dia jawab sependek gini? Nggak care banget.”

Gimana? Sudah bosan? Kalau belum bosan, yuk dilanjut….

Nah, di sini saya melihat ada dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah mereka yang dalam komunikasi tertulisnya cenderung detil, kelompok kedua komunikasi tertulisnya cenderung sekadarnya.

Kelompok pertama (detil) biasanya ditandai dengan kalimat yang rinci. Kalau dia bertanya, dia merinci pertanyaannya. Kadang, dia membubuhkan angka (misalnya, pertanyaan pertama, pertanyaan kedua, dan seterusnya) untuk memudahkan pihak lain untuk menjawabnya. Demikian pula kalau dia menjawab.

Kelompok kedua (sekadarnya) biasanya ditandai dengan kalimat yang singkat, kadang tidak jelas. Mereka hanya menjawab sekadarnya saja, pada poin yang mereka anggap penting untuk dijawab. Kalau bertanya, pertanyaannya juga sekadarnya dan “percaya penuh” bahwa pihak yang ditanya mengerti apa yang ia maksudkan.

Bila orang dari dua kelompok yang berbeda ini berkomunikasi secara tertulis, biasanya akan memakan durasi yang cukup lama. Karena, “si detil” akan bertanya apa yang dimaksud oleh “si sekadar”, dan sekalinya “si sekadar” menjawab, belum tentu juga jawabannya memuaskan hingga “si detil” perlu bertanya ulang. Kalau mereka berkomunikasi secara lisan, “si detil” bisa melakukan klarifikasi secara langsung hingga delay-nya tidak terlalu lama.

Berbicara tentang delay dalam komunikasi, kelompok sekadar cenderung menciptakan delay yang lebih lama. Ini karena mereka biasanya lebih peduli pada “konten” pesan dan terlupa memperhatikan proses.

Maksudnya, kelompok “sekadar” cenderung merespon komunikasi dari pihak lain (misalnya komen di status Facebook, pertanyaan di e-mail, dll) berdasarkan penting atau tidak pentingnya isi pesan. Kalau ia anggap isi e-mail itu penting, akan ia jawab cukup segera. Kalau komen di status Facebook-nya ia anggap cukup penting untuk dikomentari, ia akan komentar. Kalau tidak, e-mail maupun komen itu akan dibiarkan hingga “kering”.

Sebaliknya, kelompok “detil” biasanya memiliki kepekaan yang lebih tinggi. Mereka tidak sekadar melihat pada konten, tapi menyadari bahwa e-mail, komen di Facebook dan lain-lain adalah sebentuk proses komunikasi yang menyiratkan adanya harapan dari pihak kedua untuk ditanggapi. Karena itu, kelompok “detil” biasanya akan merespon, meskipun hanya dengan nge-like, menuliskan kata “setuju” atau sekadar “kwkwkwkwkw”. Bagi mereka, yang terpenting adalah memberi sinyal bahwa keinginan orang lain untuk berkomunikasi sudah mereka tanggapi. Kalau konten pesannya bagus, itu adalah bonus yang membuat “si detil” membalas dengan lebih bergairah lagi.

Dengan apa yang saya ceritakan di atas, mungkin anda akan menebak bahwa saya tergolong ekstrovert. Well, mungkin. Tapi, saya bukan dari sononya ekstrovert. Saya cendrung ekstrovert, atau “tampak seperti ekstrovert”, karena secara sadar saya mengupayakannya.

Hingga kini pun, sebenarnya, saya tidak segera bisa berkenalan dengan orang lain. Kalau saya menjadi penduduk baru suatu kawasan, misalnya karena pindah rumah, saya biasanya sulit untuk memulai perkenalan. Bukan karena sombong, namun karena tidak memiliki kemampuan untuk membuka topik pembicaraan.

Cukup sering juga saya “terjebak” di sebuah angkot di mana sopir dan para penumpangnya lebur dalam sebuah obrolan (biasanya sih seputar urusan tempat tidur). Dalam kondisi demikian, saya cukup sering hanya berbagi senyum. Saya lebih suka jadi pendengar dan pengamat daripada pemain aktif.

Namun, seiring pertambahan usia, saya menyadari perlunya untuk bersikap lebih terbuka. Sebagian menyebutnya “lebih hangat”. Pekerjaan sebagai wartawan membuat sikap ekstrovert menjadi semacam keharusan. Ya… masak iya nara sumber yang harus supel dan membuka percakapan dengan saya? Apa kata dunia? Sekarang, dalam posisi sebagai dosen, sikap yang supel dan terbuka juga menjadi modal yang berguna. Mahasiswa tidak ingin kita sapa hanya di kelas saja, kan?

Karena itu, saya tadinya bukan ekstrovert, lantas secara sadar berupaya ke arah sana, dan sepertinya berhasil.

Teman saya ini, sepertinya cenderung introvert. Ada sisi “rame”-nya, kadang sedikit centil, namun most of the time, dia lebih suka mendengarkan, mengamati, dan meresapi daripada melebur secara suka rela.

Tentu yang satu tidak lebih baik dari yang lain. Masing-masing membuat dunia yang kita tinggali menjadi kaya warna, colorful. (Achmad Supardi)

Image

Seorang kawan memasang foto –tepatnya kartun– yang lucu di wall Facebook-nya. Foto itu menunjukkan gambar kaca belakang sebuah mobil yang dipenuhi dengan stiker. Ada stiker sejumlah tempat wisata, sekolah dan universitas yang pernah ditempati, mall yang pernah didatangi, produk yang dimiliki, dan bahkan stiker kepolisian dan TNI. Well, tentu Anda juga sering melihat mobil yang kaca belakangnya penuh stiker seperti itu, bukan? Yang lebih menggelitik, teman saya itu dengan nada bercanda menulis di wall-nya: Kenapa mobilnya harus Toyota Avanza, sih?
Ya, teman saya itu merasa tersindir. Dia adalah pemilik mobil Toyota Avanza. Dalam benaknya, apakah pemilik Toyota Avanza (termasuk dirinya) senarsis itu? Apakah pemilik Toyota Avanza adalah kelompok masyarakat yang begitu desperate dalam mencari pengakuan atas status sosial hingga harus memajang semua bukti “prestasi”-nya di kaca belakang mobil mereka?
Saya bukan pembuat kartun tersebut, juga bukan kawan dekatnya. Jadi, saya tidak tahu apakah si pembuat kartun hanya kebetulan memilih mobil Toyota Avanza sebagai model (karena mudah digambar, mungkin?), ataukah karena dia adalah salah satu pemilik Avanza (menyindiri diri sendiri?), ataukah karena memang mobil yang kaca belakangnya “paling penuh stiker” adalah si “kembaran”-nya Xenia itu.
Namun bagaimana pun, tetap menarik membincangkan tema ini karena ia adalah cermin masyarakat.
Di Indonesia, mobil masih merupakan lambang status. Maklum, dari 240-an juta warga negeri kepulauan ini, masih kecil sekali persentase mereka yang memiliki mobil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hingga 2010 terdapat total 15.828.939 unit mobil yang dimiliki warga Indonesia. Angka ini sudah termasuk bus, truk, dan semua jenis kendaraan niaga. Perlu diingat, mereka yang bisa membeli mobil, biasanya tak puas hanya beli satu unit. Sebuah keluarga bisa memiliki lebih dari 3 mobil. Jadi, bisa dibayangkan betapa sedikitnya jumlah warga negara Indonesia yang memiliki mobil. Karena kebanyakan warga tak bisa membeli mobil, maka mereka yang memiliki kendaraan roda empat ini pun status sosialnya terangkat.
Seperti diakui produsennya sendiri (baca http://www.astra-toyota.com/2012/04/mobil-mobil-terlaris-di-indonesia-2012.html), Avanza adalah varian dengan tingkat penjualan tertinggi. Bukan hanya tahun 2012 ini, namun sejak pertama kali ia diluncurkan. Selain banyak faktor lain yang turut menentukan, Avanza menjadi mobil terlaris tentu tak lepas dari harganya yang relatif terjangkau. Artinya, sori-sori kata, mereka yang uang lebihnya tak terlalu banyak, akan cenderung memilih beli Avanza. Yah, daripada harus numpuk sepeda motor atau nabung lagi untuk dapat sedan?
Artinya, mereka yang membeli Avanza sebagai mobil pertamanya, bisa jadi adalah kelompok yang baru saja “naik kelas”. Mereka baru saja diwisuda, dari warga “biasa” menjadi anggota “orang kaya”. Hanya saja, mereka ada di level (maaf) “terendah” dari kelompok barunya ini. Mereka yang baru saja masuk ke lingkar sosial yang lebih tinggi, biasanya memiliki kekhawatiran bahwa orang lain tak mengakuinya di kelasnya yang baru. Mereka selalu “galau” bahwa dirinya akan tetap dipandang sebagai bagian dari kelas sosial yang lebih rendah dari mana mereka merasal. Ini bukan asumsi saya, tapi kesimpulan sebuah studi akademis yang diakukan antropolog Inggris,  Kate Fox (silakan kenali dirinya lebih dekat melalui http://www.sirc.org/about/kate_fox.html). Selama 10 tahun Fox meneliti masyarakatnya sendiri, orang Inggris, untuk melihat bagaimana bangsa ini berperilaku. Salah satu kesimpuannya, orang yang baru masuk ke suatu kelas tertentu biasanya akan merasa “insecure”. Karena itu, mereka cenderung melakukan upaya-upaya tambahan untuk memperkuat pengakuan atas status sosialnya yang baru tersebut. Dalam kalimat yang lebih gamblang, mereka adalah orang kaya baru yang “belum sepenuhnya aman” dalam menyandang predikat tersebut. Karena itu, mereka perlu menunjukkan “bukti-bukti lain” yang bisa memperkuat posisi mereka sebagai “orang kaya”. Dalam konteks bahasan kita, memamerkan tempat wisata yang pernah mereka kunjungi, perguruan tinggi atau sekolah hebat yang pernah mereka masuki, atau produk bergengsi yang mereka beli di kaca belakang mobil adalah salah satu upaya untuk memperkuat posisi sebagai “orang kaya” tersebut.
Kenapa mereka yang memiliki Ferrari atau Porcshe, atau katakanlah sesama Toyota tapi Vellfire, tidak banyak memajang stiker di kaca belakang mobilnya? Jawabannya gamblang sekali: pemilik mobil-mobil itu sudah jelas kaya. Mereka, merujuk kepada Fox lagi, adalah orang-orang yang sudah sedemikian aman di dalam tingkat sosial mereka.
Lantas, apa beda orang kaya yang “secure” di dalam tingkat sosialnya dan orang kaya baru yang masih “insecure”?
Bila pemilik Avanza makan di warteg, dia akan dibilang “ngirit”. Kalau pemilik Vellfire yang makan di warteg, mereka akan disebut “rindu masakan tradisional yang lama tak dijamahnya”.
Kalau pemilik Avanza pakai sandal jepit butut, dia akan digunjing: “paling cicilan mobilnya juga belum lunas”. Kalau pemilik Ferrari yang pakai sandal jepit butut, dia akan disebut “nyentrik”.
Kalau bagian dalam Avanza penuh barang dan pakaian hingga terlihat tidak rapi, pemiliknya akan dituding “jorok”. Bila Porsche yang bagian dalamnya tidak rapi, pemiliknya akandimaklumi sebagai orang “sibuk”.
Kita, manusia, memang makhluk yang selalu sibuk berasumsi dan menilai. Di Inggris, seperti dikatakan Fox, tindik (piercing) adalah juga lambang status sosial. Mereka yang bertindik di lidah, sudah pasti berasal (atau setidaknya dicap) dari lower class, atau lebih parah lagi: working class. Tapi, bukanlah Princess Zara (cucu Ratu Elizabeth II dari Putri Anne) dan Mel B, mantan personel Spice Girls juga memiliki tindik di lidah? Apakah keduanya termasuk working class? Tentu tidak. Keduanya hanya disebut, well, nyentrik. Dunia memang tak adil, bukan? 🙂
Ya, mobil memang sarana bagi sebagian manusia untuk menyiarkan status sosialnya.  Mobil, bagi manusia lainnya, adalah sarana untuk menancapkan stigma, asumsi, dan labelisasi. Tapi, tentu Anda tak perlu mencopoti stiker-stiker yang telanjur tertempel di belakang Avanza –atau merek mobil apapun– milik Anda setelah membaca artikel ini. Biarkan orang lain sibuk berasumsi, yang penting Anda menempelkan stiker di mobil Anda sendiri. Kalau nempel stiker di mobil orang lain, itu lancang namanya, hahaha. (*)