Archive

Inspirations

Note ini dari teman saya, seornag ibu rumah tangga luar biasa, Esthy Wikasanti

Beberapa waktu lalu, saya sekeluarga, pergi ke KBS. Kalo bisa sih, wisata dengan anak diusahakan seminim mungkin ke mall, tapi sayangnya pilihan untuk selain mall memang tak banyak. KBS pun kayaknya juga mau gulung tikar, binatangnya kurus dan tak terawat. Ada buaya ompong, beruang yang gelisah, harimau yang kelaparan. Bahkan waktu anak saya pengen naik gajah dan cari singa, kami tak berhasil menemukannya. Sementara itu, pengunjung dengan seenaknya memberi makan para hewan dengan alasan kasihan. Si monyet dapat es krim, gerry wafer, dan sejenisnya. Tampak lahap sih, tapi entah apa efek sampingnya. Malesnya lagi, di pintu masuk dan keluar, kami sudah dihadang dengan pedagang mainan dan makanan yang seringkali setengah memaksa, apalagi jika lihat anak-anak sebagai mangsa empuk yang bisa bikin orang tuanya tak tega. Si penjual balon kartun mendekat dan menawarkan, Uma sudah mengangkat tangan akan meraihnya, refleks saya bilang, “Nanti aja pulangnya,” Uma menurut dan tak jadi mengambil balon. Saya segera berlari masuk menghindari penjual lain. Waaa, ganasnya PKL Surabaya.

Karena siang itu agak mendung, jalan-jalan di KBS terasa cukup nyaman, out of the animal scent of course. Menjelang ashar, kamipun pulang. Lagi-lagi harus berlari karena kembali dihadang oleh para pedagang tanpa ampun. Si penjual balon rupanya mengingat apa kata saya, berhubung saat itu cukup sepi pengunjung. “Lho katanya pulang beli, lha kok mangkir gitu…” celotehnya dengan kecewa. Saya tersenyum kecut, menyadari betapa bujukan dan rayuan pada anak menunjukkan seberapa konsisten perkataan kita.

Seharusnya sih, saya membiasakan ngomong apa adanya, karena toh lambat laun mereka mengerti sebab akibat dengan baik tanpa perlu bujukan dan rayuan yang tak jelas.

“Kita naik motor, Uma. Kalo bawa balon sampe rumah, nanti terbang dibawa angin,” saya buru-buru menerangkan padanya, meski Uma masih merajuk. Bisa dibayangin kan bagaimana jika kami menuruti kemauannya untuk membeli balon dan membawanya melawan angin di jalan. Toh, bisa beli di tempat lain.

“Nanti kita beli di rumah aja,” kata saya menjanjikan. Again, saya lupa, tidak konsisten jenis selanjutnya. Padahal entah anak mengerti atau tidak, konsisten harus dibiasakan sejak dini, supaya anak juga paham bahwa orang tuanya berusaha berkata dan mendidik mereka dengan serius. Merayu dan membujuk boleh, asalkan sesuai dengan kenyataan. Seperti ketika mereka tidak menurut dan bermain di tempat gelap.

Buat sebagian orang dengan mudahnya mengatakan, “hayoooo, ada hantu lho disitu…” Berhubung para hantu akan datang dengan sendirinya pada orang yang mereka pilih, maka saya lebih suka mengatakan sebuah pilihan yang lebih masuk akal,”gelap lho, sendirian lho, bunda ga mau nemenin lho…” Toh, sebagai si otak spons, si anak akan tanggap apa yang mesti dia lakukan jika gelap dan sendirian serta si ibu tak bersedia menemani. Uma kemudian akan terbirit menghampiri saya. Bahkan ketika akhirnya dia takut dengan hantu, bukan karena efek psikologis yang saya kenalkan, tapi karena dia pernah lihat sendiri. Hehehe, anak-anak masih punya mata batin yang jernih kan.

Dan untuk Ken yang bandel, belum ngomong, dan bermasalah dengan pendengarannya, saya lebih suka menggunakan efek kejutan, menampilkan wajah marah, lalu pura-pura lari kebingungan dan terbirit-birit. Konsisten itu susah tapi harus terus dilatih, apalagi mumpung anak-anak masih kecil, yang masih belum banyak menuntut. Kalo bilang maen, ya maen beneran. Kalo ga main, ya bilang alasannya kenapa. Susah, pasti. Repot, pasti. Saya juga belum tahu apa hasilnya kelak. Saya hanya menghargai, bahwa mereka juga memiliki otak yang berhak dilatih berpikir, kapan pun itu.

Advertisements

Di bawah ini adalah tulisan teman saya, Esthy Wikasanti. Dia adik saya di Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Airlangga. Memilih menjadi ibu rumah tangga secara sadar, bukan karena tak berkemampuan. Tulisan berikut adalah hasil perenungannya tentang bertambahnya usia, posisi wanita, rumah tangga, dan aspek lainnya yang ditulis secara apik dan menghibur. Awesome!

=========

Monolog Usia Kembar

by Esthy Wikasanti on Saturday, January 12, 2013 at 3:46am ·

Kepala tiga, nduk?

Bah, simbok ucapkan itu dan biarkan mereka tebak usia aku.

…age is just a number, don’t you stop having fun (Happy Birthday-NKOTB)…

Tapi buat wanita, satu tahun itu sangat berarti.

Opo yo kamu bakal muda selamanya? Waktu itu ora kenal kompromi, nduk. Ini tentang bagaimana kamu bersahabat dengannya, karena dia sudah paten.

Tapi kadang masih kurang.

Opo yo kalo dikasi lebih, kamu bakal lebih baik?

Ga tau juga sih…

Lhah, piye to. Kamu dewe ora yakin dengan keinginanmu.

Waktuku banyak untuk orang lain.

Itu kan pilihan uripmu, pahit manis mesti dijalani. Lagipula, dibutuhkan orang lain, itu kebutuhan utama lho.
Coba jal, lek kamu bisa reinkarnasi kayak di pilem-pilem itu, kamu mau jadi siapa?

Sapa ya mbok, ga tau juga.

Kamu ki pancen ora jelas, ora struktural, infrastrukturmu amburadul, gitu bilang waktu kurang. Yowes, anggep aja kamu pengen jadi BCL, yang wes di”reinkarnasi” jadi Ainun.

Sebentar mbok, itu panjenengan lho, bukan saya.

Kamu ini gimana to, dicarikan contoh yang bagus, ngeyel ae.

Kalo Ainun nya ok, kalo BCL nya mikir-mikir dulu, mbok.

Lha kok pikir jadi Ainun itu gampang, kan mesti meninggal dulu to, baru orang ngerti sehebat apa beliau. Kalo BCL, seterawanganku, kan ketok penak-penak wae. Lahir ceprot dari orang berada, karir naik turun yang stabil, dapet jodo keturunan Robin Hood, trus…

Sek to mbok, kok bisa keturunan Robin Hood??

Eling wayang, tari tor-tor, reog, batik, Sipadan Ligitan, dan sak akeh akehe conto?

Itu kan yang…. (mikir dulu dengan maksud sopan)

Ra sah mbulet, wes begini, Robin Hood nyuri untuk kepentingan orang kecil.

Lha terus hubungannya apa?

Yang dicuri kan punya orang kaya, sing sak arat arat. Sebentar, aku nanya dulu. Kamu bisa nari Pendet ato reogan ora?

Aku kan ga bisa nari.

Tapi Gangnam Style bisa kan?

Hehe, gampang dan populer sih, mbok.

Kan kamu bisa jadi penggagas klub tari, narik para seniman dalam satu wadah supaya budaya kita bisa lestari.

Ah, simbok lebay, aku ndak ngerti apa-apa soal seni.

Nah itu, nah itu, nah itu…

Apa mbok?

Tau saja enggak, melestarikan apalagi, kenapa mesti kebakaran jenggot kalo Robin Hood woro-woro untuk ngopeni dan mendayagunakan?

Alias nyolong?

Hush, ngomong yang bener, wes kakean piktor di negara ini. Aset yang harus dipertahankan itu ya positive thinking, ben ndang maju, masio pelan tapi pasti. Sayangnya, racunnya patah tumbuh hilang berganti. Antibiotik manapun sulit bikin pertahanan.

Halooo mbok, saya ini sedang mengulang tanggal dan bulan, menghitung hari yang ga pasti menuju sebuah entitas sebagai umat manusia yang (pengennya) berkualitas.

Lha iyo nduk, simbok juga mengarahkan ke situ. Kamu ini kan kuliah, harusnya paham dengan simbol dan analogi.

Tapi lho, aku kan masih repot dengan urusan rumah tangga *alasan, padahal wanita kan multi tasking*

Yowes, kupersingkat wae. Sejauh usia yang sudah kamu lakoni di panggung ini, apa pencapaianmu?

*hening*

Kuperjelas lagi. Apa kamu sadar bahwa kamu pernah salah, atau malah kamu merasa terus-terusan hebat tanpa cela?

Ya pernah salah mbok, menyesal, berharap ga akan terjadi lagi.

Lalu?

Berharap dan berusaha lebih baik.

Lanjutkan kalo gitu.

Ah, cukup dua kali mbok, waktunya yang laen, hehe…

Lha kamu ngajak bicara negara lagi. Pertanyaan selanjutnya, kamu punya keinginan yang belum terpenuhi?

Ya jelas mbok, banyak.

Apa saja?

Ah simbok, kan sudah kutempel 5cm di depanku, males ngulang. Simbok ikut liat bersamaku aja deh.

Kalo misalnya ga terpenuhi piye?

Pasti bisa mbok, wong aku sudah ndaptar sama Gusti Allah.

Syukur lek kamu sek percaya ada kekuatan sing maha.

Ya iyalah, mbok, tapi yang biasa aja. Ga usah eksplisit.

Maksud lo?

Ah simbok sok gaul lagi. Ya kalo terlalu kiri atau terlalu kanan, bisa jadi TO para ambisiwan dan ambisiwati.

Jangan-jangan kamu ini pluralis, ato malahan jamaah JIL?

Sembarang lah mbok, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bocah edan, agama kita itu sama, nduk.

Bener mbok, tapi dalam perjalanan kehidupan, aku nemui banyak warna baru. Bahwa biru itu ternyata ada yang biru laut, biru donker, tosca, benhur, sampe indigo.

Terus kamu memutuskan jadi pelangi, gitu?

Mbuh lah, mbok.

Sudah, nanti yang baca statusmu tambah puyeng, vertigo pisan. Dipersingkat saja, ben perjalananmu menuju inner peace ora sia-sia.

Mbok, kasi tanda donk kalo kita ini juga membicarakan petuah Master Shifu, tentang inner peace itu.

Halah, wong yo kita nonton bareng.

Hehehe…

Begini nduk, salah satu pintumu, sudah terbuka lebar.

Pintu apa? Yang mana?

Lha kuwi, anak bojomu, kendaraan sukses jiwamu.

Pintu gimana mbok, maksudnya?

Pintu rejeki, pintu karir, pintu darurat, dan lainnya. Anggap saja pintumu sekarang adalah salah satu pintu rejeki. Ojo protes, ditanggung hidup oleh suamimu dan dibutuhkan anak-anakmu itu rejeki yang belum tentu semua orang raih lho..

Inggih, mbok. Alhamdulillah..

Ibaratnya rumah, opo yo pintunya cuma satu?

Banyak, mbok.

Pintu lain pasti terbuka, nduk. Tinggal kamu mau masuk ke dalamnya atau tidak. Tapi ingat bahwa setiap pintu itu punya ruang. Akan lebih baiknya, jika kamu merawat dan memelihara apa yang ada dalam pintumu sekarang, sebelum kamu membuka pintu yang lain.

Jadi aku ga boleh kerja gitu?

Siapa bilang tidak? Tapi pertanyaanku, sebagai seorang ratu di rumah tanggamu, seberapa berhasil kamu membuat suami dan anakmu betah di rumah, seberapa berhasil kamu menatanya sehingga orang yang melihat berpersepsi baik?

Ah simbok, ikutan ngetrend, pencitraan. Lagipula tugas utama wanita kan hamil,melahirkan, menyusui. Selain itu, kan sama dengan lelaki.

Aku curiga, jangan-jangan kamu benar-benar terjebak dalam pluralis, liberalis, feminis, mbuh mana itu yang bener.
Lalu, soal pencitraanmu di depan Dzat yang kamu imani itu, sejauh mana? Opo kamu sanggup, kamu kerja sementara suamimu yang mandiin dan nyuapin anak balitamu?

*hening*
Kalo dia mau, kenapa enggak?

Lha emang bojomu mau??

Hehehe…
Ah mbok, ini kan karena terpatrilinealkan, jadinya ada keharusan seperti itu.

Ora usah turut campur sistem yang lagi kacau, tanya pada dirimu sendiri, bisa nggak?

*merenung*
Mungkin tidak, mbok.

Sanggup ga sanggup, kamu mesti bertanggungjawab akan apa yang sudah kamu keluarkan, apapun itu bentuknya, antara lain anak-anak yang selama sembilan bulan nongkrong di rahimmu.

Insyaallah, mbok..

Ojo mengulang ala Robin Hood tadi. Begitu diakui dan diambil yang lain, baru nyadar kalo punya.

Mbok, itu terlalu ekstrim.

Tidak, nduk. Terkadang mesti keras pada diri sendiri, supaya nyadar bahwa nikmat selalu ada, sekecil apapun bentuknya.

Iya ya, mbok.

Nangiso terus, ben hawa buruk mengalir pergi bersama air.
Alhamdulillah o terus, ben hidup lebih ringan.
Mikiro terus, ben otak terus bekerja, ora karaten.
Tapi jangan jadi pemimpin.

Lho??

Setidaknya jangan dulu, nunggu negara ini stabil.

Kebetulan aku terdidik di bangku sekolah untuk jadi pekerja mbok, bukan pemimpin.

Wes lah nduk, ojo kakean protes pada negara yang lagi keracunan ini. Eling analogi pintu. Saiki urusen ruangan dalam pintu yang sudah kamu pilih. Sambil pelan-pelan siapkan diri untuk masuk ke pintu yang laen.

Pasti mbuka, mbok?

Pasti, semua kan tergantung sejauh mana kerja kerasmu dan seperti apa sudut pandangmu.

Jadi??

Mau setua apapun, tinggal di negara semakmur atau sebobrok apapun, yang penting dan utama, seberapa banyak kamu belajar dari yang sudah-sudah dan seberapa keras kamu berusaha untuk yang belum-belum.

Matur nuwun, mbok. Tapi…

Sudah, ra sah kakean tapi, ndang melangkah dulu. Sana, ndang dibagi kuenya…

Siap mbok!! Kapan dilanjut??

Sek, sabar, semoga ada pelita indah di 2014.

Amin 🙂

Sumber: https://www.facebook.com/notes/esthy-wikasanti/monolog-usia-kembar/4684154774973, retrieved on 12 Januari 2013

A: You may learn college-related subjects from me, I will learn how to live my life from you.

B: Don’t be. I have so many weaknesses. You will learn nothing from me

A: Yo don’t need to say that. Even the prophet has some weaknesses. Besides,we learn not only from those without weaknesses.

B: And none of us perfect

A: you got it!

A: Anda boleh belajar ilmu sekolahan pada saya, saya akan belajar ilmu kehidupan kepada Anda

B: Jangan begitulah. Saya sendiri juga masih banyak kekurangan.

A: Anda tak perlu katakan itu. Nabi saja punya kekurangan, apalagi Anda dan saya? Tapi, kita toh belajar tidak hanya dari orang yang sempurna, kan?

B: Dan memang tidak ada orang yang sempurna

A: Nah!

‘We have an agreement,’ he started his story. ‘My wife will quit her job and concentrate on managing the household, especially to raise our kids, once my income is sufficient to assure us afloat decently.’His wife quit her job a few years ago.

No, he has no car. His house is not the one in a greeny lavish cluster. However, he and his wife agreed that they passed their targeted line and his wife quit her job peacefully.

Well, I guess it is not about how many ‘digits’ we earn, but the way we perceive that ‘number’. If you think it is enough, then it really is.

It was a bright sunny Sunday. I called one of my friends to accompany me doing a bussiness near his area. He apologized for unable to accompany me. His schedule for that day already been booked to attend a personal development motivation training. The night before, he couldn’t join me for a treat dinner for my birthday since his schedule at that time was for teaching reading Al Qur’an. Great! I am happy for him.

Then, as usual, I and my bike touched the lane. Not many good places –well, let say ‘spots’– to be watched and enjoyed in the dusty- humid-crowded Cikarang. So, as even more usual, I went to a not-completed-yet residential area where another one of my friends live. I anticipated two benefits by choosing this place. First, I can identify the house-for-sale signs there and try to make my preferred list. Yes, you got it! I am a newbie in Cikarang, an industrializing city in Indonesia where hundreds of companies have their production plants. Hyundai, Epson, Toshiba, Unilever, Mattel –the Barbie toys producer—and many more. You name it. So, I need to find an affordable not-too-bad house for I and my family. They are in Surabaya right now, a 12-to-16-hours by bus city and will join me in Cikarang once I settled in.

Secondly, I can sit in any spot as long as it confront my all-time favorite landscape: green paddy field. I can read book, make some notes, or just grasp the breeze. And, If I am lucky enough, I will meet my friend and have a lovely conversation with him. Unfortunately, I am not that lucky. He was in Jakarta at that time. He joined a group who held a paralympic game for children. It stunned me for a while. Well, I am fully aware the meaning of ‘don’t judge a book by its cover’. I seldom do it, unless for the student magazine which I supervised. However, the reality that a labor, a group of people who many others would think as busy-to-accomplish-targets (or, in a Marxist term ‘busy-of-being-exploited) actually has spare time and do something noble for others really inspired me.

I used to be that kind of person. I need to be that kind of person once again. And, as writing is one of only a few skills I have, I start it by developing this blog. I know I am not an inspiring person. At least, I can share the inspirations from my friends and surroundings for you guys. Well, I hope. So, please keep visiting this blog and have a discussion. You will inspire me even more!