Kali ini saya bicara tentang salim. Yang saya maksud salim tentulah bukan nama orang Arab, hehehehe. Salim yang akan saya bahas adalah tindakan menjabat lalu mencium tangan seseorang. Biasanya, orang yang disalimi adalah mereka yang lebih tua atau dihormati.
Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, saya kenal salim sejak kecil. Sebagai pribadi yang berkembang di tengah-tengah budaya nahdliyin yang kental, salim has been everywhere. Di lingkungan kampung saya dulu, baik di Surabaya maupun di Bangkalan, mayoritas anak salim kepada orangtuanya. Berangkat sekolah, salim. Pulang sekolah, salim. Berangkat ngaji, salim. Tak hanya itu, bila ada kerabat atau teman orangtua yang berkunjung, anak-anak pun tak lupa salim pada mereka. salim adalah representasi kesopanan. Pasangan ayah dan ibu yang anaknya tidak mau salim kepada tamu biasanya akan kecewa dan sedih. Mereka merasa gagal menanamkan kesopanan pada anaknya.
Di lingkungan nahdliyin, salim meluas ke lingkungan di luar kerabat. Salim dilakukan oleh “umat” kepada kiai atau pemuka agama yang dihormati. Salim bukan lagi lambang kesopanan, namun representasi penghormatan. Bahkan, hingga titik tertentu, salim dalam konteks ini menggambarkan “ketundukan” umat kepada pemuka agamanya. Karena itu, salim jenis ini dilakukan oleh mereka tanpa memandang usia. Umat yang salim seringkali lebih tua dari kiai yang disalimi.
Salim di lingkungan keluarga biasanya dilakukan di usia anak-anak ketika mereka masih “bisa dibentuk”. Mayoritas anak-anak di lingkungan saya mudah diyakinkan bahwa salim adalah salah satu indikator anak baik. Kebiasaan salim biasanya muncul lagi ketika seseorang sudah dewasa. Mereka melakukannya karena sadar bahwa orangtua memang layak dihormati, bisa juga untuk alasan pragmatis: agar anak-anak mereka salim pula pada mereka.
Usia remaja hingga dewasa awal adalah periode dimana banyak orang “absen” salim. Mereka menggantikan salim dengan kalimat pendek bernada minta izin seperti “Pergi dulu Pak”. Saya tidak tahu persis mengapa banyak remaja “absen” salim. Mungkin jiwa muda mereka memberontak terhadap praktik yang mereka anggap “penindasan” itu. Mentang-mentang lahir lebih dulu, minta dihormati. Mungkin pula mereka menganggap salim itu kuno dan karena itu mereka malu melakukannya.
Saya sendiri sangat jarang (untuk tidak menyebut “tak pernah”) salim pada kedua orangtua saya. Bukan saya tak hormat pada mereka. Bukan pula saya tak sayang pada mereka. Hanya saja… ada segaris perasaan malu, sungkan, untuk salim. Untungnya, orangtua saya tidak mempermasalahkannya. Mereka tahu saya cinta dan hormat pada mereka meski saya tidak salim.
Saya hanya salim pada mertua. Itu pun setelah diingatkan salah satu saudara bahwa tidak salim pada mertua itu sangat tidak sopan. Saya sebenarnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Saya hormat dan cinta mertua saya tanpa harus salim. Namun di titik itu, saya menyerah pada budaya. Toh salim tidak merugikan saya. Kalau mertua saya makin gembira dengan salim saya, maka saya lebih gembira lagi melakukannya.
Termakan oleh stereotip bahwa salim itu “tanda kesopanan khas kampung”, saya benar-benar kaget ketika ada salah satu mahasiswa salim pada saya. What??? Gak salah? Mahasiswa zaman sekarang, mayoritas datang dari kota besar, tajir, eh ngajak salim? Saya kikuk sekali waktu itu. Diterima gak ya?
Bila tidak diterima, saya khawatir disangka sombong. Namun kalau diterima, saya merasa belum pantas disalimi. Saya bukan kiai. Saya belumlah menjadi sosok yang layak diteladani. Disalimi orang terasa terlalu berat bagi saya. “Beban” saya makin berat karena ternyata yang salim bukan hanya satu orang, tapi banyak. Ada yang meletakkan telapak tangan saya di pipi mereka, di kening mereka, ada juga yang meletakkannya di hidung mereka. Yang terakhir inilah versi salim yang saya kenal.
Di awal-awal, saya menerima salim mereka namun saya tarik telapak tangan saya begitu mereka mau menciumnya. Hal ini sudah sering saya lihat di Surabaya dan di Madura. Menurut almarhum ayah saya, kiai yang melakukannya adalah mereka yang rendah hati, yang merasa belum layak disalimi orang sekali pun ilmu mereka tinggi dan kontribusi mereka bagi masyarakat besar. Lantas, apakah kiai yang suka rela tangannya dicium umatnya ada di level lebih rendah? Apakah mereka sosok yang ingin dihormati? Almarhum ayah saya tersenyum dan menjawab, “Tidak juga. Beliau-beliau yang mau disalimi adalah orang yang sama baiknya. Mereka tidak tega membatalkan kegembiraan orang lain. Kalau umat merasa gembira dengan salim, maka mereka melayani salim itu.”
Pernah saya menarik tangan saya saat akan disalimi. Mahasiswa tersebut terkejut dan berkata, “Kok ditarik, Sir? Kenapa?” Terpancar sebersit kaget dan bingung di wajahnya. Sejak itu, saya biarkan mahasiswa salim pada saya tanpa meminta yang lain untuk menirunya. Saya hanya tak ingin membatalkan kegembiraan mereka.(Achmad Supardi)

Kemarin saya menemukan sebuah goody bag di atas meja kerja saya. Di dekatnya tergeletak skripsi edisi revisi. Saya bisa langsung menebak, itu pasti oleh-oleh dari salah satu mahasiswa bimbingan skripsi saya. Goody bag yang ternyata berisi jaket kulit –atau jaket racing?– ini adalah goody bag kesekian yang saya terima di periode penulisan skripsi kali ini. Sebelumnya saya menerima sweater, baju batik, juga pancake durian.

Saya GEMBIRA sekali menerima goody bag itu.

Pertama, saya senang karena merasa ada orang-orang yang ‘cukup dekat’ dengan saya. Mungkin ‘kedekatan’ itu berawal dari hubungan profesional –dosen dan mahasiswa—namun menjadi dekat sebagai sesama manusia justru dianjurkan oleh Tuhan, bukan? Saling membantu, saling membuat gembira.

Sungguh, saya gembira melihat binar kelegaan di wajah mereka ketika saya tanda tangan yang menandakan kripsi mereka layak diuji. Saya gembira melihat mereka mengucap syukur saat dinyatakan lulus sidang skripsi. Saya senang melihat mereka menjadi sarjana. Semoga ilmunya barokah.

Lalu, bila karena kegembiraan itu mereka mereka merasa ingin membaginya, dan saya adalah salah satu yang mendapat bagian, saya tak bisa tidak kecuali menjadi gembira pula. Tentu saya sadar ada sebagian orang yang “kalau sudah selesai ya selesai”. Hubungan berakhir di sana. Saya tentu tak bisa menolak. Namun di pihak saya, pintu selalu terbuka untuk bersaudara.

Kedua, saya memang selalu menikmati sensasi membuka hadiah. Membuka goody bag, bagi saya, sangat menyenangkan. Sensasinya melebihi ketika saya memakai  atau memakan isi goody bag itu. Istri saya tahu betul kebiasaan saya ini. Seringkali dia tidak membuka oleh-oleh yang ia terima dari sekolah atau dari kondangan hanya supaya saya yang membukanya lebih dulu. Dia tahu saya menikmati sensasi itu.

Dulu, waktu kecil, saya gembira sekali saat ayah datang dari yasinan, tahlilan, kondangan, atau dari rumah saudara dengan membawa sesuatu. Saya belum tentu memakan isinya, namun saya suka membukanya. I love surprises. Saking sukanya pada kejutan, saya suka sekali mengecek klikbca di akhir bulan. Sudah masuk gak ya? Ada tambahan gak ya? Mungkin ini penyakit sinting ke-48 versi Andrea Hirata. Hahahaha.

Namun di balik kegembiraan, cukup sering saya terganggu oleh renungan-renungan –ceilee… bahasanya–  tentang status goody bag-goody bag tersebut. Apakah itu semacam sogokan? Gratifikasi? Apakah goody bag-goody bag itu justru harus saya tolak sesopan mungkin dan bukan malah gembira menerimanya? Apakah saya tak ada bedanya dengan pejabat-pejabat yang menerima gratifikasi dari pengusaha dan banyak pihak penuh kepentingan lainnya? Am I that bad?

Kini, izinkan saya mengajukan pleidoi di sini:

Saya tidak pernah meminta. Tidak pula memberi kode. Memang, secara guyonan sebagian mahasiswa menyebut saya memberi ‘kode’, padahal kami sedang membicarakan hal lain di luar skripsi. Durian, misalnya. Saya selalu antusias membicarakan durian seantusias saya menikmati buah yang dagingnya lembut wangi itu.  Kalau itu dianggap kode… ya sutralah. Toh saya sudah membeli pancake durian sebelum pancake durian dari mahasiswa datang J Saya juga tak pernah memberi spesifikasi isi goody bag yang saya inginkan. Buktinya, jaket racing yang saya terima kekecilan. Mahasiswa itu terlalu berprasangka baik bahwa tubuh saya atletis, padahal perut saya lebih mancung dari hidung. Karena di rumah tak ada pria dewasa lain selain saya, maka barang ini masuk daftar untuk didermakan J. Saya, tentu saja, tak pernah mengenakan tarif. Karena, pada dasarnya, memang tak ada harapan untuk mendapat goody bag-goody bag itu.

Saya gembira menerima goody bag-goody bag itu. Toh porsi perhatian saya untuk para mahasiswa bimbingan tak berbeda antara yang satu dengan yang lain. Toh nilai skripsi mereka tak akan berubah…. Goody bag tak mengubah posisi mereka –misalnya—dari bidder menjadi winner. (*)

 

Note ini dari teman saya, seornag ibu rumah tangga luar biasa, Esthy Wikasanti

Beberapa waktu lalu, saya sekeluarga, pergi ke KBS. Kalo bisa sih, wisata dengan anak diusahakan seminim mungkin ke mall, tapi sayangnya pilihan untuk selain mall memang tak banyak. KBS pun kayaknya juga mau gulung tikar, binatangnya kurus dan tak terawat. Ada buaya ompong, beruang yang gelisah, harimau yang kelaparan. Bahkan waktu anak saya pengen naik gajah dan cari singa, kami tak berhasil menemukannya. Sementara itu, pengunjung dengan seenaknya memberi makan para hewan dengan alasan kasihan. Si monyet dapat es krim, gerry wafer, dan sejenisnya. Tampak lahap sih, tapi entah apa efek sampingnya. Malesnya lagi, di pintu masuk dan keluar, kami sudah dihadang dengan pedagang mainan dan makanan yang seringkali setengah memaksa, apalagi jika lihat anak-anak sebagai mangsa empuk yang bisa bikin orang tuanya tak tega. Si penjual balon kartun mendekat dan menawarkan, Uma sudah mengangkat tangan akan meraihnya, refleks saya bilang, “Nanti aja pulangnya,” Uma menurut dan tak jadi mengambil balon. Saya segera berlari masuk menghindari penjual lain. Waaa, ganasnya PKL Surabaya.

Karena siang itu agak mendung, jalan-jalan di KBS terasa cukup nyaman, out of the animal scent of course. Menjelang ashar, kamipun pulang. Lagi-lagi harus berlari karena kembali dihadang oleh para pedagang tanpa ampun. Si penjual balon rupanya mengingat apa kata saya, berhubung saat itu cukup sepi pengunjung. “Lho katanya pulang beli, lha kok mangkir gitu…” celotehnya dengan kecewa. Saya tersenyum kecut, menyadari betapa bujukan dan rayuan pada anak menunjukkan seberapa konsisten perkataan kita.

Seharusnya sih, saya membiasakan ngomong apa adanya, karena toh lambat laun mereka mengerti sebab akibat dengan baik tanpa perlu bujukan dan rayuan yang tak jelas.

“Kita naik motor, Uma. Kalo bawa balon sampe rumah, nanti terbang dibawa angin,” saya buru-buru menerangkan padanya, meski Uma masih merajuk. Bisa dibayangin kan bagaimana jika kami menuruti kemauannya untuk membeli balon dan membawanya melawan angin di jalan. Toh, bisa beli di tempat lain.

“Nanti kita beli di rumah aja,” kata saya menjanjikan. Again, saya lupa, tidak konsisten jenis selanjutnya. Padahal entah anak mengerti atau tidak, konsisten harus dibiasakan sejak dini, supaya anak juga paham bahwa orang tuanya berusaha berkata dan mendidik mereka dengan serius. Merayu dan membujuk boleh, asalkan sesuai dengan kenyataan. Seperti ketika mereka tidak menurut dan bermain di tempat gelap.

Buat sebagian orang dengan mudahnya mengatakan, “hayoooo, ada hantu lho disitu…” Berhubung para hantu akan datang dengan sendirinya pada orang yang mereka pilih, maka saya lebih suka mengatakan sebuah pilihan yang lebih masuk akal,”gelap lho, sendirian lho, bunda ga mau nemenin lho…” Toh, sebagai si otak spons, si anak akan tanggap apa yang mesti dia lakukan jika gelap dan sendirian serta si ibu tak bersedia menemani. Uma kemudian akan terbirit menghampiri saya. Bahkan ketika akhirnya dia takut dengan hantu, bukan karena efek psikologis yang saya kenalkan, tapi karena dia pernah lihat sendiri. Hehehe, anak-anak masih punya mata batin yang jernih kan.

Dan untuk Ken yang bandel, belum ngomong, dan bermasalah dengan pendengarannya, saya lebih suka menggunakan efek kejutan, menampilkan wajah marah, lalu pura-pura lari kebingungan dan terbirit-birit. Konsisten itu susah tapi harus terus dilatih, apalagi mumpung anak-anak masih kecil, yang masih belum banyak menuntut. Kalo bilang maen, ya maen beneran. Kalo ga main, ya bilang alasannya kenapa. Susah, pasti. Repot, pasti. Saya juga belum tahu apa hasilnya kelak. Saya hanya menghargai, bahwa mereka juga memiliki otak yang berhak dilatih berpikir, kapan pun itu.

Image

Foto: Khoirul Umam

Warga Jababeka dan sekitarnya senam di pelataran Giant, Minggu (10/2) pagi. 

Tiga kali sudah saya ikut senam di pelataran Giant Jababeka. Kali ini saya memang niat banget, secara saya jarang sekali berolahraga. Sepertinya saya memang memiliki kecenderungan malas berolahraga ‘secara resmi’ karena terbilang sering berolahraga ‘tak resmi’: naik ke kantor di lantai 3 Gedung A melalui tangga, turun, lalu naik lagi ke lantai 2, 3, atau 4 di Gedung B untuk mengajar. Bukankah itu juga olahraga? Hahahaha.

Kalau mau cari kambing hitam, sebenarnya ada juga: jadwal kuliah. Hampir satu semester saya rutin berolahraga bulutangkis tiap Senin malam. Namun, sudah 2 semester belakangan ini saya mendapatkan jadwal mengajar di Senin malam. Akibatnya, selamat tinggal Pelatnas Cipayung. Absen latihan selama 2 semester pastilah membuat kemampuan saya menurun jauh, tak mampu lagi bersaing dengan Simon Santoso atau pemain pensiunan seperti Taufik Hidayat.

Dengan sedikitnya waktu yang tersedia untuk berolahraga, maka senam tiap Minggu pagi di pelataran Giant Jababeka menjadi ‘satu-satunya’ alternatif yang harus diselamatkan. Senamnya sih biasa. Cuman 1 jam, dengan gerakan-gerakan yang juga sangat biasa. Tak ada nomor kuda-kuda pelana, kuda-kuda lompat, palang sejajar, palang tunggal, gelang-gelang, atau sekadar senam ritmik. Tapi tetap lumayanlah untuk memeras keringat. Daripada harus menggenjot becak?

Nah, ‘prosesi’ senam inilah yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Dimulai dari gerakan-gerakan pemanasan, gerakan inti dengan impact (hentakan) yang cukup tinggi, lalu… eng ing eng… senam body language dan senam kegel. Senam ini, katanya, bisa memperkuat otot-otot di sekitar panggul dan perut. Karena itu, ia membantu mewujudkan aktivitas seksual yang lebih tahan lama. Bukankah aktivitas seksual (dengan pasangan yang sudah dinikahi) adalah ibadah? Hehehe

Ketika di bagian senam body language inilah saya melihat fenomena yang aneh. Banyak peserta pria yang berhenti. Sebagian tetap menggerakkan tubuhnya sesuka hatinya, tidak patuh lagi pada gerakan yang dicontohkan instruktur. Ada juga yang membuang muka, pura-pura tidak melihat orang-orang di sekelilingnya. Wajah mereka menunjukkan raut malu meski tak sampai memerah. Sebagian lagi tertawa cekikikan. Rupanya senam kegel membuat benak mereka kegelian….

Ada yang salah?

“Saya berhenti dulu kalau di bagian yang ini. Malu,” kata kawan saya. Dia seusia dengan saya, anaknya dua.

Saya sendiri juga sedikit malu. Tapi sebenarnya, mengapa harus malu? Bukankah ini olahraga? Bukankah manfaatnya penting untuk ibadah? Beneran ibadah lo, bukan ibadah dengan tanda petik.

Rasa malu ini muncul karena ‘kepala’ kita tidaklah kosong. Ada ajaran agama, ada budaya, ada pengalaman masa lalu, ada nilai-nilai dan pengetahuan yang mengisinya. Di mayoritas masyarakat Indonesia, seks masih merupakan aktivitas yang sangat sangat privat. Ajaran agama, budaya, dan kebiasaan kita sejak kecil mengajarkan kita untuk tidak menunjukkan isyarat –sekecil apa pun—terkait dengan seks di area umum. Melakukan upaya-upaya yang bisa dianggap “memperbaiki” kinerja seks seperti senam body language, termasuk “memberi” isyarat itu tadi. Karena itu, saat bagian ini, banyak peserta yang celingak-celinguk menahan malu.

Senam di pelataran pasar swalayan seperti ini tentulah bukan agenda cuma-cuma. Meski gratis, bahkan ada door prize sederhana, namun sebenarnya ini bukanlah aktivitas tanpa maksud. Dengan menggelar senam yang diikuti lebih dari 250-an orang ini, Giant membuka peluang yang lebih besar untuk menjaring konsumen sepagi mungkin. Terbukti, tiap usai senam, tak semuanya langsung pulang. Banyak yang melanjutkan agenda senamnya dengan jogging. Jogging di antara rak-rak dagangan Giant. (Achmad Supardi)

Ini tulisan dari teman kuliah saya, Tatum Syarifah Adiningrum. Enjoy!

===================

Satu lagi istilah filosofis dari si Mas, setelah menelurkan hukum “kekekalan rejeki”, yaitu SINGA alias Si Nggak Mau Rugi. Sebenernya sih abbreviation nya nggak segitu nayambung, tapi pas banget kalau dipake buat ngegosip di depan publik🙂

 

Istilah ini sebenarnya sudah diperkenalkan si Mas jaman kami pacaran, some 13 years ago (buset, lama ya???). Tapi baru-baru ini muncul kembali seiring kembalinya kegemaran kami makan buffet, hobi jaman umur 20 an dulu, ketika metabolisme masih dahsyat. Selama setengah tahun terakhir, beberapa kali kami mengunjungi restoran-restoran buffet macam Hartz Chicken, Hanamasa, pun menikmati buffe breakfast ketika liburan di hotel. Dan kami pun kembali bertemu dengan para SINGA.

 

Singa-singa ini punya gaya yang sama: mondar-mandir antara meja pribadi dengan meja hidangan dengan isi piring munjung. Apakah temans pernah melihat gaya ngambil salad di Pizza Hut yang bisa sampe 4 layer, dan saos thousand islandnya netes-netes di pinggir? Nah, itulah salah satu pemandangan tipikal manusia singa dalam menghadapi buffet. Gaya yang paling cocok ketika masih pada mahasiswa, duit saku ngepres, tapi maunya makan rame-rame di tempat keren…. Tapi rasanya nggak lagi cocok di saat usia sudah bertambah, mampu makan sekeluarga di tempat keren yang melambangkan tingkat kemapanan yang sudah bertambah.

 

Alkisah, di salah satu weekend, kami sekeluarga menginap di salah satu hotel di Lembang, dengan hidangan sarapan buffet yang lumayan variasi dan rasanya. Mata saya rada melotot melihat seorang Ibu, yang kira-kira usianya nggak jauh beda dengan Ibu saya, membawa piring penuh kue-kue dan pastry. Sepiring penuh! (piring makan, bukan piring lepek) dan di meja beliau saya lihat hanya ada Ibu itu dan suaminya. Nggak berapa lama lewat seorang Ibu muda membawa sepiring penuh sosis, at least dalam piring itu ada 20 potong sosis. Saya lihat situasi mejanya, hanya ada suami dan dua orang anak kecil. Memandang meja kami yang minimalis, 2 dewasa dan 2 anak, dengan sepiring nasi goreng di depan masing-masing orang dewasa dan sepotong roti bakar di depan tiap-tiap anak, saya jadi agak-agak malu dan merasa tertantang…. Maka pergilah saya ke meja buffet dan mengambil 4 buah kue berukuran mungil. Itu aja perut saya udah penuuuuhh…. dan sepotong kue bersisa tak termakan. Laah…. gimana dengan ibu-ibu yang tadi yaaaahhh???

 

Di suatu hari Minggu, di hari ulang tahun saya, the Krucils dan bapaknya minta ditraktir di restoran Chicken buffet. Walaupun males, karena kebayang pasti penuh dengan para pengunjung yang pulang dari gereja, saya turuti sajalah, biar pada seneng. Beneran aja, restoran itu penuuuhhh…. penuh dengan singa-singa yang dari segala kelompok usia. Ada yang makan sampe muntah lah (sueeerrrr), ada yang sisa makanan menumpuk di meja, dan jangan tanya antrian es krimnya….. Tidak lagi menggunakan sendok es krim yang cuma satu dan harus bergantian, tapi para anak-anak kecil (fully supported by their parents), merubung bak es krim dengan menggunakan sendok masing-masing mengais-ngais es krim tersebut. Sungguh, saya serasa ada di antrian RasKin atau BLT aja. Jangan tanya pula keadaan porsi topping yang disediakan untuk es krim tersebut…. Ada yang satu mangkok es krim mengambil 4 macam topping secara excessive, ada yang cuma satu aja tapi hampir menghabiskan semua porsi topping. Pokoknya, tidak ada lagi azas kepantasan, yang ada cuma SINGA….

 

Keadaan yang sama saya jumpai di tempat-tempat buffe yang lain. Tak peduli apakah tempatnya elit, menengah, atau setara warung kos, SINGA selalu menunjukkan taring. Mungkin memang sudah menjadi adat di negara tercinta ini untuk menjadi SINGA di saat bisa, termasuk SINGA kekuasaan – mumpung berkuasa, lalu korupsi, kan masa jabatan cuma 5 tahun dan belum tentu terpilih lagi. Jadi, jangan heran dengan kebobrokan negeri kita sekarang ini, karena pada dasarnya, bukan penguasa bukan rakyat, semuanya telah jadi SINGA…alias si nggak mau rugi….

Banyak berkahnya menjadi pengguna setia angkot dan anarkot (angkutan antar kota). Pertama, saya bisa melatih kepekaan agar suatu ketika nanti siap menggantikan Dhani Dewa sebagai juri The X Factor Indonesia. Atau mungkin malah menggantikan Simon Cowel yang lidahnya pedas itu. Hampir tiap minggu saya mendengarkan beragam karakter vocal dan aneka genre lagu. Sebagian membuat saya nyaris tertidur, yang lain membuat saya terbangun dari tidur. Tapi, bukan berkah ini yang ingin saya ceritakan lebih panjang.

Sebagai pengguna angkot dan anarkot, saya juga mendapat berkah kedua: menjadi pengamat gaya rambut. Duduk diam selama beberapa menit hingga beberapa jam, tentu bosan kalau tidak diimbangi dengan aktivitas. Cukup sering saya memeriksa UTS atau tugas mahasiswa, kadang membaca novel, memperhatikan pernik kehidupan di pinggir jalan, namun belakangan saya punya kesenangan baru: memperhatikan potongan rambut para penumpang. Supaya terkesan ilmiah, objek observasi saya haruslah spesifik: Laki-laki, rentang usia remaja hingga dewasa awal.

Hah, laki-laki?

Ya iyalah, kalau saya memperhatikan perempuan, jangan-jangan bisa kena gampar. Atau, kalau penumpang perempuan itu berjilbab, bagaimana saya bisa menduga potongan rambutnya? Jadi, para perempuan, berjilbablah, hehehehe.

Kenapa remaja hingga dewasa awal? Karena anak-anak maupun orang tua biasanya memiliki potongan rambut yang biasa-biasa saja. Kurang menarik untuk dianalisis.

Model rambut ternyata banyak sekali. Begitu beragam! (hellooooo, selama ini kemana saja? Hehehe)

Ada gaya rambut yang “dikumpulkan” di bagian tengah. Poni ditekuk ke tengah. Rambut bagian atas belakang, juga ditekuk ke tengah. Rambut bagian kiri dan kanan (di atas pelipis), juga ditekuk ke tengah. Hasilnya, bunga mawar mekar di atas kepala. Yang saya bayangkan, sungguh ribet ,mengatur gaya rambut seperti itu.

Ada juga rambut model Mohawk. Seorang saudara saya pernah menyebut rambut ini model “munyuk” alias –maaf—monyet. Tidak terlalalu salah, karena banyak saya temui kera bintang “topeng monyet” memiliki model rambut jenis ini. Bagi saya, rambut model ini juga ruwet. Butuh tenaga dan waktu ekstra untuk menatanya. Bagian poni harus diarahkan ke atas sedikit ke belakang. Lalu, rambut di atas pelipis kiri dan kanan diarahkan ke atas agak ke tengah hingga persis di bagian atas kepala tercipta deretan serupa Bukit Barisan di atas punggung Sumatera. Tanpa bantuan gel, sepertinya susah membuat gaya rambut seperti ini.

Yang juga cukup sering saya temui di Cikarang adalah rambut punk. Modelnya sederhana: mirip gir sepeda. Rabut dikumpulkan di bagian tengah, lalu dibuat sejumlah kerucut menyerupai cone es krim (tapi lebih runcing) mulai dari dahi hingga tengkuk. Sepertinya kelompok ini jarang berkonflik. Sebab kalau sampai bertengkar, bukankah sangat mudah menjambak rambutnya?

Lalu, ada juga model rambut timbangan rusak. Maklum, berat sebelah. Jadi, rambut sebelah kiri dipanjangkan, lalu dengan sekuat tenaga dibelokkan ke kanan hingga menjuntai. Saya miris melihat mata si empunya seperti selalu tertutup tirai. Kini saya tahu mengapa makin banyak kecelakaan sepeda motor belakangan ini. Rupanya si pengendara sibuk menghalau rambut dari depan matanya….

Melihat semua itu, saya bersyukur dengan potongan rambut saya yang tak pernah berubah sejak saya datang ke tukang pangkas rambut atas kemauan sendiri (sebelumnya selalu karena paksaan ayah). Rabut saya selalu pendek dan modelnya itu-itu saja. Cukup arahkan sisir ke belakang, tanpa tambahan gel, bahan pengawet, bahan pewarna atau pemanis buatan, rambut rapi sudah.

Mungkin Anda akan mengatakan saya konservatif. Bisa saja. Atau, Anda bisa juga menuding saya menghambat sektor ekonomi kreatif. Dengan model rambut yang itu-itu saja, saya mematikan kreativitas orang-orang seperti Irwan Rovani Doke, Andy Lie, Arie Hidayat, Bambang Harryono, atau senior mereka Johnny Andrean beserta seniman tata rambut lainnya. Tapi Anda jangan khawatir. Tuhan maha penyayang. DIA tak ingin seniman tata rambut mati kreativitas maupun  rezekinya. Karena itu orang-orang seperti saya –penyuka rambut pendek dengan gaya itu-itu saja—diciptakan dalam jumlah terbatas. Limited Edition. Hahahaha. (Achmad Supardi)

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Ia menjadi salah satu cara pengungkapan perasaan sekaligus pemikiran dari sang penyair. Sebagian puisi lebih kental unsur perasaannya (kesedihan, syukur, dll), ada pula yang lebih kuat unsur pemikirannya (protes, kritik, dll). Namun secara umum, puisi adalah gabungan keduanya.

Karena puisi terdiri dari kalimat-kalimat dan kata-kata yang simbolik, maka “membaca” (memahami) puisi tak semudah membaca/memahami cerita pendek atau novel. Pembaca harus lebih dulu mencoba “memaknai” masing-masing kata atau kalimat simbolik tersebut, barulah ia bisa “membongkar” arti yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan catatan, hasil “pembongkaran” atau “pemaknaan” kita belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh penyair. Tapi ini wajar dan sah-sah saja. Ketika puisi/cerpen/novel/atau karya apa pun sudah dilempar ke publik, ia sudah “terlepas” dari si penulis. Ia menjadi “teks” atau “pesan” yang bisa dimaknai oleh siapa pun dengan makna nyaris apa pun.

Berikut contoh memaknai puisi:

Lelaki dan Bocah
: Untuk P. Suwan dan Oni

Lelaki dengan bocah di bahunya (ini bisa simbolik, bisa juga hanya ikon atau fragmen menarik untuk mengikat pembaca)

pematang itu ia tebas

lipat waktu dalam bening mata bocah itu (menggunakan kata “pematang” karena inspirasinya petani. Namun pematang juga bisa diartikan: jalan –> jalan hidup. Ia tebas = dilalui, dihadapi –> demi sang anak)

Lelaki dan bocah pada pantai parak senja (penanda waktu, juga menimbulkan kesah syahdu)

langkah mereka adalah mata istri teduh menyala (hidup suami dan anak adalah hidup istri)

dan kala lokan, keong dan pasir pantai menyapa matanya, (ibarat, menemukan hal-hal baru)

bocah itu tersenyum

ayahnya menuliskan kata baru dalam notesnya (setiap menemui hal baru, ayah “mengajarkan” artinya pada sang anak, sang anak menerima –dan bisa protes—atas yang diajarkan ayahnya tsb)

Lelaki dengan bocah yang dipanggulnya (fragmen saja)

bumi ia bagi dalam alinea yang dipahami anaknya (hidup diajarkan secara bertahap)

lalu embun dan matahari (pernik kehidupan, yang sukar dan yang mudah)

juga mawar dan badai (pernik kehidupan, yang baik dan yang buruk)

tercatat dalam mata bocah yang

dipanggulnya melintasi telaga dan samudera (aneka riak kehidupan selalu dicatat oleh sang anak yang terus dididik oleh sang ayah, melintasi tantangan hidup, baik tantangan yang kecil (telaga) maupun tantangan yang besar (samudera))

Lelaki dan bocah pada bayang ombak berdeburan (fragmen)

terpaku mereka pada layar dan dermaga yang ditinggalkan (selalu ada masa lalu yang pergi, orang-orang terkasih yang pergi)

bercakap mereka dalam bayang pulau di kejauhan (melihat masa depan, mereka-reka kehidupan masa mendatang)

mata mereka lekat pada lampu kapal, juga bulan

yang menyembul perlahan (lampu kapal, bulan –> selalu ada petunjuk dalam mengarungi hidup)

Lelaki dengan bocah di bahunya

satu demi satu ia bukakan halaman buku anaknya (ayah membuka / memberi tahu/ mengajarkan tahap-tahap kehidupan)

Lelaki dengan bocah dalam sketsa pantai senja

Dunia

itu alinea yang terus dituliskannya (dunia alias kehidupan adalah “buku” yang tak henti kita baca maupun kita tulisi, harus terus menerus dipahami)

Achmad Supardi, 25 Januari 2013