Archive

Notes

Kali ini saya bicara tentang salim. Yang saya maksud salim tentulah bukan nama orang Arab, hehehehe. Salim yang akan saya bahas adalah tindakan menjabat lalu mencium tangan seseorang. Biasanya, orang yang disalimi adalah mereka yang lebih tua atau dihormati.
Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, saya kenal salim sejak kecil. Sebagai pribadi yang berkembang di tengah-tengah budaya nahdliyin yang kental, salim has been everywhere. Di lingkungan kampung saya dulu, baik di Surabaya maupun di Bangkalan, mayoritas anak salim kepada orangtuanya. Berangkat sekolah, salim. Pulang sekolah, salim. Berangkat ngaji, salim. Tak hanya itu, bila ada kerabat atau teman orangtua yang berkunjung, anak-anak pun tak lupa salim pada mereka. salim adalah representasi kesopanan. Pasangan ayah dan ibu yang anaknya tidak mau salim kepada tamu biasanya akan kecewa dan sedih. Mereka merasa gagal menanamkan kesopanan pada anaknya.
Di lingkungan nahdliyin, salim meluas ke lingkungan di luar kerabat. Salim dilakukan oleh “umat” kepada kiai atau pemuka agama yang dihormati. Salim bukan lagi lambang kesopanan, namun representasi penghormatan. Bahkan, hingga titik tertentu, salim dalam konteks ini menggambarkan “ketundukan” umat kepada pemuka agamanya. Karena itu, salim jenis ini dilakukan oleh mereka tanpa memandang usia. Umat yang salim seringkali lebih tua dari kiai yang disalimi.
Salim di lingkungan keluarga biasanya dilakukan di usia anak-anak ketika mereka masih “bisa dibentuk”. Mayoritas anak-anak di lingkungan saya mudah diyakinkan bahwa salim adalah salah satu indikator anak baik. Kebiasaan salim biasanya muncul lagi ketika seseorang sudah dewasa. Mereka melakukannya karena sadar bahwa orangtua memang layak dihormati, bisa juga untuk alasan pragmatis: agar anak-anak mereka salim pula pada mereka.
Usia remaja hingga dewasa awal adalah periode dimana banyak orang “absen” salim. Mereka menggantikan salim dengan kalimat pendek bernada minta izin seperti “Pergi dulu Pak”. Saya tidak tahu persis mengapa banyak remaja “absen” salim. Mungkin jiwa muda mereka memberontak terhadap praktik yang mereka anggap “penindasan” itu. Mentang-mentang lahir lebih dulu, minta dihormati. Mungkin pula mereka menganggap salim itu kuno dan karena itu mereka malu melakukannya.
Saya sendiri sangat jarang (untuk tidak menyebut “tak pernah”) salim pada kedua orangtua saya. Bukan saya tak hormat pada mereka. Bukan pula saya tak sayang pada mereka. Hanya saja… ada segaris perasaan malu, sungkan, untuk salim. Untungnya, orangtua saya tidak mempermasalahkannya. Mereka tahu saya cinta dan hormat pada mereka meski saya tidak salim.
Saya hanya salim pada mertua. Itu pun setelah diingatkan salah satu saudara bahwa tidak salim pada mertua itu sangat tidak sopan. Saya sebenarnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Saya hormat dan cinta mertua saya tanpa harus salim. Namun di titik itu, saya menyerah pada budaya. Toh salim tidak merugikan saya. Kalau mertua saya makin gembira dengan salim saya, maka saya lebih gembira lagi melakukannya.
Termakan oleh stereotip bahwa salim itu “tanda kesopanan khas kampung”, saya benar-benar kaget ketika ada salah satu mahasiswa salim pada saya. What??? Gak salah? Mahasiswa zaman sekarang, mayoritas datang dari kota besar, tajir, eh ngajak salim? Saya kikuk sekali waktu itu. Diterima gak ya?
Bila tidak diterima, saya khawatir disangka sombong. Namun kalau diterima, saya merasa belum pantas disalimi. Saya bukan kiai. Saya belumlah menjadi sosok yang layak diteladani. Disalimi orang terasa terlalu berat bagi saya. “Beban” saya makin berat karena ternyata yang salim bukan hanya satu orang, tapi banyak. Ada yang meletakkan telapak tangan saya di pipi mereka, di kening mereka, ada juga yang meletakkannya di hidung mereka. Yang terakhir inilah versi salim yang saya kenal.
Di awal-awal, saya menerima salim mereka namun saya tarik telapak tangan saya begitu mereka mau menciumnya. Hal ini sudah sering saya lihat di Surabaya dan di Madura. Menurut almarhum ayah saya, kiai yang melakukannya adalah mereka yang rendah hati, yang merasa belum layak disalimi orang sekali pun ilmu mereka tinggi dan kontribusi mereka bagi masyarakat besar. Lantas, apakah kiai yang suka rela tangannya dicium umatnya ada di level lebih rendah? Apakah mereka sosok yang ingin dihormati? Almarhum ayah saya tersenyum dan menjawab, “Tidak juga. Beliau-beliau yang mau disalimi adalah orang yang sama baiknya. Mereka tidak tega membatalkan kegembiraan orang lain. Kalau umat merasa gembira dengan salim, maka mereka melayani salim itu.”
Pernah saya menarik tangan saya saat akan disalimi. Mahasiswa tersebut terkejut dan berkata, “Kok ditarik, Sir? Kenapa?” Terpancar sebersit kaget dan bingung di wajahnya. Sejak itu, saya biarkan mahasiswa salim pada saya tanpa meminta yang lain untuk menirunya. Saya hanya tak ingin membatalkan kegembiraan mereka.(Achmad Supardi)

Kemarin saya menemukan sebuah goody bag di atas meja kerja saya. Di dekatnya tergeletak skripsi edisi revisi. Saya bisa langsung menebak, itu pasti oleh-oleh dari salah satu mahasiswa bimbingan skripsi saya. Goody bag yang ternyata berisi jaket kulit –atau jaket racing?– ini adalah goody bag kesekian yang saya terima di periode penulisan skripsi kali ini. Sebelumnya saya menerima sweater, baju batik, juga pancake durian.

Saya GEMBIRA sekali menerima goody bag itu.

Pertama, saya senang karena merasa ada orang-orang yang ‘cukup dekat’ dengan saya. Mungkin ‘kedekatan’ itu berawal dari hubungan profesional –dosen dan mahasiswa—namun menjadi dekat sebagai sesama manusia justru dianjurkan oleh Tuhan, bukan? Saling membantu, saling membuat gembira.

Sungguh, saya gembira melihat binar kelegaan di wajah mereka ketika saya tanda tangan yang menandakan kripsi mereka layak diuji. Saya gembira melihat mereka mengucap syukur saat dinyatakan lulus sidang skripsi. Saya senang melihat mereka menjadi sarjana. Semoga ilmunya barokah.

Lalu, bila karena kegembiraan itu mereka mereka merasa ingin membaginya, dan saya adalah salah satu yang mendapat bagian, saya tak bisa tidak kecuali menjadi gembira pula. Tentu saya sadar ada sebagian orang yang “kalau sudah selesai ya selesai”. Hubungan berakhir di sana. Saya tentu tak bisa menolak. Namun di pihak saya, pintu selalu terbuka untuk bersaudara.

Kedua, saya memang selalu menikmati sensasi membuka hadiah. Membuka goody bag, bagi saya, sangat menyenangkan. Sensasinya melebihi ketika saya memakai  atau memakan isi goody bag itu. Istri saya tahu betul kebiasaan saya ini. Seringkali dia tidak membuka oleh-oleh yang ia terima dari sekolah atau dari kondangan hanya supaya saya yang membukanya lebih dulu. Dia tahu saya menikmati sensasi itu.

Dulu, waktu kecil, saya gembira sekali saat ayah datang dari yasinan, tahlilan, kondangan, atau dari rumah saudara dengan membawa sesuatu. Saya belum tentu memakan isinya, namun saya suka membukanya. I love surprises. Saking sukanya pada kejutan, saya suka sekali mengecek klikbca di akhir bulan. Sudah masuk gak ya? Ada tambahan gak ya? Mungkin ini penyakit sinting ke-48 versi Andrea Hirata. Hahahaha.

Namun di balik kegembiraan, cukup sering saya terganggu oleh renungan-renungan –ceilee… bahasanya–  tentang status goody bag-goody bag tersebut. Apakah itu semacam sogokan? Gratifikasi? Apakah goody bag-goody bag itu justru harus saya tolak sesopan mungkin dan bukan malah gembira menerimanya? Apakah saya tak ada bedanya dengan pejabat-pejabat yang menerima gratifikasi dari pengusaha dan banyak pihak penuh kepentingan lainnya? Am I that bad?

Kini, izinkan saya mengajukan pleidoi di sini:

Saya tidak pernah meminta. Tidak pula memberi kode. Memang, secara guyonan sebagian mahasiswa menyebut saya memberi ‘kode’, padahal kami sedang membicarakan hal lain di luar skripsi. Durian, misalnya. Saya selalu antusias membicarakan durian seantusias saya menikmati buah yang dagingnya lembut wangi itu.  Kalau itu dianggap kode… ya sutralah. Toh saya sudah membeli pancake durian sebelum pancake durian dari mahasiswa datang J Saya juga tak pernah memberi spesifikasi isi goody bag yang saya inginkan. Buktinya, jaket racing yang saya terima kekecilan. Mahasiswa itu terlalu berprasangka baik bahwa tubuh saya atletis, padahal perut saya lebih mancung dari hidung. Karena di rumah tak ada pria dewasa lain selain saya, maka barang ini masuk daftar untuk didermakan J. Saya, tentu saja, tak pernah mengenakan tarif. Karena, pada dasarnya, memang tak ada harapan untuk mendapat goody bag-goody bag itu.

Saya gembira menerima goody bag-goody bag itu. Toh porsi perhatian saya untuk para mahasiswa bimbingan tak berbeda antara yang satu dengan yang lain. Toh nilai skripsi mereka tak akan berubah…. Goody bag tak mengubah posisi mereka –misalnya—dari bidder menjadi winner. (*)

 

Banyak berkahnya menjadi pengguna setia angkot dan anarkot (angkutan antar kota). Pertama, saya bisa melatih kepekaan agar suatu ketika nanti siap menggantikan Dhani Dewa sebagai juri The X Factor Indonesia. Atau mungkin malah menggantikan Simon Cowel yang lidahnya pedas itu. Hampir tiap minggu saya mendengarkan beragam karakter vocal dan aneka genre lagu. Sebagian membuat saya nyaris tertidur, yang lain membuat saya terbangun dari tidur. Tapi, bukan berkah ini yang ingin saya ceritakan lebih panjang.

Sebagai pengguna angkot dan anarkot, saya juga mendapat berkah kedua: menjadi pengamat gaya rambut. Duduk diam selama beberapa menit hingga beberapa jam, tentu bosan kalau tidak diimbangi dengan aktivitas. Cukup sering saya memeriksa UTS atau tugas mahasiswa, kadang membaca novel, memperhatikan pernik kehidupan di pinggir jalan, namun belakangan saya punya kesenangan baru: memperhatikan potongan rambut para penumpang. Supaya terkesan ilmiah, objek observasi saya haruslah spesifik: Laki-laki, rentang usia remaja hingga dewasa awal.

Hah, laki-laki?

Ya iyalah, kalau saya memperhatikan perempuan, jangan-jangan bisa kena gampar. Atau, kalau penumpang perempuan itu berjilbab, bagaimana saya bisa menduga potongan rambutnya? Jadi, para perempuan, berjilbablah, hehehehe.

Kenapa remaja hingga dewasa awal? Karena anak-anak maupun orang tua biasanya memiliki potongan rambut yang biasa-biasa saja. Kurang menarik untuk dianalisis.

Model rambut ternyata banyak sekali. Begitu beragam! (hellooooo, selama ini kemana saja? Hehehe)

Ada gaya rambut yang “dikumpulkan” di bagian tengah. Poni ditekuk ke tengah. Rambut bagian atas belakang, juga ditekuk ke tengah. Rambut bagian kiri dan kanan (di atas pelipis), juga ditekuk ke tengah. Hasilnya, bunga mawar mekar di atas kepala. Yang saya bayangkan, sungguh ribet ,mengatur gaya rambut seperti itu.

Ada juga rambut model Mohawk. Seorang saudara saya pernah menyebut rambut ini model “munyuk” alias –maaf—monyet. Tidak terlalalu salah, karena banyak saya temui kera bintang “topeng monyet” memiliki model rambut jenis ini. Bagi saya, rambut model ini juga ruwet. Butuh tenaga dan waktu ekstra untuk menatanya. Bagian poni harus diarahkan ke atas sedikit ke belakang. Lalu, rambut di atas pelipis kiri dan kanan diarahkan ke atas agak ke tengah hingga persis di bagian atas kepala tercipta deretan serupa Bukit Barisan di atas punggung Sumatera. Tanpa bantuan gel, sepertinya susah membuat gaya rambut seperti ini.

Yang juga cukup sering saya temui di Cikarang adalah rambut punk. Modelnya sederhana: mirip gir sepeda. Rabut dikumpulkan di bagian tengah, lalu dibuat sejumlah kerucut menyerupai cone es krim (tapi lebih runcing) mulai dari dahi hingga tengkuk. Sepertinya kelompok ini jarang berkonflik. Sebab kalau sampai bertengkar, bukankah sangat mudah menjambak rambutnya?

Lalu, ada juga model rambut timbangan rusak. Maklum, berat sebelah. Jadi, rambut sebelah kiri dipanjangkan, lalu dengan sekuat tenaga dibelokkan ke kanan hingga menjuntai. Saya miris melihat mata si empunya seperti selalu tertutup tirai. Kini saya tahu mengapa makin banyak kecelakaan sepeda motor belakangan ini. Rupanya si pengendara sibuk menghalau rambut dari depan matanya….

Melihat semua itu, saya bersyukur dengan potongan rambut saya yang tak pernah berubah sejak saya datang ke tukang pangkas rambut atas kemauan sendiri (sebelumnya selalu karena paksaan ayah). Rabut saya selalu pendek dan modelnya itu-itu saja. Cukup arahkan sisir ke belakang, tanpa tambahan gel, bahan pengawet, bahan pewarna atau pemanis buatan, rambut rapi sudah.

Mungkin Anda akan mengatakan saya konservatif. Bisa saja. Atau, Anda bisa juga menuding saya menghambat sektor ekonomi kreatif. Dengan model rambut yang itu-itu saja, saya mematikan kreativitas orang-orang seperti Irwan Rovani Doke, Andy Lie, Arie Hidayat, Bambang Harryono, atau senior mereka Johnny Andrean beserta seniman tata rambut lainnya. Tapi Anda jangan khawatir. Tuhan maha penyayang. DIA tak ingin seniman tata rambut mati kreativitas maupun  rezekinya. Karena itu orang-orang seperti saya –penyuka rambut pendek dengan gaya itu-itu saja—diciptakan dalam jumlah terbatas. Limited Edition. Hahahaha. (Achmad Supardi)

Oleh: Achmad Supardi

Membaca berita tentang lomba kepramukaan yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Universitas Airlangga, Minggu (26/8), saya jadi teringat masa-masa menjadi aktivis Pramuka dulu. Saat itu, pertengahan 1990-an, Pramuka belum semarginal sekarang. Namun, tanda-tanda menjadi kelompok minoritas yang segera kehilangan peminat, sudah begitu nyata terlihat.

Makin tahun, saat SMA saya menggelar pekan ekstrakurikuler (ekskul), stan Pramuka makin sedikit mendapat pengunjung. Beragam atraksi ditampilkan, termasuk membuat menara dari bambu yang menjadi bangunan tertinggi di sekolah saat itu. Kami membuatnya begitu cepat, hasilnya juga bagus. Kami menggunakan menara bambu itu untuk menggelar atraksi prusik dan katrol. Ya, menara bambu itu kuat, meski bahannya hanya bambu dan tali Pramuka yang putih itu. Jangan tanya saya bagaimana cara membuatnya kini. Saya sudah lupa!

Dengan atraksi seru seperti itu, Pramuka hanya bisa menggaet belasan calon anggota baru. Saat pra-orientasi, sebagian berguguran. Memasuki orientasi, tinggal 4 orang yang bertahan. Tahun itu, 4 orang itu sajalah yang menjadi kader kami. It was too great to be true. However, It was!

Beruntung, saat itu Pramuka belum benar-benar punah. Meski di sekolah saya, SMAN 19 Surabaya, gugus depannya tak juga beranjak dari gugus depan persiapan karena selalu minim anggota, namun di banyak sekolah lain, Pramuka masih ada. Paling tidak, dari segi anggota, masih banyak sekolah-sekolah lain yang memiliki Pramuka dengan banyak anggota. Saya belum benar-benar menjadi minoritas saat itu.

Malah, saya merasa seperti kader sebuah partai yang harus terus menerus berdakwah agar makin banyak orang –tepatnya siswa—yang “sadar Pramuka.” Saat itu –hingga kini juga—saya yakin Pramuka memberi banyak pelajaran berguna. Istilahnya, maslahat-nya jauh lebih banyak daripada mudharat-nya.

Lihat saja materi yang ditawarkan Pramuka. Secara garis besar, Pramuka menggabungkan 2 kelompok materi besar, yaitu materi seputar kesehatan (yang biasanya dipegang oleh Palang Merah Remaja atau PMR) dan materi-materi SAR, lingkungan, serta petualangan yang menjadi imej kuat ekskul Pencinta Alam (PA)
Mulai P3K, memasang perban dan penyangga tulang patah, hingga bagaimana menangani korban tenggelam, Pramuka mengajarkan. Keterampilan ekstrem seperti prusik, katrol, dan rappelling yang banyak berguna dalam pendakian, panjat tebing dan penyelamatan, ada materinya di Pramuka.

Kalau mau menuruti isi SKU dan SKK –kalau tak salah kepanjangannya “syarat kecakapan umum”dan “yarat kecakapan khusus”(tuh, kan, saya lupa!)—niscaya tiap anggota Pramuka akan menjadi sosok nyaris sempurna.

Bayangkan, ibadah sesuai tuntunan agama masing-masing, menjadi bagian SKU paling awal. Isi lainnya adalah nilai-nilai kesponan seperti berbakti pada orangtua, menolong sesama, tidak pelit, dan sejenisnya.

Dalam SKK –yang kita dikondisikan untuk memenuhi sebanyak-banyaknya—terdapat banyak keterampilan. Mulai memasak untuk sejumlah orang, keterampilan tali temali, membuat bivak, membedakan tanaman beracun dan tidak, hingga berbicara di depan umum, semua ada. Makin banyak keterampilan yang kita kuasai, makin banyak pin yang kita dapat. Soal pin ini, mungkin aktivis Pramuka hanya tersaingi oleh para Rotarian, hehehehehe. Makin banyak pin yang didapat, makin cepat pula naik tingkat. Asal tahu saja, Pramuka memang mengenal level. Ada Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega. Di masing-masing level itu, ada 3 tingkatan. Maaf, jangan tanya saya nama-nama tingkatan itu, saya lupa. Teman saya yang mantan anggota Prmauka, juga lupa.
Selain materi, Pramuka juga oke sekali dalam rancang bangun organisasi dan konsep-konsepnya. Sepertinya hanya Pramuka, ekskul yang memiliki banyak norma dan konsep dasar. Sebut saja “sistem among” dan “satuan terpisah”.

Dalam sistem among, semua anggota Pramuka adalah keluarga. Karena itu pembina dipanggil dengan sebutan “Kak”. Masing-masing anggota keluarga menjalankan fungsinya sesuai tingkatan. Yang memiliki level lebih tinggi mengajari dan mendidik adik-adiknya.

Meski begitu, norma ketimuran tetap berlaku. Sejak kecil, sejak level Siaga (biasanya kelas 1-3 SD) anggota Pramuka sudah dibiasakan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Dalam perkemahan, tenda mereka terpisah secara tegas. Laki-laki dan perempuan hanya berkumpul dalam acara-acara umum, seperti penjelajahan dan api unggun. Inilah yang disebut “satuan terpisah”.

Sama seperti sekolah, Pramuka juga memiliki “penjurusan”. Kalau gugus depan kita sebut sebagai “sekolah”, maka “penjurusannya” ada pada satuan karya (saka). Ada Saka Bahari (kelautan), Saka Dirgantara (udara), Saka Bhayangkara (kepolisian), Saka Taruna Bumi (pertanian), Wanabakti (Kehutanan), Bhakti Husada (kesehatan), bahkan Saka Kencana (keluarga berencana alias KB).

Adakah ekskul lain yang sekomplet ini? Dalam pemahaman saya yang terbatas, saya belum menemukannya.

Dengan keyakinan bahwa Pramuka memberi banyak manfaat, saya rela bersepeda untuk menjadi pembina Siaga di sebuah SD di kawasan Surabaya Utara. Honornya paling hanya bisa untuk membeli beberapa mangkuk bakso. Namun saya suka menjalaninya karena merasa “berbagi kebaikan.”

Dengan keyakinan itu pula, saya tidak terlalu malu berdesakan dalam bemo dengan balutan seragam Pramuka lengkap. Selalu saja ada yang memandang aneh. Selalu saja ada yang menatap dengan senyum tertahan. Kadang ada pula yang nyeletuk nakal. Namun bagi saya, saat itu, mereka hanyalah orang-orang yang belum “sadar Pramuka.”
Kini, jangan minta saya untuk berdesakan dalam bemo dengan seragam Pramuka lengkap. Sepertinya saya tak sepede dulu lagi. Meski beberapa waktu lalu Hari Pramuka diperingati, bahkan Wagub Soenarjo dalam balutan seragam Pramuka nampang di beragam iklan, namun sejatinya Pramuka di ambang kepunahan. Meski saya belum pernah mendengar bahwa presiden tak lagi sebagai Pramuka tertinggi (di Indonesia), namun saya tak pernah melihat Gus Dur, saat jadi presiden, dibalut seragam Pramuka. Tidak pula Susilo Bambang Yudhoyono.

Saya kira, yang tersisa dalam Pramuka Indonesia tinggal seragamnya saja yang coklat muda dan coklat tua. Di dunia internasional, Pramuka memang masih cukup eksis. Tidak gemebyar memang, namun aneka scout association di banyak negara masih hidup. Namun di Indonesia, perubahan budaya menggerus begitu cepat. Hasrat pemerintah untuk memanfaatkan Pramuka terlalu kuat. Mana ada di belahan dunia yang lain Pramuka terbagi dalam struktur yang sama persis dengan birokrasi negara? Hanya di Indonesia sajalah Pramuka memiliki kwartir ranting (kecamatan), kwartir cabang (kabupaten/kota), kwartir daerah (propinsi), dan kwartir nasional (kwarnas). Pemimpinnya bukan orang sembarangan, karena biasanya dipegang oleh wakil walikota, wakil gubernur, dan wakil presiden.

Kooptasi negara terhadap Pramuka terlihat pula dalam munculnya sejumlah Saka. Untuk apa muncul Saka Kencana kalau bukan untuk mensukseskan program pemerintah yang saat itu menggebu menggalakkan KB? Pramuka terbonsai dalam kerangka orang lain.
Kini, Pramuka (ekskul super komplet itu) memasuki masa-masa tidak laku.

Sekali lagi, yang tersisa dari Pramuka hanya seragamnya yang coklat muda dan coklat tua. Karena itu, sudah waktunya kita secara tegas mengatakan, tak perlu lagi ada seragam Pramuka, hingga orangtua siswa tidak ketambahan biaya. Tak perlu lagi ada Pramuka, hingga anggaran dari pemerintah tak selalu dikucurkan tanpa kita tahu bermuara ke mana. Tak perlu ada Pramuka, kecuali kita mau menghidupkannya secara sungguh-sungguh, jujur, dan bukan sekadar memanfaatkannya.
(*)

minggu di tugu pahlawan 9

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10200231232963052.199240.1219386735&type=1

minggu di tugu pahlawan 10

Tugu Pahlawan (The Heroes Monument) is located at the heart of Surabaya, one of Indonesia’s largest cities. The monument is situated at Pahlawan Street facing the East Java gubernatorial office. Surabaya people as well as those coming from a far cramp this complex every Sunday morning. Some are to learn about Indonesian history –especially about the famous battle of 10 November 1945 in which a British general was killed– at the museum. Some other visitors coming in groups and settling a group sport activities there from badminton, volley ball to soccer. However, there are also teenagers who maximize the green complex to have a romance. Well, you know. Besides the complex itself, The Heroes Monument is also famous of its Sunday market. The roads encircling the monument complex are always filled with hundreds of road-side vendors selling clothes, make ups, kitchen utensils, perfumes, books, vitality medicines and various ranges of east java foods. The bargain market attracts many visitors since we have a chance to find good quality goods in friendly prices.

minggu di tugu pahlawan 8    minggu di tugu pahlawan 7minggu di tugu pahlawan 3 minggu di tugu pahlawan 4 minggu di tugu pahlawan 5 minggu di tugu pahlawan1 minggu di tugu pahlawan21

The Last Paddy Field A bright Sunday morning following an all-night rain. The air felt so fresh. The sun was not too fierce. I led my bike to Graha Asri, a residential area near my campus. I stopped for a while in a roadside stall selling gudeg, a traditional Jogjakarta food. Well, my stomach needs to see food before it went for a protest. A few minutes later I sat in my favorite corner: a hut in front of Rabbaani elementary school overlooking a row of narrow paddy fields. The paddy fields were fenced by newly established housings and factories, as well as a huge land which will be transformed soon into another set of factories. Suddenly I pity realizing that this little green paradise will soon meets its end, turned into another housing and factory complex. “These paddy fields are also already owned by the developer. They are only waiting their turn to be built, “said a farmer who was sitting with me in the hut. Ah no, he is not a farmer. The man is a former farmer who was forced to sell his land in 1994. “I only have a narrow field. It’s hard to resist an offer to sell it. Moreover, the officer (the village officials) had always endorsed us to sell our paddy fields to the developer. They never encourage us to keep the land realizing that its price will be extremely high like now. We sold the land only for IDR 10,000 (slightly more than US$ 1) per square meter,” he said, recalling a decision he regret. Now, the land in his former paddy field is valued IDR 500-750 thousands (about US$ 52-77) per square meter. A figure that makes the man in front of me regrets his decision even more. The man, whose name I forgot I ask, is now contemplating his fate. “I had become an ojek (a rented motorbike driver). But the housing was still quiet and the roads were bumpy and rocky back then. We got hernia only by driving the motorbike for a week alone,” he said. Three years ago, when the Rabbaani elementary school was not widely known yet, he was accepted as a security officer there. Not the ideal job, nor a promising position with a decent income. However, he regarded it as a gift. ”Now it needs to be a high school graduate just to have the job that I had now. Realizing that I am only an elementary school graduate, I am really grateful to have this job, “he said. Gratitude and confusion mingled in his voice. Among the paddy which begins to turn yellow and white-black feathered bird that stole the grain, he sighed. “Factories are built around my house now. There (his hand pointed his former paddy fields) will be the place for another 30 new factories. I was puzzling over my own destiny. Factories were built, people come from many areas, but I can only watch it. I will hardly welcomed by those new factories given the fact of my age and education, “he said. His eyes looked back at the narrow paddy fields in front of us, the paddy fields which will be vanished at the end of this rainy season. (Achmad Supardi) Pictures taken on 29 December 2012 by Khoirul Umam (Khoirul.Umam@Mattel.com, khoirulpret@yahoo.com)