Archive

Socio-Cultural Articles

Kali ini saya bicara tentang salim. Yang saya maksud salim tentulah bukan nama orang Arab, hehehehe. Salim yang akan saya bahas adalah tindakan menjabat lalu mencium tangan seseorang. Biasanya, orang yang disalimi adalah mereka yang lebih tua atau dihormati.
Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, saya kenal salim sejak kecil. Sebagai pribadi yang berkembang di tengah-tengah budaya nahdliyin yang kental, salim has been everywhere. Di lingkungan kampung saya dulu, baik di Surabaya maupun di Bangkalan, mayoritas anak salim kepada orangtuanya. Berangkat sekolah, salim. Pulang sekolah, salim. Berangkat ngaji, salim. Tak hanya itu, bila ada kerabat atau teman orangtua yang berkunjung, anak-anak pun tak lupa salim pada mereka. salim adalah representasi kesopanan. Pasangan ayah dan ibu yang anaknya tidak mau salim kepada tamu biasanya akan kecewa dan sedih. Mereka merasa gagal menanamkan kesopanan pada anaknya.
Di lingkungan nahdliyin, salim meluas ke lingkungan di luar kerabat. Salim dilakukan oleh “umat” kepada kiai atau pemuka agama yang dihormati. Salim bukan lagi lambang kesopanan, namun representasi penghormatan. Bahkan, hingga titik tertentu, salim dalam konteks ini menggambarkan “ketundukan” umat kepada pemuka agamanya. Karena itu, salim jenis ini dilakukan oleh mereka tanpa memandang usia. Umat yang salim seringkali lebih tua dari kiai yang disalimi.
Salim di lingkungan keluarga biasanya dilakukan di usia anak-anak ketika mereka masih “bisa dibentuk”. Mayoritas anak-anak di lingkungan saya mudah diyakinkan bahwa salim adalah salah satu indikator anak baik. Kebiasaan salim biasanya muncul lagi ketika seseorang sudah dewasa. Mereka melakukannya karena sadar bahwa orangtua memang layak dihormati, bisa juga untuk alasan pragmatis: agar anak-anak mereka salim pula pada mereka.
Usia remaja hingga dewasa awal adalah periode dimana banyak orang “absen” salim. Mereka menggantikan salim dengan kalimat pendek bernada minta izin seperti “Pergi dulu Pak”. Saya tidak tahu persis mengapa banyak remaja “absen” salim. Mungkin jiwa muda mereka memberontak terhadap praktik yang mereka anggap “penindasan” itu. Mentang-mentang lahir lebih dulu, minta dihormati. Mungkin pula mereka menganggap salim itu kuno dan karena itu mereka malu melakukannya.
Saya sendiri sangat jarang (untuk tidak menyebut “tak pernah”) salim pada kedua orangtua saya. Bukan saya tak hormat pada mereka. Bukan pula saya tak sayang pada mereka. Hanya saja… ada segaris perasaan malu, sungkan, untuk salim. Untungnya, orangtua saya tidak mempermasalahkannya. Mereka tahu saya cinta dan hormat pada mereka meski saya tidak salim.
Saya hanya salim pada mertua. Itu pun setelah diingatkan salah satu saudara bahwa tidak salim pada mertua itu sangat tidak sopan. Saya sebenarnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Saya hormat dan cinta mertua saya tanpa harus salim. Namun di titik itu, saya menyerah pada budaya. Toh salim tidak merugikan saya. Kalau mertua saya makin gembira dengan salim saya, maka saya lebih gembira lagi melakukannya.
Termakan oleh stereotip bahwa salim itu “tanda kesopanan khas kampung”, saya benar-benar kaget ketika ada salah satu mahasiswa salim pada saya. What??? Gak salah? Mahasiswa zaman sekarang, mayoritas datang dari kota besar, tajir, eh ngajak salim? Saya kikuk sekali waktu itu. Diterima gak ya?
Bila tidak diterima, saya khawatir disangka sombong. Namun kalau diterima, saya merasa belum pantas disalimi. Saya bukan kiai. Saya belumlah menjadi sosok yang layak diteladani. Disalimi orang terasa terlalu berat bagi saya. “Beban” saya makin berat karena ternyata yang salim bukan hanya satu orang, tapi banyak. Ada yang meletakkan telapak tangan saya di pipi mereka, di kening mereka, ada juga yang meletakkannya di hidung mereka. Yang terakhir inilah versi salim yang saya kenal.
Di awal-awal, saya menerima salim mereka namun saya tarik telapak tangan saya begitu mereka mau menciumnya. Hal ini sudah sering saya lihat di Surabaya dan di Madura. Menurut almarhum ayah saya, kiai yang melakukannya adalah mereka yang rendah hati, yang merasa belum layak disalimi orang sekali pun ilmu mereka tinggi dan kontribusi mereka bagi masyarakat besar. Lantas, apakah kiai yang suka rela tangannya dicium umatnya ada di level lebih rendah? Apakah mereka sosok yang ingin dihormati? Almarhum ayah saya tersenyum dan menjawab, “Tidak juga. Beliau-beliau yang mau disalimi adalah orang yang sama baiknya. Mereka tidak tega membatalkan kegembiraan orang lain. Kalau umat merasa gembira dengan salim, maka mereka melayani salim itu.”
Pernah saya menarik tangan saya saat akan disalimi. Mahasiswa tersebut terkejut dan berkata, “Kok ditarik, Sir? Kenapa?” Terpancar sebersit kaget dan bingung di wajahnya. Sejak itu, saya biarkan mahasiswa salim pada saya tanpa meminta yang lain untuk menirunya. Saya hanya tak ingin membatalkan kegembiraan mereka.(Achmad Supardi)

Image

Foto: Khoirul Umam

Warga Jababeka dan sekitarnya senam di pelataran Giant, Minggu (10/2) pagi. 

Tiga kali sudah saya ikut senam di pelataran Giant Jababeka. Kali ini saya memang niat banget, secara saya jarang sekali berolahraga. Sepertinya saya memang memiliki kecenderungan malas berolahraga ‘secara resmi’ karena terbilang sering berolahraga ‘tak resmi’: naik ke kantor di lantai 3 Gedung A melalui tangga, turun, lalu naik lagi ke lantai 2, 3, atau 4 di Gedung B untuk mengajar. Bukankah itu juga olahraga? Hahahaha.

Kalau mau cari kambing hitam, sebenarnya ada juga: jadwal kuliah. Hampir satu semester saya rutin berolahraga bulutangkis tiap Senin malam. Namun, sudah 2 semester belakangan ini saya mendapatkan jadwal mengajar di Senin malam. Akibatnya, selamat tinggal Pelatnas Cipayung. Absen latihan selama 2 semester pastilah membuat kemampuan saya menurun jauh, tak mampu lagi bersaing dengan Simon Santoso atau pemain pensiunan seperti Taufik Hidayat.

Dengan sedikitnya waktu yang tersedia untuk berolahraga, maka senam tiap Minggu pagi di pelataran Giant Jababeka menjadi ‘satu-satunya’ alternatif yang harus diselamatkan. Senamnya sih biasa. Cuman 1 jam, dengan gerakan-gerakan yang juga sangat biasa. Tak ada nomor kuda-kuda pelana, kuda-kuda lompat, palang sejajar, palang tunggal, gelang-gelang, atau sekadar senam ritmik. Tapi tetap lumayanlah untuk memeras keringat. Daripada harus menggenjot becak?

Nah, ‘prosesi’ senam inilah yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Dimulai dari gerakan-gerakan pemanasan, gerakan inti dengan impact (hentakan) yang cukup tinggi, lalu… eng ing eng… senam body language dan senam kegel. Senam ini, katanya, bisa memperkuat otot-otot di sekitar panggul dan perut. Karena itu, ia membantu mewujudkan aktivitas seksual yang lebih tahan lama. Bukankah aktivitas seksual (dengan pasangan yang sudah dinikahi) adalah ibadah? Hehehe

Ketika di bagian senam body language inilah saya melihat fenomena yang aneh. Banyak peserta pria yang berhenti. Sebagian tetap menggerakkan tubuhnya sesuka hatinya, tidak patuh lagi pada gerakan yang dicontohkan instruktur. Ada juga yang membuang muka, pura-pura tidak melihat orang-orang di sekelilingnya. Wajah mereka menunjukkan raut malu meski tak sampai memerah. Sebagian lagi tertawa cekikikan. Rupanya senam kegel membuat benak mereka kegelian….

Ada yang salah?

“Saya berhenti dulu kalau di bagian yang ini. Malu,” kata kawan saya. Dia seusia dengan saya, anaknya dua.

Saya sendiri juga sedikit malu. Tapi sebenarnya, mengapa harus malu? Bukankah ini olahraga? Bukankah manfaatnya penting untuk ibadah? Beneran ibadah lo, bukan ibadah dengan tanda petik.

Rasa malu ini muncul karena ‘kepala’ kita tidaklah kosong. Ada ajaran agama, ada budaya, ada pengalaman masa lalu, ada nilai-nilai dan pengetahuan yang mengisinya. Di mayoritas masyarakat Indonesia, seks masih merupakan aktivitas yang sangat sangat privat. Ajaran agama, budaya, dan kebiasaan kita sejak kecil mengajarkan kita untuk tidak menunjukkan isyarat –sekecil apa pun—terkait dengan seks di area umum. Melakukan upaya-upaya yang bisa dianggap “memperbaiki” kinerja seks seperti senam body language, termasuk “memberi” isyarat itu tadi. Karena itu, saat bagian ini, banyak peserta yang celingak-celinguk menahan malu.

Senam di pelataran pasar swalayan seperti ini tentulah bukan agenda cuma-cuma. Meski gratis, bahkan ada door prize sederhana, namun sebenarnya ini bukanlah aktivitas tanpa maksud. Dengan menggelar senam yang diikuti lebih dari 250-an orang ini, Giant membuka peluang yang lebih besar untuk menjaring konsumen sepagi mungkin. Terbukti, tiap usai senam, tak semuanya langsung pulang. Banyak yang melanjutkan agenda senamnya dengan jogging. Jogging di antara rak-rak dagangan Giant. (Achmad Supardi)

Banyak berkahnya menjadi pengguna setia angkot dan anarkot (angkutan antar kota). Pertama, saya bisa melatih kepekaan agar suatu ketika nanti siap menggantikan Dhani Dewa sebagai juri The X Factor Indonesia. Atau mungkin malah menggantikan Simon Cowel yang lidahnya pedas itu. Hampir tiap minggu saya mendengarkan beragam karakter vocal dan aneka genre lagu. Sebagian membuat saya nyaris tertidur, yang lain membuat saya terbangun dari tidur. Tapi, bukan berkah ini yang ingin saya ceritakan lebih panjang.

Sebagai pengguna angkot dan anarkot, saya juga mendapat berkah kedua: menjadi pengamat gaya rambut. Duduk diam selama beberapa menit hingga beberapa jam, tentu bosan kalau tidak diimbangi dengan aktivitas. Cukup sering saya memeriksa UTS atau tugas mahasiswa, kadang membaca novel, memperhatikan pernik kehidupan di pinggir jalan, namun belakangan saya punya kesenangan baru: memperhatikan potongan rambut para penumpang. Supaya terkesan ilmiah, objek observasi saya haruslah spesifik: Laki-laki, rentang usia remaja hingga dewasa awal.

Hah, laki-laki?

Ya iyalah, kalau saya memperhatikan perempuan, jangan-jangan bisa kena gampar. Atau, kalau penumpang perempuan itu berjilbab, bagaimana saya bisa menduga potongan rambutnya? Jadi, para perempuan, berjilbablah, hehehehe.

Kenapa remaja hingga dewasa awal? Karena anak-anak maupun orang tua biasanya memiliki potongan rambut yang biasa-biasa saja. Kurang menarik untuk dianalisis.

Model rambut ternyata banyak sekali. Begitu beragam! (hellooooo, selama ini kemana saja? Hehehe)

Ada gaya rambut yang “dikumpulkan” di bagian tengah. Poni ditekuk ke tengah. Rambut bagian atas belakang, juga ditekuk ke tengah. Rambut bagian kiri dan kanan (di atas pelipis), juga ditekuk ke tengah. Hasilnya, bunga mawar mekar di atas kepala. Yang saya bayangkan, sungguh ribet ,mengatur gaya rambut seperti itu.

Ada juga rambut model Mohawk. Seorang saudara saya pernah menyebut rambut ini model “munyuk” alias –maaf—monyet. Tidak terlalalu salah, karena banyak saya temui kera bintang “topeng monyet” memiliki model rambut jenis ini. Bagi saya, rambut model ini juga ruwet. Butuh tenaga dan waktu ekstra untuk menatanya. Bagian poni harus diarahkan ke atas sedikit ke belakang. Lalu, rambut di atas pelipis kiri dan kanan diarahkan ke atas agak ke tengah hingga persis di bagian atas kepala tercipta deretan serupa Bukit Barisan di atas punggung Sumatera. Tanpa bantuan gel, sepertinya susah membuat gaya rambut seperti ini.

Yang juga cukup sering saya temui di Cikarang adalah rambut punk. Modelnya sederhana: mirip gir sepeda. Rabut dikumpulkan di bagian tengah, lalu dibuat sejumlah kerucut menyerupai cone es krim (tapi lebih runcing) mulai dari dahi hingga tengkuk. Sepertinya kelompok ini jarang berkonflik. Sebab kalau sampai bertengkar, bukankah sangat mudah menjambak rambutnya?

Lalu, ada juga model rambut timbangan rusak. Maklum, berat sebelah. Jadi, rambut sebelah kiri dipanjangkan, lalu dengan sekuat tenaga dibelokkan ke kanan hingga menjuntai. Saya miris melihat mata si empunya seperti selalu tertutup tirai. Kini saya tahu mengapa makin banyak kecelakaan sepeda motor belakangan ini. Rupanya si pengendara sibuk menghalau rambut dari depan matanya….

Melihat semua itu, saya bersyukur dengan potongan rambut saya yang tak pernah berubah sejak saya datang ke tukang pangkas rambut atas kemauan sendiri (sebelumnya selalu karena paksaan ayah). Rabut saya selalu pendek dan modelnya itu-itu saja. Cukup arahkan sisir ke belakang, tanpa tambahan gel, bahan pengawet, bahan pewarna atau pemanis buatan, rambut rapi sudah.

Mungkin Anda akan mengatakan saya konservatif. Bisa saja. Atau, Anda bisa juga menuding saya menghambat sektor ekonomi kreatif. Dengan model rambut yang itu-itu saja, saya mematikan kreativitas orang-orang seperti Irwan Rovani Doke, Andy Lie, Arie Hidayat, Bambang Harryono, atau senior mereka Johnny Andrean beserta seniman tata rambut lainnya. Tapi Anda jangan khawatir. Tuhan maha penyayang. DIA tak ingin seniman tata rambut mati kreativitas maupun  rezekinya. Karena itu orang-orang seperti saya –penyuka rambut pendek dengan gaya itu-itu saja—diciptakan dalam jumlah terbatas. Limited Edition. Hahahaha. (Achmad Supardi)

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

Gus Dur (kanan) dan Kardinal Tauran

“Merokok itu enak, terutama bila sedang berada di tempat dingin. Badan jadi hangat,” kata seorang wartawan yang ngepos di Lumajang. Asal tahu saja, wartawan yang bertempat tinggal di daerah yang relatif sejuk itu bukan smoker alias cuman kadang-kadang saja menghisap rokok. Bayangkan betapa sangat nikmatnya merokok bagi orang-orang yang memang tergolong “manusia berasap”.

Merokok tampaknya memang nikmat. Dan tidak hanya itu, merokok dianggap sebagai aktivitas yang sangat mempesona. Bahkan sebagian gadis menyukai pria yang memiliki rokok terselip di antara dua bibirnya. “Rasanya kok, maskulin, gitu,” kata seorang cewek belasan tahun.

Apakah anggapan merokok itu nikmat dan mempesona datang begitu saja? Tidak!

Longok saja iklan-iklan rokok. Bukankah semua citra dan imaji terwakili? Ada rokok yang merupakan selera pemberani, ada pula yang menawarkan citra sebagai lelaki gagah perkasa seperti para koboi Amerika. Ada juga yang menawarkan selera pas kemantapan. Bahkan ada yang mengklaim memberikan kenikmatan sukses. Tapi yang jelas, jangan anggap enteng! Maksudnya, jangan anggap enteng penyakit yang ditimbulkannya! Juga gelombang pajak yang dialirkannya sehingga bisa dibilang semua pemerintah negara di dunia tidak ada yang melarang industri rokok.

Begitulah. Rokok adalah gaya hidup. Gaya hidup yang keberadaannya terus dihidupkan oleh pembentukan citra tertentu. Rokok juga imaji. Imaji yang masih mampu memberi sedikit eksistensi ketika seseorang tak lagi memiliki apapun untuk dibanggakan, untuk ditempelkan.

***

Di sebuah kelas, seorang mahasiswa dipandang oleh puluhan pasang mata. Ada nada tak suka dalam tatapan berpuluh pasang mata itu. Sebenarnya si mahasiswa yang sedang disorot itu hanya mengajukan argumen, pandangan, juga isi tulisan yang mungkin baru dibacanya yang kebetulan tidak sejalan dengan keterangan dosen yang beberapa menit sebelumnya diberikan. Tapi mahasiswa kritis itu dipandang dengan kemarahan. Berpuluh pasang mata itu menganggap sang mahasiswa yang tengah mengajukan argumen-argumennya sebagai perampok. Ya! Perampok yang mengambil kesempatan berpuluh mahasiswa lainnya –yang kebetulan “manis-manis”– untuk mendengarkan keterangan dosen. Bagi mereka keterangan dosen pasti lebih berharga dan pasti “lebih benar” dibanding keterangan mahasiswa.

Bila ditanya mengapa sang mahasiswa kritis itu dipandang sebagai “perampok”, jawabannya sederhana saja: citra.

Citra bahwa dosen “serba tahu” masih melekat kuat. Citra bahwa omongan dosen sangat layak dicatat masih tertanam dalam. Citra bahwa keterangan dosen jauh lebih berharga daripada argumentasi mahasiswa –yang paling cerdas sekalipun– masih mengendap kukuh di banyak otak mahasiswa sendiri. Padahal sudah banyak dosen yang dengan legawa membiarkan mahasiswa menjadi “dosen-dosen kecil” karena sadar anak didiknya punya banyak waktu dan biaya untuk ngenet, untuk baca Newsweek dan Time edisi terbaru, bahkan untuk berlangganan jurnal-jurnal mahal seperti Foreign Affairs atau Third World Quarterly. Sedang mereka masih berkutat dengan buku-buku terbitan tahun 1980-an, bahkan tahun 1960-an! Sedang mereka untuk membeli satu buku baru harus berpikir dulu seribu kali.

Mengapa ketika mahasiswa memberi argumentasi –yang kalau ditulis pasti memuat banyak sekali catatan kaki, dan semuanya sangat up dated– itu masih dipandang sebagai “perampok”? Masih dipandang dengan sorot mata tidak senang? Semua soal citra.

***

Di sebuah kuliah tamu yang dihadiri Menlu –saat itu– Alwi Shihab –yang dia kesel banget karena semua tindakan Gus Dur seakan tak pernah cocok dan selalu digoyang rumor– seorang mahasiswa membalas, “Bisa jadi Gus Dur memang sering digoyang rumor. Tapi masalahnya, apa bukan Gus Dur sendiri pabrik rumor terbesar di Indonesia?”

Pabrik rumor. Itu satu citra.

Di sebuah break istighosah, sambil merokok dan makan kacang sejumlah orang memperbincangkan Gus Dur. Ternyata kesimpulannya sangat berbeda. Menurut mereka Gus Dur adalah wali. Wali yang malati (bisa membuat orang yang kurang ajar jadi kualat). Mereka memang orang-orang yang selalu siap menjadikan beragam pendapat Gus Dur sebagai satu hal yang taken for granted. Ketika mereka tidak mampu mengikuti jalan pikiran Gus Dur, enteng saja mereka menyalahkan diri mereka sendiri dengan mengatakan, “Pancen awak-awak iki sik nggak nutut! Isik bodho banget!”
Wali yang malati. Itu juga citra.
***
Sebuah foto demonstrasi mahasiswa di Jakarta tiba ke redaksi malam itu. Fotonya sangat biasa, hanya beberapa belas mahasiswa meneriakkan yel-yel anti Gus Dur. Sejenak sang redaktur kecewa. Foto begini saja dikirim! Tapi sebuah ide kemudian melintas. Dengan cropping (pemotongan) sederhana foto itu akhirnya menjadi “sangat berbicara” karena yang tampak kemudian adalah beberapa kepala dengan wajah-wajah sangar penuh kebencian.

Gus Dur yang sangat dibenci, itu citra yang muncul dari foto tersebut. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa.
Di ketika yang lain, wartawan sebuah kantor berita luar negeri terlambat datang ke lokasi. Daripada kena semprot redaktur, dipinjamlah catatan wartawan media lokal dan itu yang ia kirim ke kantor pusatnya. Isi beritanya, Ambon berdarah. Sang redaktur, seperti biasanya me-rewrite berita itu. Hasilnya: Ambon berdarah-darah.

Ambon berdarah-darah adalah citra. Soal proses yang membuat citra itu muncul, boleh saja diberi label rekayasa. Dan citra yang merupakan rekayasa, tak terhitung banyaknya.
***
Di sebuah iklan, seorang mertua yang mau membesuk tetangganya hendak membeli jeruk mandarin sebagai oleh-oleh. Tentu itu karena citra jeruk mandarin sebagai produk impor pastilah lebih oke, lebih bergizi dan lebih bergengsi. Tapi sang menantu yang sadar mertuanya hanya termakan oleh citra, segera bersuara, “Beli jeruk Pontianak saja, Bu. Gizinya sama, lebih murah lagi!” (*)

*artikel ini dimuat ketika Gus Dur masih sugeng dan –kalau tak lupa– sedang menjadi Presiden RI

Picture was retrieved from gusdur.net on 20 January 2013.

“Dupanya sudah?” seorang tetua kampung bertanya pada tuan rumah. Begitu dijawab “sudah”, segera salawat berkumandang. Di tengah-tengah prosesi itu, tuan rumah mendatangi satu per satu peserta dan memberikan uang. Besarnya beragam, mulai Rp 500 hingga Rp 5.000. Saat ini bahkan ada yang membagikan Rp 10.000. Salawat itu pendek saja, bisa jadi kurang dari 7 menit. Dan begitu diakhiri, segera anak-anak dan remaja berebut buah yang tersaji di tengah-tengah musala.

Begitulah tradisi maulid nabi Muhammad SAW di sebagian desa-desa di Madura. Warga memulai ritual ini dari masjid kampung, kemudian dilanjutkan ke rumah-rumah warga dengan tahapan yang relatif sama: baca salawat, diberi uang oleh tuan rumah, lalu rebutan buah. Di sejumlah tempat, buah-buah ini ditata di atas ancak, tempat buah tradisional dari pelepah pisang yang dibentuk segi empat, lalu diberi bilah bambu tipis (seperti tusukan sate kambing) yang dianyam sebagai dasarnya. Ritual maulid (warga lokal menyebutnya mulod atau muloden) ini berlangsung pada malam tanggal 12 Rabiul Awal berdasar kalender Hijriah.

Biasanya, acara mulod ini tidak selesai dalam satu malam karena banyaknya somah (rumah tangga) yang ikut serta. Karena itu, sebagian melanjutkannya di pagi hingga siang harinya. Di beberapa desa, acara difokuskan pada pagi hari, karena itu bisa berlangsung hingga sore. Selain ritual mulod dengan salawatan, ater-ater (saling mengirim makanan antar-tetangga dan kerabat) seperti saat Idul Fitri dan Idul Adha juga dilakukan. Lagi-lagi ada sedikit angpao untuk anak-anak kecil yang menjadi “kurir” ater-ater itu.

Ater-ater juga dilakukan dalam penyediaan buah untuk mulod. Masing-masing keluarga membagikan buah dalam ancak untuk para tetangganya. Karena itu, buah yang ada di musala tiap keluarga selalu bervariasi jenis maupun kualitasnya. Namun seiring keinginan manusia untuk mencari yang lebih praktis, praktek tukar menukar sajian buah ini mulai luntur. Masing-masing keluarga merasa lebih enak dengan menyediakan sendiri seluruh kebutuhan buahnya. Dengan begitu, mungkin, mereka bisa jor-joran menyediakan buah-buahan mahal. Maulid nabi yang sejatinya untuk mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, bergeser menjadi ajang pamer.

Memang, ritual mulod ini tidak tunggal. Ada banyak variannya, tergantung desa, struktur sosial, dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakannya. Misalnya, di desa-desa yang terdapat banyak pondok pesantren atau dianggap “alim”, bacaan salawatnya panjang-panjang, sedang di desa “biasa”, bacaan salawat hanyalah pengantar bagi “ritual” yang lebih penting: mencari angpao dan rebutan buah.

Di sebagian tempat, rebutan dianggap “tidak sedap dipandang.” Untuk menghindari rebutan ini, ada takmir masjid yang membagi kue dan buah secara merata, dibungkus, lalu dibagikan sehingga tiap orang mendapat jumlah dan jenis buah dan kue yang sama.

Selain itu, varian yang lain adalah banyak kiai atau bindereh –anak kiai—yang mendapat job menjadi pemimpin ritual mulod di desa-desa “abangan” ini. Varian yang lain, angpao tidak selalu dibagi. Di beberapa desa, angpao diberikan dalam bentuk uang receh yang dilemparkan dan diperebutkan peserta di tengah-tengah halaman. Mereka menyebutnya horebot.

Begitulah, di banyak desa di Madura, mulod lebih merupakan sebuah festival.

Dulu, ritual maulid hanya dirayakan pada malam dan pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal. Tapi seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi masyarakat, mulai banyak warga yang menyimpangkan jadwalnya dari arus utama ini. Biasanya, mereka merayakan maulid pada tanggal-tanggal lain di bulan itu. Tentu saja perayaan maulid “partikelir” ini lebih mewah. Bukan hanya buah yang tersaji, namun juga ada hidangan berat dan berkat (makanan yang dibawa pulang). Selain, tentu saja, angpaonya lebih besar. Sejumlah keluarga kaya bisa memberi angpao hingga lebih dari Rp 10.000 per orang. Padahal, yang diundang bisa warga tiga desa (bukan tiga dusun!).

Dengan kondisi seperti itu, ritual mulod bukan hanya sehari atau dua hari. Ritual ini bisa bertahan hingga sebulan karena banyaknya warga yang melakukannya secara “partikelir.”

Karena merupakan satu “festival”, tak jarang suasana snob sering muncul. Perilaku jor-joran pun tak terelakkan. Masing-masing keluarga bersaing menyajikan ritual mulod yang paling mewah. Kadang sampai harus ngutang.

Selain jor-joran, ekses negatif lainnya adalah adanya perasaan “wajib” merayakan mulod. Bahkan, sebagian sampai pada tahap ngrasani atau menggunjingkan warga yang tidak merayakannya. Akibatnya, sekali lagi, maulid nabi yang mestinya menjadi ajang meneladani perilaku nabi, jatuh menjadi ajang pamer diri. (*)

Oleh: Achmad Supardi

Membaca berita tentang lomba kepramukaan yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Universitas Airlangga, Minggu (26/8), saya jadi teringat masa-masa menjadi aktivis Pramuka dulu. Saat itu, pertengahan 1990-an, Pramuka belum semarginal sekarang. Namun, tanda-tanda menjadi kelompok minoritas yang segera kehilangan peminat, sudah begitu nyata terlihat.

Makin tahun, saat SMA saya menggelar pekan ekstrakurikuler (ekskul), stan Pramuka makin sedikit mendapat pengunjung. Beragam atraksi ditampilkan, termasuk membuat menara dari bambu yang menjadi bangunan tertinggi di sekolah saat itu. Kami membuatnya begitu cepat, hasilnya juga bagus. Kami menggunakan menara bambu itu untuk menggelar atraksi prusik dan katrol. Ya, menara bambu itu kuat, meski bahannya hanya bambu dan tali Pramuka yang putih itu. Jangan tanya saya bagaimana cara membuatnya kini. Saya sudah lupa!

Dengan atraksi seru seperti itu, Pramuka hanya bisa menggaet belasan calon anggota baru. Saat pra-orientasi, sebagian berguguran. Memasuki orientasi, tinggal 4 orang yang bertahan. Tahun itu, 4 orang itu sajalah yang menjadi kader kami. It was too great to be true. However, It was!

Beruntung, saat itu Pramuka belum benar-benar punah. Meski di sekolah saya, SMAN 19 Surabaya, gugus depannya tak juga beranjak dari gugus depan persiapan karena selalu minim anggota, namun di banyak sekolah lain, Pramuka masih ada. Paling tidak, dari segi anggota, masih banyak sekolah-sekolah lain yang memiliki Pramuka dengan banyak anggota. Saya belum benar-benar menjadi minoritas saat itu.

Malah, saya merasa seperti kader sebuah partai yang harus terus menerus berdakwah agar makin banyak orang –tepatnya siswa—yang “sadar Pramuka.” Saat itu –hingga kini juga—saya yakin Pramuka memberi banyak pelajaran berguna. Istilahnya, maslahat-nya jauh lebih banyak daripada mudharat-nya.

Lihat saja materi yang ditawarkan Pramuka. Secara garis besar, Pramuka menggabungkan 2 kelompok materi besar, yaitu materi seputar kesehatan (yang biasanya dipegang oleh Palang Merah Remaja atau PMR) dan materi-materi SAR, lingkungan, serta petualangan yang menjadi imej kuat ekskul Pencinta Alam (PA)
Mulai P3K, memasang perban dan penyangga tulang patah, hingga bagaimana menangani korban tenggelam, Pramuka mengajarkan. Keterampilan ekstrem seperti prusik, katrol, dan rappelling yang banyak berguna dalam pendakian, panjat tebing dan penyelamatan, ada materinya di Pramuka.

Kalau mau menuruti isi SKU dan SKK –kalau tak salah kepanjangannya “syarat kecakapan umum”dan “yarat kecakapan khusus”(tuh, kan, saya lupa!)—niscaya tiap anggota Pramuka akan menjadi sosok nyaris sempurna.

Bayangkan, ibadah sesuai tuntunan agama masing-masing, menjadi bagian SKU paling awal. Isi lainnya adalah nilai-nilai kesponan seperti berbakti pada orangtua, menolong sesama, tidak pelit, dan sejenisnya.

Dalam SKK –yang kita dikondisikan untuk memenuhi sebanyak-banyaknya—terdapat banyak keterampilan. Mulai memasak untuk sejumlah orang, keterampilan tali temali, membuat bivak, membedakan tanaman beracun dan tidak, hingga berbicara di depan umum, semua ada. Makin banyak keterampilan yang kita kuasai, makin banyak pin yang kita dapat. Soal pin ini, mungkin aktivis Pramuka hanya tersaingi oleh para Rotarian, hehehehehe. Makin banyak pin yang didapat, makin cepat pula naik tingkat. Asal tahu saja, Pramuka memang mengenal level. Ada Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega. Di masing-masing level itu, ada 3 tingkatan. Maaf, jangan tanya saya nama-nama tingkatan itu, saya lupa. Teman saya yang mantan anggota Prmauka, juga lupa.
Selain materi, Pramuka juga oke sekali dalam rancang bangun organisasi dan konsep-konsepnya. Sepertinya hanya Pramuka, ekskul yang memiliki banyak norma dan konsep dasar. Sebut saja “sistem among” dan “satuan terpisah”.

Dalam sistem among, semua anggota Pramuka adalah keluarga. Karena itu pembina dipanggil dengan sebutan “Kak”. Masing-masing anggota keluarga menjalankan fungsinya sesuai tingkatan. Yang memiliki level lebih tinggi mengajari dan mendidik adik-adiknya.

Meski begitu, norma ketimuran tetap berlaku. Sejak kecil, sejak level Siaga (biasanya kelas 1-3 SD) anggota Pramuka sudah dibiasakan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Dalam perkemahan, tenda mereka terpisah secara tegas. Laki-laki dan perempuan hanya berkumpul dalam acara-acara umum, seperti penjelajahan dan api unggun. Inilah yang disebut “satuan terpisah”.

Sama seperti sekolah, Pramuka juga memiliki “penjurusan”. Kalau gugus depan kita sebut sebagai “sekolah”, maka “penjurusannya” ada pada satuan karya (saka). Ada Saka Bahari (kelautan), Saka Dirgantara (udara), Saka Bhayangkara (kepolisian), Saka Taruna Bumi (pertanian), Wanabakti (Kehutanan), Bhakti Husada (kesehatan), bahkan Saka Kencana (keluarga berencana alias KB).

Adakah ekskul lain yang sekomplet ini? Dalam pemahaman saya yang terbatas, saya belum menemukannya.

Dengan keyakinan bahwa Pramuka memberi banyak manfaat, saya rela bersepeda untuk menjadi pembina Siaga di sebuah SD di kawasan Surabaya Utara. Honornya paling hanya bisa untuk membeli beberapa mangkuk bakso. Namun saya suka menjalaninya karena merasa “berbagi kebaikan.”

Dengan keyakinan itu pula, saya tidak terlalu malu berdesakan dalam bemo dengan balutan seragam Pramuka lengkap. Selalu saja ada yang memandang aneh. Selalu saja ada yang menatap dengan senyum tertahan. Kadang ada pula yang nyeletuk nakal. Namun bagi saya, saat itu, mereka hanyalah orang-orang yang belum “sadar Pramuka.”
Kini, jangan minta saya untuk berdesakan dalam bemo dengan seragam Pramuka lengkap. Sepertinya saya tak sepede dulu lagi. Meski beberapa waktu lalu Hari Pramuka diperingati, bahkan Wagub Soenarjo dalam balutan seragam Pramuka nampang di beragam iklan, namun sejatinya Pramuka di ambang kepunahan. Meski saya belum pernah mendengar bahwa presiden tak lagi sebagai Pramuka tertinggi (di Indonesia), namun saya tak pernah melihat Gus Dur, saat jadi presiden, dibalut seragam Pramuka. Tidak pula Susilo Bambang Yudhoyono.

Saya kira, yang tersisa dalam Pramuka Indonesia tinggal seragamnya saja yang coklat muda dan coklat tua. Di dunia internasional, Pramuka memang masih cukup eksis. Tidak gemebyar memang, namun aneka scout association di banyak negara masih hidup. Namun di Indonesia, perubahan budaya menggerus begitu cepat. Hasrat pemerintah untuk memanfaatkan Pramuka terlalu kuat. Mana ada di belahan dunia yang lain Pramuka terbagi dalam struktur yang sama persis dengan birokrasi negara? Hanya di Indonesia sajalah Pramuka memiliki kwartir ranting (kecamatan), kwartir cabang (kabupaten/kota), kwartir daerah (propinsi), dan kwartir nasional (kwarnas). Pemimpinnya bukan orang sembarangan, karena biasanya dipegang oleh wakil walikota, wakil gubernur, dan wakil presiden.

Kooptasi negara terhadap Pramuka terlihat pula dalam munculnya sejumlah Saka. Untuk apa muncul Saka Kencana kalau bukan untuk mensukseskan program pemerintah yang saat itu menggebu menggalakkan KB? Pramuka terbonsai dalam kerangka orang lain.
Kini, Pramuka (ekskul super komplet itu) memasuki masa-masa tidak laku.

Sekali lagi, yang tersisa dari Pramuka hanya seragamnya yang coklat muda dan coklat tua. Karena itu, sudah waktunya kita secara tegas mengatakan, tak perlu lagi ada seragam Pramuka, hingga orangtua siswa tidak ketambahan biaya. Tak perlu lagi ada Pramuka, hingga anggaran dari pemerintah tak selalu dikucurkan tanpa kita tahu bermuara ke mana. Tak perlu ada Pramuka, kecuali kita mau menghidupkannya secara sungguh-sungguh, jujur, dan bukan sekadar memanfaatkannya.
(*)

Image

Barbie bisa dibilang produk fenomenal. Diperkenalkan pada tahun 1959, Barbie terus bertahan hingga 54 tahun berikutnya. Mungkin kata “bertahan” kurang tepat karena pada kenyataannya Barbie malah makin kuat. Bukan hanya sebagai produk (dalam arti toy atau mainan), namun juga sebagai simbol yang menginspirasi dan mempengaruhi hidup cukup banyak orang.

Apakah saya terlalu melebih-lebihkan Barbie?

Mungkin.

Tapi yang jelas, tidak banyak (atau mungkin tidak ada?) boneka yang memicu perdebatan hingga tingkat filosofis seperti Barbie. Sedangkal pengetahuan yang saya punya, baru Barbie-lah produk boneka yang memicu perdebatan tentang tubuh wanita dan representasinya. Termasuk, memicu perdebatan apakah Barbie mengusung supremasi kulit putih?

Dengan kontroversi seperti itu, mengapa Barbie bisa bertahan lebih dari setengah abad?

Justru inilah kuncinya. Kontroversi, sebagaimana kita tahu, adalah salah satu mesin yang menggerakkan popularitas. Sementara, popularitas adalah nyawa bagi kelanggengan sebuah produk. Bila sebuah produk tak lagi populer, ia akan segera kukut, gulung tikar, buyar. Dulu kita mengenal J-Pop. Lagu-lagu pop Jepang, ditopang juga oleh dandanan Harajuku yang dominan tabrak corak dan warna-warna ngejreng. Kini, popularitasnya sudah berakhir dan digantikan K-Pop. Lagu-lagu pop Korea booming, ikut mengangkat pula popularitas produk Korea Selatan lainnya seperti sinetron, gaya busana, bahkan makanan.

Karena popularitas sangat penting bagi kelangsungan suatu produk, ia harus terus dijaga. Salah satu cara meraih (juga mempertahankan) popularitas adalah dengan memanfaatkan adanya kontroversi. Maklum, kontroversi berfungsi sebagai magnet yang menyedot perhatian khalayak. Masih ingat berita bahwa Dewi Persik melakukan operasi keperawanan? Buat apa Depe operasi memasang kembali selaput dara sementara seluruh warga Indonesia sudah tahu bahwa dia adalah janda Saipul Jamil? Belakangan Depe mengakui bahwa berita itu memang sengaja dihembuskan untuk mendongkrak film yang dibintanginya waktu itu, Pacar Hantu Perawan. Atau, mungkin Anda masih ingat tersebar luasnya adegan mandi Rahma Azhari di internet? Ternyata, klip itu pun hanya upaya produser film K.K. Dheeraj untuk mendongkrak popularitas film buatannya, Rayuan Arwah Penasaran yang dibintangi Rahma dan Leah Yuzuki, bintang porno asal negara sakura (baca: http://celebrity.okezone.com/read/2012/06/12/206/646129/kk-dheeraj-dari-bintang-porno-sampai-mr-bean-palsu).

Kembali ke boneka Barbie. Boneka yang diberi pasangan –sesama boneka— bernama Ken ini memang memicu kontroversi, namun tidak sedangkal kontroversi seputar film-film buatan K.K. Dheeraj. Kontroversi tentang Barbie lebih bersifat filosofis, bagaimana manusia memandang tubuh wanita? Apakah kecantikan memang dominasi suatu warna kulit (bahkan ras) tertentu?

Kontroversi itu membuat Barbie menerima makin banyak perhatian. Dan bagusnya, Mattel Inc. sebagai produsen boneka tersebut menyikapinya dengan cerdas. Ketika Barbie dituding sebagai representasi superioritas kulit putih, misalnya, Mattel Inc. menjawabnya dengan memproduksi Barbie edisi kulit hitam. Ini jelas keputusan cerdas. Secara politik membantu Mattel Inc. menghindari tudingan miring, dan di saat yang sama membuat perusahaan tersebut melakukan diversifikasi produk. Keberadaan Barbie edisi kulit hitam membuat varian Barbie makin luas dan kesempatannya makin terbuka untuk menangguk pasar yang lebih lebar.

Tentu menjawab tudingan (bisa dibaca: tantangan) tidaklah mudah. Perlu kejelian dan mau belajar dari kesalahan. Mattel Inc. membuat boneka kulit hitam sejak 1967 (“Colored Francie) dan beberapa tahun kemudian membuat tokoh Christie, teman Barbie, yang juga berkulit hitam. Namun, baru pada 1980-lah Mattel Inc. membuat Barbie kulit hitam (bukan teman atau kerabat) Barbie. Apakah persoalan selesai dan Mattel Inc. mendapat banyak sanjungan?

Tidak.

Para kritikus menyebut boneka kulit hitam ini hanya kulitnya saja yang hitam, namun proporsi tubuhnya masih lebih menyerupai tubuh wanita kulit putih (ras Kaukasia). Belajar dari kesalahan ini, Mattel Inc. pun pada 2009 meluncurkan Barbie kulit hitam yang “lebih dekat” dengan kondisi wanita kulit hitam pada umumnya: hidung lebih lebar, bibir lebih tebal, rambut ikal atau keriting, dengan gradasi kehitaman kulit yang berbeda-beda (karena yang dimaksud “kulit hitam” pun beragam, dari yang sangat hitam hingga agak hitam). Suplemen fesyen Majalah Vogue Italia pun memasang Barbie edisi kulit hitam ini sebagai sampulnya, menggantikan model manusia seperti edisi-edisi sebelumnya (baca http://www2.macleans.ca/2009/08/13/there%E2%80%99s-a-new-black-barbie-in-town/).

Ini adalah konsekuensi dari pergeseran cara memandang Boneka Barbie. Boneka ini awalnya adalah produk yang murni goods (barang, bisa dipakai) namun bergeser menjadi mirip symbolic goods (produk yang dibeli bukan karena bisa dimakan atau dipakai, tapi karena memberi nilai, menambah ilmu, dll).

Namun, bila Barbie memang sudah bergeser dari goods menjadi agak-agak symbolic goods, mengapa Mattel Inc. tidak membuat varian-varian lainnya seperti Barbie edisi Asia atau Barbie edisi Muslim? Nah, di sinilah pentingnya kita mengetahui batas. Kapan harus ekspansi, kapan harus menahan diri. Bila Mattel Inc. membuat begitu banyak varian Barbie, apalagi varian-varian yang rentan mengundang interpretasi beragam seperti “edisi Muslim”, bisa jadi saat itu kontroversi tak lagi menjadi pendorong popularitas, namun menjadi api yang menghanguskan keseluruhan bangunan reputasi. Bagaimana pun, cara Islam memuliakan dan melindungi wanita masih sering ditafsirkan secara salah oleh banyak pihak. Tata cara berpakaian bagi wanita menurut Islam (menurutp seluruh tubuh kucuali muka dan mengenakan pakaian yang tak memperlihatkan lekuk liku tubuh) dianggap mereka sebagai bentuk tekanan kepada wanita (baca: http://latimesblogs.latimes.com/babylonbeyond/2009/12/arab-world-burka-barbie-iconic-doll-gets-an-islamic-makeover-for-50th-anniversary.html). Membuat boneka dengan fitur seperti ini bisa jadi memantik api yang terlalu besar bagi Mattel Inc., dan karena itu pilihan tersebut tak diambil. Mattel Inc. lebih berkonsentrasi memperluas representasi Barbie ke arah yang tak terlalu kontroversial, seperti ke arah profesi. Barbie tak lagi hanya direpresentasikan sebagai remaja perempuan gaul, namun juga diciptakanlah Barbie dalam representasi profesi: dari dokter hingga astronot.

Di luar cara Mattel Inc. menjawab kontroversi, sebenarnya prestasi terbesar mereka adalah ketika mereka terpikir untuk membuat boneka tentang sosok wanita. Inilah prestasi terbesar. Sebab, boneka sosok wanita adalah produk yang memiliki segudang varian dan produk ikutan. Karena Barbie adalah boneka wanita, maka Mattel Inc. bisa menciptakan produk ikutan seperti tempat tidur, aneka macam sepatu, aneka rupa bentuk pakaian, asesoris, meja rias, dll (Achmad Supardi).

Picture taken on 3 January 2013 from www2.macleans.ca