Minggu pagi setelah hujan rintik semalaman. Segar. Matahari juga tidak terlalu garang. Kukayuh sepeda ke Graha Asri. Mampir beli gudeg Jogja “rasa Cikarang” agar perut berhenti protes. Beberapa menit kemudian sudah kutempati pojokan favoritku: sebuah dangau di depan SD Rabbaani yang menghadap ke sederet sempit sawah. Pesawahan itu dipagari perumahan dan pabrik, juga lahan luas yang sedang diurug. Ya, diuruq buat apalagi kalau bukan pabrik-pabrik baru. Ada sedih menyelinap kala menyadari bahwa sekotak kecil surge hijau ini pun akan segera menemui ajalnya, berubah menjadi perumahan dan pabrik kesekian.

“Tanah pesawahan ini juga sudah punya pengembang. Tinggal tunggu giliran saja untuk dibangun,” kata seorang petani yang duduk bersamaku di dangau itu. Ah bukan, dia bukan petani. Lelaki berputra dua itu adalah mantan petani yang terpaksa menjual 3 petak kecil sawahnya tahun 1994 lalu.

“Saya hanya punya sawah sempit, sulit untuk menolak tawaran untuk menjualnya. Apalagi petugas (pejabat desa, Pen.) selalu meng-ojok-ojoki kami agar menjual sawah kami ke pengembang. Bukannya menyadarkan kami agar mempertahankan tanah itu karena nantinya harganya akan mahal, mereka malah terus mendesak kami agar menjual tanah kami. Harganya waktu itu hanya Rp 10.000 per meter persegi,” katanya, mengingat sebuah keputusan yang sepertinya ia sesali. Kini, tanah di perumahan bekas sawahnya itu sudah dihargai Rp 500-750 ribu per meter persegi. Sebuah angka yang membuat penyesalan lelaki di depanku makin mengental saja.

Lelaki, yang terlupa kutanya namanya, kini merenungi nasibnya.  “Saya sempat jadi tukang ojek. Tapi tahun segitu, perumahan masih sepi, jalan bergelombang dan berbatu. Narik seminggu saja sudah turun berok. Perut sakit, tak enak makan,” katanya.

Tiga tahun lalu, ketika SD Rabbaani belum banyak dikenal, dia diterima menjadi satpam di situ. Bukan pekerjaan ideal, bukan pula posisi yang menjanjikan pemasukan lumayan. Namun, ini diterimanya sebagai berkah. “Sekarang, untuk jadi satpam saja harus SMA. Lha saya sendiri cuma lulusan SD. Saya diterima karena waktu itu sekolah ini masih baru, masih butuh pegawai,” katanya. Syukur dan galau bercampur dalam nada suaranya.

Di antara padi yang mulai menguning bulirnya dan burung berbulu putih-hitam yang mencuri-curi kesempatan, dia menghela napasnya. “Di sekeliling rumah saya sekarang adalah pabrik-pabrik. Di situ (tangannya menunjuk bekas pesawahan yang sekarang sedang diuruk) katanya akan dibangun 30 pabrik. Saya bingung memikirkan nasib saya sendiri. Pabrik-pabrik dibangun, orang-orang berdatangan dari banyak daerah, tapi saya hanya bisa menonton saja. Ikut kerja di sana (calon pabrik-pabrik baru, Pen.) belum tentu diterima. Saya terkendala usia dan ijazah,” ujarnya.

Matanya kembali menatap pesawahan sempit di depan kami. Pesawahan yang, bisa jadi, akan lenyap musim kemarau ini. (Achmad Supardi)

Advertisements

Dalam hidup, tentu kita kenal dengan banyak orang. Sekuper-kupernya kita, segalak-galaknya kita, atau setengil dan sebrengsek apa pun kita, pasti ada sejumlah orang yang berhubungan dengan kita. Bisa jadi di antara mereka adalah guru yang tak kuasa menolak ketika kita didaftarkan orangtua ke sekolah tempat dia mengajar. Meski kita nakal dan meresahkan, toh sang guru terpaksa menerima kita.

Sebagian orang itu bisa jadi mertua yang tak kuasa berkata tidak ketika anaknya bersikeras mau menikah dengan kita. Mungkin juga tetangga yang getun (menyesal) setengah mati mengapa tetangga yang lama, yang begitu baik dan perhatian, menjual rumahnya kepada kita. Sebagian orang itu mungkin juga rekan kerja yang selalu bertanya, “Kok bisa-bisanya nih orang tersesat ke sini?”

Saya, tentu saja juga punya banyak kenalan. Banyak orang yang mampir maupun ‘menetap’ dalam kehidupan saya. Ada beberapa yang menempati posisi khusus karena beragam sebab. Kali ini saya akan bercerita tentang kawan yang menjadi khusus, salah satunya, karena pola komunikasinya. Sepertinya, saya dan dia memiliki pola komunikasi yang berbeda. Mungkin perbedaannya diametral.

Dunia memang tidak dikotomis. Tapi demi kemudahan, saya akan memotret diri saya dan kawan saya itu secara dikotomis. Saya adalah orang yang “ngeblong”, teman saya itu “ngerem” banget. Orang yang tergolong ngeblong bukan berarti mereka bicara tanpa henti. Namun, tak terlalu banyak rambu yang mereka perhatikan ketika berkomunikasi. Apakah mereka cenderung tidak beretika, atau bahkan melanggar hukum?

Kalau kata mahasiswa saya, “Bukan begitu juga kaleeee….”

Rambu yang dimaksud di sini adalah identitas diri. Sebagian orang enjoy saja mengkomunikasikan hal-hal yang berkait dengan dirinya: keluarganya, harapannya, standarnya, masa lalunya, termasuk kejadian seru dan sarunya. Bagi mereka, sisi-sisi kehidupannya adalah pelajaran bagi mereka sekaligus bagi orang lain. Menjadi terbuka, bagi orang-orang ini, adalah sebentuk sikap berbagi. Learn something positive and avoid the negative ones. Saya, sepertinya, cenderung ke tipe ini.

Kawan saya yang saya ceritakan kali ini, cenderung “ngerem”. Pola komunikasinya, sepertinya, tampak sangat hati-hati. Dia sering ngerem, membuat laju komunikasinya sedikit tersendat. Tak banyak cerita tentang diri yang akan mengalir dari orang seperti ini. Mereka cenderung menganggap cerita tentang diri sendiri tak layak dibagikan ke orang lain. Kalau cerita itu bagus dan membanggakan, mereka khawatir menceritakannya dianggap sombong atau pamer. Kalau hal itu buruk atau bahkan memalukan, menceritakannya dianggap sebagai memajang aib sendiri.

Saya, kalau saya perhatikan, lebih mirip salak. Begitu kulitnya dibuka, langsung kelihatan daging buahnya. Salak, seperti Anda tahu, hanya punya satu lapisan daging buah. Memang ada selaputnya, tapi tipis dan transparan. Kita tetap bisa melihat daging salak bahkan ketika selaputnya belum kita buang sekali pun. Seperti salak, saya orang yang tak terlalu banyak berahasia tentang diri sendiri. Bila orang bertanya tentang diri saya, saya cenderung menceritakannya. Mungkin tidak seratus persen, namun persentasenya tentu lebih banyak daripada mereka yang saya kategorikan seperti bawang merah.

Anda tahu bawang merah, kan? Coba dibelah, maka Anda akan mendapati banyak sekali lapisan. Setelah kulitnya kita buka, kita akan mendapatkan daging bawang. Namun, daging bawang merah tidaklah satu lapis. Di dalam lapisan terluar, masih ada lapisan lain, dan di dalamnya masih ada lapisan lainnya lagi dan lagi. Kawan saya ini, sepertinya, terkategori bawang merah. Untuk mengenal dia dengan “utuh”, kita harus masuk selapis demi selapis. Dan, tentu saja, kemampuan kita untuk masuk dari satu lapisan ke lapisan berikutnya sangat tergantung dari kesediaan dia untuk membuka diri. Anda sendiri punya teman baik dari golongan salak maupun bawang merah, bukan?

 

Masih punya energi untuk melanjutkan? Kalau iya, yuk dilanjut….

Si Detil dan Si Sekadar

Yang juga menarik adalah mengamati pola komunikasi tertulis seseorang. Komunikasi tertulis menarik diperhatikan karena dia berbeda dari komunikasi oral/lisan. Dalam komunikasi lisan, penanda emosi lebih banyak disertakan dan lebih mudah diidentifikasi. Misalnya, intonasi dan kecepatan dalam berbicara.

Ketika kawan kita menelepon dan suaranya gugup, kita bisa langsung mengklarifikasi, “Kamu takut?”

Kalau dia hening atau jeda dalam waktu agak lama, kita bisa bertanya, “Ada apa? Kamu tidak suka membicarakan tema ini, ya?”

Sebaliknya, dalam komunikasi tertulis, penanda emosi ini lebih sukar dilekatkan. Akibatnya, lawan komunikasi kita (pihak yang membaca tulisan kita) lebih sukar dalam menebak dalam suasana emosi seperti apa kita saat melakukan komunikasi tertulis tersebut. Karena itu, kita cukup sering melihat status Facebook yang memancing salah paham. Dua kawan bisa berselisih, atau bahkan marahan, karena si penulis status dan kawannya yang membaca status itu memiliki pemahaman yang berbeda atas status tersebut.

Karena itu, manusia yang merupakan makhluk paling cerdas ini, terus berinovasi. Termasuk, menciptakan emotikon-emotikon. Kita kemudian mengenal emotikon tersenyum, tertawa lebar, melet (menjulurkan lidah), muram/sedih, memangis, marah, dan lainnya. Tapi, emotikon tetaplah tak bisa menggantikan emosi yang sesungguhnya.

Mengapa?

Karena emotikon sangat kategoris, sementara emosi kita sangat subtle. Emotikon, misalnya, hanya menyediakan emosi “menangis”, namun tidak sampai “menangis gembira”, “menangis sedih”, “menangis patah hati”, “menangis pura-pura” dan sebagainya. Analoginya, emotikon itu adalah warna-warna dasar dan warna populer: biru, kuning, merah, hijau daun, hitam, putih, dan coklat. Sementara, emosi itu adalah koleksi warna yang tak terbatas, yang gradasinya sangat halus. Andaikan emosi kita ibaratkan sebagai warna, maka koleksi warna emosi termasuk “merah muda agak pucat tapi tak sampai terlalu putih” atau “hijau daun yang tak terlalu pekat namun juga nggak seterang hijaunya daun pisang yang masih muda” atau “jingga, tepatnya jingga mirip jingganya kunyit, tapi dengan gradasi air seperti permukaan wortel impor”. Sangat variatif.

Hilangnya (atau sangat kurangnya) penanda emosi ini menjadikan komunikasi tertulis memerlukan perlakuan khusus. Kita kadang bisa tersinggung gara-gara reply teman kita yang sangat pendek. Kita kadang mengumpat dalam hati, “Busyet dah, pertanyaan gua sepanjang itu dia jawab sependek gini? Nggak care banget.”

Gimana? Sudah bosan? Kalau belum bosan, yuk dilanjut….

Nah, di sini saya melihat ada dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah mereka yang dalam komunikasi tertulisnya cenderung detil, kelompok kedua komunikasi tertulisnya cenderung sekadarnya.

Kelompok pertama (detil) biasanya ditandai dengan kalimat yang rinci. Kalau dia bertanya, dia merinci pertanyaannya. Kadang, dia membubuhkan angka (misalnya, pertanyaan pertama, pertanyaan kedua, dan seterusnya) untuk memudahkan pihak lain untuk menjawabnya. Demikian pula kalau dia menjawab.

Kelompok kedua (sekadarnya) biasanya ditandai dengan kalimat yang singkat, kadang tidak jelas. Mereka hanya menjawab sekadarnya saja, pada poin yang mereka anggap penting untuk dijawab. Kalau bertanya, pertanyaannya juga sekadarnya dan “percaya penuh” bahwa pihak yang ditanya mengerti apa yang ia maksudkan.

Bila orang dari dua kelompok yang berbeda ini berkomunikasi secara tertulis, biasanya akan memakan durasi yang cukup lama. Karena, “si detil” akan bertanya apa yang dimaksud oleh “si sekadar”, dan sekalinya “si sekadar” menjawab, belum tentu juga jawabannya memuaskan hingga “si detil” perlu bertanya ulang. Kalau mereka berkomunikasi secara lisan, “si detil” bisa melakukan klarifikasi secara langsung hingga delay-nya tidak terlalu lama.

Berbicara tentang delay dalam komunikasi, kelompok sekadar cenderung menciptakan delay yang lebih lama. Ini karena mereka biasanya lebih peduli pada “konten” pesan dan terlupa memperhatikan proses.

Maksudnya, kelompok “sekadar” cenderung merespon komunikasi dari pihak lain (misalnya komen di status Facebook, pertanyaan di e-mail, dll) berdasarkan penting atau tidak pentingnya isi pesan. Kalau ia anggap isi e-mail itu penting, akan ia jawab cukup segera. Kalau komen di status Facebook-nya ia anggap cukup penting untuk dikomentari, ia akan komentar. Kalau tidak, e-mail maupun komen itu akan dibiarkan hingga “kering”.

Sebaliknya, kelompok “detil” biasanya memiliki kepekaan yang lebih tinggi. Mereka tidak sekadar melihat pada konten, tapi menyadari bahwa e-mail, komen di Facebook dan lain-lain adalah sebentuk proses komunikasi yang menyiratkan adanya harapan dari pihak kedua untuk ditanggapi. Karena itu, kelompok “detil” biasanya akan merespon, meskipun hanya dengan nge-like, menuliskan kata “setuju” atau sekadar “kwkwkwkwkw”. Bagi mereka, yang terpenting adalah memberi sinyal bahwa keinginan orang lain untuk berkomunikasi sudah mereka tanggapi. Kalau konten pesannya bagus, itu adalah bonus yang membuat “si detil” membalas dengan lebih bergairah lagi.

Dengan apa yang saya ceritakan di atas, mungkin anda akan menebak bahwa saya tergolong ekstrovert. Well, mungkin. Tapi, saya bukan dari sononya ekstrovert. Saya cendrung ekstrovert, atau “tampak seperti ekstrovert”, karena secara sadar saya mengupayakannya.

Hingga kini pun, sebenarnya, saya tidak segera bisa berkenalan dengan orang lain. Kalau saya menjadi penduduk baru suatu kawasan, misalnya karena pindah rumah, saya biasanya sulit untuk memulai perkenalan. Bukan karena sombong, namun karena tidak memiliki kemampuan untuk membuka topik pembicaraan.

Cukup sering juga saya “terjebak” di sebuah angkot di mana sopir dan para penumpangnya lebur dalam sebuah obrolan (biasanya sih seputar urusan tempat tidur). Dalam kondisi demikian, saya cukup sering hanya berbagi senyum. Saya lebih suka jadi pendengar dan pengamat daripada pemain aktif.

Namun, seiring pertambahan usia, saya menyadari perlunya untuk bersikap lebih terbuka. Sebagian menyebutnya “lebih hangat”. Pekerjaan sebagai wartawan membuat sikap ekstrovert menjadi semacam keharusan. Ya… masak iya nara sumber yang harus supel dan membuka percakapan dengan saya? Apa kata dunia? Sekarang, dalam posisi sebagai dosen, sikap yang supel dan terbuka juga menjadi modal yang berguna. Mahasiswa tidak ingin kita sapa hanya di kelas saja, kan?

Karena itu, saya tadinya bukan ekstrovert, lantas secara sadar berupaya ke arah sana, dan sepertinya berhasil.

Teman saya ini, sepertinya cenderung introvert. Ada sisi “rame”-nya, kadang sedikit centil, namun most of the time, dia lebih suka mendengarkan, mengamati, dan meresapi daripada melebur secara suka rela.

Tentu yang satu tidak lebih baik dari yang lain. Masing-masing membuat dunia yang kita tinggali menjadi kaya warna, colorful. (Achmad Supardi)

A: You may learn college-related subjects from me, I will learn how to live my life from you.

B: Don’t be. I have so many weaknesses. You will learn nothing from me

A: Yo don’t need to say that. Even the prophet has some weaknesses. Besides,we learn not only from those without weaknesses.

B: And none of us perfect

A: you got it!

A: Anda boleh belajar ilmu sekolahan pada saya, saya akan belajar ilmu kehidupan kepada Anda

B: Jangan begitulah. Saya sendiri juga masih banyak kekurangan.

A: Anda tak perlu katakan itu. Nabi saja punya kekurangan, apalagi Anda dan saya? Tapi, kita toh belajar tidak hanya dari orang yang sempurna, kan?

B: Dan memang tidak ada orang yang sempurna

A: Nah!

‘We have an agreement,’ he started his story. ‘My wife will quit her job and concentrate on managing the household, especially to raise our kids, once my income is sufficient to assure us afloat decently.’His wife quit her job a few years ago.

No, he has no car. His house is not the one in a greeny lavish cluster. However, he and his wife agreed that they passed their targeted line and his wife quit her job peacefully.

Well, I guess it is not about how many ‘digits’ we earn, but the way we perceive that ‘number’. If you think it is enough, then it really is.

Feature
Surabaya Post (9-6-2006)

‘Orang Jawa Dikenal Rajin dan Taat Ibadah’

Selama sepekan ini, Deputi Menteri Pariwisata Malaysia, Dato’ Ahmad Zahid Hamidi sibuk mempromosikan Malaysia Great Sale ke sejumlah kota di Indonesia. Tapi siapa sangka bahwa ia ternyata keturunan Jawa, dan masih bisa berbicara dalam Bahasa Jawa pula? Bagaimana ia bisa sampai ke Malaysia dan menjadi pejabat tinggi di negeri itu? Berikut ceritanya dalam gaya bertutur.

Oleh: Achmad Supardi – F.A. Aziz

Keluarga saya yang pertama datang ke Malaysia adalah kakek saya, almarhum Raden H. Abdul Fatah dan nenek saya, almarhumah Rara Hj. Mardiyah. Keduanya datang ke Malaysia tahun 1932 dari Wates, Jogjakarta. Saya tidak tahu persis mengapa mereka pindah, tapi itu mungkin bagian dari program transmigrasi yang digelar pemerintah penjajah waktu itu, atau mungkin juga menghindari sistem feudal dan tekanan hidup yang keras saat itu.

Di Malaysia, mereka kemudian bertempat di Kampung Sungai Nipah Darat, Distrik Bagan Datuk, Negara Bagian Perak. Di sana kakek saya termasuk yang pertama membabat alas dan membangun pemukiman. Beliau juga mendirikan Madrasah Mambaul Ulum. Meski bernama madrasah, ia kemudian menjelma menjadi pondok pesantren (Ponpes). Setelah beliau wafat, kepemimpinan Ponpes ada di tangan almarhum R. H. siradj, kakak tertua ayah saya dan kemudian digantikan ayah saya, R. Hamidi ketika beliau berpulang juga. Ayah saya sendiri anak ke-7 dari 9 bersaudara.

Bagi sebagian orang yang paham budaya Jawa, mungkin keluarga kami adalah perkecualian karena jarang ningrat yang juga sekaligus santri.

Ayah saya kemudian menikah dengan ibu saya, Tuminah, yang juga berasal dari Jawa, tepatnya dari Ponorogo. Alhamdulillah, keduanya masih hidup, ayah saya 85 tahun dan ibu 80 tahun. Keduanya masih di Kampung Sungai Nipah Darat. Asal tahu saja, wilayah ini 100% penduduknya keturunan Jawa. Di sini, semua penduduknya berkomunikasi dalam Bahasa Jawa. Mereka hanya menggunakan Bahasa Melayu untuk berhubungan dengan orang luar, misalnya di kantor atau sekolah.

Para orang tua, katakanlah hingga generasi ayah saya, masih menggunakan Bahasa Jawa halus (krama). Kalau generasi saya hanya paham Bahasa Jawa pasar saja. Kami mengerti bahasa krama, namun tidak bisa mengungkapkannya.

Bahasa Jawa juga dipakai dalam forum-forum pengajian, biasnaya bahasa krama. Orangtua saya memang mengajarkan Bahasa Jawa pada kami, namun saya tidak secara khusus mengajarkannya pada anak-anak saya. Meski demikian, 2 dari 5 anak saya menunjukkan ketertarikan untuk mengerti Bahasa Jawa. Mereka paham Bahasa Jawa, namun tidak pandai dalam mengutarakannya.

Enak juga, lo, bisa berbahasa Jawa. Saya sering menggunakannya untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya rahasia. Kadang kawan-kawan saya bingung, mereka bertanya-tanya saya bicara bahasa apa, tapi biar saja….
Sekarang, alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi wilayah asal leluhur saya. Saya akan ke Jogjakarta tanggal 11 atau 12 Juni ini. Selain urusan promosi wisata Malaysia, saya juga akan mengunjungi Wates, tempat asal kakek saya. Syukur, kami masih memiliki kontak dengan keluarga kami di Jogjakarta. Saudara sepupu ayah saya masih ada di situ. Ini memang kunjungan saya yang pertama ke Wates. Saya bawa serta istri, 2 putri dan 1 putra saya. Saya kira kunjungan nanti memang akan sangat emosional.

Kenduri dan Bedug
Selain bahasa yang masih dipahami banyak kalangan keturunan Jawa di Malaysia, warisan budaya Jawa lainnya juga masih hidup di Malaysia. Di antaranya adalah makanan, adat perkawinan, juga kendurian. Untuk makanan, misalnya, kami masih suka makan kacang tolo, sop kikil, sambel taun, juga gudeg. Tempe, lauk tradisional Jawa itu, seolah menjadi menu wajib bagi kami.

Adat perkawinan juga masih dipertahankan. Hanya saja, hal-hal yang berbau kurafat atau warisan Hindu, kami buang. Sementara untuk kenduri, suasananya masih khas Jawa sejauh yang saya ketahui. Misalnya, ada bag-bagi berkat (bingkisan makanan) di akhir kenduri. Selain itu, di masjid, musala, juga dalam acara perkawinan masih dipakai bedug. Ini benar-benar khas jawa karena musala atau masjid Melayu tidak mengenalnya.
Di luar itu, orang keturunan Jawa juga dikenal karena banyak menjadi tukang khitan (calak). Orang Melayu pun banyak berkhitan pada mereka.

Selain di Kampung Sungai Nipah Darat, Perak, ada beberapa tempat yang juga merupakan komunitas Jawa, mislanya di Kampung Sungai Balai Darat (Perak), juga di kawasan Klang (Selangor) dan daerah-daerah di Johor. Malah dalam komunitas-komunitas Jawa di luar Perak, warna jawanya lebih kental. Termasuk, masih dipakainya nama-nama Jawa. Jadi jangan kaget kalau menemukan nama-nama seperti Sukarno, Supardi, Tukiman dan sejenisnya. Kalau untuk generasi ketiga seperti saya, nama-nama yang dipakai sudah nama-nama Melayu (Islam).

Terkenal Rajin
Meski banyak budaya Jawa yang masih dipertahankan oleh komunitas-komunitas Jawa di Malaysia, namun ada beberapa hal yang sempat mengejutkan saya. Misalnya, orang Jawa dikenal di Indonesia sebagai entitas dengan sifat atau kebiasaan kurang baik seperti lamban sampai ada ungkapan alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selesai). Di Malaysia, orang Jawa justru terkenal sebagai pekerja keras. Sifat pekerja keras ini bukan hanya untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI), namun juga bagi warga Malaysia keturunan Jawa.

Selain itu, orang Jawa juga dikenal kuat dalam ibadah, bahkan lebih taat dari orang Melayu sendiri. Sifat lainnya, orang Jawa di Malaysia dikenal patuh pada ketua dan tidak suka menikam dari belakang. Jadi, sosok Jawa cukup disukai di Malaysia karena sifat-sifat positif itu. Saya terkejut juga, ternyata cap yang sama tidak melekat pada ornag Jawa di Indonesia. Mungkin keturunan Jawa di Malaysia menjadi pekerja keras karena merasa sebagai orang rantau, ya?

Orang-orang UMNO (Organisasi Nasional Melayu Bersatu, partai terbesar Malaysia) tahu bahwa saya orang Jawa. Malah, 10 dari 191 anggota parlemen berasal dari keturunan Jawa. Mantan Menteri Besar (semacam gubernur negara bagian) Selangor, M. Kheir bin Toyo juga keturunan Jawa.

Sebagai orang yang memiliki leluhur Jawa, kadang saya trenyuh juga mengetahui berita-berita penyiksaan terhadap TKI, misalnya. Dua dari 4 pembantu rumah tangga saya juga orang Jawa, asal Solo dan Jember.
Dalam hal-hal seperti itu, di forum-forum rapat, saya termasuk yang vokal meminta agar diberikan perlindungan yang baik. Sebenarnya situasi di Malaysia sendiri baik, hanya saja kalau ada masalah, memang saya termasuk yang paling awal untuk meminta perhatian. Dalam kasus TKI terakhir, misalnya, saya bekerja sama dengan anggota parlemen dari DPR Indonesia, Ade Nasution.

Tentang hal-hal yang sifatnya konflik kedua negara, seperti Ambalat, saya termasuk yang tidak ingin itu membesar. Apalagi di Malaysia sendiri Ambalat memang bukan soal besar. Warga tidak memikirkannya secara serius. Itu hanya masalah dagang, masalah Petronas. (*)

Feature

Surabaya Post, 30 Mei 2003

Membangun Pendidikan Terintegrasi,

Membidik Mahasiswa Luar Negeri

Oleh: Achmad Supardi

Pendidikan sejak lama dipahami sebagai investasi jangka panjang yang membutuhkan penanaman modal sangat besar. Malaysia benar-benar menyadari hal ini. Namun, mereka tidak berhenti mencari jalan agar pendidikannya dapat terus dibangun sambil di saat yang sama mencari ganti atas biaya yang mereka keluarkan. Solusinya, memperkenalkan pendidikan mereka pada dunia agar lebih banyak mahasiswa asing yang kuliah di sana.

Kesadaran inilah yang membuat Pemerintah Malaysia menjadikan pendidikan sebagai salah satu item khusus dalam penggelaran event pariwisata akbar, Mega Familiarisation yang mengundang media massa dan agen-agen biro perjalanan dari 31 negara.

Dalam acara yang berlangsung Rabu-Minggu (21-25/5) lalu itu, wartawan dan agen-agen pariwisata dibawa menuju ke sejumlah institusi pendidikan di Malaysia. Tiga institusi yang dipilih, yakni Sunway College, Inti College, dan Flamingo Institute mewakili pendidikan mulai setingkat diploma 2 hingga S1. Semua yang ditunjukkan adalah institusi pendidikan swasta karena institusi pendidikan negeri (dibiayai oleh pemerintah) terutama adalah untuk mahasiswa dalam negeri dan jarang menerima mahasiswa asing.

Satu hal yang terlihat dari institusi pendidikan di Malaysia adalah sebuah institusi yang terintegrasi, baik antar bidnag di dalam institusi tersebut maupun antara institusi tersebut dengan pemerintah. Bisa dikatakan semua institusi pendidikan yang ditampilkan Pemerintah Malaysia dalam pameran pendidikan kali ini adalah mereka yang sangat siap. Rata-rata selain memiliki fasilitas akademik yang sangat lumayan seperti laboratorium dengan peralatan lengkap, juga memiliki “kelengkapan” standar yang memudahkan pihak pengelola kampus maupun mahasiswa. Ini terlihat dari dimilikinya sarana akomodasi bagi mahasiswa yang berada satu kompleks dengan kampus. Sarana akomodasi ini beragam, dari kamar-kamar yang bisa dihuni 2 orang seperti di Inti College, hingga apartemen dan kondominium seperti yang dimiliki Sunway College. Sarana akomodasi ini, selain merupakan fasilitas dan bisa dijadikan selling point dalam menarik mahasiswa baru, juga menjadi penyumbang pendapatan yang besar bagi pihak kampus. Dengan demikian, mereka memiliki sumber pendapatan yang pasti.

Akomodasi bagi institusi-institusi pendidikan Malaysia memang memberikan keuntungan besar bagi pengelolanya. Di Sunway, baik dua kondominium lebih dari 15 tingkat maupun apartemen yang terletak di belakang kampus (semuanya dalam jangkauan perjalanan kaki) selalu penuh. Tingkat okupansi mereka yang 100% jauh lebih baik daripada tingkat okupansi terbaik yang bisa dicapai hotel.

Hal yang sama terjadi di Inti College yang terdapat di Nilai, sebuah kota kecil dekat Bandara Internasional Kuala Lumpur. Mereka membagi lahannya yang sangat luas menjadi dua kompleks besar. Satu kompleks khusus untuk kepentingan akademis –ruang kuliah, laboratorium hingga kantor administrasi kampus— sedang kompleks lainnya yang dihubungkan oleh sebuah jembatan sekitar 40 meter adalah sarana mahasiswa beraktivitas. Di kompleks terakhir inilah terdapat “kamar-kamar kos” mahasiswa, kafetaria yang buka 20 jam sehari, hall, juga sarana kesejahteraan siswa, termasuk sebuah kolam renang ukuran olimpiade. Setelah berdiri hanya dengan 37 mahasiswa di tahun 1997, mahasiswa Inti College sudah membengkak menjadi 14.000 tahun 2002 lalu dengan 2.500 orang di antaranya berasal dari luar Malaysia.

Di luar semua fasilitas yang ada, bersama Pemerintah Malaysia institusi-institusi pendidikan ini mulai memperkenalkan diri pada pasar luar negeri. Maklum, warga domestik Malaysia lebih suka belajar di perguruan tinggi milik pemerintah karena hampir semua mahasiswanya mendapat beasiswa dari pemerintah. Selain itu, banyak universitas negeri di Malaysia yang kualitasnya lebih baik dari universitas-universitas swastanya. Di Universiti Teknologi Malaysia, Johor, misalnya, pengunjung bisa melihat layar Bloomberg raksasa untuk mengamati fluktuasi harga saham dunia.

Karena itu, salah satu cara paling cerdik untuk survive dan berkembang, perguruan tinggi swasta di Malaysia harus menarik sebanyak mungkin mahasiswa luar negeri. Segmen utama yang dibidik tentu saja mereka yang secara geografis dan budaya terbilang “dekat” serta memiliki sistem pendidikan yang kurang lebih sama atau lebih buruk dari Malaysia. Sementara ini di semua institusi tersebut, mahasiswa Indonesia dan Cina menjadi yang terbesar.

“Saya pilih kuliah di sini karena fasilitasnya lengkap dan kurikulumnya, setelah saya lihat, ternyata cocock dengan yang saya inginkan. Selain itu, setelah dilihat dan dihitung, biaya kuliah di sini jatuhnya lebih murah daripada kuliah di Jakarta,” ujar Maidy, mahasiswa Inti College asal Pekanbaru.

Jalin Kerjasama

Satu hal yang patut diteladani oleh institusi pendidikan di dalam negeri adalah upaya sungguh-sungguh institusi pendidikan di Malaysia untuk meningkatkan kualitas mereka. Bukan hanya memperbaiki piranti keras seperti laboratorium, akomodasi mahasiswa dan sarana olahraga, namun juga bekerjasama dengan institusi pendidikan asing yang lebih maju dalam membuat terobosan-terobosan kurikulum.

Kebanyakan daya tarik kuliah di perguruan-perguruan tinggi swasta Malaysia adalah kesempatan untuk menghabiskan tahun terakhir di universitas-universitas yang lebih maju di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Untuk ini, perguruan-perguruan tinggi Malaysia memang berusaha keras menyesuaikan kurikulumnya dan kualitas.

“Tanpa itu, tentu universitas-universitas tersebut (asal luar negeri, Red) tidak akan mau menerima mahasiswa kami atau mengakui kredit kuliah mereka yang didapat di sini,” ujar Alex Lee chin Hun MBA, Direktur Pemasaran Internasional Inti College.

Kemauan untuk memenuhi standar internasional ini bukan hanya pada tingkat universitas, namun juuga pada tingkat institut yang menyediakan pendidikan sekelas diploma. Ambil contoh Flamingo Institute. Institusi pendidikan yang ada di Tasik Ampang, Ampang ini sebenarnya tak beda dengan sekolah-sekolah tinggi pariwisata dan perhotelan di Surabaya. Pendidikan yang mereka tawarkan seputar manajemen perjalanan wisata, front office, room management, food and beverages, culinary arts dan sejenisnya. Namun, mereka mau sedikit berusaha untuk mendapat pengakuan, misalnya dari Lembaga Akreditasi Negara Malaysia dan dari City and Guilds, organisasi pemberi standar internasional dari London, Inggris.

Selain itu, mereka juga memanjakan mahasiswa. Bukan hanya akomodasi yang disediakan, namun juga terdapat sarana kebugaran, arena bowling, jogging track, dan danau.

Pola layanan pendidikan terintegrasi dengan akomodasi dan sarana kesejahteraan mahasiswa ini potensial menarik minat mahasiswa. Selain itu, pola semacam ini memudahkan agen perjalanan dan lembaga pengurusan jasa pendidikan luar negeri merancang paket-paket kuliah maupun study tour. Inilah poin penting dalam menarik mahasiswa maupun penikmat “pariwisata pendidikan” dari mancanegara.Untuk ini, uluran tangan pemerintah dalam mempromosikan lembaga-lembaga pendidikan ini menjadi fasilitas yang sangat berguna. Tidak heran bila institusi-institusi pendidikan di Malaysia berhasil menggaet banyak mahasiswa asing. Flamingo Institute saja bisa menarik mahasiswa dari Indonesia, Cina, Korea Selatan, Pakistan, hingga Peru dan Zimbabwe. Bagaimana dengan Indonesia?(*)